
Percakapan via telepon antara Manda dan Boy pun berakhir dengan kesepakatan bersama dimana Boy akan datang ke negara A menemui bibi nya. Batita ganteng itu akan menginap selama beberapa waktu di aprtemen Manda.
***
“Bibi, berhenti menciumi ku!” Protes Boy saat Manda tak henti menciumi Boy dengan gemas. 30 menit yang lalu Boy tiba di negara A tempat Manda tinggal saat ini. Bocah itu di antar oleh Daddy Dave dan mommy Keisya yang langsung kembali ke negara S.
Boy di tinggal tanpa pengasuh, selama di negara A bocah itu akan full time menjadi tanggung jawab Manda.
“Bibi Manda...” rengekan Boy yang berulang-ulang tak menghentikan aksi Manda. Justru Manda semakin merasa gemas pada bocah itu. “Jika bibi tidak berhenti, aku akan menggigit bibi!” Ancam Boy. Ancaman Boy ternyata cukup berpengaruh.
“Baiklah, bibi akan berhenti.” Ucap Manda sambil mengacak rambut Boy, “Kenapa kau bisa tumbuh semenggemaskan ini, Boy. Bibi love you, full!”
“Sudah takdir.” Jawab Boy percaya diri. Tidak heran, sikap percaya diri Dave menurun pada putranya. Hanya saja Boy lebih narsis dari pada Dave. Wajah perpaduan antara visual Dave dan Keisya tidak perlu di ragukan lagi. Boy tumbuh dengan visual sempurna tanpa cela. Bahkan aktor cilik pun kalah. “Ngomong-ngomong, apartemen bibi lumayan juga.” Melangkah melewati Manda dan berkeliling di apartemen minimalis milik bibinya. Manda pun acuh, ia membiarkan saja bocah kecil itu berjalan berkeliling apartemennya dengan sesekali bocah itu menunjukan penilaian akan barang yang Manda miliki. Seperti saat ini, Boy tengah memprotes sofa yang menurut bocah itu jelek.
“Warna nya tidak sesuai dengan desain rumah bibi, sungguh mencolok.” Menoleh pada Manda yang sedang duduk di sofa yang lainnya. Manda tersenyum tipis, ini yang dia sukai dari keponakannya itu. Masih kecil tapi mampu menilai dengan baik. Boy kecil juga mewarisi kecerdasan Keisya, bocah itu seakan sudah mengerti desain yang bagus dan perpaduan warna yang bagus. “Menurut bibi bagus, kok.”
Boy mengerut alisnya sebelah. Sejak kapan bibinya itu memiliki selera menohok seperti ini. “Bagus dari mananya? Bibi tidak lihat, warnanya terlalu kontras dengan dinding dan perabotan yang lain.” Kata Boy menunjuk sofa itu lalu menunjuk perabotan yang lain. Manda mengangguk sambil berdiri dan berjalan mendekat ke arah Boy. “Bibi tau, tapi ini hadiah. Jadi, bibi tidak bisa membuang ataupun menjualnya.” Ucap Manda lembut sambil mengusap kepala Boy.
Boy menganggukan kepalanya mengerti. “Setidaknya, tempatkan di kamar atau ruangan lain yang lebih cocok.” Gumam Boy lirih namun Manda masih bisa mendengarnya.
**
“Apa bibi tidak merindukan pada Jasson?” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Boy. Tanpa peduli bagaimana perasaan bibi nya mendapati pertanyaan itu. Manda terdiam sejenak, apa dia tidak merindukan Jasson? Sekelebat bayangan Jasson muncul di Fikiran Manda. Tentu saja Manda merindukan Jasson, tapi sepertinya Jasson lah yang tidak merindukan Manda. Alih-alih menjawab pertanyaan Boy, Manda malah mengalihkan pembicaraan. “Dilarang bersuara di meja makan.” Tegur Manda.
Boy yang sedang mengunyah makan malam itu pun hanya menganggukan kepalanya. Mulutnya penuh dengan makanan, ia takut tersedak jika menjawab ucapan Manda. Di lain sisi Boy dapat melihat perubahan dari raut wajah Manda saat nama Jasson disebut. Oleh sebabnya Boy memilih diam.
“Selama kau disini bibi akan mengajakmu keliling kota dan pergi ke taman bermain.”
“Janji?” Boy bersemangat, menjulurkan jari kelingkingnya. Ia juga ingin mengunjungi taman bermain di Kota bibi nya tinggali.
“Janji.” Balas Manda sambil menautkan jari kelingkingnya di jari Boy.
Ting tong...
“Sasya! Manda!” Kedua sahabat yang lama tidak bertemu itu langsung berpelukan.
“Ehemm.” Boy berdehem kala ia merasa bibi Manda dan bibi Sasya tidak menganggap kehadirannya.
Keduanya saling melepskan pelukannya rindunya, baik Manda maupun Sasya. Sasya lalu menoleh ke arah sumber suasa, ia menundukan kepalanya melihat bocah laki-laki tampan tengah berdiri menatapnya dengan gaya coolnya dimana salah satu tangan bocah itu di dalam saku.
“Oh mu God, ada keponakan tampan bibi ternyata!” Sasya berjongkok dan langsung menghujani Boy dengan puluhan kecupan. Sementara Manda geleng-geleng kepala, Manda tidak tau akan sekesal apa Boy saat Sasya tanpa henti menciuminya.
“Bibi, Boy tau Boy tampan. Tapi, tidakkkan ini berlebihan?” Sungut Boy saat Sasya menghentikan kecupannya. Sasya hanya nyengir kuda, “itu karena bibi terlalu Merindukanmu, Boy.”
“Boy sudah besar, jangan cium Boy di tempat umum.”
“Iya juga ya.” Boy menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “pokoknya lain kali jangan berlebihan!” Kesal bocah itu melangkah menjauh dari Manda dan Sasya.
“Bukankah dia terlalu dewasa untuk anak seusianya?” Tanya Sasya pada Manda. Manda menanggapinya dengan mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. “Menurutku dia terlalu gemas untuk tidak di cium.”
“Hahaha, itu aku setuju.” Keduanya pun terkekeh sambil menuju ke ruang makan. Melanjutkan makan malam yang sempat tertunda.
Boy sudah lebih dulu menyelesaikan makan malamnya. Bocah itu pergi ke kamar untuk melakukan panggilan video dengan Daddy dan mommy Keisya.
“Sayang, kau tidak merepotkan bibi mu ‘kan?” Tanya Keisya begitu panggilan video mereka tersambung.
“Tidak, mommy. Boy sangat menurut pada bibi Manda.” Jawab Boy berlagak seperti Goodboy. Hanya pada Keisya bocah itu lembut.
“Anak baik, lalu dimana bibi mu?”
“Bibi sedang makan bersama bibi Sasya.”
“James, Sasya di tempat Manda sekarang!” Keisya berteriak cukup keras hingga Boy sedikit menjauhkan ponselnya. “Apa urusannya denganku?” Sahut James cuek.
“Cih, jual mahal sekali dia. Padahal kemarin mencari-cari tau keadaan Sasya.” Gerutu Keisya.
“Mom, bukankah bibi Sasya menyukai paman Juan? Kenapa mommy malah memberi tahu paman James keberadaan bibi Sasya?” Tanya Boy heran. Boy hanya merasa Sasya menyukai Juan, karena perempuan itu sering membicarakan Juan di depan Manda dan Boy. Bahkan, saat Manda dan Sasya sedang video call, tak jarang yang Sasya ceritakan adalah Juan.
“Tapi pamanmu Juan tidak menyukai bibi Sasya. Paman James yang menyukai Bibi Sasya.” Jawab mommy Keisya.
“Kenapa orang dewasa rumit sekali.”
“Hahaha.” Keisya terkekeh sebentar, “Jangan difikirkan sayang, itu urusan orang dewasa.” Kata Keisya kemudian.
Boy mengangguk mengiyakan. “Dimana Daddy, mom?” Mencari keberadaan Daddy Dave adalah hal wajib. Keisya terlihat celingukan di layar benda pipih itu seakan mencari keberadaan suaminya. “Entahlah, Boy. Daddy mu sering sekali hilang akhir-akhir ini. Bahkan hanya di Villa pun Daddy mu kerap menghilang.” Jawab Keisya sekenannya.
“Mungkin Daddy sedang di ruang kerjanya, mom.”
“Mungkin, atau dia sedang membangun riang rahasia lagi.” Gumam Keisya.
.
.
.
.
Membangun ruang rahasia lagi? Mungkin Dave sedang membangun benteng pertahanan untuk keluarganya jika sewaktu-waktu musuh menyerang ..