
Sisi dan Sasya berkunjung ke Villa luxury pada sore itu. Mereka datang setelah mendapat kabar dari Manda jika Boy sedang sakit. Sisi yang sudah menikah dengan David otomatis menjadi kakak ipar Sasya. Ia pun menjadi lebih dekat dengan Sasya.
“Selamat datang, nyonya Sisi, nona Sasya.” Sapa pak Mo. “Saya akan mengantar anda berdua ke kamar tuan kecil.” Pak Mo mengantarkan Sisi dan Manda ke kamar Boy, dimana saat ini Keisya dan Dave pindah kamar ke kamar Boy.
“Terimakasih, pak.” Ucap Sisi.
“Silahkan masuk, nyonya Keisya ada didalam.” Pak Mo hanya mengantar Sisi dan Sasya sampai di depan pintu.
Keduanya langsung masuk ke kamar Boy. Terlihat Keisya sedang berbaring miring seraya menyusui Boy kecil. Sementara Manda duduk di sofa. Manda menemani Keisya setelah pulang dari magang.
“Kak Sisi, masuklah.” Ucap Manda menyuruh Sisi masuk.
“Kak Sisi aja, aku nggak?” Cebik Sasya.
“Maaf, nona. Anda siapa ya?” Manda menggoda Sasya.
“Hih, keterlaluan.” Sasya kesal, ia langsung duduk di sofa tanpa menunggu di persilahkan oleh pemilik kamar.
“Sya, jangan berisik, Boy sedang tidur.” Ucap Sisi mengingatkan.
“Maaf.” Lirih Sasya.
“Kakak mau minum apa?” Tanya Manda lembut.
“Aku wine aja.” Sahut Sasya.
“Siapa yang tanya kamu, Sya.” Manda menggelengkan kepalanya.
“Kamu masih kecil, Sya. Lebih baik tidak mencoba minum wine.” Tegur Sisi lembut. Sasya hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Ia tidak bisa membantah perkataan Sisi yang sekarang telah menjadi Kakak iparnya. Apalagi apa yang dikatakan Sisi demi kebaikan Sasya.
“Air mineral saja.” Ucap Sasya malas. Manda terkekeh.
“Siap.” Manda bangkit berdiri. Ia pergi ke dapur untuk meminta bantuan maid membuatkan minuman dan camilan ringan untuk kedua tamunya.
Setelah Boy terlelap, Keisya menyelimuti tubuh mungil Boy dengan selimut mini nya. Ia kemudian bergabung dengan Manda dan yang lainnya. Mereka berempat berbincang di kamar Boy. Banyak hal yang mereka ceritakan.
Sampai datanglah si kembar tiga yang membuat suasana menjadi ricuh.
“Eh, cebol disini?” James mengapa Sasya yang sedang asyik mengobrol dengan Keisya. James, Juan dan Jasson baru saja tiba di Villa. Ketiga lelaki itu mencari keponakan kecilnya.
“Sudah kubilang aku tidak cebol.” Sasya menatap James dengan kesal. Selalu saja James membuatnya emosi saat bertemu.
“Kalian sudah pulang?” Keisya menyapa ketiga adik angkatnya. Ketiganya pun mengangguk.
“Manda, aku perlu bicara denganmu.” Ucap Jasson tanpa basa-basi. Ia menarik lengan Manda dan mengajaknya keluar dari kamar itu.
“Kalau begitu aku akan ke kamarku, kak.” Ucap Juan yang juga meninggalkan kamar itu.
Melihat Juan keluar Sasya langsung mengekori Juan tanpa pamit pada yang lainnya. Begitu juga dengan James, ia juga keluar dari kamar itu mengikuti Sasya.
“Cebol, Tunggu!”
Sasya menghentikan langkahnya dan menoleh pada James. “Apa lagi?Apa?” Tanya Sasya acuh tak acuh.
“Aku dan Juan akan pergi ke bar, apa kau mau ikut?” Tanya James. Sasya menatap Juan yang sudah berjalan semakin menjauh darinya, lalu menoleh lagi pada James.
“Siapa lagi?”
“Hanya aku, Juan, kak Jasson, Manda jika mau, dan kau.” Ucap James.
“Kalau begitu aku mau.” Ucap Sasya bersemangat. Kapan lagi ia bisa menginjakkan kakinya di bar. Ia juga bisa mendempel pada Juan jika terjadi sesuatu nanti. Lagi pula Manda juga pergi, ia pasti aman.
“Oke, sekarang lebih baik kau bersiap-siap.” Ucap James berlalu meninggalkan Sasya menyusul Juan.
***
Didalam kamar Jasson. Lelaki itu menyeret Manda menuju kamarnya.
“Apa yang mau kau bicarakan?” Tanya Manda seraya melepaskan tangannya dari genggaman Jasson.
“Temani aku.” Ucap Jasson penuh harap. “Menghadiri pesta ulang tahun kolega ku.” Lanjut Jasson.
“Tidak mau, aku sibuk!” Tolak Manda tegas. Ia bergegas keluar dari kamar Jasson, namun, Jasson malah menekan tombol kunci pintu kamarnya.
“Apa yang kau lakukan, Jasson?Kenapa mengunci pintu?” Teriak Manda emosi.
Jasson mencoba meraih tangan Manda. “Manda, aku mohon temani aku.” Pinta Jasson memelas.
“Kenapa aku?” Tanya Manda. “Kau bisa mengajak Juan dan James.” Lanjut Manda.
“Mereka lelaki, untuk apa aku mengajak lelaki.” Jasson mengajak Manda untuk duduk di sofa.
“Jadi, kau mau mengajak perempuan?” Manda mengernyitkan alisnya.
“Kenapa aku?”
“Karna aku mencintaimu, Manda. Aku mau mengenalkan mu pada teman-temanku.” Ucap Jasson lembut dan berhasil membuat hati Manda tergerak. Yah, perempuan mana yang tidak luluh mendapat pengakuan cinta dari seorang Jasson.
“Tapi, aku..” Manda ragu, ia merasa insecure. Apakah dirinya bisa menjadi kekasih Jasson tanpa celaan dari orang lain. Karna Manda sendiri tau Jasson yang sekarang berbeda dengan Jasson di masa kecil. Jasson yang sekarang mempunyai kekuasaan, dia seorang pemimpin sebuah perusahaan besar di kota A. Sedangkan Manda, ia hanya mahasiswi yang masih magang. Ia merasa belum cocok menjadi kekasih Jasson.
“Manda, aku tau apa yang kau pikirkan. Kau pasti berpikir tidak cocok dengan ku, jika itu yang kau pikirkan lebih baik buang jauh-jauh pikiran itu.” Ucap Jasson. “Aku mencintaimu, Manda. Aku mencintaimu dengan segala yang kamu miliki, kelebihan maupun kekurangan mu.” Lanjut Jasson mencoba menggerakan hati Manda agar percaya padanya.
“Aku hanya merasa tidak pantas untukmu, Jasson.” Ucap Manda lirih.
“Tidak, kau salah Manda. Hanya kau yang pantas untukku. Perempuan lain tidak.” Tegas Jasson.
“Beri aku waktu, Jasson.” Pinta Manda, ia tidak bisa memberi Jasson jawaban saat itu juga.
“Baiklah, aku akan memberimu waktu. Tapi, aku mohon temani aku malam ini.” Jasson memohon pada Manda dengan tulus.
“Baiklah.” Manda mengangguk.
“Terimakasih, Manda.” Ia menarik Manda ke dalam pelukannya. Manda pun membalas pelukan Jasson.
***
Sisi sudah pulang tiga puluh menit yang lalu. Namun, Sasya tidak ikut pulang. Perempuan itu memutuskan untuk menginap. Alasan lainnya ia akan ikut J bersaudara dan Manda ke bar menghadiri pesta ulang tahun teman Jasson.
Tepat pukul 22:00 malam J bersaudara, Manda dan Sasya berangkat. Mereka menggunakan dua mobil. Manda dan Jasson berada dalam satu mobil. Sementara Juan, James dan Sasya berada dalam mobil yang lain.
“Acaranya di Club?” Tanya Manda mengenali tempat itu. Ia pernah ke tempat itu sekali saat melabrak Lusi.
“Iyaa.. tenang saja, ini milik kakak ipar.” Jawab Jasson datar.
“Aku tau.”
“Kau tau?”
Manda menangguk. “Aku pernah kesini.”
“Dengan siapa?” Jasson nampak penasaran. Ia memarkir mobilnya dengan gusar. Ia takut akan jawab Manda. Apa yang akan terjadi jika Manda pergi ke tempat itu dengan lelaki lain. Ia pasti akan murka.
“Kak Sisi dan Sasya, nanti aku ceritakan.” Manda melepaskan seatbelt nya lalu turun dari mobil.
Di perjalanan masuk ke dalam Club Manda menceritakan secara singkat pada Jasson awal mula ia pergi ke Club itu dan apa yang sempat terjadi di dalam Club.
“Jadi, kakak sempat keguguran?” Tanya Jasson.
“Ya, itu luka lama. Lebih baik kau tidak bertanya pada kakak.” Manda mengingatkan.
“Baiklah.”
.
.
.
Hallo temen-temen, maaf ya belum bisa teratur update nya. Sabar ya semuanya.. Dan, bolehkan author minta dukungan kalian dalam bentuk Like, Komen, syukur-syukur mau Vote. Karna semuanya gratis, Vote pun nggak bayar. Kalian bisa Vote setelah mengumpulkan poin. Poin dapat kalian kumpulkan dari jam online dan lama membaca novel. Apakah ada yang belum tau cara mengumpulkan poin dan Vara Vote?
Selagi menunggu Mu Dave update, kalian bisa baca karya author yang lain.
Nice to meet You (ongoing)
Menikahi lelaki pilihan kakek (Ongoing)
Bersamamu (End)