
Sampai di kamar bukannya bernafas lega Manda malah mendapat pelototan tajam dari Kakek. Ternyata kakek John menunggu Manda di kamarnya.
“KA..kakek.” Ucap Manda terbata-bata. Ditambah lagi keadaan Manda masih bermuka bantal khas orang bangun tidur.
“Dari mana kamu?” Tanya kakek dengan tatapan menyelidik. Kakek John semula duduk di sofa pun berdiri ia menghampiri Manda dengan tangan bersedekap di dada.
“Em, Manda itu kek, Em Manda, Manda.” Mendadak Manda menjadi gagu tidak jelas bicaranya.
“Tidur di kamar Jasson?” Tuduh kakeh yang sudah jelas betul. Kakek sebenarnya tau Manda tidur di kamar Jasson. Ia hanya mau mendengar sendiri dari mulut Manda.
“I..iya.” Jawabnya lirih.
“Tapi, Manda dan Jasson hanya tidur saja, kita tidak melakukan apapun. Sumpah kek Manda tidak melewati batas.” Ucapnya dengan kedua tangan di silangkan di depan dada.
“Yakin cuma tidur saja?”
“Yakin, tidur saja tidak lebih.” Jawab Manda tegas.
Kakek pun kembali duduk disofa. “Duduklah, ada yang ingin kakak diskusikan dengan mu!” Raut wajah kakek John berubah serius.
“Apa ini tentang kak Dave?” Manda pun berjalan duduk ke sofa. Duduk di sebelah kakek.
“Kau sudah tau tentang Dave?” Tanya kakek John. Manda pun mengangguk.
“Manda tidak sengaja mendengar percakapan Juan dan James. Lalu Manda bertanya langsung pada Jasson.” Ucap Manda.
Awalnya kakek John baru akan menceritakan kecelakaan Dave pada Manda. Ia akan meminta Manda untuk mengatasi Keisya saat Keisya sudah mengetahui semua nya. Tak disangka Manda malah sudah tau semuanya dari Jasson. Kakek John juga tau Dave kecelakaan dari Leo. Asisten Dave itu langsung mengabari kakek yang sedang berada di negara B. Mendengar Dave kecelakaan tidak perlu menunggu waktu lama kakek langsung kembali ke negara S.
“Manda..cepat atau lambat Keisya pasti akan tau. Kau harus bisa menenangkan kakakmu. Kakek tidak mau Keisya sampai sakit gara-gara masalah ini.” Ucap kakek.
Manda mengangguk. “Apakah kak Dave selamat?” Manda berharap Dave selamat seperti apa kata Jasson. Mungkin sekarang Dave hanya sedang berada di suatu tempat.
“Kakek yakin Dave selamat, dia pasti akan keluar di saat yang tepat. Kau tidak perlu khawatir tentang hal ini, kau cukup selalu di samping Keisya dan baby Boy. Untuk masalah Dave, kakek dan yang lainnya yang akan mengurusnya (Read:Jasson, Juan, James, Leo dan anak buah Dave).” Ujar kakek. Lelaki tua itu sedih dengan keadaan yang menimpa cucu nya. Namun, ia tidak bisa memperlihatkan semua kesedihannya di depan Manda atau pun Keisya. Ia tidak mau Manda dan juga Keisya ikut bersedih.
“Baik kek.” Jawab Manda.
Kakek bangkit berdiri. “Bersihkan dirimu lalu turun, Keisya sudah mencarimu kemana-mana.” Ujar kakek yang diangguki okeh Manda.
***
Di sebuah Villa megah bagian utara kota S. Villa yang juga tempat tinggal Raka.
“Kau yakin itu mobil Dave?” Tanya Raka sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya. Lelaki itu duduk di kursi yang berada di ruang kerjannya saat mendapat laporan dari salah satu bawahannya Dave diserang setelah mereka bertemu.
“Saya yakin Tuan, hanya ada mobil tuan Dave yang melintas di jalan itu.” Ucap bawahan Raka.
Raka pun tersenyum licik. “Aku bahkan tidak perlu turun tangan tapi dia sudah tiada, baguslah.” Raka memang sudah merencanakan sesuatu untuk melenyapkan Dave namun belum sampai ia melakukannya pihak lain sudah lebih dulu mengambil langkah. Ia jadi tidak perlu bersusah payah mengurus Dave. Kini Raka hanya perlu melancarkan rencananya yang kedua. Mendekati Keisya!
“Menurut tuan siapa yang menginginkan nyawa tuan Dave?” Tanya bawahan Raka penasaran.
Raka bergeming, ia pun berdiri sambil berjalan mendekati jendela lalu menerawang jauh seakan memikirkan sesuatu. “Entahlah, tapi, aku tidak peduli siapa dia. Yang jelas aku merasa berterimakasih padanya, dia sangat membantuku.” Jawab Raka.
“Lalu apa rencana tuan selanjutnya?Bukankah tuan pasti akan di curigai?” Bawahan Raka mengingatkan.
“Tenang saja, aku akan membuat alibi. Karna memang bukan aku pelakunya.” Jawab Raka santai.
“Baik, Tuan.” Jawab bawahan Raka yang langsung undur diri.
Mencari tau yang terjadi di Villa luxury bukan hal mudah. Tidak sembarangan orang bisa masuk ke Villa luxury, lalu mengapa Raka sangat percaya diri saat memberikan perintah pada bawahannya?Mungkinkah ada mata-mata di Villa luxury.
***
“Kau akan pergi kemana Jasson?” Tanya Keisya melihat Jasson yang sudah rapi dengan setelan jas nya. Lelaki itu mungkin akan pergi ke kantor.
“Jasson akan ke kantor, kak.” Jawabnya seraya menghentikan langkahnya saat mendengar Keisya memanggilnya.
“Jasson apa kakak bisa minta tolong?”
Jasson mengangguk. “Tentu saja kak, apa yang bisa Jasson bantu?” Dalam hatinya Jasson merasa was-was jika Keisya menanyakan perihal Dave.
“Pergilah ke grup Wilson, periksa apa kakak iparmu di kantor. Semalam Dave tidak pulang, Leo juga tidak bisa dihubungi, aku mengkhawatirkan nya. Kau bisa, kan?” Terlihat jelas dari sorot mata Keisya, kekhawatiran yang cukup mendalam pada suaminya. Ia sudah berkali-kali menghubungi suaminya maupun asisten suaminya namun tidak tersambung.
“Baiklah kak, Jasson akan mampir sebentar ke kantor kakak ipar.” Jawab Jasson.
“Terimakasih Jasson.”
“Sama-sama kak.” Jasson pun melanjutkan langkahnya dan berangkat ke kantor.
Padahal sebenarnya Jasson tidak akan ke kantor. Ia dan yang lainnya akan menyusuri sungai mencari kemungkinan Dave hanyut ke sungai. Di tempat kejadian kecelakaan ada aliran sungai. Ia juga akan mencari tau ke penduduk sekitar apakah ada yang mendengar adanya ribut-ribut. Walaupun sepetinya nihil penduduk akan mendengar ribut karna jarak desa penduduk sekitar dengan lokasi kecelakaan Dave hampir dua kilo.
Juan dan James beserta Alex sudah lebih dulu berada di lokasi. Mereka berangkat pagi-pagi buta.
***
Keisya Pov
Semalaman Dave tidak pulang dan Boy pun rewel. Aku menjadi khawatir. Tidak seperti biasanya Dave tidak bisa dihubungi. Padahal semalam Dave sempat mengirim pesan dalam perjalanan pulang. Lalu mengapa dia tidak sampai di Villa, dan malah tidak mengaktifkan ponselnya? Dimana Dave?
Bukan hanya Dave, asisten pribadinya yang selalu menempel kemanapun Dave pergi pun tidak bisa ku hubungi?Apa yang terjadi sebenarnya?
Aku juga merasakan gerak-gerik si kembar aneh. Saat aku memintanya menghubungi Leo. Aku yakin saat itu Juan berhasil menghubungi Leo, dia malah keluar dari kamar Boy. Dan, saat aku bertanya dia malah bilang Leo tidak bisa dihubungi. Aku mau menuduhnya berbohong saat itu juga, tapi, tangisan Boy mengurungkan niatku.
Aku pun terfokus pada Boy. Aku berusaha menenangkan Boy dengan sabar, hingga ia pun terlelap kembali menjelang subuh.
Di saat semua orang tidur, aku terjaga. Aku kembali mencemaskan suamiku. Aku meyakinkan diriku bahwa Dave pasti baik-baik saja. Besok pasti dia pasti pulang.
Namun, sampai matahari terbit dan menampakkan cahayanya Dave tak kunjung pulang. Aku akan bertanya pada Juan atau James apakah Dave menghubungi mereka, tapi, mereka sudah pergi pagi-pagi sekali.
Lagi-lagi aku merasa ada yang aneh.
.
.
.
.