
Dave menjemput Keisya di ruang ganti. “Sudah selesai?” Dave mendekat ke Keisya y juga berjalan mendekat ke Dave. Dave dan Keisya saling berjalan untuk menghampiri.
“Maaf, Dave. Aku sudah mengacaukan acara malam ini.” Keisya merasa bersalah atas kekacauan yang terjadi.
“Tidak masalah, kau bisa membuat kekacauan apapun yang kau mau. Aku akan selalu membereskannya.” Dave menggandeng lengan Keisya untuk kembali ke hall utama.
“Ehemm, apa kalian melupakanku.” Ketus Manda.
Dave menoleh ke adik iparnya. “Sepertinya sudah waktunya kau mencari pacar.” Kata Dave seraya nyengir.
“Terus saja kakak ipar meledek aku yang jomblo ini. Aku akan mengadukan kak Dave pada kakek.” Manda berjalan meninggalkan Dave dan Keisya dengan kesal.
Keisya mencubit lengan Dave. “Dave!Kau selalu saja menggoda Manda.”
“Maaf, sayang. Aku hanya bercanda.”
Di hall utama Kakek John memberikan sedikit sambutan setelah Dave menyelesaikan pidatonya. Pidato sakral setiap tahun yang berhubungan dengan kemajuan Group Wilson dari tahun ke Tahun. Kakek John naik keatas panggung.
“Selamat malam semua, Terimakasih untuk para tamu undangan yang sudah hadir. Acara tahun ini sedikit berbeda, tidak hanya untuk merayakan kemajuan Group Wilson yang semakin berjaya. Saya berdiri di sini juga ingin mengatakan hal yang sangat penting. Mungkin sebagian dari tamu undangan sudah melihat berita tentang pernikahan cucuku. Beberapa ada yang bertanya-tanya apakah berita nyata atau hanya hoax. Di atas panggung ini saya sebagai Kakek dari Presdir Group Wilson dan juga Ketua Group Wilson akan menyampaikan kebenaran dari berita yang beredar. Meskipun Dave sendiri sudah menyampaikan kebenaran melalui konferensi pers tapi sepertinya ada yang masih tidak percaya. Disini saya akan memperkenalkan cucu menantu ku. Keisya Louis kemarilah Nak.”
Keisya pun naik panggung sesuai permintaan kakek John. Kakek John menggandeng lengan Keisya. “Dengan bangga saya perkenalan Perempuan muda disamping saya ini adalah cucu menantuku yang juga istri sah Presdir Dave. Para tamu undangan yang hadir bisa memperhatikan dengan jelas, sehingga kedepannya jika bertemu dengan cucu menantuku bisa menyapa dengan benar.” Ucap Kalek John dengan lantang. Kakek John sengaja memeperkenalkan Keisya lagi secara sah di acara besar seperti ini agar kelak tidak ada yang berani untuk menindas Keisya.
Belum cukup sampai disini, kakek John kembali berbicara. “Dan saya ingin memperkenalkan satu orang lagi.” Lampu ruangan langsung menyorot ke Manda yang membuat Manda jadi pusat perhatian. “Perempuan muda yang saat ini berada di bawah lampu sorot itu adalah adik ipar dari Dave dan dia juga cucu kesayanganku. Jadi seperti halnya Keisya, Kalian bisa menyapa Manda dengan benar saat bertemu dengannya.” Kakek John sepetinya tidak hanya memperkenalkan Keisya dan Manda sebagai keluarganya, tapi dia juga seakan memberi peringatan bagi orang lain agar lebih menghormati Keisya dan Manda. Karena sekarang Keisya dan Manda bukan lagi orang yang bisa disentuh sembarangan. Keisya dan Manda yang sudah menjadi bagian dari keluarga kakek John dan Dave Wilson tentu saja akan mendapat perlindungan mutlak dari kakek John dan Dave.
Manda pun berjalan naik keatas panggung. Kakek John merangkul kedua cucu perempuan kesayangannya itu. Setelah memperkenalkan Keisya dan Manda, kakek John menutup pidatonya dan mengajak para tamu untuk cherss dan menikmati hidangan yang sudah disiapkan.
Acara ulang tahun Group Wilson berjalan lancar sampai akhir. Selesai acara Dave dan keluarganya kembali ke Villa luxury.
“Kalian beristirahatlah, kita bisa berbicara lagi besuk!” Tegas kakek John. Berbeda sekali dengan kakek John yang kemarin Keisya dan Manda kenal. Kakek John yang saat ini berbicara dengan gaya orang kaya, tegas dan elegan.
“Baiklah, kek. Selamat malam.” Kata Manda.
“Selamat malam, Manda.” Jawab kakek. Manda langsung menuju ke kamarnya. Dave dan Keisya juga menuju kamarnya untuk beristirahat.
“Sayang?” Dave menunjuk-nunjuk pipi Keisya dengan jari telunjuknya.
“Hemm.” Keisya sudah memejamkan matanya karena mengantuk dan lelah.
“Sejak Manda membawa kakek pulang, aku bahkan tidak curiga sama sekali jika dia kakekmu. Padahal jelas kalian bermarga sama.”
Kali ini Dave memencet hidung Keisya. Dia sengaja menggangu Keisya yang sudah ngantuk. “Apa yang kakek katakan padamu?”
“Tidak banyak, kakek hanya mengatakan punya seorang cucu yang durhaka dan tidak peduli padanya.” Suara Keisya melirih.
“Apa??Kakek berkata begitu?Lalu apa kau percaya padanya?” Tanya Dave tapi sudah tidak mendapat sahutan dari Keisya, karena perempuan itu telah tertidur. Dave yang menyadari istrinya telah terlelap akhirnya ikut memejamkan mata dan tertidur.
Pagi harinya setelah sarapan Dave dan kakek pergi ke Group Wilson. Kakek hanya ingin menyapa karyawan lama kakek dan berkeliling sebentar di perusahaan yang sudah ia bangun dari nol hingga menjadi seraksasa sekarang ini. Sementara Keisya pergi ke butik bersama pengawalnya dan Manda pergi kuliah.
“Kenapa kakek tidak mengabariku saat kembali?”
“Kenapa kau tidak mengabari kakek saat menikah?” Kakek John balik bertanya pada Dave.
Dave dan kakek saling melotot satu sama lainnya. “Apa kakek tidak bisa menjawab pertanyaanku lebih dulu?” Ketus Dave.
“Apa kau juga tidak bisa menjawab pertanyaan kakek dulu?” Balas kakek John santuy.
Dave bangkit dari kursi kebesarannya, lalu duduk di sofa sebelah kakek John. “Sudahlah, tidak ada untungnya berdebat dengan kakek.”
“Baguslah, jika kau tau itu.” Kakek John mengeluarkan papan catur dari bawah meja sebelah sofa yang sedang ia duduki.
Dave menghela nafasnya, lalu menyenderkan kepalanya di sofa dengan satu tangan di atas keningnya.
“Apa ada masalah?” Tanya kakek John.
“Kakek, sebenarnya aku...”
.
.
.
Bersambung..