My Dave

My Dave
S2 Perang



Keesokan harinya suasana Villa luxury yang tidak lain adalah rumah utama Dave sangat kacau. Terjadi perang mulut dimana-mana. Perang itu berasal dari Manda dan Jasson juga Sasya dan James.


Keributan itu juga membangunkan sang pemilik rumah yang masih tertidur dengan memeluk istrinya. Dave lupa menyalakan mode kedap suara di kamarnya. Makanya ia bisa mendengar dengan jelas keributan di luar kamarnya.


“Mengapa mereka berisik sekali?” Keluh Dave seraya membuka matanya. Ia melirik Keisya yang masih terlelap di sebelahnya tanpa terusik sama sekali. Padahal suara ribut itu sangat keras. Dave bangun dan duduk bersandar punggung ranjang.


“Sayang..” membelai rambut kepala Keisya. Beberapa helai rambut Keisya menutupi wajah cantik perempuan itu.


Sang pemilik rambut pun mengerjapkan-ngerjapkan matanya. Perlahan kedua mata indah itu terbuka sempurna. Ia mendongak melihat wajah suaminya. “Selamat pagi, Dave.” Sapanya.


“Selamat pagi juga, sayang.” Menunduk lalu mengecup bibir Keisya. “Morning kiss.” Ucapnya lembut.


Keisya pun bangkit dan melakukan peregangan otot.


Prank..Prank.. terdengar suara sesuatu pecah.


Keisya menoleh pada Dave. “Dave, apa kita diserang?” Tanyanya polos. Dave tersenyum mendengar pertanyaan istrinya.


“Ya, sepertinya negara api sedang menyerang kita, sayang.” Jawab Dave konyol.


“Aku serius, Dave.” Mencubit lengan Dave. Hingga laki-laki itu sedikit meringis. “Auh.”


“Aku juga serius, sayang.” Balas Dave mengelus lengannya yang baru saja di cubit Keisya.


Keisya turun dari ranjang. Ia penasaran kekacauan apa yang sedang terjadi diluar kamarnya. Ia hanya menggunakan baju tidur berbentuk dresss tanpa lengan. Keisya pun meraih cardigan yang tergeletak di sofa untuk ke tutupi lengannya.


Ceklek.. Keisya membuka pintu kamarnya. Ia berjalan ke arah selatan untuk memeriksa kamar Manda. Dan tepat dia depan kamar Manda telah terjadi perang dunia kedua. Manda tengah menentang sapu dan Sasya memegang gagang kain pel. Didepanya ada Jasson dan James kedua laki-laki itu membawa tutup panci untuk tameng saat Manda dan Sasya mulai memukuli mereka. Entah apa penyebab perang itu.


“Hentikan!” Teriak Keisya. Keempat bocah itu akhirnya menoleh pada Keisya. Mereka menghentikan perang itu.


“KA..kakak.” Ucap Jasson dan James terbata-bata.


Sementara Manda dan Sasya hanya menunduk, tidak berani memandang Keisya yang terlihat marah.


“Kalian berempat turun ke ruang makan, sekarang!!” pemerintah Keisya.


“Baik.” Jawab keempatnya.


“Tunggu Kakak disana!”


“Baik.” Dengan peralatan masing-masing mereka turun menuju ruang makan.


Keisya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan adik-adiknya. Keisya pun berjalan ke arah kamar Manda untuk menutup pintu kamar Manda yang terbuka. Namun, ia melihat sesosok laki-laki tengah santai tiduran di sofa kamar Manda seraya memainkan ponselnya. Seakan ia tidak peduli pada apapun. Bahkan kerusuhan yang terjadi didepan kamar Manda sepertinya tidak mengganggunya.


“Juan?” Panggil Keisya.


Laki-laki itu menghentikan aktivitasnya lalu melihat kearah pintu. “Kakak, sudah bangun?” Juan tersenyum lalu bangkit. Ia berjalan menghampiri Keisya. Sebelumnya Juan menyimpan ponselnya di dalam saku.


“Kau tidak ikut perang?” Tanya Keisya.


“Tidak, aku malas.” Jawabnya.


“Baiklah, turunlah ke ruang makan. Kakak akan mandi sebentar lalu menyusul.”


“Baik.” Juan menutup pintu kamar Manda. Ia mengikuti Keisya di belakangannya. Keisya pun kembali ke kamar sementara Juan ke ruang makan.


***


Sampai di kamar Keisya tidak melihat Dave. Suaminya itu pasti tengah mandi. Keisya menyiapkan baju kerja untuk suaminya.


“Apa yang terjadi, sayang?” Tanya Dave baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


“Si kembar, Manda dan Sasya sedang perang.” Jawab Keisya.


“Apa mereka tidak lelah perang setiap hari?” Dave heran. Hampir setiap hari adik iparnya itu selalu perang dan tidak tau waktu. Kadang pagi hari, kadang siang hari, kadang tengah malam.


Keisya mengangkat kedua bahunya. “Entahlah.” Lalu ia melewati Dave berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Diruang makan sangat tenang. Manda duduk di sebelah Sasya. Didepanya ada James dan Juan. Mereka duduk sejajar. Menu sarapan sudah terhidang di atas meja. Tapi, mereka akan mulai makan setelah Dave dan Keisya turun. Sebenarnya tidak ada aturan mereka harus sarapan menunggu Dave dan Keisya. Tapi, mereka lebih suka makan bersama.


“Aku tidak melihatmu,” balas Jasson.


“Jangan bohong, kau terus saja menatap kearahku.” Ketus Manda.


“Aku hanya memandang lukisan di belakangmu. Siapa suruh kau duduk di situ.” Ucap Jasson santai.


“Kau!” Manda kesal, ia hampir saja melempar buah anggur pada Jasson namun Juan menghentikan aksinya. Dia merebut buah anggur dari tangan Manda lalu memakanya.


“Sayang sekali buah seenak ini dijadikan bola kasti.” Ujar Juan seraya duduk di sebelah Manda.


Sasya yang melihat Juan langsung senang. Ia bangkit dari duduknya dan pindah duduk disebelah Juan. “Juan, apa kau bisa mengantarku pulang?” Tanya Sasya seraya menatap Juan.


“Cih, dasar ganit.” Gumam James.


“Kau kesini dengan siapa?” Tanya Juan pada Sasya.


“Sendiri.”


“Lalu kenapa kau minta aku mengantarmu pulang?Jika kau kesini sendiri, maka seharusnya kau juga bisa pulang sendiri!” Ketus Juan. Laki-laki itu selalu saja cuek pada Sasya.


“Haha, kasian.” Ledek James yang langsung dipelototi Sasya.


“Aku bisa mengantarmu kuliah, Manda.” Ujar Jasson.


“No Thankyou. Aku bisa pergi sendiri.” Balas Manda cuek.


“Huh.” Jasson menghela nafas kasar.


“Bagaimana Juan?” Tanya Sasya penuh harap.


“Aku sibuk!Kau pulang sendiri saja.” Sasya kecewa Juan selalu saja menolak permintaannya. Juan bahkan menolaknya dengan kasar. Apa Juan sama sejak tidak menyadari perasaan Sasya.


“Atau kau diantar James saja!” Usul Juan. “Dia tidak sibuk.” Lanjut Juan.


“Tidak mauuu!!” James dan Sasya menjawab dengan serempak.


“Kalian kompak, sepertinya jodoh.” Ejek Juan.


“Cih, aku tidak sudi berjodoh dengan nya. Perempuan tulalit dan genit.” Ucap Juan.


“Apalagi aku, bisa gila aku berjodoh dengan laki-laki sepertinya.” Timpal Sasya.


Hening..


Hening..


“Kenapa sepi sekali?Kalian sudah akur?” Keisya baru saja bergabung dengan mereka di meja makan. Ia datang bersama Dave yang sudah rapi dengan setelan jasnya.


“Mana mungkin mereka akur, kak. Mereka hanya pura-pura akur didepan kakak.” Ucap Juan santai.


“Oh, sepertinya mereka butuh dihukum.” Gumam Keisya.


“Sudahlah sayang. Kita sarapan dulu baru kau pikirkan hukuman untuk mereka.” Ujar Dave seraya duduk di kursi ujung tempat kepala keluarga.


“Kakak ipar!!” Protes Manda, Sasya, Jasson dan James.


“Sorry, aku dipihak istriku.” Ucap Dave seraya terkekeh.


Setelah sarapan Dave pergi ke kantor. Sementara Keisya memberi hukuman pada Manda, Sasya, James dan Jasson. Mereka di beri hukuman untuk pergi bersama selama satu hari penuh. Ada pengawal yang akan mengikuti mereka sebagai mata-mata dari Keisya.


Keisya sudah menyiapkan tiket untuk masuk ketaman bermain. Keisya mau mereka menghabiskan waktu di taman bermain. Mereka boleh perang disana.


.


.


.