
Manda, Sasya dan kakek John tengah menikmati teh sore di ruang keluarga. Sedangkan Keisya dan Dave sibuk di kamar mereka.
“Kak Dave dan kak Keisya tidak keluar kamar seharian.” Sasya menggelengkan kepalanya. “Apa yang mereka lakukan?”
“Apa kau penasaran, Sya?” Tanya Manda. Dan Sasya mengangguk.
“Kalau penasaran lebih baik kau menikah saja, iya kan kek?” Kakek John tersenyum lalu mengangguk.
“Aku mau menikah jika dengan Juan.” Jawab Sasya jujur.
“Apa kau perlu bantuan kakek, Sya?” Tanya kakek serius pada Sasya.
Sasya nampak bersemangat. “Kakek mau membantu?”
Kakek mengangguk lagi. “Tapi ada syaratnya.”
“Apa syaratnya kek?”
“Setelah kau lulus ujian profesi dokter, Kakek akan membantumu mengejar Juan.” Jawab kakek John dengan penuh penekanan dan keseriusan.
“Janji?” Sasya mengangkat jari kelingkingnya yang langsung di sambut dengan kaitan dari jari kelingking kakek pertanda janji.
“Kakek janji.”
Sasya senang sekali. “Baiklah, aku akan bersungguh-sungguh. Aku pastikan tahun depan aku lulus ujian profesi dokter.” Kata Sasya yakin.
Bukan tanpa alasan kakek John memberi syarat itu, kakek tau selama ini Sasya malas-malasan dalam belajar. Kakek memberi syarat sebagai motivasi untuk Sasya agar lebih rajin belajar dan bisa lulus dengan cepat.
Apalagi kakek juga tau, Juan bisa dikatakan jodoh yang seimbang untuk Sasya. “Kalau kau?Kau mau kakek jodoh kan dengan siapa?” Tanya kakek pada Manda.
Manda malah tertawa. “Apa kakek yakin bisa mencarikan jodoh untuk Manda?”
“Tentu saja, kakek pastikan untuk mencari yang terbaik untuk cucu kakek.” Ya kakek John memang sekarang lebih menyayangi Manda dari pada si Dave pembuat onar. Cucu kandung yang tidak bisa diatur.
“Kalau begitu Manda mau yang seperti kak Dave.” Cetus Manda.
Kakek dengan cepat menjawab Manda bahkan tidak sampai 3 detik. “Tidak ada, yang seperti Dave hanya ada 1 dan sudah menjadi milik kakakmu.” Jawab kakek John sedih. Kakek tidak menyangka Manda ingin suami yang seperti Dave.
Manda melipat kedua tangannya di dada dan menatap tajam kakek yang sedang menunduk itu. “Maksud Manda bukan yang sama persis seperti kak Dave, tapi yang bertanggung jawab dan bisa mencintai perempuan seperti yang kak Dave lakukan ke kak Kei.” Gerutu Manda.
Kakek pun diam cukup lama seperti sedang memilah milah kandidat yang tepat. “Baiklah, kakek sudah menemukan yang cocok untukmu. Dia cucu sahabat kakek.”
“Tampan tidak?” Tanya Sasya. “Kaya tidak?” Tanya Sasya lagi.
“Dasar bocah mata duitan.” Sindir Manda pada Sasya.
Belum sampai kata sepakat perbincangan Manda, Sasya dan kakek John pun terpaksa harus berhenti karena kedatangan James dan Juan.
“Pak Mo, aku sangat haus bisa berikan air.” Ucap Juan yang baru saja tiba dan duduk di sebelah Sasya.
“Tuan Muda James?” Tanya pak Mo.”
“Aku tidak usah pak.” James langsung duduk di sebelah Manda.
Manda tidak begitu suka melihat si kembar. Mereka telah menggangu meeting penting antara Manda, Sasya dan kakek John.
“Kalian ngapain ke sini?” Ketus Manda.
“Kami Merindukanmu.” Jawab James asal.
Kakek hanya tersenyum ketika melihat Sasya yang sedang diam saja disebelah Juan, kakek sangat yakin jantung Sasya pasti berdetak sangat cepat. “Kalian bicaralah, kakek akan ke taman belakang.” Pamit kakek John.
Kakek John memberi kesempatan pada muda-mudi itu untuk mengobrol.
“Dimana kak Keisya?” Yang James.
“Di kamarnya, sedang berduaan dengan suaminya.” Balas Sasya.
“Kalau begitu kau berduaan denganku saja, cebol. Bagaimana?” Goda James. Dari awal James sangat senang menggangu Sasya, entah James menyukai Sasya sebagai wanita atau James hanya sekedar usil saja pada Sasya.
“Tidak mau!”
“Aku setuju.” Ucap Juan.
Sasya langsung semangat. “Kalo begitu tunggu apa lagi, ayo berangkat!” Ajak Sasya sudah bangkit dari duduknya seraya menggendong tas.
“Aku ambil tas dulu.” Manda berlari menuju kamarnya untuk mengambil tas.
Dan keempatnya pun berangkat ke taman bermain dengan mobil Juan.
“Manda lihat kesini!” James tengah mengarahkan ponsel nya pada Manda. Dengan cepat Manda berpose, ia tau James sedang memotret nya.
“Kau tidak mengambil fotoku, James?” Protes Sasya.
“Tidak. Karena kau cebol hahaha.” Bukan James tapi Juan yang menjawab.
Sasya nampak sebal dengan jawaban Juan. Ia pun langsung cemberut.
“Sudah jangan cemberut, cepat pose!” Perintah James.
Karena sangat senang saya tertawa lebar. Hasil fotonya bahkan lucu, Sasya tertawa dengan mata tertutup.
Berbagai wahana permainan di coba oleh Manda dan saya. “Setelah ini, kita kemana lagi?” Tanya Sasya.
“Pulang, memang mau kemana lagi?” Ucap James.
Juan dan Sasya tengah asik melihat foto-foto mereka di kamera James. Sejak kecil James memang suka memotret, tertanam jiwa fotografer di dalam dirinya.
“Kenapa paling banyak foto si cebol?” Juan mengernyitkan dahinya heran, dari semua foto yang di ambil James, paling banyak milik Sasya. Bahkan banyak candid Sasya yang tidak jelas, misal Sasya sedang menguap atau duduk sambil tertawa.
“Iya, fotoku juga hanya sedikit.” Manda dan Juan pun saling pandang.
“Jangan-jangan!” Ucap serentak Manda dan Juan.
Manda menoleh ke James yang sedang menemani Manda mengantre membeli sosis panggang. “Tidak salah lagi.” Ucap Manda diangguki oleh Juan.
“Ini penindasan. Cebol sedang menindas James, aku harus menyelamatkan James dari siksaan cebol.” Juan langsung berlari ke arah James dan Sasya.
Sementara Manda bengong. “Hei, kau bodoh sekali Juan!” Ucap Manda menggelengkan kepalanya.
Juan menarik James agar menjauh dari Sasya. “Saudaraku, aku akan melindungimu. Tidak akan aku biarkan satu orang pun menindasmu.” Kata Juan berdiri di depan James dengan tegap.
“Hei, minggir!Aku sedang mengobrol dengan James!” Ketus Sasya. Padahal Sasya sedang membicarakan gamis terbaru yang sama-sama disukai James dan Sasya. Tapi tiba-tiba Juan datang menghalangi obrolan mereka.
“Jangan lakukan apapun pada James, apa tidak cukup kau menindasnya seharian ini?” Ketus Juan tetap berdiri di depan Sasya.
“Kapan aku menindas James?” Tanya Sasya bingung.
“Iya, memang kapan cebol menindasku?” James sedikit memajukan tubuhnya dan melihat Juan yang masih berdiri di depannya.
Juan merangkul tubuh James. “Sudahlah saudaraku, kau tidak perlu berpura-pura lagi. Aku tau cebol menindasmu, kau tidak perlu takut ada aku sekarang.”
Ucapan Juan membuat Sasya dan James bingung. “Juan, apa kau sakit?” Tanya Sasya. Sasya menyentuh kening Juan dengan telapak tanganya. Kemudian beralih menyentuh keningnya sendiri.
“Tidak panas.” Gumam Sasya.
“Kenapa kau menyentuhku?Kau sungguh mesum.” Teriak Juan begitu Sasya menyentuh keningnya.
“Mesum??Hei aku hanya menyentuh keningmu, bukan menciumu. Bagaimana kau bisa mengataiku mesum??” Protes Sasya.
.
.
.
Bersambung..