
Drap
Drap
Drap..suara langkah berlarian dari arah pintu depan. “Tuan, Tuan.” Bodyguard Farhan yang bertugas di gerbang depan berteriak memanggil-manggil Farhan.
“Ada apa?” Farhan baru saja keluar dari kamar Keisya.
“Tuan, Villa kita sudah di kepung.” Kata Bodyguard itu.
“Maksudmu?”
“Sepertinya King yang mengepung Villa, saya mendapatkan laporan dari yang bertugas di menara. Mereka melihat banyak helikopter diudara yang menurunkan penumpangnya dengan tali.”
“Kurang*j*r, kenapa bisa kecolongan?” Farhan sangat murka.
Dor ..
Dor ..
Dor ..
“Tuan, sepertinya mereka sudah mulai menyerang. Kita harus pergi.”
Asisten Farhan pun langsung berlari mencari Farhan begitu mendengar suara tembakan. “Tuan, saya akan membawa Tuan ke tempat yang aman.”
“Kenapa aku harus melarikan diri?Kita punya banyak Bodyguard juga.”
“Tuan, kita kalah jumlah. King membawa Anggota terbaiknya, kita semua tau King selama ini tidak pernah terkalahkan.” Kata asisten Farhan. “Lebih baik kita mengalah untuk sekarang, Tuan.”
“Shitt.”
“Kita akan membalasnya lain kali, Tuan.” Asisten itu masih berusaha membujuk Farhan agar mau melarikan diri.
“Aku harus membawa Keisya bersamaku.” Farhan langsung menuju kamar Keisya, tapi kalah cepat dengan Dave yang sudah menerobos masuk Villa bersama Alex. Asisten Farhan akhirnya memaksa Farhan untuk melarikan diri. Ia langsung menekan tembok di sebelah kamar Keisya, tembok itu akan menghubungkan Farhan ke pintu darurat yang tidak di ketahui oleh siapapun.
Dave menyuruh anggotanya untuk memeriksa setiap ruangan di kamar itu. Ia juga mengumpulkan seluruh pelayan di Villa itu. Jika ada yang membangkang anggota King tidak segan untuk langsung menembak mati si pembangkang.
Hanya tersisa satu kamar yang terkunci, Dave sangat yakin di kamar itulah Keisya berada. Tidak perlu menunggu waktu lama Dave langsung membuka pintu itu dengan kunci cadangan dari pelayan.
“Farhan, aku sudah bilang jangan masuk tanpa mengetuk pintu.” Gerutu Keisya, Keisya tidak menyadari siapa yang masuk kamar. Posisinya tengah membelakangi Dave, ia sedang membenahi jubah mandinya ketika mendengar suara pintu terbuka.
“Farhan?Sedekat itu kalian sampai hanya memanggil nama?” Hardik Dave yang tidak suka Keisya menyebut nama Farhan.
Mendengar suara tidak asing, suara yang sering kali ia rindukan ketikan menjelang tidur membuat Keisya bergetar. Keisya memutar tubuhnya perlahan menghadap kearah suara. “Dave?” Lirih Keisya.
“Kenapa?Kau tidak suka aku datang atau kau lebih suka tinggal disini?”
Dave memasukan salah satu tanganya ke dalam saku, ia memainkan pistol yang ada di tangan kanan-nya. Tapi ia menatap tajam ke Keisya.
“Apa pedulimu?Mau aku tinggal dimanapun apa pedulimu?” Ketus Keisya. Ia masih tak bergeming dari tempatnya berdiri. Kedua pelupuk mata Keisya mulai memproduksi cairan putih bening.
“Apa katamu?Tentu saja aku peduli, kau istriku!!Satu-satunya istriku!Bagaimana bisa aku tidak peduli padamu, Kei?” Suara Dave sedikit melembut.
“Persetan dengan kata istri, kau bahkan sudah punya Raisa dan putrimu. Untuk apa jauh-jauh mencariku.”
“Sayang?”
“Jangan panggil aku sayang!!” Keisya menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.
Dave berusaha mendekati Keisya, menyentuh salah satu tangan Keisya dengan tangan kirinya. Dave meminta Keisya untuk tidak menutup telinganya.
“Dengarkan aku, sayang. Kau salah paham.” Dave mulai menceritakan hubungannya dengan Raisa, termasuk rencananya untuk mengungkap kebusukan Raisa.
“Kau bohong?”
“Tidak.. Aku tidak berbohong, kau bisa bertanya pada Manda jika tidak percaya padaku.”
“Manda?Dia sudah kembali?”
Dave mengangguk. “Beberapa hari setelah kamu hilang, Manda dan kakek langsung pulang. Mereka Merindukanmu, jadi ayo kita pulang!” Bujuk Dave.
Entah karena sudah tidak bisa membendungnya lagi atau karena bahagia mendengar penjelasan Dave tentang Raisa, air mata Keisya langsung jatuh ke pipinya tanpa permisi.
“Kau mau pulang bersamaku kan?” Tanya Dave lagi. Kali ini Dave sudah sangat yakin Keisya akan pulang bersamanya.
Keisya hanya menjawab ajakan Dave dangan anggukan kepala. Tidak dipungkiri Keisya memang merindukan Manda, merindukan kakek dan merindukan semuanya. Hampir satu bulan Keisya terpisah dengan Dave.
Setelah melihat Keisya luluh, Dave pun memberanikan diri untuk mencium Keisya. Dave mencium lembur bibir Keisya dengan posisi tangan kanannya masih memegang pistol.
Bibir Keisya dan Dave saling bertautan untuk beberapa saat. “Dave apa kau membunuh Farhan?”
“Tidak, aku bahkan tidak menemukannya.” Jawab Dave dengan jujur.
Keisya langsung merasa lega begitu mendengar Dave tidak bertemu Farhan. Setidaknya tidak terjadi pertempuran darah antara kedua orang yang dulu pernah bersahabat itu.
“Kenapa?Kau menghawatirkannya?”
“Tidak, aku mengkhawatirkan mu.”
“Aku?”
“Aku khawatir kau terluka jika berhadapan dengan Farhan. Aku tau Farhan sangat kuat.”
“Sayang, aku juga tidak selemah itu.”
Dor..
Dor..
Dor..
Suara tembakan saling bersahutan dari luar Villa, Keisya yang shock mendengar suara itu langsung jatuh tak sadarkan diri. Dave dengan cepat menangkap Keisya dalam pelukannya. Terlihat sekali Ia sangat marah saat ini.
Perlahan Dave pun membaringkan Keisya keranjang. Lalu ia memeriksa apa yang terjadi, kenapa bisa terjais pertempuran lagi. Padahal tadi keadaan sudah terkendali.
“Ada apa?” Teriak Dave dari lantai dua.
“Maaf, Tuan ada sedikit kekacauan tapi kami sudah membereskannya.”
“Alex kau periksa keadaan sekitar.”
“Baik, Tuan.”
Dave pun kembali kekamar dan mengganti pakaian Keisya yang sedang tidak sadar itu. Bagaimana pun juga Dave tidak mungkin membawa pulang Keisya hanya dengan memakai jubah mandi. Setelah mengganti pakaian keisua, Dave menggendong Keisya ala bridal style dan membawa Keisya menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai 1.
“Apa nyonya terluka, Tuan?”
Dave mengangguk. “Siapkan helikopter, pulang ke kota S.”
“Baik, Tuan.”
****
Sudah dua hari Keisya tidak sadarkan diri semenjak sampai di kota S. Manda dengan telaten menunggui Keisya, Dave pun selama dua hari berkerja dari rumah. Dave tidak pernah sekalipun meninggalkan Keisya dari kamar.
Si kembar Juan dan James juga terlihat sudah dua hari menginap di Villa Dave, begitu juga dengan Sasya dan Sisi yang juga tak mau pulang dari rumah Dave.
“Mega berapa lama lagi istriku akan sadar?”
“Maaf, Tuan. Saya tidak bisa memastikan, sepertinya istri anda yang menolak untuk bangun.
“Maksudmu istriku menyerah dengan hidupnya?”
“MA-maaf, Tuan.” Lirih dokter Mega.
“Sudahlah, keluar kalian sungguh tidak becus berkerja!”
Dokter Mega dan para perawat pun beringsut keluar dari kamar Keisya.
Dengan kesal Dave duduk di kursi sebelah Keisya.
“Dave apa kau tidak bisa jika tidak memarahi mereka?Apa kau mau menakuti anakmu sendiri dengan berteriak-teriak marah seperti itu?” Keisya membuka matanya setelah meyakini dokter dan perawat keluar dari kamarnya.
“Sayang..Kau sudah sadar?” Dave langsung memeluk Keisya yang baru saja duduk bersandar ranjang .
.
.
.
Bersambung...
Mampir ke...”Bekas Istri yang kaya”