
***
“Apa ada masalah?” Tanya Juan menoleh pada perempuan di sebelahnya.
“Tidak!Kau fokus mengemudi saja!”
“Kau tidak akan bisa membodohiku, Manda!Katakan!” Juan sangat tau jika sudah menekuk wajahnya pasti Manda sedang sebal.
“Kak Keisya memintaku untuk melepaskan Raisa, apa menurutmu masuk akal?” Manda sangat jengkel dengan permintaan kakaknya. Sudah jelas Raisa hampir saja menghancurkan rumah tangganya, bagiamana bisa di lepaskan begitu saja.
“Apa?!Kakak memintamu melepaskan j*l*ng itu?” Tanya Juan tidak percaya.
Manda mengangguk. “Kakak bilang kasihan melihat Raisa yang linglung seperti orang gila.”
“Turuti saja kemauan kakak.” Ucap Juan santai.
“Ternyata kau sama saja dengan kakak. Bagaimana bisa memaafkan wanita itu dengan sangat mudahnya.” Manda tidak setuju, rasanya percuma ia curhat pada si Juan.
Juan mengusap rambut Manda dengan tangan kirinya, sementara tangan kanan memegang kendali setir. “Hei, dengarkan dulu. Aku punya rencana yang bagus.”
“Maksudmu?”
Juan mengangguk. “Yap, kita akan mengikuti kemauan kakak untuk melepaskan Raisa. Tapi tanpa sepengetahuan kakak, kita akan mengirimnya ke rumah sakit jiwa di desa terpencil!” Tutur Juan menyeringai jahat.
“Sejak kapan kau jadi pandai begini, Juan?Aku sangat bangga padamu!” Manda memuji ide cemerlang dari Juan.
“Kapan kita akan mengirimnya?”
“Lebih cepat lebih baik, aku mau perempuan itu menjauh sejauh mungkin dari kak Kei.” Ucap Manda.
“Baiklah, aku akan mengaturnya!”
Hari ini Manda menghabiskan waktu bersama Juan. Mereka akan memulai rencana pengasingan bagi Raisa.
***
Keisya sedang bersandar di kepala ranjang dengan kaki berselonjor. Ia tengah menunggu suaminya pulang kerja. Malam ini Keisya dan Dave akan menginap di butik milik Keisya, sesuai permintaan Keisya.
Keisya merasa sangat rindu dengan kamarnya yang berada di Lantai atas ruko butik. Ia termenung sambil memikirkan sesuatu, memikirkan bagaimana Manda bisa merubah pikirannya secepat kilat.
Baru saja tadi pagi Manda marah-marah pada Keisya tidak mau melepaskan Raisa, tapi belum sampai setengah hari bocah itu sudah berubah pikiran.
‘Aku sedikit khawatir, apa Manda sudah melepaskan Raisa seperti yang aku minta. Gelagat bocah itu sungguh tidak bisa diduga.’
Cup .. kecupan mendadak di kening Keisya membuyarkan lamunannya.
Dave masuk ke kamar begitu tau Keisya sedang melamun, ia langsung mendekati Keisya dan mengecup keningnya.
“Dave?”
“Apa yang kau lamunkan, sayang?Sampai tidak menyadari kehadiranku.” Ucap Dave.
“Aku hanya sedang khawatir.”
“Apa yang kau khawatirkan?”
Keisya pun menceritakan permintaannya pada Manda untuk melepaskan Raisa. Keisya juga memberitahu pada Dave bahagimana Manda menolak dengan keras, dan bagaimana bisa tiba-tiba menyetujui permintaan Keisya.
“Apa kau tidak percaya pada Manda?” Tanya Dave setelah Keisya menceritakan ke khawatirnya.
“Aku bukanya tidak percaya, hanya saja aku merasa aneh. Aku sangat tau Manda, dia tidak akan merubah pikirannya dengan begitu cepat.” Kata Keisya seraya mengambil alih jas dan dasi yang baru saja Dave copot.
“Sudahlah sayang, kau percaya saja pada Manda.” Kata Dave merengkuh tubuh istrinya dalam dekapanya.
“Dave, kau bau.” Keisya melepaskan pelukan Dave dan menutup hidungnya.
“What?” Dave langsung mencium aroma tubuhnya sendiri. “Tidak kok, masih wangi.”
“Bau sekali Dave, sana Mandi.”
Keisya masih menutup hidung dan sedikit menjadi dari Dave. “Baiklah, aku akan mandi.”
Dave dengan cepat pergi ke kamar mandi. Tidak perlu waktu lama Dave sudah kembali dengan jubah mandinya. “Bagaimana sayang?Apakah aku sudah wangi?” Tanya Dave berdiri di hadapan Keisya.
Keisya yang sedang fokus membaca buku itu pun mendongak ke arah suaminya. Ia begitu takjub dengan dada bidang Dave yang menyebut dari jubah mandinya. Keisya berdiri dan menyentuh dada bidang suaminya, merasakan tetesan air jatuh dari rambut Dave yang masih basah.
“Sayang, kau menggodaku?” Ucap Dave begitu merasakan telapak tangan Keisya menyentuh dada bidangnya.
“Tidak, aku hanya penasaran.”
“Dave?” Keisya mendingan dengan sedikit berjinjit ia memegang kedua bahu Dave dan mengecup bibir Dave.
“Kau benar-benar menggodaku, sayang.” Dave sudah tidak bisa menahan dirinya lagi, dia pun mengangkat tubuh Keisya dan membaringkannya di ranjang.
Dave langsung menghujani Keisya dengan ciuman, mereka pun melakukan ritual suami istri dan kali ini Keisya lebih agresif dari pada Dave. Entah apa yang terjadi pada Keisya, membuatnya berubah menjadi liar saat di ranjang.
“Sayang, kau sangat hebat tadi. Aku sangat puas!” Ucap Dave sedaya mencium kening Keisya.
Kini keduanya tangan berbaring di balik selimut yang menutupi tubuh polos mereka tanpa sehelai benang pun.
Keisya hanya menjawab Dave dengan senyuman. Ia sendiri tidak tau mengapa menjadi sangat agresif.
“Tapi aku suka, sayang.” Senyum terpancar jelas di raut wajah Dave.
Dug..
Dug..
Saat Dave sedang mengusap usap perut Keisya, ia merasakan ada sesuatu yang bergerak di perut Keisya. “Sayang, apa ini?”
“Boy menendang.” Jawab Keisya.
“Benarkah?” Keisya mengangguk. Dave langsung bangkit mendekatkan kepalanya di atas perut Keisya. “Boy, apa kau sedang bermain didalam sana?” Ucap Dave pada perut Keisya. “Sabar lah boy, saat kau sudah lahir Daddy akan menemanimu bermain.”
Cup..
Cup..
Dave mengecup perut Keisya berulang-ulang.
“Kapan dia akan lahir, Kei?Aku sudah tidak sabar untuk bermain dengannya.”
“Sabarlah, Dave. Bukanya tadi kau juga mengatakan pada boy untuk bersabar.”
“Aku sungguh tidak sabar, Kei.”
Krucuk.. krucuk.. “Sepertinya kau lapar. Aku akan memasak sesuatu.” Keisya bangkit dan memakai bajunya, lalu menuju dapur.
Setelah Keisya ke dapur, Dave mangambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
📲 Dave: Anak nakal apa yang kau lakukan pada Raisa?
Dave mengirim pesan pada adik iparnya.
📲 Manda: Aku dan Juan mengirimnya kerumah sakit jiwa ditempat yang sangat jauh (emot ngakak).
Dave tersenyum puas begitu menerima balasan pesan dari Manda.
📲 Dave: Kerja bagus. (Dengan emot jempol)
Dave langsung menghapus percakapan chat nya bersama Manda. Dave tidak mau Keisya membacanya, padahal Keisya juga tidak pernah mengecek ponsel Dave. Hanya untuk berjaga-jaga.
“Sayang, apa yang kau masak?” Dave sudah berdiri dibelakang Keisya, dengan dagu yang ia tempelkan di bahu Keisya.
“Aku membuat spageti, maaf hanya ada ini di kulkas.”
“Apapun itu, asalkan makan bersamamu aku senang.”
“Bisa saja kamu, Dave.”
3 hari kemudian Keisya mendapat kabar yang sangat mengejutkan. Kabar pernikahan antara David dan Sisi. Keisya bahkan membaca undangan yang ada ditangannya itu berulang-ulang.
“Kakak, mau kakak baca berulang ulang isinya tetap sama.” Ucap Sasya.
“Sya, apa kau tau apa yang terjadi pada mereka?”
Sasya menggelengkan kepalanya. “Tapi aku tau satu hal kak.” Sasya pun berbisik pada Keisya membuat Keisya nampak terkejut.
.
.
.
Bersambung..
Jangan tanya kisah Sasya yang mengejar Juan disini ya guys, karena ini buku untuk Keisya dan Dave.
Author akan buatkan cerita untuk Manda dan Jasson, beserta Juan, James dan Sasya sendiri. Tapi nanti yaaa,,. Sabar ..