
Kakek John pulang ke Villa luxury setelah mendapat pesan dari Jasson. Lelaki tua yang bahkan masih terlihat berwibawa itu melangkah dengan elegan saat masuk ke dalam Villa yang di sambut oleh pak Mo dan beberapa maid.
Tuk.. tuk ..tuk..suara ketukan tongkat nampak berirama bersamaan dengan langkah kakek John. Kakek menuju lift dan masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai kamar Keisya dan Boy berada.
Ting.. pintu lift terbuka pertanda kakek telah sampai di lantai tujuan. Kakek pun keluar dari dalam lift dan melangkah santai menunju kamar Keisya. Dari kejauhan kakek sudah bisa melihat pintu kamar Keisya yang tertutup, namun di depan kamar itu ada Stevi dan satu orang pengawal nampak berjaga. Mereka duduk di kursi yang sudah di siapkan pak Mo. Yah, karena tidak mungkin pengawal yang menjaga Keisya hampir dua puluh empat jam itu berdiri di selama bertugas.
“Selamat datang tuan besar.” Sapa Stevi dan pengawal itu membungkuk pada kakek John.
“Hem.” Jawab kakek John lalu mengetuk pintu kamar Keisya.
Tok, tok, tok!
“Keisya, ini kakek! Apa kakek boleh masuk?” Kakek sedikit berteriak. Cukup lama kakek menunggu sahutan dari Keisya namun tidak ada jawaban.
Jangan-jangan Keisya sedang.
Kakek John melirik sekilas Stevi yang juga melirik kakek. “Mungkin nyonya sedang tidur, tuan besar.” Ucap Stevi. Baru saja kakek John akan menimpali ucapan Stevi pintu kamar Keisya terbuka dari dalam.
“Masuk kek, maaf Keisya sedang menyusui Boy tadi saat kakek memanggil.” Ucapnya lembut sambil membuka lebar pintu kamar nya. Kakek menggangguk kan kepalanya sambil melangkah masuk ke kamar Keisya. Keisya pun menutup kembali pintu kamarnya dan menguncinya.
“Bagaimana keadaan cicit ku?” Pandangan kakek menyapu ke sekeliling kamar Keisya namun tidak menemukan Boy kecil. “Dimana Boy Kei?” Kakek menoleh pada Keisya yang sedang mengunci pintu.
“Boy ada kek, sedang bersama Daddy nya.” Jawab Keisya.
Kakek John menaikan alis sebelahnya. “Daddy nya?Apa Dave sudah pulang?” Keisya mengangguk mengiyakan pertanyaan kakek John. “Lalu dimana Dave?Apa dia baik-baik saja?ah, pertanyaan ku sudah jelas jawabnya. Dia pasti baik-baik saja, nyatanya pulang sendiri.” Ucap kakek John dengan pertanyaan dan jawaban yang ia ucapkan sendiri.
“Ayo kek, kita temui Dave!” Merangkul lengan kakek John dengan hangat. Keisya membuka pintu rahasia di kamarnya dan mengajak kakek masuk kedalam lorong rahasia yang akan membawa mereka menemui Dave. Kakek John sendiri tidak kaget ada pintu rahasia di kediaman Dave. Karena Dave juga memiliki ruang rahasia juga di Villa yang kakek tinggali. Sepertinya Dave membangun semua Villa nya lengkap dengan ruang rahasia masing-masing.
Sampailah mereka di kamar rahasia yang terhubung dengan kamar Keisya dan ruang kerja Dave. Keisya melepaskan rangkulannya pada lengan kakek untuk membuka pintu kamar itu dengan menempelkan telapak tangannya. Ya, pintu kamar itu kini dilengkapi dengan keamanan tinggi. Tidak semua bisa masuk kedalam kamar itu.
Pintu terbuka Keisya masuk lebih dulu, diikuti kakek John di belakangnya. “Sayang.. kakek pulang!” Menghampiri Dave yang sedang memangku Boy. Dave terlihat mengobrol dengan bayi kecil yang hanya bisa tersenyum-senyum sambil menggerak-gerakkan tangannya.
Dave menengadahkan kepalanya melihat ke arah Keisya dan kakek John. Seulas senyum langsung terbit di bibir seksi Dave. “Oh, sudah pulang ternyata. Kakek kemana saja?Harusnya saat Dave tidak ada kakek tetap di Villa menjaga anak dan istriku bukannya malah jalan-jalan di luar.” Protes Dave pada kakeknya.
“Sembarang kamu, kakek bukan jalan-jalan tapi mengurus perusahaan yang kacau karena kau yang tiba-tiba menghilang. Harusnya berterimakasih, ini malah menuduh yang tidak-tidak, bukannya malah kau yang bermain-main di luaran lupa anak istri?” Kakek mengangkat tongkat nya menunjuk-nunjuk ke arah Dave sambil terbawa emosi. Apa-apaan Dave ini, kakek sudah susah payah menstabilkan perusahaan yang kacau karena dirinya malah dituduh bermain diluar an.
“Sabarlah kek, Dave hanya bercanda.” Keisya mengelus lengan kakek John lembut. Lalu melotot tajam pada Dave yang cekikikan melihat kemarahan kakek John.
Dasar Daddy, bisa-bisanya membuat kakek marah.
“Lihat suamimu Kei, dia tidak ada sopan-sopannya pada kakek.” Mengadu pada Keisya karena Dave malah menertawakan kemarahan kakek.
“Iya sayang.” Lagi-lagi Dave kembali cekikikan.
“Wah, anak nakal ini perlu di beri pelajaran!” Menghampiri Dave dan menjewer telinga nya.
“Sakit kek.” Dave meringis saat telinga kanannya tertarik keatas oleh jeweran Kakek John. Sementara Boy mengangkat tangan mungilnya sambil tersenyum-senyum melihat Daddy nya meringis kesakitan. “Sayang, apa kau senang melihat Daddy menderita?” Keluh Dave pada putranya.
“Ya, sepertinya kau sangat senang melihat Daddy mu dianiaya kakek buyutmu.” Cibir Dave. Boy masih saja tersenyum-senyum seakan mengejek Dave.
“Oh, cicitku yang tampan!” Melepaskan jari jemarinya dari telinga Dave. Kakek John menyenderkan tongkatnya di sebelah tempat tidur lalu mengambil Boy kecil dari pangkuan Dave.
Kakek menimang-nimang Boy kecil sambil mengajaknya mengobrol. “Kakek buyut sangat Merindukanmu, Boy.” Menghujani Boy kecil dengan banyak ciuman di wajah mungil itu.
Keisya, kakek John dan Dave mengobrol setelah Boy tidur. Cukup lama sekitar dua jam an. Sampai tiba jam istirahat untuk Dave, kakek menyudahi obrolan mereka. Kakek pun pergi dari kamar rahasia itu. Kakek masuk ke kamarnya untuk beristirahat, beberapa hari ini kakek sibuk sampai kurang istirahat. Sekarang kakek bisa bernafas lega, Dave sudah kembali seberat apapun masalah di perusahaan Dave pasti bisa mengatasinya. Kakek juga tidak mempermasalahkan kepulangan Dave yang rahasia. Kakek yakin Dave memiliki rencana nya sendiri.
Sementara Keisya, ia juga kembali ke kamarnya bersama Boy. Ia juga menemui Stevi agar pengawal pribadinya itu tidak curiga. Sejak Dave pulang, Keisya agak mengacuhkan Stevi. Ia juga sering menolak bantuan dari Stevi. Bukan apa-apa karena Keisya sibuk pada Dave.
***
Sesuai permintaan Dave, Jack datang membawa Alex dan Leo. Orang kepercayaan Dave yang sudah mengikutinya bertahun-tahun. Jack datang lewat pintu rahasia seperti saat ia dan Dave pertama kali pulang.
Alex dan Leo masing-masing membawa map coklat yang berisi laporan selama Dave tidak ada. Baik laporan di King maupun laporan Group Wilson. Dalam perjalanan menemui Dave, Jack sudah menjelaskan keadaan Dave. Alex dan Leo juga tidak bertanya lebih karena mereka sudah memprediksi pasti ada yang menyelamatkan Dave.
Alex dan Leo cukup lama memandangi Dave yang terlihat bersantai sambil bermain game. Sampai-sampai Dave tidak menyadari kedatangan Alex dan Leo.
“Tuan..”
Dave menengadahkan kepalanya. “Ah, kalian sudah datang rupanya. Tunggu sebentar, kalian duduk saja disana!” Pandangan matanya mengarah sebentar pada sofa sementara jari jemari kedua tangan Dave masih sibuk dengan game di smartphone nya.
Alex dan Leo hanya mengangguk lalu duduk di sofa seperti permintaan Dave, menunggu atasannya selesai main game. Sementara Jack sudah pergi lagi, Jack hanya mengantar Alex dan Leo.
.
.
.
.
Aku usahakan up tiap hari untuk bulan ini.. atau dua hari sekali..