My Dave

My Dave
S2 Kontraksi



Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam. Beberapa bulan kemudian. Hanya tinggal menunggu beberapa hari Keisya melahirkan. Keisya sudah tidak diizinkan untuk keluar rumah oleh Dave. Lelaki itu takut terjadi sesuatu pada Keisya. Meskipun selama beberapa bulan iki keadaan tenang tapi Dave masih harus waspada. Karna Dave sendiri sadar sebagai bos King dan Presdir perusahaan raksasa musuhnya banyak.


Pagi ini Keisya menghabiskan waktunya untuk berjalan-jalan santai mengelilingi kebun belakang Villa luxury. Ia hanya di Villa sendirian, kecuali maid dan pengawal yang selalu bersamanya. Penghuni Villa yang lain yang juga keluarganya tengah menjalankan aktivitas masing-masing.


“Auwh.” Pekik Keisya merasakan gejolak yang sangat luar biasa dari dalam perutnya. Ia merasakan kontraksi. Apakah sudah waktunya boy keluar?


Keisya yang semula berdiri pun mencari kursi terdekat untuk ia gunakan duduk. Untunglah di kebun belakang ada gasebo yang bisa ia gunakan untuk istirahat.


“Sudah nggak sakit lagi.” Pekik Keisya baru saja duduk di gasebo. Ia pun berdiri, berniat untuk melanjutkan jalan-jalan, “Aduh.” Memegang perutnya lagi. Ia merasakan kontraksi lagi. Sakit yang Keisya rasakan datang pergi datang pergi sesuka hatinya.


“Stevi!” Panggil Keisya pada pengawal pribadinya. Stevi selalu berada disamping Keisya, kemanapun Keisya pergi.


“Ia nyonya, apa anda butuh sesuatu?”


“Tolong, hubungi Dave!Sepertinya aku akan melahirkan.” Ia masih memegangi perutnya. Sesekali perempuan itu mengelus elus perutnya.


“Ba..baik nyonya.” Meraih ponselnya dari saku untuk menghubungi Dave.


Dari arah dalam Villa pak Mo terlihat tergopoh-gopoh berlari menghampiri Keisya. “Nyonya, nyonya..apa nyonya baik-baik saja?” Pak Mo panik. Pak Mo datang bersama beberapa pengawal setelah mendapat laporan dari salah satu maid yang sedari tadi memperhatikan Keisya. Maid itu mengatakan pada pak Mo melihat Keisya kesakitan saat berjalan.


“Sepertinya nyonya akan melahirkan, Pak!” Ucap Stevi.


“Apa??Apakah sudah waktunya, nyonya?” Tanya pak Mo. Keisya pun mengangguk.


“Kamu hubungi tuan Dave, Stevi!” Perintah pak Mo.


“Sudah, pak. Tapi Tuan tidak bisa dihubungi, Leo juga tidak mengangkat teleponnya.” Balas Stevi.


“Mungkin mereka sibuk, tidak papa pak Mo. Siapkan mobil saja, saya kerumah sakit sendiri.” Ucap Keisya tenang. Ia tidak kecewa apabila Dave tidak bisa dihubungi. Karna ia tau pekerjaan Dave sangatlah banyak.


“Baik, nyonya.” Pak Mo kembali ke dalam rumah untuk menyiapkan sopir dan mobil yang akan membawa majikannya kerumah sakit. Ia juga menyiapkan pengawalan yang ketat untuk nyonya mudanya.


Stevi pun sigap memapah Keisya untuk berdiri.


“Antarkan aku ke kamar dulu.”


“Baik, nyonya.” Stevi mengantar Keisya ke kamarnya. Keisya berniat untuk ganti baju karna sebelumnya ia hanya memakai dress rumahan. Sementara Stevi, perempuan itu menyiapkan baju ganti Keisya saat dirumah sakit.


Lima belas menit kemudian Keisya sudah siap. Sopir dan mobil juga sudah siap.


“Pak Mo ikut?” Tanya Stevi melihat pak Mo masuk ke mobil bagian depan disebelah sopir.


“Harus, saya harus memastikan perjalanan nyonya aman sampai rumah sakit.”


Stevi hanya manggut-manggut. Ia duduk di kursi bagian penumpang belakang bersama Keisya.


***


Manda baru saja pulang dari kampus. Ia menyempatkan diri untuk mampir dibutik milik kakaknya. Sesuai permintaan Keisya, Manda akan membantu Keisya mengurus butiknya.


Hari ini ia sengaja membawa mobil sendiri kerena tidak mau direpotkan dengan rengek an Jasson yang ingin mengantar jemputnya. Sudah beberapa bulan berlalu hubungan Manda dan Jasson masih sama saja. Manda masih mengabaikan Jasson, sementara Jasson masih gigih berusaha meluluhkan hati Manda.


“Huft.” Keluh Manda, ia merebahkan dirinya di sofa ruang kerjanya. Manda sendiri mempunyai ruang kerja sendiri di butik Keisya.


Tok..tok..


“Masuk!”


Sekertaris Keisya masuk kedalam ruangan itu.


“Ada apa?” Tanya Manda.


“Maaf, nona. Ada tamu ingin bertemu, Nona.” Ucap sekertaris itu sopan.


“Katakan padanya saya tidak ada!” Manda sudah tau pasti Jasson yang mencarinya. Apalagi laki-laki itu sudah pulang kerja.


“Tapi, Tuan Jasson sudah melihat mobil nona di basement.”


“Hm, suruh dia masuk. Dan, bawakan teh hangat.”


Beberapa saat kemudian pintu ruangan Manda terbuka. Laki-laki berpostur tinggi dengan hidung mancung serta kulit putih bersih masuk keruangan Manda.



“Apa aku mengganggumu?” Jasson dengan santainya duduk di sebelah Manda.


“Sudah tau mengganggu kenapa kemari?” Manda kesal dengan pertanyaan Jasson yang bahkan sudah jelas jawabannya.


Jasson menghela nafas kasar. “Sampai kapan kau akan seperti ini, Manda?”


“Sampai kau berhenti menggangguku!” Tegas Manda.


“Kalau itu kau jangan bermimpi.” Sahut Jasson dengan cepat tak kalah tegas dengan ucapan Manda.


Manda melirik sekilas Jasson. Laki-laki disebelahnya itu menatap arah depan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. “Apa kau tidak lelah menggangguku terus?” Tanya Manda.


“Sepertinya aku perlu meluruskan kesalahpahaman diantara kita. Aku tidak pernah mengganggumu, tidak sama sekali. Yang aku lakukan saat ini adalah Menyayangimu bukan mengganggumu!” Tutur Jasson lembut namun serius.


“Sama saja mengganggu.” Ketus Manda.


“Sejak kapan perhatian, peduli pada seseorang disebut menggangu?” Jasson merasa heran. Dirinya hanya ingin memberi perhatian dan menunjukan perasaannya pada Manda, apa yang salah?Dari mana mengganggunya?


“Sejak kau yang melakukan itu, itu disebut menggangu.” Manda selalu saja cuek jika Jasson memberinya perhatian. Entah itu perhatian dalam bentuk tindakan maupun ucapan.


“Baiklah, aku minta maaf.” Ucap Jasson mengakhiri perdebatan. Sering kali lelaki itu memilih mengalah karna tidak mau perdebatan semakin besar.


“Apa salahmu kenapa kau minta maaf?”


“Aku minta maaf karna sudah memberimu perhatian, sampai kau merasa terganggu.” Untung saja Jasson bisa menjawab. Jika tidak pasti Manda alah marah-marah tidak jelas lagi.


“Hm.”


Sekertaris pun masuk kembali keruangan membawa dua cangkir berisi teh hangat dan camilan.


“Terimakasih, Va.” Ucap Manda pada sekertarisnya. Sekertaris Keisya adalah sekertarisnya juga.


“Sudah pekerjaan saya, nona.” Berjalan keluar dari ruangan.


“Minumlah, aku akan bekerja.” Manda bangkit dari duduknya berjalan ke arah meja kerjanya untuk memeriksa laporan keuangan butik.


“Jadi, kau tidak mengusirku?” Jasson merasa senang.


“Jika aku mengusirmu, apa kau akan pergi?”


“Tidak!” Jawab Jasson cepat.


Manda menghela nafasnya kesal. “Jika tidak kenapa bertanya lagi.” Gumam Manda seraya duduk di kursi kerjanya. Ia pun menyalakan laptopnya yang berada diatas meja.


Diam-diam Jasson mengamati Manda yang sedang serius membaca laporan keuangan di layar laptopnya. Manda sangat cantik saat bekerja dengan serius, menurut sudut pandang Jasson.


‘Kau adalah wanitaku, Manda. Tidak ada yang bisa merebut mu dari aku baik Juan atau James sekali pun.’ Batin Jasson.


***


Mobil yang membawa Keisya sudah sampai dirumah sakit. Sudah ada dr. Maya dan tim medis yang menunggu Keisya. Keisya langsung ditempatkan di brankar dorong setelah keluar dari mobil.


“Apa yang anda rasakan sekarang, nyonya?” Tanya dokter Maya seraya berjalan di samping brankar Keisya. Seorang perawat mendorong brankar menuju ruang bersalin.


“Sakit, dok.” Keluh Keisya.


.


.


.


.