
“ Kakek, kenalkan ini Pak Mo.”
Kakek John pun menjabat tangan pak Moo dengan sopan, begitu juga pak Mo. Manda meminta tolong pak Mo untuk menyiapkan baju ganti dan kamar sementara untuk kakek John. Dia sendiri ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Sudah masuk jam makan malam tapi Dave belum pulang, dan Keisya juga tak kunjung keluar dari kamarnya, “ Bagaimana Pak?” Tanya Manda pada pak Mo yang baru saja dari kamar Keisya, Manda meminta bantuan pada pak Mo untuk memanggil Keisya makan malam.
“ Maaf Nona Manda, saya sudah mengetuk pintu kamar nyonya beberapa kali tapi tidak ada sahutan dari nyonya Keisya.”
“ Hm, mungkin kakak tidur. Baiklah, biar aku yang membangunkannya Pak.” Manda langsung beranjak dari duduknya dan naik ke kamar Keisya, tanpa mengetuk pintu Manda masuk ke kamar Keisya. “ Kak..” ucap Manda. “ Kakak, bangun!”. Tapi tidak ada sahutan dari Keisya, akhirnya Manda mendekat dan mengguncang bahu Keisya, tapi lagi-lagi tidak ada sahutan dari Keisya. Manda pun mulai panik. Dia berlari keluar, “Pak Mo hubungi dokter Zoya, untuk kemari sekarang juga!” Perintah Manda pada Pak Mo.
Pak Mo segera menghubungi dokter Zoya, Kakek John, Stevi dan para pekerja lain yang mendengar teriakkan Manda langsung menghampiri Manda di kamar Keisya. “ Ada apa ini nona?” Tanya Stevi.
“ Kakak sepertinya pingsan, apa yang dilakukan Kakak hari ini?kamu bersamanya kan?”
“ Hari ini nyonya hanya menjaga butik, tapi karena butik sangat ramai sepertinya nyonya tidak cukup istirahat, mungkin kelelahan. Tadi nyonya juga sempat muntah saat perjalan pulang.”
“ Kenapa kamu tidak bilang?”
“ Maaf, Nona Manda. Tadi saya juga sudah menyarankan nyonya untuk pergi kerumah sakit tapi tidak mau. Nyonya Keisya bilang hanya bawaan bayi dan hal biasa.”
“ Kau tau jika terjadi sesuatu pada kakak, Kak Dave pasti akan memarahimu. Lain kali kami harus lebih jeli.” Ucap Manda dia duduk ditepi ranjang Keisya.
“ Maaf, Nona Manda.”
“ Sudahlah.”
Pekerja yang lain tidak berani menyinggung Manda yang sedang memarahi Stevi, mereka hanya bisa melihat. Begitu juga Pak Mo dan Kakek John. Perkataan Manda memang benar jika terjadi sesuatu pada Keisya karena kelalaian pekerja, mereka semua akan kena marah Dave. Lebih baik kena marah Manda dari pada Dave. Setidaknya Manda tidak kejam seperti Dave yang bisa langsung pecat hanya karena masalah sepele.
10 menit kemudian dokter Zoya datang. “ Bagaimana Dok?” Tanya Manda.
“ Tidak papa Nona, hanya kelelahan dan dehidrasi. Saya pasang infus, sepertinya nyonya Keisya susah untuk makan ya?”
“ Iya, betul sekali Dok. Hari ini nyonya selalu memuntahkan apapun yang dimakannya.” Ucap Stevi.
“ Baik, meskipun begitu harus tetap makan ya. Lebih baik dipaksakan untuk makan, sedikit demi sedikit tidak papa!”
“ Baik, Dok.”
Setelah meresepkan vitamin, dokter Zoya pamit untuk pulang. Manda meminta bantuan Stevi untuk membeli vitamin sesuai resep dari dokter Zoya. Sementara Manda masih duduk di tepi ranjang Keisya, menemani Keisya. Pak Mo dan Kakek John juga masih berada di kamar Keisya.
“ Kakakmu sakit apa Manda?” Tanya kakek John.
“ Kakak sedang hamil Kek, tapi karena pernah keguguran, kehamilan kakak yang sekarang sangat rentan, apalagi tubuh kakak juga lemah.” Jawab Manda.
“ Apa penyebab kakakmu keguguran?”
“ Kakak di celakai oleh wanita yang sangat tergila-gila dengan suaminya. Saat itu kami lengah.”
“ Aku turut prihatin Manda.”
Manda pun mengangguk. Manda menyuruh Kalek John makan malam lebih dulu karena dia ingin menemani Keisya.
Sekitar pukul 23:00 Dave kembali ke kediamannya, dia merasa heran tidak ada satu orang pun yang menyambutnya. Keadaan rumah juga sudah sepi. Dia langsung menuju kamarnya, dan betapa kagetnya Dave saat melihat Manda tertidur di sebelah Keisya, sementara Keisya juga terlelap dengan infus yang menempel ditangannya. Dia langsung menghampiri Keisya.
“ Manda.” Lirih Dave.
“ Kakak sudah pulang?” Manda membuka matanya pelan.
“ Apa yang terjadi?”
“ Kak Kei kelelahan dan dehidrasi.” Jawab Manda.
“ Kenapa tidak ada yang mengabariku?”
“ Kak Keisya tidak mau kakak panik, aku hanya bisa menurut padanya. Karena Kakak sudah pulang, aku akan kembali ke kamarku.”
“ Tunggu.”
“ Apa, Kak?” Manda menoleh.
“ Kamu yakin Keisya hanya kelelahan?Apa kata Zoya?”
Manda mengangguk, “Iya kak, kata dokter Zoya alangkah bagusnya jika Presdir Dave bisa lebih sering menemani istrinya.” Ucap Manda ngasal, padahal itu adalah kata-kata Manda bukan dokter Zoya.
Dave memikirkan perkataan Manda dengan serius. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Dave berbaring di sebelah Keisya. Dave menyentuh kening Keisya lalu menyentuh keningnya, membandingkan suhu tubuhnya dan Keisya. “ Tidak panas.”
Keisya pun menggeliat pelan saat merasakan keningnya di sentuh, “Dave, kau sudah pulang?” Saat Keisya sudah membuka matanya secara lebar.
Keisya perlahan duduk dengan menyenderkan dirinya di ranjang tempat tidur, “ Aku hanya kelelahan Dave.”
“ Meskipun hanya kelelahan, kenapa tidak mengabariku?”
“ Maaf, Dave. Aku tidak mau kamu khawatir.”
Dave ikut duduk di sebelah Keisya, dia merangkul pundak Keisya dengan satu tangannya, menyenderkan kepala Keisya di bahunya, “Sayang.. lain kali harus beritahu aku saat terjadi seperti ini!Aku tidak mau kau kesakitan sendirian.”
“ Baiklah.”
“ Aku penasaran dia sudah sebesar apa sekarang?” Ucap Dave mengelus lembut perut Keisya.
“ Baru satu bulan lebih, mungkin sebiji salak .”
“ Bernarkah?”
“ Aku juga tidak tau Dave, hanya menebak.”
“ Kapan kamu akan melakukan pemeriksaan USG?Aku akan mengosongkan jadwalku untuk menemanimu.”
“ Minggu depan saja, pas hari Sabtu.”
“ Baiklah.”
Kruyuk kruyuk suara dari perut Keisya. Dave tersenyum mendengar suara itu, sementara Keisya menahan malu. “ Aku akan ambilkan makanan untukmu.” Ucap Dave seraya bangkit dari ranjang. Dave turun kedapur pada jam tengah malam, dia ingin mengambilkan Keisya makan. Karena sudah tengah malam keadaan rumah sangat sepi, hanya ada beberapa penjaga yang masih terjaga di sudut-sudut rumah. Lampu rumah juga sudah padam.
Kebetulan pak Mo sedang kedapur untuk mengambil air putih. Pak Moo mendapati Dave tengah memanaskan makanan, “ Tuan, biar saya saja.” Ucap pak Mo.
Dave tidak menoleh sama sekali pada pak Moo, “ Tidak perlu Pak, Kau istirahat saja!”
Tapi bukannya pergi pak Moo malah berdiri terap di belakang Dave, dia menemani Dave sampai selesai memanaskan masakanya. “ Apa mau saya buatkan kopi Tuan?”
Dave pun menoleh dilihatnya pak Mo sedang mengambil cangkir kopi, “ Kau belum pergi rupanya?”
“ Mana bisa saya pergi, sementara Tuan saja sedang sibuk. Apa Tuan kelaparan?Tidak biasanya jam segini Tuan makan.”
“ Bukan aku, Keisya yang kelaparan.” Jawab Dave, “ Mo, mulai besuk minta Chen masak sesuatu yang bisa dimakan ibu hamil!”
“ Baik, Tuan.”
Dave kembali ke kamarnya dengan sepiring makanan dan susu hangat. Dilihatnya Keisya masih bersender di ranjang.
“ Tanpa nasi kan?” Keisya mengangguk, saat ini memang dia tidak bisa makan nasi. Jika pun makan hanya satu atau dua sendok saja. Dave menyuapi Keisya, baru beberapa suapan Keisya sudah merasakan mual dan ingin memuntahkan makanan yang baru saja dimakannya. Tapi dia menahan dirinya agar tidak memuntahkan apa yang sudah dimakan, bagaimanapun kandungannya butuh asupan nutrisi.
“ Dave, aku ingin minum susu saja.” Ucap Keisya.
Dave langsung mengambilkan susu hangat yang berada di nakas samping ranjang, “ Habiskan!” Ucap Dave.
Keisya pun menghabiskan segelas susu hangat yang dibuat Dave, “ Ini enak.”
“ Kalau enak setiap malam aku kan buatkan untukmu.”
“ Janji?” Tanya Keisya dengan menunjukkan jari kelingkingnya.
“ Janji.” Dave mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Keisya sebagai tanda janji, “ Sekarang kembalilah tidur.”
“ Tapi, aku ingin nonton film.”
“ Besuk saja nonton filmnya, sekarang kau harus tidur! Kau perlu istirahat yang cukup.” Ucap Dave.
“ Tidak bisa, aku maunya sekarang nonton film!”
“ Sayang...Sudah hampir pagi kau harus tidur.”
“ Tidak mau!”
.
.
Bersambung..
Vote tolong kasih vote 😂..