
Manda, Jasson dan Boy berjalan sejajar dengan Boy di tengah dan di gandeng oleh Manda juga Jasson. Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.
“Manda, kenapa mereka memperhatikan kita?” Tanya Jasson pada Manda dengan suara kecil.
Benar, kehadiran Manda, Jasson dan Boy di taman bermain cukup menyita perhatian. Dari sekian banyak orang yang datang ke taman hiburan sore itu hanya mereka bertiga yang mengenakan pakaian senada dengan warna putih dan Cream.
“Entahlah,” balas Manda cuek.
“Bibi, Boy mau gula kapas.” Menunjuk penjual gula kapas.
“Baiklah Boy, kita kesana.”
“Asyik.”
Manda membeli dua gula kapas dengan warna pink dan biru.
“Kenapa dua? Boy bisa sakit gigi kalau terlalu banyak makan manis.” Protes Jasson.
“Siapa yang bilang untuk Boy semua?”
“Lalu?” Jasson memincingkan sebelah matanya dan tersadar, “Jangan bilang yang satu untukmu.” Tebak Jasson dan Manda mengangguk.
“Memang untukku, kenapa? Kau pikir aku tidak bisa makan gula kapas?”
Imutnya ! Batin Jasson, hanya Jasson, ya hanya Jasson yang merasa saat ini Manda terlihat imut. Padahal kenyataanya Manda sedang melotot padanya sambil berkacak pinggang.
“Tidak.. tidak, makan saja.”
“Mana punya Boy, bibi?” Merengek meminta gula kapasnya yang masih di tangan Manda.
“Kau mau yang pink atau biru, Boy?” Menawarkan keduanya agar Boy memilih.
“Biru, pink terlalu girly untuk anak laki-laki Boy.” Justru Jasson yang menjawab pertanyaan Manda. Manda semakin kesal di buatnya, “aku bertanya pada Boy bukan padamu.” Semprot Manda.
“Aku hanya menyarankan.”
Boy bergeming, kedua orang dewasa di hadapannya ini tak lelah berdebat sepanjang jalan. Ada saja hal yang mereka perdebatkan. Hingga membuat bocah kecil itu geleng-geleng kepala.
Betul kata mommy, paman Jasson dan bibi Manda memang serasi. Sama-sama cerewet.
Boy teringat obrolan mommy nya dan Daddy Dave saat kedua orang tuanya itu menggosip perihal hubungan asmara Manda dan Jasson. Bahaya memang mengobrol di depan anak-anak, apalagi jika itu menyangkut hal penting.
Pilihan Boy jatuh pada gula kapan berwarna biru. Seperti perkataan pamannya, Boy tidak mau memakan gula kapas berwarna pink karena terlalu girly.
Mereka duduk di bangku dekat air mancur sembari Boy dan Manda memakan gula kapas mereka. Semangat Jasson menikmati kopi cup yang ia pesan di sekitar tempat itu.
“Apa yang kita lakukan setelah ini?” Tanya Jasson dengan polosnya.
Boy dan Manda pun saling tatap dan menunjukan ekspresi aneh. “Apa paman baru pertama kali pergi ke taman bermain?” Tanya Boy penasaran. Manda ikut memperhatikan wajah Jasson menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Jasson.
“Tidak.. Hanya saja waktu itu paman masih kecil saat pergi ke taman bermain.” Jawab Jasson.
Masih kecil? Batin Manda.
“Jangan bilang!” Tebak Manda dan Jasson pun mengangguki nya. “Astaga, itu sudah lama sekali.”
Manda bisa mengingat dengan jelas saat Jasson dan dua kembarannya tinggal bersama keluarga Manda mereka sempat bertamasya ke taman bermain. Waktu itu Jasson sangat kagum melihat gajah yang bisa dinaiki oleh manusia tidak hanya kuda saja yang bisa ditunggangi.
“Kapan itu paman?” Tanya Boy.
“Mungkin saat paman seusia anak di taman kanak-kanan.” Jawab Jasson.
“Waow, itu sudah lama sekali. Kasihan sekali paman, pantas saja paman tidak tau apa yang dilakukan di taman bermain.” Ucap Boy menjeda ucapannya berfikir sejenak, “tenang saja paman, hari ini Boy dan bibi Manda akan mengajak paman bermain sampai puas. Anggap saja balasan untuk masa kecil, paman.” Lanjut bocah itu sambil menepuk bahu Jasson.
“Ayo, sekarang kita bersenang-senang.”Boy bangkit bediri dan berucap dengan semangat sambil mengangkat salah satu tangannya kw atas.
“Ayo!!” Serempak Manda dan Jasson.
**
Pukul 21:00 mereka baru tiba di apartemen Manda dengan kondisi Boy yang sudah terlelap di gendongan Jasson. Bocah kecil itu menyenderkan kepalanya didada Jasson San tidur dengan nyaman.
Perlahan Jasson menidurkan Boy di kasur. Sementara Manda mencopet satu persatu sepatu Boy dan terakhir menyelimuti Boy.
“Untung saja dia tadi kebelet pup jadi bisa sekalian mandi.” Ucap Jasson sambil memandangi Boy yang tidur terlelap.
Di perjalanan pulang. Boy merasakan perutnya bereaksi. Bocah itu ingin buang air besar. Oleh sebabnya Jasson berhenti di hotel terdekat untuk Boy buang air besar dan sekalian mandi.
“Dia memang tidak bisa menahan pup sejak kecil.” Ingatan Manda kembali pada beberapa tahun yang lalu saat ia menjaga Boy dan Boy malah buang air besar di celana.
“Ku harap anak kita kelak tidak sepetinya.”
“Anak kita? Mimpi saja kau.” Manda berlalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri setelah mengucapkan kalimat itu. Didalam kamar mandi perempuan itu menghidupkan air Kran dan termenung. “Anak kita?” Seulas senyum terbit di bibir Manda.
**
Keesokan harinya, hari dimana Boy akan di jemput oleh kedua orang tuanya. Pagi-pagi sekali Boy sudah rapi dan wangi menunggu kedatangan mommy Keisya dan Daddy Dave.
“Anak kesayangan mommy, cup cup cup.” Setibanya Keisya di apartemen Manda, perempuan itu langsung menghujani putra kesayangannya dengan banyak kecupan.
“Stop, mommy! Boy sudah dewasa.” Protes Boy.
“Iya, iya.. anak mommy memang sudah dewasa.”
Boy beralih menatap Daddy Dave dengan penuh kerinduan. “Daddy tidak rindu Boy?” Tanya Boy karena Dave tidak heboh seperti istrinya.
“Mana mungkin, Daddy sangat merindukan jagoan, Daddy!” Membuka lebar kedua tangannya sambil berjongkok agar Boy memeluknya. “Apa kau merepotkan bibi Manda?” Tanya Dave kemudian sambil berdiri dan menggendong Boy.
Boy menggeleng di pelukan Dave. “Boy tidak merepotkan bibi, dad. Justru paman Jasson yang merepotkan bibi Manda.” Jawab Boy.
“Paman Jasson?” Tanya Dave dengan alis sebelah terangkat.
Sementara Keisya langsung menatap Manda penuh curiga.
“Ya, paman Jasson selalu merepotkan bibi Manda. Paman Jasson sering menginap dan makan di sini.” Celoteh Boy. “Bahkan paman Jasson membuat bibi Manda menangis.” Lanjut bocah kecil itu.
Dasar Boy, mulut ember. Batin Manda.
“Oh, ya?” Dave tersenyum penuh arti sambil melirik adik iparnya sama seperti istrinya. Lelaki itu juga memandang penuh dengan kecurigaan.
“Aku akan jelaskan.” Ucap Manda pada akhirnya dari pada kakak dan kakak iparnya berpikiran yang tidak-tidak.
“Kau memang harus menjelaskan.” Sahut Keisya dan Dave geleng-geleng kepala melihat rasa tidak sabaran istrinya.
Manda pergi ke dapur dengan mendumel tidak jelas. “Semua gara-gara Jasson. Kak Kei dan kak Dave pasti mengira aku plin-plan.”
Manda teringat bagaimana ia berteriak dengan keras di hadapan Dave dan Keisya, ‘Aku tidak akan memaafkan Jasson lagi!’ Ucapnya kala itu. Namun kenyataanya sekarang ia tidak hanya memaafkan Jasson tapi menjadi dekat kembali dengan Jasson. Dan, sialnya Boy malah mengoceh hal yang tidak penting di hadapan Keisya dan Dave. Kedua orang itu pasti akan menertawakan Manda nantinya saat Manda menjelaskan.
Hah.. menghela nafas kesal.
.
.
.