
Sesuai janjinya Keisya datang ke perusahaan untuk membawakan makan siang Dave. Semua karyawan tau Keisya adalah istri sah Dave yang otomatis adalah nyonya Presdir. Kedatangan Keisya tentu saja di sambut baik oleh semua karyawan, mereka membungkuk hormat saat Keisya melewatinya.
Keisya memilih naik ke lantai ruangan Dave dengan lift karyawan. Ia ingin berbaur dengar para karyawan. Lagi pula jika naik lift khusus Presdir pasti membosankan karna hanya sendirian.
Ting.. pintu lift pun terbuka. Keisya keluar dari lift. Keisya masih bisa mendengar dengan jelas saat beberapa karyawan yang berada di satu lift yang sama dengannya berbisik membicarakan Keisya. Sebagai an dari mereka memuji kesederhanaan Keisya dan juga kecantikannya.
Keisya sampai di depan meja sekertaris Dave. Ia berdiri tepat di depan meja itu, sekertaris Dave nampak sibuk mengetik sesuatu sampai tidak menyadari kehadiran Keisya.
“Selfi!Apa Tuan Dave ada?” Selfi mendongak kaget, perempuan itu langsung berdiri dan membungkuk hormat pada Keisya.
“Selamat siang nyonya, maaf saya tidak menyadari kedatangan anda.” Ucapnya sopan pada Keisya. “Tuan Dave ada, nyonya. Beliau sedang bersama Leo.” Lanjut Selfi.
“Baiklah, aku akan langsung masuk saja.” Balas Keisya. Dan diangguki Selfi.
Keisya tak lupa mengetuk pintu ruangan Dave terlebih dahulu. Meskipun itu ruangan suaminya tapi ada Leo didalam ruangan itu. Keisya juga tipe orang yang selalu memperhatikan tata krama.
Tok..tok..
‘Masuk!’ Sahutan Dave dari dalam ruangan.
Ceklek.. Keisya meraih gagang pintu ruangan Dave dan membuka pintu itu. Ia melangkah santai ke dalam ruangan Dave dengan menenteng paperbag berisi makan siang Dave. Ia tersenyum melihat suaminya tengah memberi arahan pada Leo. Leo pun mendengarkan arahan Dave dengan serius. Keisya memilih untuk langsung duduk di sofa sembari menunggu Dave dan Leo menyelesaikan pekerjaannya. Ia meletakan paperbagnya di meja sofa.
Setelah selesai mendengar arahan Dave, Leo pun kembali keruangannya. Tak lupa sebelum keluar dari ruangan Dave, ia menyapa Keisya dulu. Seperti biasa Leo selalu ramah pada Keisya.
Dave keluar dari kursi kebesarannya untuk menghampiri Keisya. “Maaf, aku baru saja selesai dengan pekerjaanku. Aku tidak berniat mengabaikanmu.” Takut Keisya salah paham dan mengira Dave telah mengabaikannya karna Dave sedang fokus bekerja saat Keisya datang. Laki-laki itu juga tidak langsung menyapa istrinya.
“Tidak papa, Dave.”
Dave duduk di sebelah Keisya dan langsung merebahkan kepalanya di paha Keisya. “Uh, aku Merindukanmu!” Seru Dave. Laki-laki itu tiduran di sofa dengan kepala berbantal paha Keisya. Ia menghadap keatas sehingga bisa melihat dengan jelas wajah istrinya. Wajah cantik yang selalu membuatnya rindu setiap saat.
“Jangan bercanda, kita bahkan baru berpisah beberapa jam yang lalu. Sekarang juga sudah bertemu lagi. Bagaimana bisa kau merindukanku?” Mengelus elus rambut cepak Dave.
“Tapi aku benar-benar Merindukanmu, dan boy.” Memiringkan tubuhnya, kini kepalanya menghadap ke perut Keisya yang sudah membuncit. Dave menciumi perut yang sudah terlihat menyembul itu. Cup.. cup.. cup.. tiga kali laki-laki itu mengecup perut buncit istrinya dengan lembut. “Daddy mencintaimu, boy. Cepatlah keluar!” Berbicara dengan perut Keisya.
Perut Keisya pun seketika berkedut. Boy mendendang-nendang. Tidak hanya sekali tapi berulang-ulang. Seakan boy bisa mengerti ucapan Dave. “Waow, sayang boy meresponku. Lihat!Dia menendang!” Dave sangat girang merasakan dengan jelas perut Keisya bergerak. Laki-laki itu bangkit lalu duduk, tapi, ia tak melepaskan pandangan matanya ke perut Keisya yang berkedut.
“Apa kau takjub?” Tanya Keisya. Dave mengangguk seperti anak kecil. Sangat polos dan menggemaskan menurut sudut pandang Keisya.
“Kapan dia akan keluar?Aku sudah tidak sabar untuk memamerkannya.” Celoteh Dave mengelus perut Keisya setelah perut buncit itu tenang kembali.
“Sabar, Dave!”
“Baiklah, aku akan bersabar.” Duduk dengan tegap. Pandangan matanya kini beralih pada paperbag yang berada di atas meja. “Apa itu makan siangku?” Keisya mengangguk.
Keisya lalu meraih paperbag itu dan mengeluarkan isinya. Ia menata beberapa makanan yang dibawanya dari rumah. Menyiapkan makan siang untuk Dave. “Saatnya makan siang!”
“Pelan-pelan, Dave. Tidak ada yang akan merebut makananmu.” Melihat Dave makan dengan cepat dan rakus. Seperti tidak mau berbagi dengan yang lain.
“Uhuk..” Dave tersedak akibat makan terlalu cepat, bahkan mulutnya penuh dengan makanan.
Keisya dengan cepat mengambilkan air putih untuk Dave. Perempuan itu juga menepuk nepuk punggung Dave. “Minumlah, sudah aku katakan pelan-pelan.” Ujar Keisya.
Dave menerima air putih itu langsung meminumnya hingga habis segelas penuh. “Ini sangat enak, sayang.” Ucap Dave.
“Tentu saja sangat enak, karna aku yang memasaknya.” Balas Keisya bangga pada dirinya sendiri. Tidak sia-sia ia menghabiskan waktu dua jam untuk memasak. Keisya sangat telaten saat memasak, ia bahkan menolak saat seorang pelayan ingin membantunya.
“Kau masak sendiri?” Dave menghentikan makannya dan menatap tajam Keisya. Raut wajahnya berubah serius.
‘Aku lupa Dave melarangku memasak.’ Batin Keisya.
“I..iya, tapi Dave jangan marah dulu. Aku hanya memasak ringan dan dibantu oleh maid juga. Jika hanya memasak tidak akan membuatku kelelahan.” Ujar Keisya menjelaskan sebelum suaminya marah.
Dave menghela nafasnya. “Sayang, kau tau kan aku sangat peduli padamu dan boy?” Tanya Dave.
“Aku tahu.” Keisya mengangguk pelan.
“Aku hanya tidak mau kau kelelahan dan berimbas pada boy. Kau juga tau kan dokter melarangmu beraktivitas berat, kau pernah keguguran. Kondisi tubuhmu juga lemah, Kei.” Tutur Dave lembut. Laki-laki itu hanya tidak mau istrinya kelelahan. Ia masih ingat bagaimana ia kehilangan calon bayi pertama mereka karna kelalaian Dave. Kali ini Dave sudah berjanji akan menjaga dan melindungi Keisya dan boy dengan sangat baik. Itulah mengapa Dave terlalu over pada Keisya. Salah satunya dengan melarang Keisya memasak. Meskipun Dave sangat suka dengan masakan Keisya. Tapi, ia bisa menahan diri untuk tidak meminta Keisya masak sampai Keisya melahirkan dan sehat kembali.
“Maaf.” Balas Keisya lirih.
“Baiklah, lain kali kau tidak perlu memasak sendiri. Biarkan maid yang melakukannya.” Mengelus rambut Keisya.
“Lanjutkan makanmu, Dave.” Mencoba mengalihkan pembicaraan. Dave pun melanjutkan makan siangnya.
***
Setelah makan siang Dave dan Keisya mengobrol hingga perempuan itu terlelap dengan bersandar di bahu Dave. Dave bahkan tidak menyadari sejak kapan istrinya tidur. Karna beberapa saat yang lalu Dave mendapat email penting di tabletnya. Ia pun membaca email itu dengan seksama. Dengan posisi tangan kirinya memeluk Keisya dan Keisya bersandar di bahunya.
“Bagaimana bisa dia tertidur hanya karna aku tinggal memeriksa email?” Tersenyum jahil seraya mentoel-toel pipi Keisya. Perempuan itu tidak bergeming sama sekali.
“Sungguh lucu, dia tidak bangun bahkan saat aku mencubit pipinya.” Dave mengangkat tubuh Keisya membawanya ke ruangan pribadi Dave. Tepatnya kamar yang terhubung dengan rumah kantor Dave. Ia merebahkan tubuh Keisya di ranjang lalu menyelimutinya hingga menutupi dada. “Mimpi indah sayangku.” Mengecup kening Keisya.
.
.
.