My Dave

My Dave
S2 Akan melahirkan



Dave dan Leo baru saja menyelesaikan pertemuan dengan klien baru. Mereka tengah membahas proyek baru pembangun resor di tepi pantai selatan. Saat ini mereka masih berada di pantai selatan. Mereka tidak hanya membahas pembangunan resor saja, tapi juga melakukan kunjungan langsung ke lokasi.


“Panggilan dari rumah?” Gumam Leo saat memeriksa ponselnya. Leo baru saja mendapatkan signyal di ponselnya. Beberapa waktunya yang lalu Dave maupun Leo kehilangan signyal ponsel mereka. Karna, mereka memang sedang di pantai yang terpencil. Pantai itu bisa di bilang pantai pribadi, belum banyak wisatawan yang datang ke pantai itu. Namun, keindahan alam di pantai itu sangat menakjubkan dari pasirnya yang putih bersih hingga laut yang bisa di jadikan untuk Snorkling. Sangat menjanjikan jika membangun resor bernuansa keluarga di pantai selatan.


Leo pun menghubungi balik orang rumah. Namun, tidak ada jawaban. Leo mencoba menghubungi pak Mo langsung.


‘Hallo!Tuan.’ Jawab Pak Moo diseberang.


“Hallo!Pak Mo saya lihat banyak panggilan masuk, apa ada yang terjadi di Villa?” Tanya Leo to the point.


‘Iya Tuan, nyonya akan melahirkan. Kami membawa nyonya ke rumah sakit. Tolong, sampaikan pada Tuan Dave untuk segera menyusul, Tuan!”


“Apa??Nyonya sudah mau melahirkan, bukankah masih ada beberapa hari lagi.” Sahut Leo.


‘Arggh,” pekik Keisya. Leo bisa mendengar Keisya sedang menjerit.


‘Maaf, Tuan. Keadaan sedang gawat, saya tidak bisa berlama-lama. Tolong Tuan dan Tuan Dave segera kembali sebelum kami semua menjadi korban.’ Pak Mo menutup sepihak teleponnya.


“Tunggu dulu!” Namun pak Mo sudah mematikan teleponnya.


“Aku yakin mendengar suara nyonya, apa beliau baik-baik saja. Kedengarannya beliau berteriak kesakitan.” Gumam Leo seraya melangkahkan kakinya menghampiri Dave.


Dave sedang meminum es kelapa muda. Ia duduk di bawah pohon rimbun di tepi pantai. Lelaki itu sangat menikmati hamparan luas laut biru dihadapanya. Duduk di atas pasir tanpa beralaskan tikar. Ia juga melepas sepatu pantofelnya. “Sungguh sangat santai.” Gumam Dave seraya memejamkan mata menikmati angin sepoi-sepoi.


“Tuan.” Suara Leo menggangu Dave.


“Hm.” Menjawab tanpa membuka kedua matanya.


“Nyonya akan melahirkan, Tuan.” Ucap Leo lirih.


“Hm.” Balas Dave masih tidak membuka matanya. Ia terlalu terbawa suasana menikmati suara deburan ombak dan sumilir angin sepoi-sepoi.


“Tuan, nyonya akan melahirkan.” Ulang Leo.


“Ya ya..Tunggu, apa katamu?Nyonya akan melahirkan?” Dave membuka mata kaget. Leo mengangguk. “Nyonya yang kau maksud apakah istriku?” Tanya Dave dengan raut wajah cemas. Leo pun mengangguk lagi.


“Shit!” Dave langsung beranjak dari duduknya. Ia menyambar jas yang tergeletak di dekatnya. Laki-laki itu terburu-buru memakai sepatunya.


“Kenapa kau tidak mengatakan dari tadi, Leo?!” Gerutu Dave, mempercepat langkah kakinya meninggalkan tempat itu.


“Saya sudah memberitahu Tuan dua kali.” Balas Leo mengimbangi langkah cepat kaki Dave.


“Harusnya kau bicara dengan serius!” Sopir yang melihat kedatangan Dave pun langsung membuka pintu mobilnya. Sopir itu tau majikannya tengah terburu-buru. Dave masuk ke kursi penumpang bagian belakang. Sementara Leo duduk di sebelah kemudi.


“Kita kemana, Tuan?” Tanya sopir.


“Pulang!”


“Baik, Tuan.” Pak sopir pun melajukan mobil meninggalkan pantai selatan.


“Kita kerumah sakit Grub Wilson!” Ucap Leo pada sopir. Pak sopir melirik Dave dengan kaca depan, ia seakan mencari jawaban harus mengikuti perintah Dave atau perintah Leo.


“Ke rumah sakit!” Tegas Dave menyadari lirikan pak sopir.


Dave meraih ponselnya yang berada di saku jasnya. Ia menghubungi kontak dengan ID Stevi.


“Aku tau!Bagaiamana kedaaan istriku?”


‘Nyonya baik-baik saja, Tuan. Tapi, kami, saya dan pak Moo yang tidak baik-baik saja.’ Keluh Stevi.


“Memang apa yang terjadi?” Tanya Dave tidak mengerti dengan ucapan Stevi. Keisya yang akan melahirkan, tetapi mengapa Stevi dan pak Moo yang tidak baik-baik saja.


‘Ceritanya panjang, Tuan. Lebih baik Tuan segera ke rumah sakit.’


“Baiklah. Kalian jaga istriku dengan baik!” Dave mematikan teleponnya. Ia mengembalikan ponselnya ke tempat semula.


“Lebih cepat!” Perintah Dave pada sopirnya. Pak sopir pun memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Namun, tetap aman. Semua sopir yang bekerja dengan Dave sudah di tes kemampuannya. Dave menggunakan sopir sekelas pembalap, untuk mengantisipasi kejadian seperti ini.


***


Rumah sakit milik Grup Wilson..


Perjalanan dari Villa sampai rumah sakit berjalan lancar bagi sopir. Namun, tidak bagi pak Mo dan Stevi. Kedua orang itu menjadi sasaran empuk jambakan Keisya. Bukan hanya menjambak Keisya bahkan mencakar kedua nya. Keisya melakukan itu sebagai bentuk mengurangi rasa sakit di perutnya. Saat perutnya bereaksi semancam kontraksi Keisya akan meraih orang terdekatnya untuk di cakar maupun di Jambak.


Sampai dirumah sakit pun ia masih mencakar Stevi di sepanjang jalan menuju ruang bersalin. Penampilan Stevi dan pak Mo pun terlihat kacau. Rambut berantakan, dan bekas cakaran dimana-mana.


“Stevi, pak Mo, saya minta maaf.” Ucap Keisya lirih menyadari tindakannya sudah menyakiti pengawal pribadi serta kepala pengurus rumah tangganya.


“Jangan pikirkan apapun, nyonya. Anda fokus saja pada persalinannya.” Tutur pak Moo.


“Apa yang di ucapkan pak Mo benar, nyonya. Saya berharap segera mendengar suara tangisan bayi.” Stevi memegang lengan Keisya sebelum akhirnya melepaskannya saat Keisya masuk ke ruangan bersalin.


Hanya ada Stevi dan pak Mo di depan ruang bersalin.


***


Manda yang mendengar kabar Keisya akan melahirkan pun langsung menyusul ke rumah sakit. Tak lupa Manda memberi kabar pada tiga kembar bersaudara. Mereka pergi kerumah sakit bersama. Jasson bersama Manda dengan satu mobil. Sementara Juan dan James mengikuti mereka dengan mobil lain.


“Kau bisa lebih cepat tidak?!” Manda merasa Jasson sangat lambat dalam mengemudi. Ia sudah tidak sabar.


“Sayang, kau tidak lihat aku mengemudi sudah melewati batas wajar.” Jawab Jasson yang melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.


“Berhenti memanggilku sayang!Aku bukan sayangmu.” Sungut Manda kesal.


“Baiklah, honey. Tapi, aku tidak bisa mengemudi lebih dari ini. Aku harus tetap memprioritaskan keselamatan kita.” Ujar Jasson dengan tenang.


Blush..


“Yang jelas aku mau kita cepat sampai, masalah keselamatanku itu tanggung jawabmu. Karna kau yang mengemudi, dan jangan memanggilku dengan panggilan aneh seperti itu!” Menatap ke arah luar mobil. Ia menurunkan sedikit kaca mobilnya agar bisa menghirup udara luar. Ia juga menyembunyikan pipinya yang kemungkinan merah merona karna Jasson memanggilnya honey. Sebenarnya Manda suka dengan semua panggilan sayang dari Jasson, ia hanya malu untuk mengakuinya. Manda masih kekeh dengan egonya.


“Baiklah, honey.” Balas Jasson dengan menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman. Senyuman tipis yang tidak bisa terlihat dengan jelas.


Seketika Hening.. Manda tidak menyahuti ucapan Jasson lagi. Perempuan itu tenggelam dalam pikirannya.


.


.


.