
Hari berikutnya Keisya tidak ke butik. Ia merasa tidak enak badan dan memilih tiduran di kamar.
Ceklek..
Manda membuka pintu kamar Keisya dan langsung nyelonong masuk. Manda mendekati Keisya yang berbaring dengan balutan selimut, kemudian ia duduk di tepi ranjang.
“Kak, kau yakin dokter Mega tidak perlu kesini?” Tanya Manda.
“Tidak perlu, aku baik-baik saja. Hanya perlu tiduran.”
“Baiklah.”
“Kau pergilah ke kampus, jangan khawatir ada kakek juga.”
“Hm.. ini juga mau ke kampus, menunggu Sasya.”
Manda pergi ke kampus bersama Sasya.
Hari ini seharian Keisya tidak keluar dari kamar, Stevi menunggui Keisya dengan sabar. Tidak pernah sedetik pun Stevi meninggalkan kamar Keisya. Bahkan makan dan makan siang, Keisya dan Stevi makan di kamar. Pak Mo yang menyiapkannya.
“Nyonya, ada tamu yang ingin bertemu.” Kata Stevi setelah mendapat pesan yang ia dengarkan melalui earpiece nya. Pesan itu dari pengawal yang berjaga di gerbang utama.
“Siapa?Aku tidak janjian dengan siapapun.” Balas Keisya.
“Apa nyonya mengenalnya?” Stevi menyodorkan ponselnya pada Keisya. Stevi menunjukan foto dari tamu yang ingin menemui Keisya.
Keisya melihat foto di ponsel Stevi dengan seksama. Men zoom dan melihat dengan jelas wajah di foto itu.
“Aku mengenalnya. Biarkan dia masuk.” Ucap Keisya.
“Baik.” Stevi lalu berbicara dengan pengawal yang ada di gerbang utama. “Biarkan masuk!”
***
Gerbang utama Villa luxury kediaman Keisya dan Dave..
Jasson tiba di depan gerbang utama. Ia dapat melihat dengan jelas banyak pengawal di depan gerbang.
“Tuan muda, ada keamanan bayangan yang tidak kita ketahui. Harap Tuan Muda selalu waspada.” Ucap asisten Jasson menepikan mobilnya di depan gerbang.
“Kau tenang saja, aku kesini untuk menemui kakakku. Mereka tidak akan berani menyakitiku.” Jawab Jasson santai.
“Baik, Tuan. Saya akan keluar berbicara dengan penjaga” Jasson mengangguk. Asistennya itu pun keluar dan berbicara dengan penjaga. Cukup lama sepertinya asisten Jasson tidak mendapat izin untuk masuk.
Asisten Jasson kembali ke mobil. “Tuan, kita tidak bisa masuk. Mereka bilang kita mencurigakan dengan itu.” Ucap asistennya menunjuk 2 mobil yang berbaris di belakang mobil Jasson. Jasson memang mencurigakan karena membawa 2 mobil besisi pengawal di belakang mobilnya.
“Hahaha, aku lupa tentang itu. Baiklah, aku akan turun untuk berbicara sendiri dengan penjaga.” Jasson turun dari mobil di ikuti asistennya.
Jasson nampak berbicara dengan serius dengan penjaga. Penjaga itu bahkan memotret Jasson. Setelah beberapa saat, akhirnya Jasson mendapatkan izin memasuki kediaman Dave.
“Tuan, anda di izinkan masuk. Tapi untuk pengawal anda tetap disini, anda hanya bisa masuk bersama asisten anda.” Ucap penjaga gerbang.
“Baiklah.” Jasson memberi arahan pada pengawalnya untuk menepikan mobilnya di depan gerbang dan berjaga di sana.
“Tuan, tapi sangat berbahaya jika masuk tanpa pengawalan.” Bisik asistennya di telinga Jasson.
“Tidak masalah, kita kesini bukan untuk berperang jadi tidak perlu pengawal.” Balas Jasson senyum.
Jasson kembali masuk ke dalam mobil dengan asistennya. Penjaga gerbang segera membuka gerbang, dan mobil Jasson perlahan memasuki area kediaman Dave.
“Apa Tuan muda yakin ini aman?” Tanya asisten Jasson saat mobil yang ia kemudian sudah masuk di area Villa. Asisten Jasson sangat khawatir, kediaman Dave di penuhi dengan keamanan. Setiap sudut sisi selalu ada penjagaan. Bahkan asisten Jasson bisa tau keamanan di kediaman Dave bukan keamanan biasa.
“Aman, kau tenang saja.” Kata Jasson santai.
“Tuan, keamanannya sangat ketat. Kita seperti masuk ke rumah presiden.”
“Diamlah, kau terlalu berisik dari tadi.”
***
Keisya sangat bersemangat setelah mengetahui siapa tamunya.
“Hati-hati, nyonya.”
Keisya pun memperlambat langkahnya. Keisya berjalan menuju ruang tamu di temani Stevi dan pengawalnya.
Dari arah ruang keluarga Keisya bisa melihat sosok yang sangat dirindukan tengah duduk termenung di sofa ruang tamu.
“Jassonku?” Panggil Keisya saat ia sudah dekat dengan tamunya.
“Kakak.” Jasson langsung bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Keisya.
Keisya sudah merentangkan kedua tanganya ya siap memeluk adik angkatnya itu. Keduanya saling berpelukan, pertama kalinya mereka bertemu setelah terpisah beberapa tahun.
“Kau, bagaimana bisa kau tidak mengabari kakak selama ini?” Keisya melepaskan pelukannya dan mengajak Jasson untuk duduk di sofa.
“Maafkan aku kak, sebelum akhirnya menetap aku sering hidup berpindah-pindah dengan kakek.” Jawab Jasson.
“Tidak papa. Yang penting sekarang kau baik-baik saja, kau bahkan tumbuh menjadi lelaki dewasa. Lihat dimana Jasson kecil ku yang dulu.” Keisya memperhatikan Jasson dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Kak berhenti menatapku. Suamimu akan cemburu jika kau menatapku seperti itu.” Ujar Jasson. Lelaki itu tau kakak angkatnya pasti akan takjub dengan perubahan dalam dirinya. Sampai-sampai kakak angkatnya tidak berkedip saat menatapnya.
“Jasson?” Tanya Keisya memastikan.
“Iya kak, aku Jasson.” Balas Jasson malas. Lelaki itu tahu kakaknya belum sepenuhnya sadar dari kekagumannya.
Keisya mencubit kedua pipi Jasson dengan gemas. “Kau benar-benar Jasson adik kecilku yang dulu gembul?Kau benar-benar Jasson yang selalu bertengkar dengan Manda?” Keisya masih mencubiti pipi Jasson.
Jasson membiarkan saja kakak angkatnya mencubitinya asal Keisya senang. “Hm.. ia kak, aku adik kecilmu yang paling kau sayangi.” Ujar Jasson.
Dulu diantara Jasson, James dan Juan Keisya paling sayang sama Jasson. Karena Jasson yang paling penurut, selain itu Jasson juga selalu mengalah saat bertengkar dengan Manda maupun James dan Juan.
Bukan Jasson tidak bisa mengalahkan ketiganya, tapi Jasson mengalah agar pertengkaran tidak menjadi berlama-lama. Jasson juga sangat menyayangi Manda dan juga kembaranya.
“Jasson, kakak masih tidak percaya kau sudah sebesar ini.” Kini Keisya beralih mengacak rambut Jasson.
Jasson memutar bola matanya malas. Ia tidak mengira kakaknya akan bereaksi seperti ini. Sudah kena cubitan masih di acak-acak rambutnya.
“Malam ini kau menginap disini saja, kakak ingin tau tentang kehidupanmu selama ini.” Keisya ingin tau bagaimana Jasson menjalani kehidupan setelah tinggal bersama kakeknya. Selain itu Keisya juga ingin Jasson bertemu Manda.
Manda akan pulang kuliah malam hari. Jadi, Keisya butuh alasan untuk menahan Jasson sampai Manda pulang.
“Apa suami kakak akan mengizinkan aku menginap?” Tanya Jasson. Meskipun Jasson sudah tau bahwa suami Keisya tidak mungkin tidak mengizinkan dirinya menginap. Yang Jasson tau dari Farhan, Dave sangat menurut pada Keisya.
“Kau tenang saja, suamiku pasti mengizinkan. Lagi pula dia sedang perjalanan bisnis di luar negeri, dan kakek juga sedang berkunjung ke tempat kerabat. Aku kesepian di rumah sebesar ini.” Pagi ini kakek John pergi untuk mengunjungi kerabat di pedesaan yang dekat gunung. Kakek juga ingin menghidup udara segar pedesaan. Berbeda dengan udara di kota yang penuh dengan polusi.
“Baiklah, aku akan menginap.”
“Stevi, bilang pada pak Mo untuk menyiapkan kamar tamu!” Perintah Keisya pada Stevi.
“Baik, nyonya.”
Setelah itu Jasson mengambil ponselnya di saku. Jasson memerintahkan pengawalnya yang masih di depan gerbang untuk pulang karena dirinya akan menginap. Jasson hanya ditemani oleh asistennya. Itupun karena asisten Jasson memaksa untuk ikut menginap. Asistennya khawatir dengan keselamatan Jasson. Dia sungguh lebay, padahal di kediaman Dave sudah banyak pengawal. Selama Keisya aman, Jasson pasti juga aman.
.
.
Bersambung..
Maaf 3hari kemarin enggak update..