My Dave

My Dave
S2 Bagaimana keadaanya?



“Seberapa banyak?” Tanya kakek.


Leo seperti menghitung dengan jari-jari tangannya, sesekali ia menggeleng lalu menghitung lagi mengggeleng lalu menghitung lagi. Lelaki itu seakan tidak yakin dengan apa yang ia hitung.


“Sudahlah kau pasti tidak tau pastinya, lebih baik pertanyaan nya di ganti saja. Apa kau tau siapa yang paling mungkin menyimpan dendam pada Dave?” Kakek tidak tau detail tentang musuh Dave. Sepertinya Leo lebih tau.


“Em, tuan Farhan, Tuan Raka, nona Lusi.” Leo menyebutkan tiga nama itu lalu menjeda ucapannya.


“Namun, sepertinya tuan Farhan lebih berkemungkinan mencelakai tuan Dave. Selain masalah perebutan nyonya Keisya, tuan Dave dan tuan Farhan sudah bermusuhan sejak dulu, ditambah perebutan nyonya Keisya membuat hubungan mereka semakin memburuk.” Lanjut Leo menjelaskan.


“Bukankan mereka sudah akur saat Farhan berkunjung untuk makan malam terlahir kali?” Kakek John masih ingat saat Jasson membawa Farhan makan malam ke Villa luxury. Saat itu Dave dan Farhan terlihat akur.


“Itu..Hanya di depan nyonya Keisya mereka akur.” Jawab Leo.


Kakek John menghela nafas kasar. Tiga orang yang Leo sebutkan tadi adalah musuh dalam hal percintaan. Dua orang itu adalah rival Dave karena Keisya. Dan, satu orang adalah teman sekolah Dave yang terobsesi pada Dave. Ya, kakek John tau Lusi pernah dekat dengan Dave.


Terakhir kali yang kakek dengar Dave menghukum Lusi dan keluarganya karna menyebabkan Keisya keguguran. Padahal Lusi yang bersalah namun Dave menghukum semua keluarga Lusi. Setelah kejadian itu Lusi dan keluarganya hilang bak ditelan bumi. Kakek John sudah tidak mendengar berita tentang Lusi lagi.


“Bagaimana dengan Lusi?” Tanya kakek John.


“Setelah kejadian satu tahun yang lalu kami tidak mendengar kabarnya lagi tuan.” Jawab Leo jujur. Ia sempat melapor pada Dave saat kehilangan jejak Lusi namun Dave tidak memperdulikan nya lagi. Dave tidak berpikir Lusi sebagai ancaman. Karena keluarganya sudah hancur.


“Kau utus orang untuk mencari tahu keberadaan Lusi!” Entah mengapa firasat kakek mengatakan Lusi mungkin bisa saja jadi ancaman bagi keluarganya.


“Baik, Tuan.”


“Kalau Farhan?”


“Saya sudah mengirim orang untuk memantau setiap pergerakan tuan Farhan.” Ucap Leo. Kakek terlihat manggut-manggut lalu menyelesaikan pekerjaanya.


***


Di Kota B dimana Farhan berada. Lelaki itu memulai kehidupan nya yang baru setelah merelakan Keisya untuk Dave. Awalnya ia hanya berniat membalas dendam pada Dave dengan memanfaatkan Keisya tidak disangka ia malah jatuh cinta pada Keisya. Sosok Keisya yang lembut dan berani membuat Farhan jatuh cinta pada perempuan itu.


Ia berusaha membuat Keisya jatuh cinta padanya saat mengurung Keisya di pulau pribadinya namun usahamu berakhir sia-sia saat Dave bisa menemukan keberadaan Keisya dan menjemput Keisya. Ia justru terasing kan setelah itu.


Sampai kemudian ia kembali ke negara S bersama Jasson untuk merebut Keisya kembali. Ia sudah merencanakan dengan sangat matang rencana perebutan Keisya, tapi niatnya gagal karena ia akhirnya sadar Keisya bukan miliknya. Jasson lah yang menyadarkan Farhan untuk menyerah pada Keisya.


Semenjak itu Farhan kembali ke negara B dan menjalani kehidupan yang lebih baik. Ia juga mulai belajar berdamai dirinya sendiri. Menahan egonya yang selalu ingin menghancurkan Dave.


***


James berlari kencang seakan habis melihat hantu. Ia kembali ke kamar Keisya melalui pintu rahasia tadi.


“Kakak..kakak..kakak.” Teriak James.


Teriakan James yang sangat keras membangunkan Boy kecil. Keisya pun segera menggendong Boy kecil menimangnya untuk menenangkan nya.


Puk..puk..dua kali tepukan mendarat di kepala James. Manda menepuk kepala James dengan novel yang sering Keisya baca.


“Auwh sakit, Manda.” Ringis James pada Manda.


“Rasakan itu!” Balas Manda cuek.


“Ada apa James, kenapa kau berteriak?” Tanya Jasson.


“Itu..itu..” ucapan James terpotong saat seseorang yang asing tiba-tiba menerobos masuk ke kamar Keisya lewat pintu rahasia yang hanya di ketahui oleh Dave dan Keisya.


“Siapa kau?!” Sentak Jasson maju lalu menarik Manda dan Keisya agar berada di belakangnya. Keisya dan Manda terkesiap melihat orang asing itu. Mereka menatap orang asing itu dengan penuh tanda tanya.


“Maaf, saya terlambat memperkenalkan diri. Saya Jack, tangan kiri Tuan Dave.” Ucap Jack seraya menunduk hormat.


“Kau jangan berbohong!Aku tidak pernah melihatmu di perusahaan maupun di King!” Hardik Jasson.


“Katakan, siapa yang mengirimmu!” Bentak Jasson lagi.


“Jasson, tenanglah biarkan dia bicara.” Tutur Keisya lembut.


“Di..dia be..nar tangan kiri kakak ipar, kak.” Ucap James terbata-bata.


Lelaki itu melihat sendiri Jack sedang bersama Dave, dia yang shock bukannya menyapa Dave malah berlari kembali ke kamar Keisya.


“Lalu dari mana dia datang?” Manda menaikan sebelah alisnya menatap Jack dalam-dalam. Pandangan matanya naik turun tertuju pada penampilan Jack. Seakan perempuan itu sedang menilai sesuatu.


“I..i..tu kak, itu..” James menunjuk nunjuk arah dari pintu rahasia. Apa sih yang terjadi pada James mengapa bocah itu menjadi gagu. Hm, padahal dia, kan, hanya melihat kakak iparnya bukan melihat hantu.


“Apa sih kau tidak jelas James, lebih baik kau diam saja.”


Ya begitulah Manda, ia pasti merasa kesal dengan sikap James yang seperti bocah linglung.


“James, Manda, kalian berdua diam!” Bentak Jasson. Nyali keduanya pun menciut. Jasson sudah seperti Dave jika membentak.


Dan, karena bentakan Jasson, Boy kecil kembali menangis.


Keisya menghela nafas kasar dengan kelakuan adik-adiknya itu. “Tidakkah kalian kasian pada keponakan kalian, dia baru tidur sebentar sudah kalian ganggu.” Ucap Keisya kembali menimang Boy dan menenangkan bayi kecil itu dengan sabar.


“Maaf..” lirih Manda, Jasson dan James secara bersamaan.


Sementara Jack sendiri bingung harus memulai darimana membicarakan nya.


“Jadi, Jack, katakan darimana kau datang dan bagaimana bisa kau masuk ke ruang rahasia?!” Tanya Keisya serius namun terdengar lembut.


Jack melirik ke James, Manda dan Jasson secara bergantian. Seakan ia tidak percaya kepada ketiga bocah itu, haruskah ia mengatakan yang sebenarnya atau hanya bicara pada Keisya yang merupakan nyonyanya. Tapi, bukankah percuma?Si James gagu itu sudah terlanjur melihat Dave dan dokter serta dirinya.


Apakah orang-orang ini bisa di percaya? Begitu kira-kira arti lirikan Jack saat melirik James, Juan dan Manda.


“Apa kau lirik-lirik?” Sungut Manda kesal.


“Manda...!” Tegur Keisya pada adiknya yang bar-bar nan nakal. Perempuan itu pun menunduk, memang hanya Keisya yang mampu mengendalikan semua orang di rumah itu. Bahkan Dave pun takluk pada Keisya.


“Tidak papa, Jack. Kau bisa mengatakannya, mereka adik-adikku dan bisa dipercaya. Bukan orang lain.” Tutur Keisya lagi seakan bisa membaca pikiran Jack.


“Maaf nyonya, sudah berpikiran buruk.” Sahut Jack.


“Sebenarnya tuan Dave masih hidup nyonya, tuan selamat dari kecelakaan yang tragis itu.” Lanjut Jack dangan serius namun terdengar lirih.


Keisya mengangguk-anggukan kepalanya. “Yah, aku tau suamiku pasti selamat. Lalu dimana dia?Bagaimana keadaanya?” Tanya Keisya.


Keisya memang sempat histeris saat diberi tahu Dave kecelakaan. Namun, setelah dirinya merasa tenang dan bisa berpikir jernih, ia yakin suaminya pasti selamat.


“Tuan ada di ruang kerjanya.” Jawab Jack.


.


.


.


Guys baca juga novel karya adikku Yah..