My Dave

My Dave
S2 Morning Kiss



Pukul 02:00 dini hari Dave dan Keisya baru sampai di Villa luxury. Mereka langsung pulang setelah mengambil mobil di parkiran stasiun bawah tanah.


Sampai di Villa keduanya langsung membersihkan diri. Seusai membersihkan diri, Keisya menuju kamar Manda, ia berniat menjemput boy dan membawanya ke kamarnya. Terlihat pintu kamar Manda tidak terkunci, Keisya pun langsung masuk ke dalam kamar Manda dengan pelan. Ia tidak mau membuat suara yang bisa membangunkan si pemilik kamar.


Boy tidur di tengah-tengah Manda dan Jasson. Bayi laki-laki kecil itu tidur dengan sangat pulas. Keisya pun dengan hati-hati mengangkat Boy dari belakang Jasson. Ia sedikit berjinjit agar tangannya tidak menyentuh tubuh Jasson saat mengangkat Boy.


Setelah berhasil mengangkat Boy dan menggendongnya, Keisya keluar dari kamar Manda dengan pelan. Ia sengaja tidak membangunkan Jasson maupun Manda karna kasian, Jasson dan Manda terlihat lelah. Keisya juga membiarkan Jasson tidur bersama Manda. Ia percaya Jasson tidak akan macam-macam pada Manda meskipun tidur bersama.


Sampai di kamarnya, Keisya menaruh boy di tempat tidur kecil milik Boy yang berada di sebelah tempat tidurnya dan Dave.


“Sepertinya pipinya semakin gembul?” Dave berdiri di sebelah Keisya mengamati Boy kecil yang tidur lelap.


“Aku juga berpikir begitu,” Keisya setuju, bayi kecilnya memang terbilang gembul untuk bayi berumur satu minggu.


“Apa aku boleh menciumnya?” Dave gemas, ia ingin mencium pipi gembul Boy.


“Jangan sampai terbangun!” Ucap Keisya mengizinkan. Dave pun langsung mencium pipi gembul Boy.


“Selamat tidur jagoan, Daddy!” Ucapnya pada Boy.


***


Pagi berikutnya..Manda mengerjapkan mata nya saat sinar matahari masuk ke dalam ruangan kamar menyelinap lewat celah jendela yang tak tertutup gorden. Ia merasakan ada yang aneh di atas perutnya, sesuatu yang berat melingkar diperutnya. Ia pun mengarahkan pandangan matanya ke bagian perutnya. Sebuah tangan kekar melingkar memeluknya, tangan siapakah?Manda menoleh dengan hati-hati, melihat siapa yang berada di sebelahnya.


“Jasson?!” Teriak Manda ketika melihat Jasson masih tidur pulas di sebelahnya.


“Kenapa teriak-teriak?” Keluh Jasson seraya membuka mata.


“Apa yang kau lakukan disini?” Manda bangkit dari tidurnya dengan menarik selimut menutupi tubuhnya yang bahkan masih berpakaian lengkap. Entah apa yang di pikirkan oleh Manda.


“Kau tidak lihat aku sedang tidur, mengganggu saja!” Jasson kembali menutup mata seolah sedang berusaha tidur kembali.


Manda mengamati keadaan dirinya yang masih berpakaian lengkap. Cukup lama, ia mengingat apa yang terjadi semalam bagaimana Jasson bisa tidur di kamarnya. Ia pun akhirnya menghela nafas lega.


“Maaf mengecewakan mu, tapi aku tidak menyentuh perempuan tanpa persetujuannya dulu.” Ucap Jasson mendengar Manda menghela nafas lega.


Bugh..bugh.. “Dasar, memang siapa yang kecewa?” Bugh, Manda memukuli bahu Jasson kesal. Bagaiamana mungkin ia kecewa hanya karna Jasson tidak menyentuhnya. Benar-benar pikiran Jasson tidak termaafkan.


“Auh.” Jasson meringis kesakitan karna ulah Manda yang dengan tanpa belas kasih memukuli bahunya, ia pun menangkap kedua tangan Manda menarik tubuh Manda dan menguncinya. Kini posisi Manda tepat di atas tubuh Jasson. “Hentikan sayang, pukulan mu sakit. Dari pada memukul bagaimana jika kau menciumku?” Goda Jasson.


“Cih, jangan bermimpi!” Decak Manda kesal.


“Lepaskan aku Jasson!” Ia meronta meminta Jasson melepaskan Keisya tangannya.


“Berikan Morning kiss dulu.”


“Tidak mau!” Manda membuang muka.


“Baiklah.” Set.. menarik tubuh Manda hingga perempuan itu semakin maju, Jasson pun dengan cepat memajukan kepalanya dan cup.. kecupan singkat mendarat di bibir Manda.


“Morning kiss.” Jasson lalu melepaskan tangan Manda dan bangkit dari tidurnya. Ia menyeringai jahat pada Manda lalu meninggalkan Manda yang masih termenung setelah mendapat kecupan tiba-tiba dari Jasson.


“Pagi, kak!” Jasson menyapa Keisya yang berdiri di depan pintu kamar Manda seraya menggendong Boy. Sepertinya dilihat dari ekspresi Keisya, kemungkinan dia sudah cukup lama berdiri di depan pintu.


“Bagaimana bisa kau menggodanya sepagi ini?” Tanya Keisya pada Jasson.


“Karna itu menyenangkan.” Jawabnya lalu meninggalkan Keisya.


Keisya pun masuk ke kamar Manda. Ia melihat Manda duduk dengan memegangi bibirnya dengan jari telunjuknya, terlihat perempuan itu senyum-senyum sendiri.


“Dasar, malu-malu tapi mau!” Ledek Keisya melihat Manda yang kemudian malu tingkahnya ketahuan Keisya.


“Sejak kamu dan Jasson berciuman, memang ya, Morning kiss bisa membuat mood menjadi baik.”Keisya menghampiri Manda lalu duduk di tepi tempat tidur.


Manda menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuh nya ia sangat malu kepergok Keisya. “Arggh, aku sangat malu.”


“Sudah, cepat mandi!Bukankah seharunya kau magang hari ini?” Tanya Keisya, Manda pun langsung menyembulkan kepalanya dari balik selimut.


“Iya.. aku hampir lupa.” Jawab Manda.


“Kakak akan menunggu di bawah untuk sarapan.” Keisya bangkit berdiri, ia berjalan keluar dari kamar Manda.


***


Keisya lebih dulu kembali ke kamarnya untuk menemui Dave. Memastikan apakah Dave sudah selesai mandi.


“Apa mereka sudah bangun?” Tanya Dave seraya menyelesaikan memakai dasinya.


Keisya mengangguk. “Tidak hanya sudah bangun, mereka bahkan berciuman di pagi hari.” Ucap Keisya mendekati Dave.


Dave menatap Keisya dengan tatapan tidak bisa diartikan. Setelah menyelesaikan dasi yang ia pakai, Dave mendekati Keisya. Cup.. mengecup sekilas bibir Keisya. “Apakah mereka seperti ini?” Tanya Dave tersenyum puas melihat wajah Keisya yang memerah.


“Dave, kau!” Perempuan kaget.


“Sekarang giliranmu, Boy.” Dave menundukkan kepalanya ke arah Boy yang berada di gendongan Keisya lalu mencium pipi kanan kiri Boy secara bergantian. Bayi laki-laki itu tersenyum merasakan sentuhan dari ayahnya.


“Hentikan, Dave!” Protes Keisya saat Dave tidak berhenti mentoel-toel pipi putranya.


“Dia menyukainya sayang.” Dave enggan berhenti menggoda putranya.


“Tapi, kau bisa terlambat bekerja.” Ujar Keisya mengingatkan.


“Tidak papa, tidak masalah.” Jawab Dave cuek.


“Daddy, sudah waktunya sarapan!” Kali ini Keisya tegas.


“Baiklah.” Dave pun berhenti menggoda Boy. “Ayo sarapan bersama!” Ajak Dave.


Keisya dan Dave menuju ruang makan bersama. Sementara Keisya menitipkan Boy lebih dulu pada Stevi. Ia akan menemani suaminya sarapan.


“Dimana yang lain?” Tanya Dave melihat ruang makan masih kosong. Hanya ada dirinya dan Keisya di sana.


“Entahlah.” Keisya celingak-celinguk mencari-cari apakah ada tanda-tanda seseorang menuju ruang makan.


Pak Mo datang dengan membawa buah-buahan dari dapur.


“Apakah hanya kami berdua yang sarapan, pak Mo?” Tanya Keisya.


“Ia, nyonya! Nona Manda sudah berangkat tanpa sarapan sekitar lima menit yang lalu, tuan Jasson menyusul nona Manda. Tuan Jasson juga tidak sarapan.” Jawab pak Mo sopan.


“Hem, mereka tidak butuh sarapan lagi pak Mo. Jatuh cinta sudah membuat mereka kenyang.” Sahut Dave seraya menerima roti tawar yang sudah di olesi dengan selai oleh Keisya. Ia pun memotong roti tawar itu dengan pisau dan bantuan garpu.


Pak Mo hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Dave.


.


.


.