My Dave

My Dave
S2 Pintu rahasia I



Saat ini Dave sudah berada di dalam helikopter yang akan membawanya kembali ke Villa. Ia baru saja beralih dari jet pribadinya menuju helikopter. Ditemani oleh Jack dan seorang dokter serta perawat yang sigap merawat Dave dalam perjalanan. Apalagi kondisi Dave sempat memburuk karna ia tiba-tiba melepas jarum infusnya.


“Anda sudah sadar tuan?” Jack menyadari tuannya sudah membuka mata.


“Kau tidak bilang kita sudah pindah ke helikopter?” Tanya Dave menyadari dimana ia berada.


Memang selama penerbangan saat menaiki jetpri Dave tidur. Jack pun sengaja tidak membangunkan Dave meskipun mereka sudah pindah ke helikopter.


“Maaf tuan, saya lihat anda kelelahan.” Jawab Jack.


“Kau pasti senang mendorong ku di atas brankar menaiki helikopter, kan?Sungguh membuatku malu.” Bagi Dave yang juga ketua King, menunjukan dirinya tak berdaya di hadapan beberapa anak buahnya adalah hal yang memalukan.


“Maaf tuan.” Jack menunduk.


“Angkat kepalamu brengsek!Kau sama saja mengakui perkataanku, membuatku kesal saja!” Ucap Dave kesal.


“Sepertinya anda sudah sehat tuan, buktinya anda sudah bisa mengumpat dengan lancar.” Ujar Jack meledek.


“Siapa bilang aku sakit?Aku hanya sedang tidak beruntung saja.” Ucap Dave.


Jack tidak berani meledek bos nya lagi. Ia takut di hajar Dave yang sepertinya sudah sembuh. Kalaupun belum sembuh Dave bisa saja menyuruh orang untuk menghajarnya karna berani meledek sang King.


Helikopter pun mendarat di sebuah Villa yang tak kalah megah dari Villa luxury. Ada halaman yang cukup luas untuk landasan helikopter mendarat. Villa itu juga di kelilingi oleh gerbang yang menjulang tinggi hampir 3 meter. Semacam benteng yang melindungi rumah itu. Orang luar tidak akan tau pergerakan di dalam area Villa karna benteng-benteng yang tingi.


“Kau mau mati ya?!” Bentak Dave pada Jack yang menyiapkan brankar. Niatnya brankar itu akan membawa Dave saat turun dari helikopter.


“Saya rasa tuan belum cukup kuat untuk berjalan.” Ujar Jack ragu-ragu.


“Kau bisa gunakan kursi roda bodoh, aku tak selemah itu sampai perlu ranjang berjalan.” Gerutu Dave kesal. Jika saja tangannya tidak terluka, ia pasti suduh memukul kepala Jack seperti biasnya.


Jack langsung mengambil kursi roda dan membantu Dave untuk duduk di kursi roda.


“Aku bisa sendiri!” Dengan perlahan Dave mendudukkan dirinya di kursi roda.


Lalu Jack pun mendorong Dave untuk masuk ke dalam Villa diikuti oleh dokter dan perawat yang sejak tadi hanya diam.


“Kau yakin tidak ada yang curiga kita mendarat disini?” Tanya Dave.


“Tidak Tuan, seperti kata tuan saya juga tidak menghubungi yang lainnya. Dan, kepemilikan Villa ini juga bukan atas nama tuan. Jadi, tidak akan ada yang curiga meskipun helikopter mendarat disini. Orang-orang sekitar maupun musuh tuan tidak akan tau anda mendarat disini.”


Jack mendapat instruksi dari Dave untuk tidak mengatakan pada keluarga ataupun orang-orang kepercayaannya bahwa dirinya akan pulang. Ia curiga ada mata-mata di sekitar mereka. Terutama di dalam Villa luxury.


“Oke..Kita akan langsung pulang lewat jalur bawah tanah.” Ucap Dave setelah sampai di dalam Villa milik nya yang terhubung dengan Villa luxury lewat jalur bawah tanah.


***


Keisya terbangun setelah efek obat bius nya hilang. Sebelumnya ia sudah sadar dari pingsan nya namun histeris mengetahui kecelakaan yang menimpa Dave. Ia pun terpaksa di suntik bius oleh dokter untuk menenangkannya.


Saat ini Keisya sudah mulai tenang. Ia memangku Boy kecilnya sambil menyusui Boy. Tidak ada air mata yang jatuh, ia hanya diam saja sejak terbangun.


Di dalam ruangan itu ada Manda, Juan dan kakek John yang setia menemani Keisya. Mereka tidak berani berucap apapun hanya menunggui Keisya.


“Kakek..” ujar Keisya lirih setelah selesai memberi ASI pada Boy kecil.


Kakek pun bangkit berdiri dari sofa yang ia duduki. Kakek kemudian berjalan menghampiri tempat tidur dan duduk di tepi tempat tidur.


“Iya Kei, kakek ada disini.”


“Aku mau kakek meliburkan semua maid yang ada. Kecuali pak Mo, karena beliau adalah kepalanya.”


Kakek John sedikit bingung dengan kemauan Keisya tapi ia akan menurutinya. Jika itu bisa membuat Keisya tenang mengapa tidak.


“Masih ada pak Mo dan Stevi, kau, James, Manda, juga Jasson. Kalian bisa saling bekerja sama untuk mengurus Villa.” Ucap Keisya datar.


“Apa?” Juan akan protes namun ditahan oleh Manda. Ia juga mendapat pelototan tajam dari kakek John.


“Baiklah, selama maid libur aku yang akan bertanggung jawab dengan dapur.” Ucap Manda cepat.


“Yah, baiklah. Aku akan menyapu.” Lirih Juan pasrah.


“Itu bagus.” Ucap Keisya menjeda ucapannya, “Kalau bisa biarkan maid berlibur mulai malam ini!” Lanjut Keisya dengan keinginannya.


Kakek manggut-manggut.


“Kakek akan mengaturnya.”


“Terimakasih kek.”


Kakek meninggalkan ruangan itu untuk menuruti keinginan Keisya. Hanya butuh waktu satu jam semua maid sudah meninggalkan Villa luxury. Bahkan para penjaga yang mengawal di Villa juga mendapat rolling sesuai instruksi Alex.


Sementara Keisya masih di dalam kamarnya, ditemani anggota keluarga inti kecuali kakek, karna kakek sedang pergi untuk mengurus sesuatu di temani Leo. Boy kecil juga baru saja tidur.


“Kakak istirahat lah, Boy juga sudah tidur.” Ucap Manda sambil mengelus elus kepala Keisya.


“Aku mau pindah ke ruang kerja Dave.” Ucap Keisya pelan.


“Maksud kakak apa?” Tanya Manda.


“Aku dan Boy akan tidur di kamar yang ada di ruang kerja Dave.” Ucap Keisya seraya bangun dari tidurannya. Ia pun mendudukkan dirinya bersandar punggung ranjang.


Ada sebuah kamar di ruang kerja Dave. Kamar rahasia yang hanya Keisya dan Dave yang tau.


“Kakak jangan bercanda, dimana kakak akan tidur?Disana tidak ada tempat tidur.” Sahut Jasson yang diangguki oleh James dan Juan. Mereka memang tidak melihat ada kamar ataupun ruangan lain di ruang kerja Dave.


“Kakak tidak bercanda, Jasson. Kakak tunjukan sesuatu.” Keisya sedikit menggeser tubuhnya lalu membungkuk menyentuh tombol yang berada di bawah tempat tidur nya, tak berapa lama dinding kamar Keisya bergeser membentuk pintu yang terbuka. Terlihat tanggu menurun dari pintu itu. Juga ruangan yang seperti lorong.


Mereka yang sedang berada di dalam kamar Keisya pun terbelalak melihat pintu dinding itu.


“I..itu!” Ucap Manda terbata-bata.


“Itu jalan yang terhubung ke ruang kerja Dave.” Jawab Keisya.


“Waow, menakjubkan!”


James terkesima melihat pintu rahasia di dalam kamar Keisya. Ia pun berdiri dan berjalan menuju pintu itu, James menuruni satu persatu anak tangga dan menyusuri ruangan yang seperti lorong itu hingga punggung nya tak terlihat lagi dari ruang kamar Keisya. James akan membuktikan perkataan Keisya apakah pintu itu benar-benar terhubung dengan ruang kerja Dave atau tidak.


“Kak, James tidak hilang, kan?” Tanya Juan memastikan. James sudah pergi selama lima menit tapi belum kembali.


“Tidak, mungkin dia berada di ruang kerja Dave.” Jawab Keisya datar.


“Kakak yakin?” Tanya Manda, ia juga khawatir karna James tak kunjung kembali.


Drap..Drap...Drap.. suara derap langkah dari pintu yang tadi dimasuki oleh James. Lelaki itu kembali dengan raut wajah yang aneh. Tidak bisa diartikan.


“Kakak..Kakak..kakak..” teriak James ngos-ngosan.


.


.


.