My Dave

My Dave
S2 Robert dan Lusi?



“Apa yang kalian dapatkan?” Dave akhirnya selesai bermain game. Ia meletakan ponselnya ke nakas dan beralih menatap Leo juga Alex secara bergantian.


Alex menyerahkan laporan nya di dalam map pada Dave, begitu juga Leo. Laporan Alex berkaitan dengan King, sementara Leo berkaitan dengan Group Wilson.


“Perempuan itu bunuh diri tuan,” perempuan yang sempat Alex tangkap karena mengintai Villa luxury.


“Bagiamana bisa?”


“Dia meminum racun. Racun yang selama ini di sembunyikan di pakaian dalamnya. Memang kesalahan kami tidak memeriksa sampai ke pakaian dalam saat penggeledahan.” Jawab Alex menunduk siap mendapat amukan amarah dari Dave. Alex tau betul Dave tidak mentolelir kesalahan sekecil apapun.


“Selidiki lagi, terutama internal King. Mengantisipasi adanya penghianat.” Balas Dave sambil beralih pada laporan yang Leo bawa.


“Baik, tuan.” Jawab Alex. Alex tidak menyangka Dave menanggapi kesalahannya dengan datar. Sepertinya ketua King mereka sudah tidak sekejam dulu.


Dave dengan teliti melihat laporan yang Leo bawa. Ia mengernyit saat melihat laporan itu. “Jelaskan!” Tegas Dave pada Leo.


“Seperti yang anda baca tuan, ada pergerakan dari dewan direksi. Mereka mencurigai keberadaan anda, mereka tidak percaya anda pergi berlibur.” Sebelumnya Leo memanipulasi kecelakaan yang menimpa Dave dengan mengatakan Dave sedang berlibur bersama keluarga kecilnya. Jika dewan direksi tau Dave kecelakaan Group Wilson akan menjadi kacau.


“Apa mereka berulah?” Tanya Dave.


Leo mengangguk. “Saham sempat anjlok karena berita miring. Namun, tuan besar sudah mengatasinya.” Ucap Leo. Leo bersama kakek John sudah mengatasi masalah yang baru-baru ini terjadi di perusahaan.


“Berita miring apa?”


“Berita mengenai anda kecelakaan bukan sedang berlibur.” Lanjut Leo.


“Hahaha, jadi, ada berita seperti itu?” Kelakar Dave dengan tawa devil nya. Leo mengangguk. Alex? Dia sudah tau jika Dave tertawa seperti itu cepat atau lambat nyawa seseorang akan melayang.


“Benar, tuan.”


“Bagaimana dengan tua Bangka itu?”


“Beliau terlihat tenang. Saya sudah mengirim orang untuk mengintai setiap gerak geriknya.” Jawab Leo.


“Sudah pasti dia, siapa lagi jika bukan dia?” Sinis Dave.


“Maksud anda tuan Robert yang menjadi dalang kecelakaan anda?” Sahut Alex memahami situasi. Dave mengangguk.


“Kau tau Lex, seberapa bencinya Robert padaku setelah aku menghancurkan keponakannya, apalagi Lusi menjadi gila. Dia tidak mungkin tinggal diam.” Jawab Dave.


“Saya sudah curiga saat tuan Robert ternyata salah satu dewan direksi, namun, yang saya herankan bagiamana tuan Robert bisa menjadi salah satu dewan direksi?” Tanya Leo tidak mengerti.


Awalnya Leo hanya mengenali Robert sebagai klien Dave yang akan bekerja sama dengan Group Wilson.


Namun, saat Dave mulai menghancurkan Lusi yang berani mencelakai Keisya, Robert muncul sebagai salah satu dewan direksi di Group Wilson. Dave mengurungkan niatnya menghancurkan Robert karena tidak mau reputasi Robert yang buruk mempengaruhi reputasi Group Wilson. Namun, jika sekarang Robert dalang di balik kecelakaan Dave, Dave tidak akan tinggal diam lagi.


“Ada satu hal yang kalian tidak tau, Robert adalah paman jauh ku. Ayah Robert adalah saudara angkat kakek John.” Ucap Dave. “Dia punya saham yang diberikan kakek pada kakek Mark, ayah Robert. Saham yang sekarang ditangan Robert adalah saham warisan.” Lanjut Dave menjelaskan.


Leo dan Alex manggut-manggut. “Jadi, kalian masih keluarga jauh tuan.”


“Yah, begitulah meskipun tidak ada hubungan darah.” Jawab Dave.


“Apa mungkin motif Robert hanya karena perlakuan anda terhadap nona Lusi?” Alex berpikir tidak sesederhana itu.


“Itu tugas kalian, selidiki motif Robert lebih lanjut!” Tegas Dave.


“Baik, tuan.” Jawab keduanya serentak. Alex dan Leo.


“Oke, untuk sekarang Robert dalang yang kita curigai. Jangan lengah, tetap awasi Raka maupun Farhan.” Dave mengingatkan pada kedua tangan kanannya. Raka dan Farhan masih menjadi ancaman bagi Dave. Dave yakin kedua lelaki itu tidak akan mudah melupakan perasaannya pada Keisya.


Setelah selesai dengan laporan dan taktik selanjutnya Leo dan Alex pamit. Kini hanya tinggal Dave. Dave memutuskan untuk tidur mengistirahatkan tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih.


***


Malam harinya di ruang makan. Kakek John, Keisya, si kembar Jasson, James, Juan dan Manda sudah duduk di kursi masing-masing untuk makan malam. Mereka menikmati makan malamnya dengan hening.


Keisya nampak lesu mengunyah makan malamnya dengan malas-malasan. Manda pun begitu. Si kembar tiga sedikit-sedikit melirik ke arah Keisya maupun Manda. Begitu pun kakek yang heran pada kakak beradik itu, kenapa meraka malas-malasan menyantap makan malamnya.


“Ada apa dengan kalian berdua, kenapa lesu. Apa makanannya tidak enak?Kenapa Keisya, Manda?” Tanya kakek John.


“Jika bukan karena makanannya, kenapa lesu?” Tanya kakek lagi.


“Bagaimana aku bisa makan saat suamiku tak ada kabar, kek?” Ucap Keisya sedih.


“Ya, kak Kei benar. Aku juga tidak nafsu, setiap melihat Boy aku teringat kakak ipar.” Sahut Manda meletakan alat makannya. Manda mengelap bibirnya dengan tisu.


“Bukankah Kakak ipar...aww.” Manda menginjak kaki James sebelum bocah itu mengungkap rahasia besar keberadaan Dave.


‘Dasar bodoh.’ Batin Jasson menatap tajam James.


“Apa yang kau katakan James, kakak ipar mu kenapa?Suamiku kenapa?” Tanya Keisya dengan wajah dibuat sekhawatir mungkin.


‘Ratu drama.’ Batin Juan yang tau Keisya dan Manda sedang berakting di depan para maid. Seolah olah mereka masih belum mendapatkan kabar dari Dave.


“Tidak, kak. Aku hanya mengatakan bukankah kakak ipar sangat mirip dengan Boy. Anggap saja Boy adalah kakak ipar versi mini.” Ucap James. Manda tersenyum mengejek pada James.


Jasson melirik ke arah Manda. Lalu melirik James. ‘Nasibmu James, aku tau kaki Manda pasti sangat keras saat menginjak jempolmu.’ Menepuk-nepuk pundak James.


“Kenapa kakak menepuk pundakku?” Tanya James menoleh ke Jasson.


“Hm, tidak, hanya saja jika kau butuh obat merah untuk jempol mu di kamarku ada.” Jawab Jasson kemudian.


James mendengus kesal melirik Manda dan Jasson secara bergantian. “Cih, kalian berdua memang pasangan serasi.” Kata Jasson.


“Terimakasih untuk pujiannya.” Jawab Jasson bangga.


“Sudah sudah, lanjutkan makan kalian. Tegur kakek John.


“Baik, kek.” Jawab mereka serempak.


“Dan, kau Keisya. Bersabar lah, kakek yakin Dave pasti baik-baik saja. Dave pasti pulang dan berkumpul kembali bersama kita.” Ucap kakek John sendu.


‘Benar-benar keluarga penuh drama.’ Batin Juan miris. ‘Eh, keluarga?berarti termasuk aku?’ Juan geli menyadari dirinya termasuk dalam keluarga penuh drama itu.


“Iya kek.” Balas Keisya.


Usai makan malam, semuanya kembali ke kamar masing-masing kecuali Manda dan Jasson yang pergi ke kamar Keisya untuk bermain dengan Boy kecil. Sebelum tidur Keisya menyempatkan diri menemui Dave. Keisya menitipkan Boy pada Manda dan Jasson yang sedang berada di kamarnya.


Keisya masuk ke dalam kamar rahasia Dave, yang langsung di sambut senyum hangat suaminya. Keisya berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur. Dilihatnya masih ada piring kotor bekas makan malam Dave di kamar itu. Sepertinya Jack belum mengambil piring kotor itu. Ribet memang, Jack harus bolak balik hanya untuk mengirim makan pagi, siang dan malam.


“Maafkan aku, aku tidak bisa menemanimu makan.” Ucap Keisya lembut.


“Tidak papa sayang.” Mendekatkan kepalanya pada Keisya dan mengecup singkat puncak kepala Keisya.


“Tapi, aku kasihan padamu. Kau selalu saja makan sendirian Dave.” Ada perasaan bersalah dari diri Keisya tidak bisa sepenuhnya melayani suaminya. “Seharunya aku melayani makanmu dan menemani mu makan.” Lanjut Keisya.


“Kau bisa melakukannya nanti Kei, aku akan bersabar untuk itu.” Menyentuh pipi Keisya, mengelusnya dengan lembut. “Kau semakin cantik saja.” Mengalihkan pembicaraan sambil menatap wajah cantik Keisya.


“Apa iya?” Keisya salah tingkah celingukan melihat sekitar.


“Mencari apa?” Dave menarik dagu Keisya agar pandangan mata Keisya hanya fokus pada Dave.


“Cermin, aku ingin bercermin. Memastikan apakah perkataanmu jujur atau tidak. Perkataanmu yang katamu aku semakin cantik. Padahal kata Manda aku semakin gemuk.” Balas Keisya.


“Tidak perlu bercermin sayang, bagiku kau yang tercantik.” Lanjut Dave.


“Perlu, Dave. Umm.” Belum selesai Keisya berbicara Dave sudah membungkam mulut Keisya dengan membenamkan bibirnya di bibir Keisya. Keisya menurut saja, ia bahkan membalas saat ciuman Dave menuntut lebih. Keduanya saling berpagutan liar, Dave menarik tengkuk kepala bagaiman belakang Keisya agar istrinya itu semakin mendekat dan ia memperdalam ciumannya.


.


.


.


.