
***
Keisya tidak bisa tidur, ia merasa sangat lapar. Ia berjalan keluar dari kamar dilihatnya 2 Bodyguard nampak berjaga di depan kamar yang Keisya tempati. “Apa disini ada dapur?” Tanya Keisya pada salah satu Bodyguard itu.
“Ada, nona. Apa anda butuh sesuatu, saya akan panggilkan pelayan.”
“Tidak, jangan panggilkan pelayan ini sudah malam. Biarkan mereka istirahat. Apa kalian bisa menemaniku ke dapur, aku tidak tau arahnya.”
2 Bodyguard itu pun menemani Keisya menuju dapur, sampai di dapur Keisya membuka kulkas. Melihat apakah ada yang bisa ia makan di dalam kulkas itu, tapi sayang sekali makanan yang ada tidak sesuai dengan apa yang diinginkan Keisya saat ini. Akhirnya Keisya memutuskan untuk memasak sendiri. Dua Bodyguard yang sedari tadi menemani Keisya tidak berani menggangu Keisya, mereka hanya mengamati Keisya. Sekitar 30 menit Keisya selesai memasak.
“Apa yang kamu lakukan malam-malam begini?” Farhan baru saja tiba di rumah itu, ia langsung mencari Keisya. Saat tidak mendapati Keisya di kamarnya Farhan mulai marah, ia mengira Keisya kabur. Tapi kemarahannya mereda saat salah satu Bodyguard di rumah itu mengatakan Keisya tengah berada di dapur memasak.
“Apa kau tidak lihat??Aku sedang memasak.”
“Aku lihat, tapi mengapa kau memasak?dimana para pelayan?”
“Hiss, tidak lihat ini jam berapa?Pelayan sudah tidur, aku tidak mau membangunkan mereka. Lagi pula hanya memasak aku bisa sendiri.” Kata Keisya seraya menaruh omelet yang ia buat kedalam piring.
“Memang kenapa jika mereka tidur?Aku menggaji mereka dengan bayaran tinggi. Sudah sewajarnya mereka bekerja kapanpun di butuhkan.” Farhan menarik kursi pantry dan duduk si kursi itu.
“Taun Farhan yang terhormat, tidak semua bisa dibeli dengan uang. Meskipun kita menggaji mereka dengan tinggi, kita juga tidak boleh memperlakukan mereka semena-mena. Mereka butuh istirahat juga, mereka manusia biasa juga sama sepertiku dan sepertimu.” Terocos Keisya, Keisya duduk di kursi yang berhadapan dengan Farhan, meja pantry menjadi pembatas antara keduanya. Ia mulai mengunyah omelet yang tadi dibuatnya.
“Hmm.”
Keisya makan dengan sangat lahap. “Mau?” Tanya Keisya pada Farhan, ia melihat Farhan seperti menelan ludahnya saat melihat Keisya makan. Keisya pun beranjak mengambil omelet yang masih tersisa, menaruh nya dalam piring lalu menyajikan tepat di depan Farhan. “Makanlah.”
“Tidak perlu!”
“Tidak usah sungkan, anggap saja ucapan Terimakasih karena kau memperlakukan ku dengan baik.”
“Aku makan karena menghargai usahamu, bukan karena aku ingin.”
“Iya.. Iyaa.”
Farhan memakan omelet buatan Keisya dengan sangat lahap. Begitu juga dengan Keisya, setelah selesai makan Keisya hendak mencuci peralatan yang tadi digunakannya tapi di hentikan oleh Farhan. Farhan memaksa Keisya untuk kembali ke kamarnya, Farhan tidak mau Keisya capek.
Farhan mengantar Keisya kembali ke kamarnya, ia bahkan memaksa Keisya untuk segera tidur. “Tutup matamu!Kau harus segera tidur!” Tanpa membantah Keisya menutup matanya, tapi tidak bisa tidur. Ia hanya berpura-pura tidur agar Farhan mau meninggalkan kamarnya. Setelah 30 menit akhirnya Farhan meninggalkan kamar Keisya, dan Keisya pun segera membuka matanya. Bayangan Dave selalu terlintas di Fikiran Keisya saat ia akan tidur, biasanya Dave selalu memberikan kecupan selamat malam di keningnya. Bahkan saat mereka bertengkar sekalipun Dave akan menyelinap diam-diam ke kamar saat Keisya sudah terlelap hanya untuk sekedar memberi kecupan selamat malam di kening.
‘Selamat tidur Keisya.’ Gumam Keisya pada dirinya sendiri. Keisya baru mulai tertidur saat jam menunjukkan pukul 4 pagi.
***
Manda baru saja pulang dari kampus bersama Sasya. Saat melihat mobil Manda tiba petugas keamanan pun langsung membuka gerbang, mobil Manda malaju memasuki area Villa luxury. Stevi lebih dulu turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Manda.
“Stevi kau tidak perlu seperti ini, aku bisa membukanya sendiri.” Manda turun dari mobil dengan memegang buku di tangan kiri dan tas di tangan kanan. Ia mendengar suara ribut di pintu gerbang, sebelumnya ia juga melihat anak perempuan dan seorang wanita tengah berdiri di depan pintu gerbang.
“Kenapa ribut sekali, coba kamu periksa!” Perintah Keisya pada Stevi, tidak butuh waktu lama Stevi kembali dan berbisik pada Manda.
“Nyalinya besar sekali, biarkan dia masuk!Aku ingin lihat seberapa berani dia membuat kekacauan di sini.” Kata Manda seraya menyeringai jahat. Manda pun masuk dan langsung menuju kamarnya.
“Ah.. akhirnya kuliah hari ini berakhir, aku sungguh capek.” Sasya merebahkan dirinya di ranjang Manda, ia lalu teringat sesuatu. “Manda aku melihat mobil James dan Juan di parkiran.”
“Mungkin mereka sedang bersama kak Dave membahas pencarian Kakak.” Kata Manda melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Sasya belum puas dengan jawaban Manda, ia menyusul Manda ke kamar mandi tapi sayangnya pintu kamar mandi di kunci oleh Manda. Akhirnya Sasya kembali berbaring.
10 menit kemudian Manda keluar dari kamar mandi hanya menggunakan jubah mandi, Manda langsung mencari pakainya di almarinya, ia memilih pakaian rumahan yang sangat elegan dan terlihat mahal. Setelah nya Manda sedikit memoles bibirnya denga lip tint dan memakai bedak tipis. Sasya sendiri bingung melihat tingkah Manda, tidak biasnya Manda seperti ini.
“Kah sedang apa?” Tanya Sasya.
“Terserahlah, aku lapar.”
“Oke, ayo kita makan.” Manda mengajak Sasya untuk pergi keruang makan. Sebelum sampai diruang makan, Manda dan Sasya mendengar keributan di ruang tamu. Keduanya pun mengurungkan niatnya pergi keruang makan dan melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.
***
Ruang tamu..
“Berapa lama lagi aku harus menunggu?”
“Maaf, Nona. Harap bersabar.”
Raisa terus berteriak memanggil manggil nama Dave, sesekali ia bahkan meneriaki pelayan, sementara Vara nampak ketakutan melihat ibu nya bertingkah seperti itu.
“Mommy.” Lirih Vara.
“Apa kalian tidak tau siapa aku?Aku adalah ibu dari putrinya. Lihat baik-baik gadis kecil ini satu-satunya pewaris Group Wilson. Dia putri satu-satu nya Dave!!Sekarang panggilkan Dave!”
“Ta-tapi Nona.”
“Aku bilang panggil Dave, atau aku akan memecat kalian semua!”
Sang pelayan pun ketakutan melihat Raisa yang sedang menggila. Ia berlagak seperti tuan rumah.
“Kenap ribut sekali?” Celutuk Manda yang berjalan menuju ruang tamu bersama Sasya di ikuti Pak Mo dan Stevi.
“Maaf, Nona Manda sudah mengganggu waktu istirahat anda.” Kata salah satu pelayan yang sedari tadi berada di ruang tamu bersama Raisa.
“Tidak papa. Ada apa ini?Siapa Nona ini?” Manda bertanya dengan polos lalu duduk diruang sofa dengan santuy, diikuti Sasya yang sudah memegang camilan lalu memakanya.
“Nona ini sedang mencari tuan Dave, Nona.” Kata pelayan sopan.
“Oh, Silahkan duduk dulu nona.” Manda mempersilahkan Raisa untuk duduk.
Raisa duduk di yang saling berhadapan dengan Manda, meja kaca klasik menjadi pembatas antara sofa mereka.
.
.
.
Bersambung..
Vote
Vote
Vote
Like
Like
Like