My Dave

My Dave
Bersedih



Setelah mendapat panggilan telefon itu, Keisya segera menuju garasi mobilnya keluar dari area butik dengan kecepatan tinggi.


***Grup Wilson***


“ Tuan ada laporan dari Orang yang mengikuti Nyonya Muda.” ucap Leo.


“ Katakan!” Dave sangat penasaran.


“ Nyonya muda terlihat meninggalkan area Butik beberapa menit setelah Anda pergi tadi.” ucap Leo ragu-ragu.


Dave mengernyitkan dahinya. “ Bagaimana dengan pengawal Keisya?” tanya Dave.


“ Mereka mengikuti mobil Nyonya muda dari belakang, Nyonya memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.”


“ Cari tau kemana Keisya pergi,dan ajukan jadwal semua meeting hari ini!”


“ Baik, Tuan.” Leo meninggalkan ruangan Dave untuk mengurus apa yang sudah di perintahkan Dave.


Kamu kemana Kei, bahkan tidak mengabariku. Dave sangat khawatir, mengingat kondisi istrinya yang belum sepenuhnya pulih.


***Rumah Ayah dan Ibu Keisya***


Keisya berlari keluar dari mobilnya menghampiri seorang wanita paruh baya yang tengah menunggu di depan rumah.


“ Bibi bagaimana dengan Ayah?” tanya Keisya dengan raut wajah sendu, sepertinya Keisya menangis di sepanjang perjalanan.


“ Sudah di bawa ke rumah sakit Kei, ibumu dan anak Bibi yang mengantarkan.” Jawab bibi Lea tetangga Keisya.


“ Rumah sakit mana Bi, aku akan segera kesana?”


“ Kamu tenang dulu kei, apalagi kamu baru saja sampai, ini diminum dulu,” ujar Bibi menyodorkan segelas air putih, setelah itu bibi mengunci rumah Keisya, “Ayo, Bibi akan menemanimu ke rumah sakit!”


Keisya mengangguk kemudian melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


“ Bibi sebenarnya apa yang terjadi?.”


“ Ayahmu tiba-tiba pingsan di perkebunan, untung ada yang melihat. Setelah mendapat kabar Ayahmu pingsan, ibumu segera menyusul ke perkebunan, langsung menuju rumah sakit. Jadi aku yang menghubungimu dengan telefon rumahmu, tadi Bibi dan ibumu sedang memasak untuk pembantu di perkebunan Ayahmu.” Ucap bibi menjelaskan.


“ Semoga Ayah baik-baik saja Bi,” ucap Keisya lirih. Air mata Keisya mengalir begitu saja. Dia sangat khawatir dengan Ayahnya, dia jadi mengingat baru saja kehilangan janinnya. Dia tidak akan sanggup jika terjadi sesuatu pada Ayahnya.


Setelah sampai rumah sakit Keisya menuju ruang IGD, dilihatnya sang Ibu tengah mondar mandir di depan ruang IGD.


“ Ibu!!” ucap Keisya menghampiri Ibunya, langsung memeluk Ibu. “ Bagaimana kondisi Ayah?,”


“ Ayahmu masih di dalam kei, semoga baik-baik saja.”


Sesaat kemudian Dokter keluar dari ruang IGD, yang langsung di serbu oleh Keisya dan Ibunya.


“ Bagaimana keadaan suami saya Dok?,” Bagaimana keadaan Ayah saya Dok,?” Tamya ibu dan Keisya secara bersamaan.


“ Begini Nyonya Tuan mengalami pembekuan darah di bagian otak dan harus segera di lakukan operasi!”jawab Dokter.


“ Kalo begitu lakukan Dok!” ucap Keisya.


“ Mohon maaf sekali Nona, untuk operasi otak di rumah sakit kami belum bisa melakukannya,”


“ Kenapa Dok?” tanya Keisya.


“ Kami belum punya Dokter yang mampu dan ahli selain itu peralatan di rumah sakit kami belum memadahi untuk operasi besar,”


“ Jadi bagaimana Dok, Bagaimana dengan suaminya saya ?,” tanya Ibu Keisya menangis memegang pundak sang dokter.


“ Ibu tenanglah, aku akan mencari solusinya” ucao Keisya menenangkan ibunya.


“ Nona kami sarankan untuk memindahkan Tuan ke rumah sakit besar di kota,” ucap Dokter.


“ Saya akan melakukannya Dok, apakah bisa di lakukan proses transfer secepatnya” sahut Keisya.


“ Bisa Nona, tapi ada kendalanya.,”


“ Apa itu dok?”


“ Jarak Rumah sakit ini ke rumah sakit Kota bisa memakan waktu 3 jam, jika kondisi macet bisa 4-5 jam, kondisi Tuan yang tidak sadar sangat riskan untuk melakukan perjalanan lebih dari 1 jam.”


“ Bagaiamana ini?” lirih ibu Keisya.


“ Apa ada alternatif lain Dok?” tanya Keisya.


“ Keisya..?” Panggil seseorang dari arah belakang menghampirinya. “ Kamu tidak papa sayang?” tanya Dave yang sudah berdiri di belakangnya dengan Direktur Rumah sakit. Dokter tadi tengah membungkuk memberi salam pada Direktur yang berada disamping Dave.


“Dave?!” Ucap Keisya tidak percaya lelaki yang di depanya benar adalah suaminya, tanpa terasa air mata Keisya mengalir deras, “ Dave Ayah..,” ucap Keisya.


“ Tenanglah semua akan baik-baik saja!” ucap Dave yang kemudian menarik Keisya ke dalam pelukannya. “ Bisa di urus sekarang?,” tanya Dave pada direktur Rumah sakit.


“ Bisa, Tuan.” jawab sang direktur memberi arahkan kepada perawat dan dokter di belakangnya, mereka kemudian menuju ruang IGD.


“ Tapi perjalanan kekota sangat riskan untuk Ayah.” Keisya melepaskan pelukan Dave.


“ Aku membawa 2 helikopter kesini, kamu tenang saja.”


“ Apaa?” tanya Keisya tidak percaya.


“ Keisya siapa kelaki ini?,” ibu memberanikan diri untuk bertanya.


“ Ibu dia ..,” ucap Keisya yang dipotong oleh Dave.


“ Ibu maaf terlambat untuk memperkenalkan diri, saya adalah suami Keisya. Rencananya kami baru akan berkunjung akhir pekan ini, maaf menyapa ibu di situasi seperti ini.” ucap Dave memperkenalkan diri.


“ Tidak papa nak, kita bisa bicarakan nanti yang penting sekarang Ayah.” jawab ibu.


“ Maaf Keisya tidak memberitahu ibu.” ucap Keisya.


“ Tidak papa nak.”


“ Tuan semuanya sudah siap.” ucap Leo.


“ Oke!Ibu lebih baik ibu mendampingi Ayah bersama dengan perawat dan dokter. Saya dan Keisya menyusul di belakang,” ucap Dave. Ibu mengangguk mengikuti arahan dari Leo mengikuti perawat dan Dokter yang membawa suaminya menuju atap dimana helikopter tengah menunggu.


Dave menggandeng Keisya untuk menyusul. Mereka menggunakan helikopter terpisah dari sang Ayah.


Perjalanan ke rumah sakit kota lancar, dirumah sakit sudah ada beberapa Dokter dan perawat yang menunggu datangnya pasien. Setelah Ayah Keisya sampai, brangkar didorong menuju IGD. Mereka menunggu ayah yang sedang di periksa.


“ Bagaimana Dok?” tanya Dave pada dokter yang baru saja keluar.


“ Kita menunggu kondisi Tuan stabil, baru melakukan operasi. Untuk saat ini kondisi Tuan aman.”


“ Baik lakukan yang terbaik Dok!” ucap Dave.


“ Akan kami usahakan semaksimal mungkin Tuan,” Jawab sang dokter dengan hormat.


“ Syukurlah,” ucap Ibu merasa lega.


“ Terimakasih Dave.” bisik Keisya.


“ Itu sudah menjadi tanggung jawabku Kei, Ayahmu juga ayahku.” tegas Dave.


“ Apa Manda sudah tau?” tanya Keisya.


“Belum, Aku akan menyuruh Alex untuk menjemputnya!”


“ Baikah...” Keisya menghampiri ibunya, menjelaskan hubungan antara dia dan Dave. Ibu nampak manggut manggut sesekali meneteskan airmatanya.


“ Ibu turut bahagia nak, semoga rumah tanggamu selalu bahagia. Ayah pasti akan senang mendengarnya, Tapi apa dia tidak papa dengan kondisi kita yang seperti ini,” tanya ibu.


“ Dave menerima Keisya apa adanya Bu.” jawab Keisya merangkul pundak ibunya.


“ Bagaimana dengan Manda Nak?”


“ Ibu tenang saja, Manda selalu ikut kemanapun Keisya. Saat ini Manda tinggal bersama Keisya di kediaman Dave,” Jawab Keisya, dia melihat Leo tengah berbisik kepada Dave. “ Jika kamu sibuk pergilah,” ucap Keisya menghampiri Dave.


“ Tidak sayang, aku tidak akan meninggalkanmu di saat seperti ini.” Jawab Dave.


“ Aku tidak papa, ada ibu bersamaku.”


“ Tidak kei, akan lebih baik jika aku juga bersamamu, urusan lain ada Leo dan Alex.”


“ Iya Nyonya, nyonya tidak perlu mengkhawatirkan hal lain. Saya dan Alex akan menghandle pekerjaan Tuan Muda selama beliau menemani Nyonya,” ucap Leo.


“ Terimakasih Leo.”


“ Tidak perlu sungkan Nyonya.” ucap Leo.


Dave menggandeng Keisya untuk duduk disamping Ibu. Ada suara cempreng yang memanggil Keisya, hingga dia menoleh kearah dimana panggilan itu berasal.


“ Dia!” ucap Keisya shock


Bersambung ..


.


.


.


.


Kasih like dong guys..