
“Apa yang terjadi, Dave?” Kesadaran Keisya kembali setelah beberapa saat tak sadarkan diri.
Dave mengelus lembut rambut Keisya. “Maaf, sayang. Seperti yang kau lihat.” Jawab Dave lirih. Dave tak berniat menunjukan di depan Keisya jika Stevi lah pengkhianat yang berada di dalam vila selama ini.
“Tapi kenapa, Dave? Kenapa Stevi berkhianat?”
Padahal Keisya sudah menerima Stevi dengan baik, Keisya juga memaafkan kesalahan Stevi disaat Stevi bersekongkol dengan Lusi. Keisya memberi kehidupan yang layak pada keluarga Stevi, namun apa balasan Stevi? Dia, mengkhianati Keisya dan Dave.
“Sudah ku katakan ‘kan sayang, kau jangan terlalu baik pada orang lain. Mereka bisa saja menusuk mu.” Ucap Dave.
Keisya teringat saat dulu Dave sempat tidak setuju dengan niat Keisya yang mau memperkerjakan Stevi sebagai pengawalnya.
“Maafkan aku, Dave.”
“Selalu sayang.” Mencium kening Keisya. “Istirahat lah, aku harus pergi mengurus sesuatu.” Pamit lelaki itu kemudian.
Keisya menganggukan kepalanya. Sesaat Keisya menatap punggung Dave hingga punggung itu menghilang di balik pintu.
***
Rasa tidak tenang semakin mengganggu Robert, sejak kemunculan Dave di Group Wilson, Robert sudah sadar jika dirinya kalah dalam pertempuran ini. Hanya saja ego nya menolak menerima kekalahan ini.
“Tuan, pihak kepolisian datang.” Lirih pelayan.
“Selamat siang tuan Robert,” polisi muncul begitu saja di belakang pelayan itu.
Robert mengira saat Jack melepaskannya maka Dave memaafkan Robert. Ternyata ia salah, Dave tidak melepaskan Robert sama sekali, ia hanya lepas tangan dan menyerahkan semuanya pada pihak kepolisian. Dave benar-benar tidak memberi ampun pada Robert.
“Siang.” Jawab Robert dengan nada bergetar.
“Anda ditahan atas tuduhan penggelapan dana perusahaan dan percobaan pembunuhan terhadap tuan Dave Wilson.” Kata polisi itu tegas.
Robert tidak bisa melakukan perlawanan, ia hanya menurut dan pasrah saat polisi memborgol kedua tangannya. Robert di bawa ke kantor untuk selanjutnya di lakukan proses penyidikan yang lebih lanjut.
Sementara di tempat lain Leon yang juga sekutu Robert nampak ketakutan. Stevi, perempuan yang selama ini ia manfaatkan tidak bisa lagi di hubungi. Singkat cerita Stevi jatuh cinta pada Leon saat dia menjadi sahabat Lusi, namun cintanya bertepuk sebelah tangan. Leon hanya menganggap Stevi teman dari Lusi, apalagi Leon menganggap Stevi tidak selevel dengan keluarganya.
Namun, saat mengetahui Stevi menjadi pengawal Keisya. Leon berpikiran jahat untuk memanfaatkan Stevi demi membalas dendam atas apa yang Dave lakukan pada Lusi. Leon mendekati Stevi hingga gadis itu luluh dan mau mengikuti semua kemauan Leon.
Leon yakin Stevi telah ketahuan oleh Dave.
“Dasar perempuan tidak berguna.” Pekik Leon mondar-mandir di ruangan kecil dan pengap yang ia jadikan tempat persembunyiannya.
Setelah mengetahui Dave kembali, Leon langsung memutuskan untuk pergi dari kota itu, pergi ke pinggiran desa untuk bersembunyi .
“Aku harus segera pergi dari negara ini.” Mengamati barangnya, mengecek paspornya. Leon tergesa-gesa pergi dari desa itu menuju pelabuhan. Rencananya ia akan pergi ke luar negeri lewat jalur laut.
Namun, bukan Dave namanya jika melepaskan musuh dengan mudah. Terbukti dengan Leon yang langsung di tangkap oleh anak buah King saat lelaki itu naik ke atas kapal.
Pasrah? Apalagi yang bisa Leon lalukan selain pasrah. Leon di bawa oleh Alex ke markas King.
***
Masalah terselesaikan dengan baik dan sesuai yang Dave rencanakan. Kini, ia akan menyelesaikan satu masalah yang masih mengganggu kehidupannya dengan Keisya.
Raka, ya, Dave akan menemui Raka. Dia perlu berbicara dengan Raka. Agar mantan sahabat Keisya itu tidak mengganggu rumah tangganya bersama Keisya lagi.
“Selamat siang, Tuan Raka.” Sapa Dave menjabat tangan Raka.
“Seperti yang anda lihat. Sayang sekali, saya tidak mati seperti yang diinginkan beberapa orang.” Entah mengapa Dave berucap sedikit menyindir. Dave tau betul Raka akan menjadi salah satu dari beberapa orang yang menginginkan dirinya lenyap dari muka bumi.
“Hahaha, sepertinya anda suka bercanda. Mana mungkin ada yang berani menginginkan Tuan Dave meninggal.” Kata Raka sambil meneguk pelan gelas wine nya menyembunyikan kegugupannya.
Hah, baru segini saja Raka sudah gugup. Benar-benar bukan tandingan Dave. “Yah, saya pasti akan lebih dulu menyingkirkan mereka sebelum mereka berpikir untuk menyingkirkan saya. Karena saya tidak bisa mati dengan mudah, saya memiliki anak dan istri yang butuh perlindungan.” Kata Dave menekankan kepemilikannya atas Keisya.
Dia sengaja. Batin Raka.
“Ya, anda benar. Anda memiliki istri yang cantik dan putra yang sangat lucu.” Sahut Raka.
“Maka dari itu, berhenti mengirim istri cantik saya bunga. Karena saya masih hidup, istri saya tidak butuh bunga dari lelaki lain. Saya sanggup membelikannya bunga bahkan kebun bunga nya.” Tegas Dave memberi peringatan.
Raka tersenyum simpul. “Bunga itu hanya sebagai penghibur saat dia sedih.”
“Istri saya tidak membutuhkan orang lain untuk menghibur. Dia, di kelilingi oleh banyak orang dan kaluarga yang sanggup menghiburnya.”
Seperti kalah telak Raka kali ini. Pupus sudah harapannya merebut Keisya. Raka tahu betul Dave tidak akan pernah melepaskan Keisya sekalipun.
**
Usai semua masalah terselesaikan Dave dan keluarga pergi berlibur ke desa. Mereka mengunjungi rumah orang tua Keisya. Tidak hanya keluarga kecil Dave yang berlibur, namun Dave turut mengajak si kembar tiga Jasson, James dan Juan. Juga si cerewet Sasya. Kalau Manda, sudah jelas dia ikut. Manda juga merindukan ayah dan ibunya. Kecuali kakek John, Kalek John kembali ke Amerika untuk selanjutnya tinggal disana.
Di desa, ayah dan ibu Keisya menyambut hangat kedatangan rombongan Dave. Semua hidangan ibu siapkan demi menjamu Dave dan yang lainnya.
“Aku sangat suka suasana seperti ini.” Ucap Sasya senang. Suasana hangat dan kekeluargaan.
“Benarkah, bagaimana jika kau jadi menantu ayah saja? Kebetulan ayah masih punya dua anak laki-laki.” Ucap ayah pada Sasya.
“Tiga, ayah.” Ralat Keisya.
“Oh, bukankah Jasson sudah ada yang punya.” Timpal ibu. Jasson dan Manda pun tersipu malu.
“Sasya mau ayah, nikahkan Sasya dengan Juan. Ayah.” Kata Sasya dengan berbinar-binar.
“Uhukk.” James langsung tersedak mendengar ucapan Sasya.
“Pelan-pelan makannya, James.” Ibu memberikan segelas air putih.
“Terimakasih ibu.” Yang lain melirik James aneh.
Sementara Juan memandang Salsa ilfil. “Jangan mimpi kau.” Kesal Juan pada Sasya yang selalu bersikap gila menurut Juan.
“Hahaha, kenapa Juan? Menurut ayah, Sasya cocok denganmu.”
“Tidak!” Serempak Juan dan James.
Semua orang yang berada di ruang makan menatap aneh pada Juan dan James. Kenapa James ikut berkata tidak? Apa hubungannya dengan James?
End season 2 ..
.
.