My Dave

My Dave
Manda Vs Raisa



“Siapa kau?kenapa kau di rumah Dave?” Raisa bertanya secara kasar pada Manda, Raisa mungkin tidak tau jika Keisya punya adik perempuan.


“Aku adiknya, tentu saja aku tinggal disini.” Manda menjawab dengan sopan.


Raisa sempat berfikir dengan keras, saat mengenal Dave dulu yang ia tau Dave adalah anak tunggal. Tapi Raisa mencoba percaya jik Manda adalah adik Dave, seperti saat Dave yang berpura-pura menjadi orang miskin padahal aslinya orang yang sangat kaya. Mungkin dulu Dave juga sengaja menyembunyikan identitas adiknya, begitu kira-kira alur pemikiran Raisa.


“Oh, kau adiknya?Senang berkenalan denganmu. Siapa namamu?” Raisa mengubah cara bicaranya yang tadi bar-bar menjadi lebih halus saat Manda mengatakan dia adik dari Dave.


“Manda.” Jawab Manda dengan senyum masam.


“Aku Raisa, kau bisa memanggilku kakak ipar.”


Entah apa yang Raisa fikirkan bisa se-percaya diri itu ingin Manda menyebut dirinya kakak ipar.


“Mengapa aku harus memanggilmu kakak ipar?”


Raisa tersenyum seraya memegangi lengan Vara, menuntun gadis kecil itu di pangkuannya. “Kau mungkin belum tau, aku dan Dave sudah memiliki seorang putri. Mungkin sebentar lagi aku akan pindah kesini, kuharap kita bisa akur.” Kata Raisa dengan penuh percaya diri.


“Uhukkk.” Sasya yang sedari tadi asik makan camilan dibuat tersedak oleh ucapan Raisa.


“Pak Mo ambilkan bocah ini minum.” Manda menepuk-beluk punggung Sasya, seraya menatap tajam sahabatnya itu.


“Baik, Nona.” Dengan cepat salah seorang pelayan pergi mengambil minum.


“Sorry, aku kaget sampai tersedak.” Lirih Sasya nyengir, Sasya lalu menenggak air putih yang dibawakan pelayan dan meletakan camilannya di meja. Kini ia duduk dengan manis, siap mendengarkan drama yang sedang berlangsung.


Manda kembali beralih mengapa Raisa dengan sedikit senyum terhias di bibir mungilnya. “Em, jadi dia anak Kak Dave?” Tanya Manda memandangi Vara dari atas sampai bawah.


“Iyaa, sayang sapa Bibimu.” Raisa menyuruh Vara untuk menyapa Manda yang ia tau adalah adik Dave.


“Hallo, Bibi.”


“Hallo! Cantik, siapa namamu?”


“Vara, Bibi.”


“Kemarilah.”


Raisa pun mendorong Vara agar mendekat ke arah Manda, Manda langsung menyambut Vara dengan pelukan hangatnya. Kemudian ia menyuruh pak Mo untuk mengaja Vara berkeliling Villa itu.


Raisa merasa senang sekali, ia merasa sudah di terima di keluarga Dave. Melihat Manda memperlakukan Vara dengan baik, bahkan mempersilahkan Vara untuk berkeliling rumah. Senyum puas terulas di wajah Raisa.


“Baiklah, Nona kau bisa pergi sekarang. Vara akan tinggal disini.” Kata Manda santai, ia sengaja mengusir Raisa.


“Apa maksudmu Manda?Kenapa aku harus pergi?”


“Karena kau tidak dibutuhkan di sini, apa kau tidak tau kak Dave sudah punya istri?Dan untuk Vara dia harus tinggal disini karna bagian dari keluarga ini.” Lagi-lagi Manda menjawab dengan santai, Sasya ikut manggut-manggut mendengar apa yang di ucapan Manda.


“Hei, kau hanya ibunya tidak ada ikatan apapun dengan keluarga ini. Berbeda dengan Vara yang katamu anak kakakku, jadi hanya Vara yang bisa tinggal disini. Kau bisa pergi sekarang!” Manda beranjak dari duduknya berniat meninggalkan ruang tamu. Sasya jug beranjak dari duduknya. “Kau tidak perlu khawatir tentang Vara, dia akan menjadi anak kak Dave dan istri sahnya.”


“Apa katamu?Kau akan membuat anakku memanggil perempuan lain sebagai ibunya?Apa kau gila, mana bisa kau berlaku seperti itu!Hanya aku Ibunya Vara, bukan perempuan jal*ng itu!Lagi pula kau tidak usah berbohong Manda, aku tau perempuan jal*ng itu sudah meninggalkan rumah ini. Jadi hanya ada satu nyonya di rumah ini, ya itu aku.” Kata-kata Raisa sangat keras sampai terdengar ke seluruh penjuru ruangan, Raisa berteriak sengaja memancing penghuni Villa agar keluarga mendekat di arah keributan.


“Siapa yang kau sebut jal*ng?”


“Siapa lagi wanita yang kau sebut istri Dave, lagi pula aku tidak salah. Dia memang jal*ng, apa lagi sebutan yang pantas bagi Keisya jika bukan jal*ng.”


Rahang Manda mulai mengeras, ia sangat-sangat murka mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh Raisa. Manda berjalan mendekati Raisa dengan senyum yang tidak dapat diartikan.


Plakkk... tamparan yang sangat keras mendarat di pipi Raisa, bahkan membuat perempuan itu sampai jatuh tersungkur. “Nona Raisa, bukan jal*ng tapi nyonya Keisya itu sebutan yang tepat untuk istri sah dari kak Dave. Harap nyonya memanggilnya dengan benar ya!” Ucap Manda penuh dengan penekanan, Manda mendekati Raisa yang masih terduduk dilantai itu dengan senyum manis. Lalu ia berbalik dan melangkah.


“Kalian seret wanita itu keluar dari rumah ini!”


“Baik, Nona.”


Setelah berucap pada pelayan, Manda meneruskan langkahnya untuk meninggalkan ruang tamu. Tapi langkahnya terhenti saat Raisa bangkit berlari kearahnya dan menjambak Manda, dua pelayan yang ia perintah untuk mengusir kalah oleh kekuatan Raisa.


“Hei, lepaskan Manda. Perempuan gila!” Teriak Sasya menarik tangan Raisa dari rambut kepala Manda. Tangan Raisa ternyata cukup kuat, Sasya tidak bisa menghentikannya. Sasya justru terjatuh karena Raisa mendorongnya dengan satu tangannya, sementara tangan yang lain masih sibuk menjambak Manda. Manda cukup geram dengan Raisa dengan satu gerakan, Manda bisa melepaskan tangan Raisa dari rambutnya dan mengunci tubuh Raisa dengan kedua tangannya. Ia membuat Raisa berlutut dengan kedua tangannya berada di belakang tubuhnya di pegang erat oleh Manda.


“Kesabaranku cukup sampai disini!” Lirih Manda tepat di daun telinga Raisa.


Kriet.. pintu ruang kerja Dave terbuka terlihat Dave, Juan, James beserta Alex keluar dari ruangan itu. Sedari tadi Dave memang tidak mendengar keributan, karena ruang kerjanya kedap suara. Dave dan Juan nampak kaget dengan pemandangan yang mereka saksikan, James langsung berlari membantu Sasya yang masih terduduk dilantai. “Cebol, apa kau baik-baik saja?”. Sasya mengangguk menjawab pertanyaan dari James.


Dave dan Juan berjalan kearah Manda yang masih mengunci Raisa dengan posisi yang sama. “Ada apa ini?” Tanya Dave.


“Ini urusan perempuan, kakak tidak perlu ikut campur!” Tegas Manda melotot tajam ke Dave.


“Baiklah, ingat jangan sampai melukai dirimu.” Dave pun berjalan hendak meninggalkan ruang tamu, Dave sama sekali tidak melirik ke arah Raisa.


“Dave!Bagaimana kau bisa acuh seperti ini, kau tidak lihat adikmu menyiksaku, apa kau lupa aku ibu dari putrimu?Apa kau tidak takut Vara sedih melihat ibunya di perlakukan tidak adil?” Ucap Raisa memelas menghentikan langkah Dave.


.


.


.


Bersambung..


.


.


Nanti akan ada saatnya Dave ketemu sama Keisya guys, tapi bukan sekarang. Kita juga harus tadi seberapa Dave mencintai Keisya, biarkan Dave berusaha mencari istrinya dulu.