
“Kenapa makannya belepotan sekali, kau seperti Boy.” James menyambar selembar tisu dan mengusap sekitar bibir Sasya yang belepotan oleh es Cream. Dengan lembut lelaki itu menghapus sisa-sisa es Cream yang belepotan di sekitar bibir Sasya. Bukan berontak, Sasya justru membeku di tempatnya. Perlakuan James saat ini membuatnya bingung harus berbuat apa.
“Lanjutkan makanmu.” Selesai mengelap sisa es Cream.
*“Tidak, aku sudah kenyang.” Sasya meletakan sendok es Cream ke dalam cup nya. Masih ada beberapa sendok es Cream * lagi di cup itu namun Sasya sudah tidak berselera. Degup jantung yang tak beraturan oleh sentuhan James membuatnya tak lagi berselera menghabiskan es cream itu.
“Baiklah, Boy apa kau mau lagi?” Beralih pada Boy yang sedang lahap menikmati es Cream nya. Bocah lelaki itu menggelengkan kepalanya, “tidak, paman. Mommy akan marah jika Boy terlalu banyak makan makanan manis.” Apalagi Boy sudah menghabiskan dua potong cake saat di apartemen Manda.
“Mommy Keisya tidak disini, jika kau mau lagi tidak papa. Bibi dan paman tidak akan mengadukan mu pada mommy Keisya.” Ucap Sasya. James memgangguk setuju, “kamu bisa tambah jika mau, masalah mommy Keisya aman.”
“Sudah cukup, paman.”
***
Hari pertama Sasya bekerja di rumah sakit sebagai dokter umum. Sasya mendapatkan pekerjaan di kota A lewat jalur mandiri tanpa bantuan latar belakang keluarganya. Ia memilih bekerja di rumah sakit yang biasa, dan tidak begitu populer. Dirumah sakit itu orang-orang tidak akan mengenali dirinya yang seorang cucu dokter terkenal dan putri dari konglomerat. Ia bisa bekerja selayaknya karyawan biasa.
Selain itu hal yang Sasya sukai setelah mendapat pekerjaan di kota A adalah, dia bisa tinggal bersama Manda.
“Aku berangkat.” Pamit Sasya pada Manda terburu-buru. Jam sudah menunjukan pukul 06:00 jika tidak bergegas Sasya akan tertinggal bus pagi.
“Hati-hati di jalan.” Teriak Manda dari dapur. Padahal Manda baru saja menyiapkan bekal untuk Sasya. Sayang sekali Sasya melewatkan bekalnya.
Beruntung Sasya tidak ketinggalan bus pagi, ia juga mendapatkan tempat duduk. Suasana kota A pagi itu masih sedikit berkabut. Dari dalam bus, Sasya melihat masyarakat kota A beraktivitas. Ada yang jogging ada yang jalan santai, ia juga melewati toko-toko pinggir jalan yang masih tutup. Juga petugas kebersihan pemerintah yang mengangkut sampah.
Sasya yang dulu bodoh dibandingkan Manda bisa lulus pendidikan dokter adalah sebuah kebanggaan. Jika saja ia tidak bertemu Manda dan menjadi anak yang giat belajar, mungkin saat ini dia belum lulus atau bahkan sudah di drop out dari universitas. Mengenal Manda dan menjadi sahabatnya adalah berkah bagi Sasya.
Pekerjaan sebagai dokter umum cukup sibuk, apalagi pasien yang datang cukup banyak.
Tok tok...
“Ada pasien lagi?” Gumam Sasya melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah masuk jam istirahat dan masih ada pasien, “Hah.” Ia menghela nafas sabar.
“Masuk!” Menunduk mempersiapkan kertas untuk menulis diagnosa. “Selamat siang, eh?” Sasya terkesiap melihat siapa yang datang bukan pasien tapi...
“Ini makan siangmu.” Meletakan kotak makan siang lengkap dengan sebotol air mineral. “Manda yang menyiapkan, aku hanya mengantarkan saja.” Ucap James kemudian sebelum Sasya berpikiran yang tidak-tidak.
Karena Sasya selalu saja berpikiran negativ jika itu berhubungan dengan James.
“Terimakasih.” Time yang tepat, Sasya memang sedang kelaparan. Kotak makan itu langsung ia buka dan makan. James duduk di depan Sasya dengan bersekat meja sebagai pembatas mereka. James memperhatikan Sasya yang sedang makan dengan lahap. Merasa ada yang memperhatikan Sasya menatap James, “kau mau?”
“Tidak,” jawab James.
“Kalau begitu kenapa menatapku? Aku tidak nyaman dengan tatapanmu.” Kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
“Ah. Maaf.” Mengalihkan pandangannya melihat interior ruang kerja Sasya.
Flashback 1 jam yang lalu.
Jasson datang ke kantor Manda bersama James. Lelaki itu sengaja datang untuk makan siang bersama Manda.
“Aku tidak bisa, Jasson.” Menolak ajakan Jasson makan siang bersama, “aku sudah ada janji.” Melirik dua kotak makan siang di meja kerjanya. Ekor mata Jasson mengikuti kearah mana lirikan mata Manda. Lelaki itu nampak curiga dan tidak suka dengan kotak makan siang itu.
“Kau mau makan dengan siapa?” Tanya nya sinis.
“Bukan urusanmu.” Manda meraih mantel nya di gantungan dan memakainya. Lalu meletakan dua kotak makan siang itu kedalam paperbag dan berlalu melewati Jasson.
“Tunggu!” Menahan pergelangan tangan Manda, “Dengan si berengsek mana kau akan makan siang?” Tanya Jasson dingin di bubuhi tatapan mengintimidasi, lelaki itu menginginkan jawaban jujur dari perempuan yang kini ia tatap.
“Oh,” seketika raut wajah Jasson berubah menjadi ramah.
“Kau sudah tau ‘kan, jadi lepaskan tanganku.” Menunjuk pergelangan tangannya yang masih di genggam oleh Jasson.
Bukan melepaskan tangan Manda, Jasson justru mengambil paperbag dari tangan Manda dan mengajak perempuan itu berjalan keluar dari ruangan Manda. Meskipun bingung, Manda menurut saja karena tidak mau berdebat. Sungguh melelahkan berdebat dengan Jasson.
Tok.. tok.. Jasson mengetuk kaca mobilnya dimana James berada di dalam mobil itu. James menurunkan kaca mobil. “Kenapa lama sekali?” Protes James.
“Kau, pergilah ke tempat kerja Sasya. Antarkan makan siang untuknya!” Perintah Jasson pada adiknya sambil menyodorkan paperbag berisi makan siang lewat jendela mobil yang terbuka. Manda langsung menatap Jasson tidak suka.
“Aku?” James menunjuk dirinya dan Jasson menganggukan kepalanya.
“Tidak perlu, aku bisa mengantarkannya sendiri.” Sergah Manda.
“Jamesss.” Tekan Jasson.
“Iya, iya. Akan aku antarkan.” Menerima kotak makan siang dari Jasson dan meletakkan di kursi sebelah kemudi.
“Lihat! kau tidak perlu repot, James yang akan mengantarkan makan siang Sasya. Dan, kau makan siang denganku.” Smirk Jasson puas. Dia menang kali ini.
Dasar iblis. Batin Manda.
“James, kau bisa makan kotak makan siangku yang berwarna kuning. Hati-hati di jalan, sampaikan salamku pada Sasya.” Ucap Manda.
“Baik kakak ipar.”
Flashback off
“Kau tidak makan?” Sasya baru teringat bertanya pada James setelah menghabiskan makan siangnya.
“Telat.”
“Maaf, aku lupa.”
“Aku sudah makan siang.”
“Oh, kenapa kau bisa bertemu Manda?”
“Jasson yang mengajak ku, mereka makan siang bersama dan mengutus ku untuk mengantarkan makan siangmu. Menyebalkan.” James mendumel dan bersikap seolah kesal.
“Kenapa kau mau jika tidak ikhlas?” Tanya Sasya polos.
Kau tidak tau saja jika aku menolak Jasson pasti akan mengancam ku dengan proyek lagi. Hm, lagi pula aku senang bertemu denganmu.
“Tidak masalah, aku ikhlas.” Jawab James tulus, “bagaimana hari pertamamu bekerja?”
Pertanyaan James membuat Sasya semangat. Perempuan itu menceritakan pada James bagiamana hari pertamanya bekerja hingga waktu makan siang habis. James pun mendengarkan dengan tenang dan sesekali merespon cerita Sasya. Entah mengapa James merasa damai melihat Sasya se ceria ini bukan seperti biasa yang cuek dan judes.
.
.
.