My Dave

My Dave
S2 MANDA x Jasson



Entah apa Raka, laki-laki itu


selalu mengirim bunga ke Villa luxury dengan alasan yang sama. Menghibur Keisya yang masih terpuruk atas hilangnya Dave, itulah alasan Raka. Andai dia tau yang sebenarnya bahwa Dave masih hidup, mungkinkah Raka mempunyai nyali sebesar itu untuk mengirim bunga pada istri orang.


“Dari Kak Raka lagi?”


Hanya melihat sekilas bunga yang di bawa Manda, Keisya sudah bisa menebak bunga itu dari Raka, siapa lagi jika


bukan Raka.


“Mau diapakan, kak?”


“Buang saja!” Dave nampak kesal, ia sudah menahan diri selama dua minggu ini. Jika bukan karena taktik untuk


menjatuhkan Robert dan membalas Leon, Dave pasti sudah memunculkan dirinya.


“Sayang sekali kalau dibuang, buat Manda saja ya kak?” Manda melirik Keiysa meminta persetujuan, lalu menatap


bunga yang masih berada di tangannya.


Keisya mengangguk saja, ia juga berpikir saying jika bunga secantik itu dibuang begitu saja. Lain hal nya


dengan Dave yang cuek, asal Keisya tidak menyimpannya mau di buang atau di ambil oleh Manda sepertinya Dave tidak peduli.


“TIDAK!” suara baritone Jasson menyahut, lelaki itu sudah berdiri di depan pintu kamar rahasia Dave


bersembuyi. Baik Dave, Keisya dan Manda menoleh kearah suara. “Aku tidak mengizinkanmu menyimpan bunga itu.” Berjalan kearah Manda dan merebut bunga dari tangan Manda. Dilemparnya bunga itu ke Jack yang berdiri di sudut ruangan.


“Buang itu, Jack!” kata Jasson kemudian.


“Baik, Tuan.” Jack langsung keluar dari ruangan itu dengan terburu-buru.


Setelah Jack pergi, Dave melirik Keiysa dan memberi isyarat lewat lirikan matanya. “Sayang, aku ingin


menggendong Boy.”


“Ah, baiklah. Ayo kita temui Boy di kamarku.” Keiysa pun bisa memahami arti lirikan dan permintaan Dave. Ia tau


suaminya itu mengajaknya menghindar dari peperangan yang akan segera terjadi. Peperangan akibat kecemburuan Jasson, karena Manda berniat menyimpan bunga dari Raka.


Dave dan Keiysa keluar dari ruang rahasia menuju kamar Keisya untuk menemui Boy. Kini tinggallah Jasson dan Manda di ruangan itu.


“Aku bisa memberimu bunga lebih banyak, bahkan kebunnya sekalipun aku bisa memberikannya padamu.” Ucap Jasson.


“Lalu?” Manda bertanya seolah ia tidak peka dengan maksud ucapan Jasson.


“Jangan menerima bunga dari lelaki lain, kau hanya boleh menerima bunga dariku.” Balas Jasson serius.


Dasar cemburuan.


“Oke.”


Jasson menatap Manda heran, “Oke” seperti bukan Manda saja. Tumben sekali Manda mengiyakan permintaan Jasson tanpa debat. Biasanya Jasson harus ekstra sabar membujuk Manda untuk mengiyakan permintaanya, Apakah kali ini Manda sudah luluh?


“Jangan salah paham, aku mengatakan oke karena malas berdebat denganmu tidak lebih.” Ralat Manda kemudian.


Dasar perusak suasana. Batin Jasson kesal.


Sampai kapan Manda akan jual mahal begini, bukankah sudah cukup perempuan itu menghukum kesalahan Jasson dengan mengabaikannya beberapa waktu yang lalu.


“Aku mencintaimu!” ucap Jasson tiba-tiba, tenang namun cukup berefek pada Manda. Bisa dilihat dari ekspresi


kaget di wajah Manda.


“Kenapa tiba-tiba?” Manda gugup dengan ucapan cinta Jasson. Ia menjadi salah tingkah.


“Tiba-tiba darimana nya?Aku bahkan setiap hari mengucapkan cinta padamu, kau saja yang terus mengabikanku.”


Ya, perasaan Jasson pada Manda memang bukan lagi rahasia. Lelak itu kerap kali menunjukan rasa sayangnya pada Manda bahkan di depan khalayak umum, di depan maid dan dimanapun.


menatapnya dengan penuh cinta.


Sebentar lagi, Jasson. Sebentar lagi Manda pasti luluh.


Jasson meyakinkan dirinya sekali lagi untuk bersabar menghadapi Manda. Bersabar merebut kembali hati Manda, dan menjadikan Manda sepenuhnya miliknya.


 


 


***


Dikamar Keisya..


Dave baru saja menidurkan Boy diranjang bayi nya, Boy tidur setelah Dave menimangnya beberapa saat. Seperti


di beri dongeng pengantar tidur Boy langsung terlelap mendengar Dave bercerita sambil menimangnya.


“Kenapa dia semakin gembul saja?” memandangi Boy yang terlelap. Bocah bayi itu semakin hari memang semakin


chubby.


“Bagaimana tidak gembul, dia hidup dengan mewah, asi tercukupi, sudah begitu diperlakukan bak pangeran.”


Keisya menyahut ucapan suaminya.


“Dia memang pangeran, sayang. Ah, tidak. Lebih tepatnya putra mahkota.” Dave terkekeh.


“Memang kau tau apa arti putra mahkota?” Keisya menggelengkan kepalanya. Ia merasa suaminya itu berlagak sok


tau.


“Aku tau, bukankah seperti pewaris tahta di kerajaan?” Mana mungkin Dave tidak tau, selama satu bulan


pemulihan dari kecelakaan ia sering menonton drama korea untuk mengusir rasa


bosan.


“Sepertinya Jack sudah bekerja keras memilihkan drakor yang bagus untukmu. Kau perlu memberinya bonus.”


“Haha, aku merasa menonton drakor tidak terlalu buruk.” Menghampiri ranjang dan naik keatas ranjang. Masuk ke


dalam selimut yang di pakai oleh Keisya. “Kau yakin sudah mengunci pintu?”


“Tentu saja sudah, mana mungkin aku membiarkanmu disini jika aku tidak mengunci pintunya?”


“Bertahanlah sebentar lagi, setelah rapat umum pemegang saham, kehidupan kita akan kembali normal,” Dave


meraih kepala Keiysa dan meletakkannya di bahu Dave.


“Aku ingin pulang ke desa, aku merindukan Ayah dan ibu.”


“Baiklah, Kita akan pulang setelah aku menyelesaikan masalah ini.” Mengecup puncak kepala Keisya dengan


lembut.


Malam semakin larut, pasangan suami istri itu seakan terhanyut oleh suasana dan melakukan ritual suami istri.


Dave akhirnya bisa menyalurkan hasratnya setelah berpuasa sebulan lebih. Baik Keisya maupun Dave saling memberi cinta malam itu, mereka melepas kerinduan


yang begitu dalam.


 .


.


 .