My Dave

My Dave
Flash back oN II



Raisa menyentuh tangan Dave. “Dave, aku tidak mau apapun. Aku hanya ingin Vara mendapat kasih sayang dari ayahnya. Aku tidak masalah dengan statusmu yang sudah mempunyai istri.”


Dave mengibaskan tangan Raisa. “Aku yang bermasalah Raisa, bukan kamu. Aku tidak bisa menghianati istriku, Raisa!” Tegas Dave.


Raisa menuntun Vara mendekat pada Dave. “Dave kau bisa menjaga kami tanpa sepengetahuan istrimu. Maksudku kau bisa menjadi ayah bagi Vara tanpa sepengetahuan istrimu.” Ucap Vara.


Dave memperhatikan Vara dengan serius. “Tidak mungkin, Raisa. Aku sangat mencintai Keisya. Jika, aku melakukan itu sama saja aku menghianati Keisya.”


“Tapi, Dave. Apa kau tidak kasian melihat darah dagingmu sendiri di ejek oleh teman sebayanya hanya karena tidak punya ayah?” Tanya Raisa.


“Mami?Apa papi tidak mau mengakui Vara?” Tanya gadis kecil itu dengan mata berkaca-kaca.


Raisa berjongkok di depan putrinya agar sejajar dengan Vara. “Tidak, Sayang. Papi Menyayangimu, papi pasti mengakui Vara sebagai putri papi. Iya kan Papi?” Raisa mendingan ke arah Dave dengan tatapan memelas.


Dave melihat Vara dan Raisa yang berkaca-kaca. “Aku..” Dave ikut berjongkok di depan gadis kecil itu.


Vara langsung memeluk Dave saat Dave sudah sejajar dengan tinggi Vara. “Papi.” Vara memeluk Dave dengan erat, kelihatan sekali tangan kecil itu melingkar di leher Dave.


Dave refleks mengelus rambut gadis kecil itu. Dengan pikiran kalut Dave mencoba menerima Vara.


Setelah pertemuannya dengan Raisa dan Vara. Dave dan Raisa sepakat akan membicarakan lagi bagaimana mereka akan mengurus Vara. Dave meminta bantuan Gio untuk mengantar Raisa dan Vara pulang. Sementara Dave dan David masih di Club. Dave terlihat minum banyak sekali. David tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa menemani Dave yang sedang kacau itu.


Flash back Off


Kakek mendengarkan cerita Dave dengan serius. “Apa kau yakin anak itu milikmu?” Tanya kakek.


“Entahlah, Kek. Anak itu masih sangat kecil, dia butuh ayahnya.” Ucap Dave.


“Bagaimana dengan Keisya?”


Dave mengacak rambutnya, seperti sedang tertekan. “Keisya tidak akan tahu, Kek. Aku dan Raisa sepakat untuk tidak memberi tahu Keisya. Aku akan mengunjungi Vara sesekali dengan alasan perjalan bisnis. Raisa juga tidak keberatan.”


“Kau yakin Keisya tidak akan tahu?”


“Aku sangat yakin Kek. Jadi, aku mohon kakek jangan beritahu Keisya masalah ini. Aku takut dia meninggalkanku jika tahu.” Jawab Dave.


“Kau yakin Raisa hanya ingin kau menjadi Ayah bagi Vara?Tidak lebih?” Kakek menatap tajam Dave.


“Apa maksud Kakek?” Tanya balik Dave.


“Kau tau apa maksudk Kakek, Dave!”


“Kakek tenang saja, jika dia ingin lebih aku tidak akan pernah memberi kesempatan. Satu-satunya wanita Dave hanya Keisya!” Tegas Dave.


Kakek merasa sedikit lega. “Baiklah, Kakek percaya padamu. Semoga jika suatu hari nanti Keisya tau, dia bisa memahamimu.”


Setelah percakapan itu kakek menyuruh Dave untuk istirahat.


Pagi harinya sehabis sarapan di ruang keluarga. Hari ini Sabtu, Dave tidak perlu ke kantor.


“Manda, kamu yakin berangkat sendiri” Tanya Keisya.


Manda mengangguk. “Iya, Kak. Manda hanya akan pergi satu bulan saja.”


Manda mendapat kesempatan pertukaran pelajar di Inggris selama satu bulan. Tentu saja Manda sangat senang dapat kesempatan itu. Manda lebih memilih menunda magangnya dan pergi belajar di Inggris.


“Keisya biar kakek yang mengantar Manda, kau tidak perlu khawatir. Kakek akan pastikan Manda sampai di Inggris dengan selamat.” Tukas kakek.


Dave menambahkan. “Aku sudah menghubungi orang ku di Inggris untuk membersihkan apartemenku. Kau bisa tinggal disana selama di Inggris.”


“Dave, apa kau juga bisa menyewa pembantu untuk menemani Manda?” Tanah Keisya. Keisya sangat khawatir ini pertama kalinya Manda akan pergi keluar negeri.


“Tentu saja, sayang.”


“Oh, iya. Kakak lupa syukurlah jika Manda bersamamu. Kakak jadi tidak khawatir.” Ucap Keisya lega.


“Baiklah, karena tempat tinggal sudah beres, sudah ada teman juga. Waktunya berkemas. Kakek juga akan berkemas.” Kakek John sengaja mengantar Manda sendiri ke Inggris, kakek juga tidak tenang jika Manda harus pergi sendiri. Apalagi Keisya tidak bisa mengantar Manda karena belum di perbolehkan naik pesawat terbang.


Keisya bangkit dari duduknya. “Ayo, kakak temani kamu berkemas.”


Keisya dan Manda meninggalkan ruang keluarga. Sekarang hanya Dave dan kakek John di ruang keluarga.


“Mo, tolong bantu aku berkemas!”


“Baik, Tuan besar.”


Pak Mo pergi untuk mengemas barang yang akan di bawa kakek.


Kakek menatap tajam Dave. “Kau yang mengatur Manda untuk pergi kan, Dave?”


“Bagaimana kakek tau?” Dave tampak keheranan kakek John tau segalanya yang Dave lakukan.


“Apa tujuanmu mengirim adik iparmu keluar negeri?Kau tau Keisya akan kesepian jika Manda pergi.”


Dave mendekat ke kakek, agar bisa bicara lebih dekat dan tidak terlalu keras. “Kakek.. Ini hanya sebulan Kek. Jika kakek tidak bisa berpisah dengan cucu kakek, Kakek bisa tinggal di Inggris untuk menjaga Manda.”


“Memang kakek akan tinggal disana sampai Manda selesai belajar. Meskipun sudah ada Sasya, kakek tetap tidak tenang meninggalkan mereka berdua.”


Dave mengangguk setuju. “Kakek sebenarnya Dave merasa janggal dengan kehadiran Raisa. Dave akan menyelesaikannya sebulan ini, Dave mengirim Manda keluar negeri agar bisa fokus mengurus masalah Raisa. Kakek tau Manda sudah seperti detektif saja, jika Manda tau masalah Raisa dia tidak akan berpikir panjang untuk membawa Keisya pergi.” Dave menjelaskan niatnya pada kakek John.


Kakek terlihat berfikir. “Baiklah, selama kakek dan Manda si luar negeri kau harus menjaga Keisya dengan baik. Dan urus masalahmu dengan cepat. Saat kakek dan Manda kembali nanti, kakek mau semuanya sudah kembali seperti semula.”


“Kakek tenang saja.” Balas Dave.


Keisya dan Dave mengantar kakek dan Manda sampai di bandara. Keisya terlihat meneteskan air matanya saat melepas Manda yang akan pergi keluar negeri.


“Sayang, dia hanya akan belajar keluar negeri. Apa perlu kamu tangisi seperti ini!” Tanya Dave.


Keisya menguap air matanya dengan tangannya. “Maaf, Dave. Aku belum terbisa berpisah dengan Manda. Tapi aku tenang karena Kakek akan menemani Manda disana.”


Dave merangkul Keisya. “Kau tau kakek sangat menyayangi Manda, jadi kau tidak perlu khawatir. Jangan terlalu banyak berfikir, ingat kandunganmu.” Dave lali teringat jika kandungan Keisya lemah. Dia harus segera mencari tau hal yang menurutnya janggal tentang kedatangan Raisa.


Keisya dan Dave kembali ke Villa luxury. Dave meminta Keisya untuk tidur karena Keisya terlihat lelah. Keisya menurut dia memejamkan matanya berusaha untuk tidur.


Drttt.. pesan masuk lagi di ponsel Dave.


Isi pesan..


Aku menunggumu di Apartemen Lili No 344, Dave. Putrimu sudah tidak sabar untuk bertemu. Jangan telat.


Mungkin Dave lupa saat tadi menemani Keisya tidur meletakan ponselnya di nakas. Keisya yang mendengar ponsel Dave berbunyi pun melihatnya. Dia kembali membaca sekilas pesan masuk itu.


Krieett.. saat mendengar suari pintu Keisya langsung pura-pura tidur lagi. Dave masuk ke kamar Keisya mengambil ponselnya. Lalu Dave mencium kening Keisya dan pergi meninggalkan kamar. Setelah mendengar pintu tertutup kembali, Keisya langsung bangun. Keisya mengintip dari jendela kamarnya mobil Dave meninggal parkiran Villa.


Keisya langsung membersihkan diri. Dan berniat untuk mengikuti Dave. Keisya sudah mengingat alamat yang tertera di pesan Dave tadi..


.


.


.


Bersambung..