My Dave

My Dave
Bagai tersambar petir



“Kau kenapa?Jangan bilang kau menemui perempuan itu lagi.”


“Dari mana Kakek bisa tahu?” Tanya Dave.


“Anak nakal!Bagaimana bisa kau menemui perempuan itu lagi, kau lupa sebentar lagi kau akan menjadi ayah!” Kakek John bangkit memukul Dave.


“Aku tidak sengaja bertemu dengannya.”


“Lalu apa yang dia katakan?Apa dia menggodamu lagi?” Tanya kakek John.


Dave mununduk dengan masam. “Dia membawa anak berusia 4 tahun, dia bilang itu anakku.” Kata Dave lirih


“Apa??Bagaimana bisa?” Kakek memukul Dave lagi berulang-ulang dan Dave hanya pasrah.


“Kakek, hentikan!Jangan memukulku lagi, aku sedang pusing.”


Kakek John kembali duduk di sofa, duduk dengan tegap dan memegang tongkatnya. “Jadi, itu sebabnya kau pulang dalam keadaan mabuk waktu itu?” Tanya kakek.


“Aku tidak tahu harus bagaimana mengatakan pada Keisya. Aku takut Keisya akan meninggalkanku lagi, apalagi sekarang Keisya juga sedang hamil.”


Kakek John menghela nafasnya dan berdiri. “Kau selesaikan masalah ini dengan baik, tidak perlu memberi tahu Keisya terlebih dulu. Aku bahkan tidak yakin anak yang dia bawa benar-benar anakmu. Yang perlu kau tau, aku hanya mengakui Keisya sebagai satu-satunya cucu menantuku. Pikirkan dengan baik!” Kakek John meninggalkan ruangan Dave berjalan dengan bertumpu satu tongkat.


Sementara Dave nampak kacau di ruangannya.


***Villa luxury***


Manda pulang kuliah bersamaan dengan Keisya yang juga pulang dari butik. Stevi meminta izin pada Keisya untuk pulang kampung. Dan Keisya juga mengizinkannya.


“Kakek?” Manda berteriak pada kakek dan langsung berlari menghampiri kakek yang sedang menikmati teh sore di ruang keluarga.


Kakek tersenyum senang melihat Manda. “Kalian sudah pulang?” Saat tau Keisya berjalan di belakang Manda.


Keisya mendekat pada kakek. Keisya menenteng tas kresek putih berisi makanan. “Aku membawa makanan enak.” Ucap Keisya menunjukkan kresek putih yang di tenteng dengan tangannya.


“Aku jamin Kakek belum pernah makan ini.” Timpa Manda.


Kakek sangat penasaran dengan apa yang dibawa Keisya dan Manda. “Apa yang kalian bawa?”


Manda langsung berlari ke dapur untuk mengambil piring dan gelas. Sementara Keisya membuka bungkusan plastik yang dibawanya. Keisya menuang es cendol ke dalam gelas dan menaruh bakso ke dalam mangkuk yang di bawa Manda.


“Ini untuk Kakek.” Kata Keisya menyodorkan satu mangkuk berisi bakso kuah dan segelas ea cendol.


Manda memberikan saos dan kecap serta Sambel plastik an kepada kakek. “Silahkan menikmati Bakso kaki lima dan es cendol pinggir jalan.” Ucap Manda.


“Asin.” Kata kakek saat mencicipi kuah bakso. Kakek lalu mencicipi bakso milik Manda yang sudah di bumbui saos, Sambel dan kecap. “Manda kau curang. Kuah punyamu lebih enak, kakek mau tuker dengan punyamu.” Kakek pun menukar mangkuknya dengan mangkuk Manda. Kini kakek memakan bakso Manda yang sudah lengkap dengan bumbu.


Keisya tersenyum melihat Manda cemberut, Manda membumbui bakso yang tadi milik kakek.


“Kakek, Manda tidak curang. Bakso milik kakek belum di bumbui jadi hanya terasa asin. Harusnya di bumbui saos, kecap dan sambal dulu. Nanti jadi seperti punya Manda.” Ujar Keisya.


“Kakek mana tau cara membumbui yang pas, lain kali kalian harus membumbui sekalian baksonya baru kasihkan ke kakek.” Tutur kakek.


“Baiklah, lain kali Manda akan membumbui langsung baksonya baru kasih ke kakek.” Jawab Manda menikmati bakso.


Kakek meminum es cendol. “Mantap sekali.”


Keisya celingukan melihat sekeliling. “Kakek, apa Dave belum pulang?” Tanya Keisya.


“Sudah.. Aku pulang. Apa kau tidak menyambut suamimu?” Ucap Dave dari pintu masuk arah ruang keluarga.


Keisya menghentikan makan lalu beranjak berjalan ke arah Dave. “Selamat datang suamiku.” Ucap Keisya dengan senyum lembut.


Dave langsung menarik Keisya dalam pelukannya. Lalu mencium pucuk kepala Keisya.


“Lepaskan, ada kakek dan Manda. Apa kau tidak malu?” Keisya berusaha melepaskan diri dari pelukan Dave.


“Untuk apa malu, lagi pula aku memeluk dan mencium istri sendiri.” Kata Dave tetap memeluk Keisya.


“Manda kau tidak perlu iri, kakek bisa mencarikan Jodoh untukmu. Kau mau jodoh yang seperti apa?” Tanya kakek.


“Aku hanya bercanda kek.” Manda pun terkekeh.


Keisya melepaskan pelukan Dave dan mengajak Dave bergabung dengan kakek dan Manda yang sedang makan bakso. “Ayo, makan bersama. Aku juga membeli untukmu.” Keisya pun menyiapkan bakso dan es cendol untuk Dave.


“Apa kau tidak lembur Dave?Bukankah banyak hal yang harus kau kerjakan?” Tanya kakek menatap Dave dengan tatapan penuh arti. Kakek ingin Dave segera mengurus masalahnya dengan mantan tunangannya dulu.


“Aku bisa mengurusnya besuk Kek.” Jawab Dave berusaha santai di depan Keisya dan Manda.


Kakek masih menekan Dave untuk segera mengurus masalahnya. “Jangan menunda pekerjaan, lebih baik kerjakan dengan cepat agar bisa cepat selesai!” Tegas kakek.


Keisya ikut menimpali perkataan kakek. “Kakek benar sayang, jangan menunda pekerjaan. Nanti jika menumpuk kau bisa pusing sendiri.” Kata Keisya.


“Tuh dengarkan perkataan istrimu!”


“Iya sayang, kamu tenang saja.” Ucap Dave mengusap lembut rambut Keisya. “Suapi aku!” Dave minta Keisya untuk menyuapinya bakso.


Keisya menurut dia menyuapi Dave. “Dave kau tidak lupa kan?Lusa kita akan ke dokter untuk memeriksa kandunganku.”


“Tidak, bagaimana mungkin aku lupa.”


“Apa kakek boleh ikut?” Tanya kakek.


“Apa Manda juga boleh ikut?” Tanya Manda.


Dave mengernyitkan alisnya mendengar kakek dan Manda yang ingin ikut ke dokter. “Boleh, sekalian saja bawa semua pekerja di rumah untuk ikut.” Ketus Dave.


“Dave, kau jangan begitu!Biarkan kakek dan Manda jika ingin ikut.” Kata Keisya menepuk bahu Dave.


“Hemm.” Dave hanya menjawab hem yang artinya terserah kakek dan Manda jik ingin ikut.


Manda berbisik pada kakek. “Sepertinya kak Dave, tidak ingin kita ikut kek.”


“Jangan hiraukan anak itu, yang penting Keisya mengizinkan kita untuk ikut.” Balas kakek John dengan berbisik.


Setelah selesai makan bakso dan es cendol Manda pergi kekamarnya, Kakek John juga ke kamarnya begitu pula dengan Dave dan Keisya.


Dave sedang membersihkan diri di kamar mandi. Saat ponsel Dave berdering ada pesan masuk. Keisya tidak sengaja membaca sekilas pesan yang masuk di ponsel Dave.


Isi pesan


Dave, jangan lupa janjimu besuk. Aku dan anakmu menunggumu.


Keisya yang membaca pesan itu merasa seperti tersambar petir di siang hari, dia hampir terkulai lemas di lantai karena shock. Keisya mengatur pernafasannya sebisa mungkin agar kembali normal. Dia memilih untuk keluar dari kamar, untuk menenangkan hatinya. Keisya pergi ke kamar Manda, dilihatnya adiknya sedang belajar. Keisya menyembunyikan apa yang baru ia lihat di ponsel Dave. Dia memilih untuk menyimpan apa yang dilihatnya sendiri, sampai semua menjadi jelas.


Bersambung..


Vote


Vote


Vote


Like


Like


Like


Komen


Komen


Komen