
Hening.. semua orang nampak mencerna ucapan Jack yang mengatakan Dave sedang berada di ruang kerjanya. Semua yang ada di kamar Keisya saat ini larut dalam pikiran masing-masing, sebelum akhirnya James angkat bicara.
“Yang dia ucapkan be..benar, aku juga melihat kakak ipar dengan mata kepalaku sendiri.” Ucap James.
“Kau yakin James?” Tanya Keisya memastikan. Manda dan Jasson juga nampak menatap James dengan tajam, lelaki itu pun mengangguk mengiyakan pertanyaan Keisya.
“Bagaimana ini, kak?” Tanya Juan tiba-tiba.
“Aku akan memeriksanya, untuk saat ini hanya kita yang tau tentang Dave. Dan, jangan ada orang luar yang tau selain kita meskipun itu pengawal ataupun maid.” Tutur Keisya tegas!Jika Dave pulang dengan sembunyi-sembunyi pasti ada yang sedang di rencanakan lelaki itu. Setahun lebih Keisya hidup bersama Dave, ia sudah tau sifat suaminya dengan baik.
“Kalian paham apa yang kakak katakan?” Tanya Keisya pada Manda dan si kembar. Mereka pun memgangguk.
“Baiklah, ayo Jack kita temui suamiku.” Ajak Keisya pada Jack.
“Baik, nyonya.” Jack memgangguk.
“Jasson, kau ikut Kakak. Dan, kalian kunci pintu kamarku. Jangan biarkan siapapun masuk. Saat ada pergerakan, kalian harus memanggilku!” Manda dan James mengangguk.
Dengan menggendong Boy kecil dan Jasson, Keisya mengikuti Jack. Mereka lewat pintu rahasia di kamar Keisya menuju ruang pribadi di ruang kerja Dave.
“Apa suamiku terluka parah?” Tanya Keisya was-was. Sebenarnya seberapa parah luka Dave tidak papa, Keisya akan tetap berada disamping Dave. Mau Dave cacat sekali pun Keisya akan tetap setia pada Dave.
“Tidak, nyonya. Hanya lecet dan beberapa bagian tubuh tuan patah tulang.” Jawab Jack jujur.
Hanya beberapa bagian patah tulang?Bebeapa bagian itu berapa? Gumam Keisya menerka-nerka.
Jack membuka pintu ruang pribadi Dave, terlihat Dave sedang duduk dengan kaki selonjor di atas tempat tidur. Di samping tempat tidur ada dokter yang memeriksa infus Dave, tidak jauh dari mereka juga ada seorang perawat.
Dia benar-benar Dave, dia suamiku, suamiku selamat. Gumam Keisya berkaca-kaca.
“Tuan..” lirih Jack memanggil Dave.
Dave yang kala itu sedang berbincang dengan dokter tidak menyadari kehadiran Keisya dan Jasson. Lelaki itu menoleh setelah mendengar panggilan dari Jack.
“Sayang..” melihat Keisya dan melambaikan tangannya agar perempuan itu mendekat. Dengan cepat Keisya mendekati Dave dan duduk di tepi tempat tidur.
“Dave..” menyentuh pipi Dave dengan jari jemarinya dengan lembut. Dave menahan tangan Keisya dan mencium punggung tangan istrinya. “Maaf, sudah membuatmu khawatir, Kei.” Ucap lelaki itu tak henti menciumi punggung tangan istrinya.
“Ini benar kamu, Dave. Ini benar-benar kamu?”pertahanan Keisya pun runtuh. Air mata mulai mengalir di pipi cantik perempuan itu.
“Iyaa..ini aku sayang, aku baik-baik saja.”
Dave melepaskan tangan Keisya yang ia genggam. Lalu dengan kedua ibu jarinya Dave menghapus air mata Keisya. “Maaf, maafkan aku membuatmu khawatir lagi dan lagi.” Keisya menggeleng. “Tidak, kau tidak perlu minta maaf, asal kau selamat dan kembali pada kami itu sudah cukup.” Ujar Keisya bersyukur suaminya itu kembali dalam keadaan utuh hanya lecet-lecet seperti apa yang dikatakan Jack.
“Terimakasih sayang. Apa Boy rewel?” Menunduk pada Boy yang berada di gendongan Keisya. Keisya mengangguk. “Dia sedikit rewel sejak kau tidak pulang malam itu, mungkin dia bisa merasakan kau terluka.” Jawab Keisya mengelus kepala bayi laki-laki itu.
“Dia juga sering menangis, saat aku menyebut nama mu dia menangis semakin kencang.” Lanjut Keisya mengingat rewelnya Boy.
“Mungkin dia Merindukanku, biarkan aku memangkunya.” Pinta Dave. Keisya menyerahkan Boy yang sedang terlelap itu di pangkuan Dave. Ya, setelah tadi di timang-timang oleh Keisya, Boy kembali terlelap.
“Boy.. Daddy sudah pulang, Boy. Apa kau merindukan Daddy?” Menciumi seluruh wajah Boy dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Sungguh pemandangan yang melegakan melihat suaminya pulang dan sekarang sedang memangku Boy kecil.
Semenatra entah kapan perginya yang lain, mungkin pas Dave dan Keisya saling melepas rindu sembari mengobrol. Yang jelas sekarang hanya ada Dave, Keisya dan Boy di ruangan itu. Dokter, perawat, Jack dan Jasson tidak terlihat disana.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Keisya, lebih tepatnya menuntut penjelasan. Mengapa suaminya itu bisa terluka.
“Aku tiba-tiba diserang, terpaksa aku banting setir masuk ke jurang dari pada mati tertembak. Setidaknya saat proses masuk ke jurang aku masih bisa berusaha menyelamatkan diri.” Ucap Dave menceritakan garis besarnya.
“Masih dalam penyelidikan, sayang. Aku tidak tau ada hubungannya dengan Raka atau orang lain.” Jawab Dave seraya menunjuk-nunjuk pipi gemoy Boy.
“Sayang, jangan di tunjuk seperti itu. Nanti dia terbangun lagi.” Protes Keisya. Ia sudah cukup lelah dengan rewelnya Boy hari ini.
“Biarkan saja, aku ingin mengobrol dengannya.” Ucap Dave.
“Kau bisa mengobrol dengannya besok, lagi pula kau butuh istirahat Dave.” Tutur Keisya lembut.
Dave enggan menghentikan aksi jahil nya pada Boy, namun ucapan Keisya benar. Ia butuh istirahat total agar lukanya cepat membaik dan tubuhnya pulih seperti sedia kala. Dengan begitu ia bisa fokus mengurus masalah penyerangan yang ia alami.
“Baiklah, aku tidak akan mengganggunya. Tapi, bisakah kau dan Boy tidur disini malam ini?” Pinta Dave memelas. Beberapa hari tidak bertemu istri dan anaknya tentu saja membuat Dave sangat merindukan keduanya.
“Apakah tidak papa aku tidur disini, aku takut ada yang curiga. Bukankah kau mau menyembunyikan keberadaanmu sekarang?” Tanya Keisya.
Dave mengangguk seraya tersenyum tipis. “Tidak papa sayang, aku pastikan tidak akan ada yang tau kau disini malam ini.” Ucap Dave lembut. Keisya mengangguk. “Baiklah.”
Keisya menoleh untuk mencari dokter dan perawat. Seperti mendapat firasat panggilan, dokter dan perawat langsung masuk dan menghampiri Keisya saat Keisya menoleh. Keisya lalu menanyakan kondisi Dave saat ini, dokter itu menjawab dengan sopan. Keisya nampak manggut-manggut mendengar penjelasan dari dokter.
“Jasson!!” Panggil Keisya. Adik angkatnya itu langsung mendekati Keisya.
***
“Kak, aku senang kau selamat.” Ucao Jasson kikuk.
“Terimakasih, Jasson.” Balas Dave.
Tanpa fa fi fu Dave memberi perintah pada Jasson. “Kau kembali ke kamar Keisya pastikan tidak ada maid maupun pengawal yang masuk ke kamar Keisya malam ini. Keisya akan tidur disini bersama ku dan Boy.” Perintah Dave.
“Bagaimana dengan Stevi?” Tanya Jasson, akan sulit untuk melarang Stevi masuk ke kamar Keisya karna Stevi adalah pengawal pribadi Keisya.
“Alihkan perhatiannya, atau kau dan Manda tidur saja di kamar Keisya. Dia tidak perlu masuk ke kamar Keisya selama kalian di kamar Keisya. Beri pengertian juga pada Juan dan James, jangan biarkan mulut mereka kemana-mana. Untuk sementara kita rahasiakan keberadaan ku disini. Kau mengerti, kan, Jasson?!” Tanya Dave menatap Jasson tajam. Jasson mengangguk.
“Aku mengerti, kak.”
“Baiklah, kau kembali dulu.” Lagi-lagi Jasson mengangguk. Lelaki itu lalu kembali ke kamar Keisya lewat pintu rahasia.
Setelahnya Dave mengusir dokter, perawat dan Jack agar kembali ke Villa S. Besok pagi mereka akan kembali pagi-pagi untuk mengecek kondisi Dave.
Sekarang hanya tinggal Dave dan Keisya juga Boy. Apa yang akan mereka lakukan?
.
.
.
Mampir ke novel author yang lain ya guys..
1. Bersamamu
2. Menikahi lelaki pilihan kakek
3. Pengacara tampanku
4. Love story: nice to meet you