
“Kau mau kemana?”
Farhan yang sudah diambang pintu pun menoleh. “Aku harus bekerja, apa kau perlu sesuatu?”
“Aku ingin pulang.”
“Tidak bisa, kau bisa minta apapun kecuali pulang!” Farhan berbalik ke arah Keisya, ia melihat kesedihan di balik raut muka Keisya yang sedang tersenyum itu. “Kau tenang saja, aku akan menjamin keselamatan mu dan bayimu. Asal kau menurut tinggal disini.” Ucapan Farhan lebih lembut dari sebelumnya.
Tok...tok..
“Maaf, Tuan, sudah waktunya berangkat.” Ucap asisten Farhan di depan pintu.
“Aku pergi dulu.” Farhan pamit pada Keisya berjalan keluar ruangan. Kali ini ia benar-benar meninggalakn ruangan itu.
Keisya Pov
Entah mengapa aku merasa Farhan bukanlah orang jahat. Dia memperlakukanku dengan baik, apa sebenarnya motifnya menculikku, dibanding itu aku lebih penasaran apa yang membuat Dave dan Farhan saling benci seperti ini. Aku pernah dengar Leo memintaku untuk tidak menyinggung nama Farhan di depan Dave. Padahal di foto itu mereka terlihat sangat akrab.
‘Ah terserahlah, aku tidak peduli tinggal dimana saja selama bayiku aman.’ Batin Keisya.
‘Lagipula Dave juga sudah punya Vara dan Raisa, dia tidak membutuhkanku lagi. Dia hanya akan mengurungku lagi jika aku kembali, lebih baik aku tinggal disini.’
Tiba-tiba saja air mataku menetes tanpa permisi saat mengingat bagaimana Vara mencium Dave dan Raisa secara bersamaan. Mereka terlihat seperti sebuah keluarga yang bahagia. Mungkin keputusanku untuk kabur adalah hal yang tepat, bagaimanapun aku tidak boleh egois, Vara lebih butuh sosok ayahnya saat ini.
‘Sayang, mommy akan selalu ada untukmu. Meskipun tanpa Daddy, kita akan tetap bahagia. Tunggu mommy punya kesempatan, kita akan menjemput bibi Manda untuk tinggal bersama kita.’ Kataku seraya mengelus perutku.
Mungkin karena terlalu banyak makan, aku pun merasa mengantuk. Aku beranjak dari dudukku menuju ranjang, kubaringkan tubuhku di ranjang berukuran King size yang sangat empuk itu. Lalu perlahan mataku pun terpejam, aku mulai terlelap dalam tidurku.
***
“Bagaimana?Apa sudah ada perkembangan?” Dave tidak pulang semalaman, ia memutuskan untuk tetap di King memantau penyelidikan pencarian Keisya.
“Belum, Tuan.”
“Teruskan mencari!”
“Baik, Tuan.”
Dave mengaktifkan ponselnya, banyak sekali pesan dan panggilan masuk dari Raisa. Ia tidak menghiraukan pesan itu, mata Dave tertuju pada pesan yang lain. Ia berharap ada pesan masuk yang berhubungan dengan keberadaan Keisya. Satu pesan masuk yang cukup membuat kepala Dave makin pusing.
📲 Manda: Kakak, aku akan kembali hari ini. Aku sudah tau semuanya.
Pesan itu berasal dari adik iparnya, jika Manda kembali dan tau Keisya di culik, gadis remaja itu pasti akan mengamuk pada Dave. Apalagi Dave tau Manda akan mendapat dukungan penuh dari kakeknya. Semenjak kemunculan Manda dan Keisya, posisi Dave di keluarga Wilson tergeser oleh kedua perempuan yang kini berstatus istri dan adik iparnya.
‘Belum genap sebulan, pasti kakek yang mengatur agar Manda kembali.’
Dave beranjak dari duduknya, ia menyambar jas yang terlampir di sofa kemudian berlalu keluar dari ruang pribadinya di King.
“Alex, siapkan mobil kembali ke Villa!”
“Baik, Tuan.”
Sampai di Villa Dave langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Setelahnya ia pergi ke ruang kerjanya dan tidak keluar sampai sore hari.
“Selamat datang kembali Tuan besar dan Nona Manda.” Pak Mo membawa koper Manda dan kakek masuk ke dalam Villa.
“Dimana kak Dave, Pak Mo?”
“Tuan muda berada di ruang kerjanya semenjak jam makan siang, Tuan juga berpesan agar tidak ada yang mengganggunya.”
“Baiklah, aku akan ke atas. Kakek Manda ke kamar Manda.”
Kakek masuk ke ruang kerja Dave tanpa mengetuk pintu, dilihatnya Dave tengah berbaring di sofa dengan lengan di atas keningnya dan mata terpejam. Kakek John menggoyangkan tongkatnya sampai mengenai kaki Dave, kakek sengaja melakukan itu untuk membangunkan Dave. “Bangun!”
Dave membuka matanya pelan. “Kakek, hentikan!” Dave sudah menyadari kehadiran kakeknya dari saat kakek John membuka pintu, ia tau tidak ada yang berani menggangu nya kecuali istrinya, adik iparnya dan kakek.
“Kakek sudah bilang selesaikan dengan benar, kenapa sekarang malah Keisya yang menghilang?!” Kakek John duduk di sofa dengan melipat kedua tangannya, terlihat jelas sekali kakek sedang sangat kesal pada Dave.
“Jadi, siapa menurutmu yang berani menculik istrimu?” Tanya kakek lagi, bahkan sebelum Dave sempat menjawab pertanyaan awal kakek.
“Aku sedang menyelidikinya!Yang jelas bukan Raisa, perempuan itu tidak punya cukup kemampuan untuk melakukannya.” Kata Dave dengan yakin.
“Tidak mungkin juga Group K, anak buahku sudah mengawasi pergerakan mereka.”
“Itu masalahnya, kau terlalu fokus pada hal yang tidak penting dan melupakan yang berharga di hidupmu.”
“Kakek benar, ini salahku.”
Dave menceritakan pada kakek kejadian saat Keisya memergokinya bersama Raisa, Bagaimana Dave mengurung Keisya karena takut Keisya melarikan diri, dan bagaimana Keisya akhirnya menghubungi Juan sampai Keisya di culik. Tidak ada satu hal pun yang terlewatkan. Dave dan kakek lalu mengira-ira siapa yang berani membawa Keisya. Mereka mulai mencari-cari calon dalang dari kejadian penculikan Keisya.
“Jangan lupa jelaskan pada adikmu. Kakek yakin dia akan mengerti.”
Sesuai permintaan kakek, Dave langsung menemui Manda dan menjelaskan semuanya. Manda juga bisa mengerti keadaan kakak iparnya itu, Manda sangat yakin Vara bukanlah anak kandung Dave instingnya mengatakan begitu.
Sudah 2 hari berlalu, pencarian Keisya masih nihil. Tidak ada perkembangan sama sekali, Dave sibuk mengurus perusahaan dan mencari Keisya. Juan juga melakukan pencarian dengan caranya, James pulang kampung untuk mengunjungi ayah dan ibu, sementara Manda kembali masuk kampus dengan pengawalan yang ketat. Stevi mengikuti Manda kemanapun Manda pergi. Sasya juga terlihat menginap di rumah Dave, menemani Manda agar tidak kesepian dan terlalu memikirkan Keisya.
1minggu berlalu masih tidak ada perkembangan dalam pencarian Keisya. Dave semakin menggila, tidak jarang karyawannya menjadi sasaran empuk kemarahan Dave. Rapat-rapat yang ia pimpin menjadi semacam neraka bagi para direktur. Manda juga mulai kesal karena kakaknya tak kunjung ditemukan, manda bahkan mulai marah-marah tidak jelas pada Dave. Menyalahkan Dave atas hilangnya Keisya, untung saja kakek John selalu bisa menengahi saat Manda mulai mengamuk pada Dave.
***
“Lepaskan!Biarkan aku masuk, apa kalian tidak tau siapa aku?” Teriak seorang perempuan di depan gerbang kediaman Villa Dave.
“Maaf, Nona. Anda tidak bisa masuk sebelum kami memgklarifikasi identitas Nona.” Jawab salah satu petugas keamanan di Villa Dave.
“Katakan pada Dave, putrinya sedang menunggu di depan!”
.
.
.
Bersambung...
Like
Like
Like
Vote
Vote
Vote
Komen
Komen
Komen