My Dave

My Dave
S2 Pintu Rahasia II



Dave dan Jack serta dokter dan perawat masuk keruang bawah tanah yang berada di Villa S. Sampailah mereka di depan pintu besi yang kokoh, sekilas depannya terlihat seperti lift. Dave lalu menekan seluruh telapak tangannya ke dinding sebelah pintu.


“Akses diterima.” Terdengar suara perempuan setelah Dave menekan kode pintu besi itu dengan telapak tangannya. Seketika pintu besi itu pun terbuka. Terlihat lorong yang sangat gelap dan panjang tidak ada penerangan sama sekali.


Dave mengajak Jack dan dua orang lainnya masuk ke dalam pintu itu. Mereka kemudian berjalan sejauh sekitar 10 meteran dengan bermodal senter untuk penerangan. Sampai mereka bertemu sebuah pintu besi lagi.


Dave meletakan telapak tangannya lagi untuk membuka pintu besi yang seperti lift itu.


“Akses diterima.” Pintu pun kembali terbuka. Kali ini mereka masuk ke dalam sebuah ruangan yang persis seperti lift ada beberapa tombol diruangan itu.


“Jack!”


“Baik, Tuan.” Jack menekan salah satu tombol dan terasa pergerakan dari ruangan itu. Semacam bergerak berjalan entah kemana.


Ternyata pintu itu adalah kereta bawah tanah yang akan menghubungkan Villa S ke Villa luxury. Sistem kerjannya seperti kereta biasa berjalan lurus.


Sudah 10 menit mereka di dalam ruangan itu namun ruangan itu tak kunjung berhenti yang artinya belum sampai ke tempat tujuan. Tidak ada ekspresi kaget dari Jack, dokter dan perawat Dave saat memasuki ruangan itu yang berarti mereka memang sudah melewatinya sebelumnya.


15 menit kemudian mereka pun sampai di tempat tujuan. Pintu besi itu otomatis terbuka, saat ini mereka sudah berada di ruang bawah tanah Villa luxury yang terhubung dangan ruang kerja Dave. Jadi, ruang bawah tanah Villa luxury terhubung di dua pintu, yang satu pintu biasa yang terhubung dengan taman belakang, dan yang satu pintu rahasia yang terhubung dengan ruang kerja Dave.


Jack mendorong kursi roda Dave berjalan menuju pintu rahasia yang terhubung ke ruang kerja Dave. Setelah beberapa saat berjalan mereka pun sampai di kamar pribadi yang terletak diruang kerja Dave.


Dave bangkit dari kursi roda menuju tempat tidur, ia ingin beristirahat sebelum menemui istrinya. Perjalanannya dari pulai sungguh melelahkan ditambah lagi keadaanya yang belum sepenuhnya pulih.


Dokter dan perawat pun langsung memeriksa keadaan Dave dan mengganti infus Dave.


“Sekarang bagaiman tuan?Apa saya keluar saja dan memberitahu keluarga tuan?” Tanya Jack setelah Dave beristirahat beberapa.


“Jangan du...” baru saja Dave akan menjawab ia mendengar derap langkah kaki mendekat juga seseorang menyentuh handle pintu yang sepertinya akan membuka pintu dari luar. Pintu yang terhubung dengan kamarnya.


Siapa?Apa Keisya? Batin Dave.


Semua orang yang berada di dalam kamar itu menatap tajam ke arah pintu yang sebentar lagi terbuka karna dorongan dari luar.


“James!!” Dave memincingkan mata sebelah melihat ternyata James yang membuka pintu.


“Kak Dave?” Lelaki itu menganga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia pun berjalan mendekat.


“Kau benar-benar kak Dave?” Tanya James memastikan. Dave pun mengangguk,


“Aku bisa jelaskan James.” Ucap Dave namun James malah melesat jauh meninggalkan ruangan itu secepat kilat.


“Tuan, apa yang terjadi dengan nya?” Tanya Jack.


“Jack, kau kejar dia jangan sampai membuat keributan!” Seru Dave.


“Baik, tuan.”


Semoga belum terlambat.


Dave berharap James tidak langsung memberitahukan kepulangannya kepada semua orang. Jika tidak sia-sia rencana yang sudah ia susun dengan matang.


***


Bukan hanya pihak anak buah Dave yang sibuk mencari keberadaan Dave, ada beberapa kubu yang juga mencari keberadaan Dave. Salah satunya adalah kubu Raka.


“Si*lan.” Geram Raka saat tak kunjung mendapat kabar dari anak buahnya.


Padahal anak buah Raka sudah mencari Dave siang dan malam. Mereka juga menyusuri sungai secara sembunyi-sembunyi agar tidak arak yang menyadari pergerakan mereka.


“Tuan, ada kabar dari mata-mata kita.” Ucap asistennya tiba-tiba setelah menerima panggilan telepon.


“Apa?”


“Mata-mata kita di Villa luxury tidak bisa menjalankan perintah lagi.” Jawab asistennya.


“Apa mereka ketahuan?” Tanya Raka was-was. Asistennya menggeleng.


“Lalu?”


“Mereka mendapat libur hingga keadaan nyonya rumah mereka membaik.” Jawabnya lagi.


Raka nampak berpikir sejenak.


“Maksudmu Keisya, apa yang terjadi padanya?” Tanya Raka khawatir.


“Nyonya Keisya kesehatannya menurun saat mengetahui suaminya kecelakaan, ia bahkan mengamuk seperti orang gila. Untuk mengantisipasi hal buruk terjadi mereka meliburkan maid sampia kondisi beliau tenang tujuannya agar para maid tidak mengetahui kondisi Keisya dan berpikiran yang macam-macam. Hanya ada dokter kepercayaan dan kepala pengurus rumah tangga di Villa itu.” Ucap asisten Raka menjelaskan.


“Shit..Siapa yang memberitahu Keisya?” Ucap Raka geram. Ia memang berniat melenyapkan Dave tapi ia juga tidak mau membuat Keisya terluka. Apalagi sampai Keisya gila, ia tidak akan membiarkan itu terjadi.


“Tidak mungkin keluarga yang memberi tahu Keisya, ini pasti ada campur tangan pihak lain.” Gumam Raka.


Raka ingin sekali menemui Keisya saat ini, dan menenangkannya namun ia tidak punya kesempatan. Bagaimana ia bisa bertemu Keisya melewati penjagaan yang sangat ketat.


“Sekarang bagaimana tuan?” Tanya asisten Raka.


“Teruskan pencarian Dave, dan jika memungkinkan kirim orang ke Villa luxury (Read:mata-mata). Aku ingin tau keadaan Keisya!” Perintah Raka pada bawahannya.


“Baik, Tuan.”


***


Kakek harus mengunjungi grup Wilson untuk mengurus perusahaan selama Dave tidak ada. Entah apa yang terjadi saham grup Wilson tiba-tiba turun secara derastis, sepertinya seseorang tidak hanya menyerang Dave tapi juga menyerang perusahaan.


Mereka sudah merencanakan penyerangan kali ini dengan sangat rapi.


Siapa dalang di balik ini semua? Pikir Kakek sambil memijit pelipisnya. Ia sungguh merasa pusing menghadapi keadaan saat ini. Cucu nya belum di temukan di tambah lagi masalah perusahaan.


Dengan telaten kakek menyelesaikan pekerjaan Dave yang sempat tertunda, kakek juga berusaha menstabilkan kembali saham perusahaan meskipun tidak mudah. Setidaknya kakek sudah biasa menangani perusahaan jadi lelaki tua itu tidak mengeluh saat menghadapi banyak berkas-berkas yang perlu ia periksa.


Kakek juga tidak sendiri mengurus perusahaan, ia dibantu oleh Leo. Sementara untuk pencarian Dave di urus oleh Alex, dan David sahabat Dave.


“Leo, apa kau tau siapa saja musuh Dave?” Tanya kakek di sela-sela pekerjaanya. Yah, tidak bisa dibilang musuh Dave sedikit. Namun, kakek berharap musuh Dave masih bisa dihitung dengan jari agar mereka bisa menemukan petunjuk atas kecelakaan Dave dengan cepat.


“Em..banyak tuan.” Jawab Leo ragu.


.


.