My Dave

My Dave
Finally



Beberapa hari kemudian, sikap Jasson pada Manda masih sama. Lelaki itu masih mendiamkan Manda. Mereka bahkan tidak bertegur sapa saat berpapasan. Ruang makan yang biasanya ramai kini hening.


“Mommy?”


“Ya sayang.” Sahut Keisya pada panggilan putranya.


Boy meletakkan sendok dan garpu nya di sebelah diatas piring dengan posisi menghadap bawah. Pertanda bocah itu sudah selesai dengan ritual makannya.


“Apa mommy tidak merasakan hawa dingin?” Boy bertanya sambil melirik paman dan bibinya yang memasang tampang kusut.


Keisya terkekeh, dia paham kemana arah pembicaraan Boy. “Mungkin karena semalam hujan, Boy,” jawab Keisya kemudian.


“Aku selesai,” ucap Jasson lalu meninggalkan meja makan. Dia acuh pada Manda.


“Kau tidak mengejarnya?” Keisya melirik Manda.


“Untuk apa aku mengerjarnya,” jawab Manda sambil berdiri, “


Manda memutuskan kembali ke negara A. Dia sudah muak dengan sikap Jasson, tidak ada gunanya berlama-lama tinggal di negara S.


“Aku pulang.” Ucap Manda saat tiba di apartemennya. Sasya yang baru saja pulang kerja pun menoleh ke arah pintu. Dia terkejut melihat Manda pulang lebih awal dari jadwal.


“Kau sudah pulang?” Menghampiri Manda dan mengambil alih kopernya.


“Kenapa?” Kau tidak menyukai kepulanganku?” Tanya Manda dengan tatapan menyelidik, “apa kau menyembunyikan sesuatu?” Manda mengedarkan pandangan matanya ke setiap sudut apartemennya.


Terlihat Sasya gugup menjawab pertanyaan Manda. “Ma-mana mungkin aku menyembunyikan sesuatu,” jawabnya terbata-bata.


“Sayang, tolong handuk.” Suara teriakan dari kamar Sasya yang tidak tertutup rapat. Manda mementingkan sebelah alisnya, suara itu Manda mengenalnya dengan jelas.


“Kau..”


“A-aku bisa jelaskan, tunggulah di kamarmu.” Ucap Sasya sambil berlari meninggalkan Manda.


Bukan menuruti permintaan Sasya, Manda justru menunggu Sasya di depan kamarnya.


“Kenapa sayang?” Tanya lelaki itu setelah Sasya menyerahkan handuknya. “Apa kau sakit?” Lelaki itu memeriksa kening Sasya dengan menempelkan telapak tangannya di kening Sasya.


“Manda sudah pulang.” Ucap nya berbisik.


“Lalu?” Lelaki itu bertanya tanpa ekspresi.


“Kita ketahuan,” dia menggigit bibir bawahnya cemas. Reaksi apa yang akan Manda tunjukan jika tau yang sebenarnya di lakukan Sasya dan lelaki itu.


“Baguslah, aku memang ingin semua orang tau hubungan kita.” Jawab lelaki itu santai.


Puk.. Sasya menepuk bahu lelaki itu, “apa kau gila?” tanya Sasya.


“Tidak, aku mencintaimu!” Blush, bisa-bisanya lelaki itu menggoda Sasya di saat seperti ini.


“Dasar,” Cebik Sasya kesal namun bahagia.


“Apa kalian tidak akan keluar?” Teriak Manda.


Tak butuh waktu lama Sasya dan lelaki itu keluar. Mereka melihat Manda sedang asyik menikmati kue lapis sambil menonton televisi di ruang tengah.


“Oh, kalian keluar juga ternyata.” Sindir Manda.


“Aku akan menjelaskan,” ucap Manda, “kami berpacaran,” kata lelaki itu. Sasya menoleh dan menatap tajam lelaki disampingnya.


“Oh.” Jawab Manda.


“Oh?” Sasya mendekati Manda dan duduk disebelahnya, “oh? Kau tidak terkejut?kau tidak penasaran bagaimana kami bersama?” Tanya Sasya heran.


Manda menggelengkan kepalanya, “lagi pula semua orang tau James menyukaimu,” ucap Manda yang langsung diangguki oleh James, “kau saja yang tidak peka dan malah sibuk mengejar Juan,” lanjut Manda melirik James.


James bergabung dengan mereka duduk di sofa sisi lain.


“Woah, jadi hanya aku yang tidak tau.” Sasya cengengesan merasa dirinya paling bodoh selama ini. Dia sibuk mengejar cinta Juan selama James selalu menatapnya penuh cinta.


“Maafkan aku, James.” Sasya beralih mendekat pada James duduk disebelahnya dan langsung di rangkul oleh James.


“Tidak masalah, sekarang kau sudah mengetahuinya. Jadi bersikap baiklah padaku,” mengarahkan kepala Sasya menyender di bahunya.


“Aku juga mencintaimu!” Bisik Sasya sambil mencium pipi James dengan gemas. James membalasnya dengan mengecup puncak kepala Sasya.


“Apa kalian sedang syuting film romantis?” Mereka berdua tidak sadar masih ada Manda ditempat itu.


“Sungguh menyebalkan!” Manda meletakan piring yang masih berisi setengah potongan kue dan pergi ke kamarnya meninggalkan sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara.


Sampai di dalam kamarnya Manda mengecek ponslenya seakan menunggu seseorang menghubunginya. Namun, tidak ada satu notif pesan maupun panggilan dari orang itu.


“Kau sungguh jahat, Jasson!” Keluhnya sambil memukul boneka pemberian Jasson saat dirinya kecil.


Perang dingin dengan Jasson membuat susasana hati Manda menjadi kacau. Dia tidak bisa berpikir dengan benar. Pekerjaanya kacau, mood nya pun berantakan.


Pagi ini Manda sudah mengomel sendiri diruang kerjanya karena pekerjaanya tidak berjalan lancar. Dia ingin mengutuk Jasson, karena Jasson lah penyebab semuanya.


Setelah pulang dari butik Manda memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Dia ingin mencari angin segar dan menetralkan mood nya yang kacau.


Sepertinya keputusan Manda berjalan-jalan tidak salah. Dia berhenti di taman dan memandangi suasana indah taman itu. Lampu kelap-kelip membuat suasana semakin hidup.


“Ah, rasanya menenangkan,” Manda duduk di bangku berwarna putih dan menyenderkan punggungnya disana.


Saat sedang menikmati nyaman itu, seorang anak kecil menghampirinya dan memberikan setangkai bunga mawar.


“Untukku?” Tanya Manda dan anak kecil itu menganggukan kepalanya lalu berlari meninggalkan Manda. Selang beberapa waktu ada anak kecil lagi yang datang membawa setangkai bunga mawar. Sama seperti sebelumnya anak kecil itu langsung pergi setelah menyerahkan bunga pada Manda.


Aneh!


Manda merasakan ada yang aneh. Ada dua bunga mawar di hadapannya saat ini mawar putih dan mawar merah. Dia memandanginya penuh arti.


“Apa kau menyukainya?” Suara lembut yang Manda rindukan. Manda mendongak dan melihat Jasson sudah berdiri dengan jarak satu meter dihadapannya.


“Jasson.”


Lelaki itu tersenyum, lalu melangkah mendekati Manda. Manda pun berdiri dan menatap tajam Jasson, “kapan kau datang?” Tanya Manda namun tidak dijawab oleh Jasson.


Jasson justru berlutut dihadapan Manda.


“Apa yang kau lakukan?” Manda merasa tidak enak beberapa orang mulai menatap kearah Manda.


Jasson cuek saat Manda menarik-narik jasnya berharap lelaki itu segera berdiri. Dia justru merogoh sesuatu dari saku celanya. Sebuah kotak kecil.


Di bukannya kotak itu dan diarahkan nya pada Manda dengan dia menatap Manda. Cincin berlian yang sangat indah. Manda terkesiap, dia menutup mulutnya tidak percaya.


“Amanda Louis, aku mungkin bukan orang yang baik di masa lalu. Aku sering mengecewakan mu, membuatmu menangis dan menangis. Namun, terlepas dari itu semua aku sangat mencintaimu. Mau kah kau menua bersama ku? Menikahlah denganku!” Jasson berucap penuh ketulusan, dari sorot matanya yang menatap Manda terlihat dia bersungguh-sungguh.


“Aku mau.” Ucap Manda terharu sambil menganggukan kepalanya.


Jasson tersenyum lega, lamarannya diterima oleh Manda. Kini dia memakaikan cincin itu di jari manis Manda.


“Aku mencintaimu!”


“Aku juga mencintaimu, Jasson!”


.


.


.


Finally End.. semua sudah bahagian yaa guys..