My Dave

My Dave
S3 berkumpul



Selain Dave dan Keisya, Juan dan James pun turut datang dengan alasan menjenguk Manda.


“Kalian lagi kalian lagi.” Kalimat itu langsung Manda lontarkan begitu melihat siapa tamu yang datang ke apartemennya. Dari sebelum membuka pintu, Manda sudah curiga siapa tamu yang tidak tau malu menekan bel terus menerus padahal Manda sudah menyahut “iya” saat bel pertama berbunyi.


“Hallo My princess Manda.” James membuka lebar kedua tangannya hendak memeluk Manda melepaskan kerinduan nya namun seseorang menarik kemeja bagian belakang James. Membuat lelaki itu ikut tertarik mundur.


“Jangan bermimpi bisa memeluknya selagi ada aku.” Suara dingin yang terkesan mengintimidasi datang dari lelaki dewasa yang sedang cemburu. Tidak masuk akal, Jasson cemburu pada adik kandungnya sendiri.


Sementara Juan geleng-geleng kepala melihat tingkah Jasson dan James. Ia memilih menyusul Manda yang sudah lebih dulu masuk kedalam apartemen meninggalkan kakak beradik yang sedang berdebat.


“Cih dasar pelit.” Gerutu James melangkah masuk kw salam apartemen.


“Waow, apakah kalian mengadakan pesta menyambut kedatanganku?” Tanya James sangat percaya diri.


Memang saat ini di apartemen Manda sedang ada acara makan bersama dengan menu restoran barat yang lengkap dan desert yang begitu menggoda lidah.


“Memang siapa kau hingga perlu kami sambut?” Sahuta kecut berasal dari Sasya yang tidak senang dengan kehadiran James. Semenjak James mencuri ciuman pertamanya, kekesalan Sasya pada lelaki itu beruntut hingga saat ini.


“Ada cebol juga ternyata, hai!” Sapa James masa bodoh dengan sikap cuek Sasya. Lelaki itu justru duduk mendempel di sebelah Sasya.


“Jauh-jauh dari ku!” Mendorong James untuk menjauh.


“Jangan jauh-jauh nanti rindu.” Keisya ikut menimpali obrolan keduanya.


“Kalau sudah rindu berat, bisa-bisa menggangu produktivitas.” Kini sang suami dari Keisya ikut bersuara. Sebagai bos perusahaan besar, Dave sangat menjunjung produktivitas kerja yang tinggi. Jika tidak mana mungkin perusahaannya berkembang sangat pesat.


“Kakakkk..” rengek Sasya karena Keisya dan Dave justru ikut-ikutan menggodanya.


“Kalau di lihat-lihat, kalian cocok. Kenapa tidak menikah saja?” Manda menyarankan.


“Tidak!!” Serentak Sasya, James dan Jasson.


Jika Sasya dan James yang menjawab mungkin bisa di maklumi, tapi, kenapa Jasson ikut menjawab. Sumua mata pun berpaling ke arah Jasson seakan meminta penjelasan.


“Ehemm.” Jason berdehem sebentar. “Maksudku tidak boleh sekarang, harus aku dan Manda yang menikah lebih dulu baru mereka.” Ucapnya kemudian.


“Oooo..” semua orang ber “oh” ria kecuali Manda.


“Memang siapa yang mau menikah denganmu? Aku?” Mengunjuk dirinya sendiri lalu Jasson mengangguk mengiyakan, “mimpi saja!”


“Pfttt.” Semua orang menahan tawa melihat Jasson di tolak mentah oleh Manda.


“Mampus, kak. Makanya jangan datang dan pergi seenaknya saja.” James ikut menertawakan kakaknya sambil menepuk-nepuk bahu Jasson.


“Diam kau, bocah!” Kesal Jasson.


“Atau kau mau menikah denganku saja, Manda?” Juan sengaja berucap untuk menggoda kakaknya.


“Bisa di pertimbangkan.” Jawab Manda sambil mengedipkan sebelah matanya.


Dan, raut wajah Jasson berubah merah padam. Meskipun hanya candaan, lelaki itu tidak suka ada orang lain yang mengajak Manda menikah. Semua lelaki, tidak terkecuali James ataupun Juan.


“Jangan bilang kau marah, kak?Pfttt.” James kembali menertawakan Jasson.


“Diam atau aku akan menghentikan proyekmu.” Ancamnya pada adiknya.


“Hihi, santai Bro. Just kidding.” Jika menyangkut perusahaan James tidak berani pada Jasson. Karna saat ini dia sedang merintis perusahaan nya sendiri yang di danai oleh Jasson. Sementara perusahaan peninggalan sang ayah di urus oleh Juan.


Orang-orang dewasa menikmati hidangan yang ada sambil bercanda gurau. Sementara anak kecil merasa bosan karena tidak memiliki teman bermain. Seperti saat ini Boy malas-malasan di pangkuan sang mommy dengan kepala menyender di bahu Keisya.


“Hei Boy, kenapa kau malas-malas an? Bagaimana jika bermain dengan paman?” Tawar James.


Boy menggelengkan kepalanya.


“Kalau dengan bibi?” Tanya Sasya. Akhirnya muncullah ide cemerlang Boy mengusir kebosanan.


“Boy mau main dengan paman dan bibi!” Seru Boy menunjuk James dan Sasya secara bergantian.


“A-apa? Dengan dia?” Sasya menunjuk James, “dengan bibi saja ya, tidak usah dengan dia.” Bujuk Sasya. Boy masih enggan dan menggelengkan kepalanya.


“Memang apa masalahnya jika dengan ku?” Protes James sambil mengambil alih Boy dari pangkuan Keisya.


“Kau menyebalkan.” Jujur Sasya.


“Tapi kau menyenangkan.” Balas James.


Blush .. bagaimana ini? Kenapa Sasya merona karena ucapan James.


“Sudahlah, Sya. Temani Boy main, lagi pula kau juga ingin bermain dengan Boy ‘kan?” Bujuk Manda.


“Iya-iya.” Sasya bangkit berdiri.


“Bagaimana kalau kita pergi beli es Cream?”


“Terserah.” Kata Sasya sembari mengambil tas sling bagnya.


**


Suasana malam kota A cukup indah, dengan mobil yang berlalu lalang namun tak begitu padat. James melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju cafe es Cream rekomendasi dari Manda. Sementara di kursi penumpang bagian sebelahnya, Sasya nampak malas sambil memangku Boy yang ceria menyanyi lagu anak-anak.


“Jangan tekuk wajahmu seperti itu, kau cantik jika tersenyum.” Ucap James datar.


Deg! Apa-apaan ini, hanya ucapan datar namun jantung Sasya berdegup. Tidak beres, Sasya yakin ada masalah dengan jantungnya. Saat menghadapi teguran dari profesor tempatnya bekerja di rumah sakit saja tak se berdebar ini. Besok, Sasya harus melakukan pemeriksaan menyeluruh pada tubuhnya. Terutama bagian jantung yang sering kali berdebar saat di dekat James.


“Paman James benar bibi, bibi cantik saat tersenyum.” Boy menoleh sembari menengadah menatap Sasya. Ditatap seperti itu oleh Boy kesayangannya, Sasya pun memaksakan senyuman.


“Bibi?”


“Ya sayang?”


“Kata Daddy tersenyum itu harus yang ikhlas.” Ucap Boy menasihati.


“Pftt.” James menoleh dan terkekeh.


“Memang kapan Daddy mu bicara seperti itu?” Tanya Sasya.


“Saat mommy sedang marah, Daddy akan menggoda mommy. Namun. Mommy sering kali tersenyum paksa.” Jawab Boy jujur.


“Hohoho, jadi perempuan memang rata-rata sama.” Kelakar James terkekeh. Ia membayangkan bagaimana raut wajah Dave saat membujuk Keisya.


“Diam kau!” Sentak Sasya.


“Bibi, Jadi perempuan itu harus lembut.” Lagi-lagi Boy mengomentari sikap Sasya.


“Boy, kau ini sebenernya di pihak siapa? Bibi atau dia?” Sasya merasa kesal. Dirinya seolah sedang di keroyok oleh musuh kecil si Boy dan musuh besar si James.


“Em, tentu saja Boy memihak bibi.” Duduk miring dan mengecup pipi Sasya.


Sial! James melirik Boy yang sedang mengintimidasi James dengan berisikan manja pada Sasya.


Dasar bocah licik. Batin James melihat Boy.


Iri bilang bos. Kau harus lebih berusaha, paman. Smirk Boy mengejek James.


Nampaknya Sayaa tidak sadar jika dua lelaki yang sekarang bersamanya itu tengah berperang batin. Sasya justru merasa senang karena James tidak lagi mengoceh dan diam.


.


.


.