
Kehadiran James sangat menggangu bagi Jasson yang ingin berduaan dengan Manda. Ia tidak bisa dekat-dekat Manda lagi karna perempuan itu lebih memilih mendempel James yang sekarang sedang menggendong Boy kecil.
“Kupikir dia malaikat, lihat wujudnya masih polos tanpa dosa!” James memandangi Boy kecil yang sedari tadi hanya cengar-cengir saat di goda ia maupun Manda.
“Ya, dia memang masih polos tanpa dosa. Tidak seperti yang menggendong penuh dengan dosa.” Ucap Juan menimpali. Ia baru saja melangkah masuk ke ruangan itu saat mendengar James berucap.
James dan Manda menoleh.
“Pftt.” Jasson terkekeh mendengar ucapan Juan. Ia juga setuju dengan ucapan Juan, dimana James adalah tipe lelaki cassanova. Padahal ia kelihatan polos di wajahnya.
“Si*lan kau Juan.” Sungut James.
“Kemari kan Boy, aku juga ingin menggendong nya.” Mendekati James ingin mengambil alih Boy kecil. Namun, James menggeser tubuhnya menjauh dan menyembunyikan kepala Boy kecil dalam dekapannya. Ia tidak mau melepas Boy kecil.
“Manda!!” Rengek Juan meminta bantuan Manda. Ia ingin sekali menggendong Boy kecil. Si James sungguh pelit.
“James, berikan Boy pada Juan. Gantian, kau sudah menggendongnya dari tadi.” Ucap Manda bersikap adil.
James menggeleng kan kepalanya. “Siapa cepat dia dapat, siapa terlambat tidak dapat.” Ucap James santai.
“Huh.” Juan mendengus kesal.
“Kenapa kalian berebut anakku?” Suara Dave begitu menggelegar memenuhi ruangan itu. Laki-laki itu masuk ke dalam kamar Manda di temani Keisya di sebelahnya.
“Dia pelit kakak ipar. Aku tidak di beri kesempatan menggendong Boy.” Ucap Juan mengadu.
Keisya hanya geleng-geleng kepala. “Sudah, sudah, kau bisa menggendongnya besok.” Keisya mengambil Boy dari James. Bayi laki-laki kecil itu langsung tersenyum-senyum melihat mommy nya. Tangan mungilnya bergerak gerak kecil.
“Waktunya tidur, Boy.” Keisya membawa Boy kembali ke kamarnya.
“Boy sudah kembali ke kamarnya, kalian juga silahkan meninggalkan kamarku.” Usir Manda pada Jasson, James, Juan dan Dave yang masih berdiri di dalam kamarnya.
“Iya, kalian pergilah!” Jasson melambai-lambaikan tangan mengusir ketiga laki-laki di dekatnya.
“Kau juga pergi, Jasson!” Ucap Manda geram.
“Pftt.” James dan Juan terkekeh.
“Kenapa aku juga pergi, kau tidak mau aku tidur disini?” Goda nya pada Manda.
“Tidak mau!Jangan mimpi!pergi sana!” Manda mendorong tubuh Jasson agar keluar dari kamar nya. Ia malas berdebat lebih lama dengan lelaki itu.
“Cih, kasian sekali di tolak.” Ejek James.
“Diam kau!”
“Juan, ikut kakak ke ruang kerja. Ada beberapa hal yang perlu kakak diskusikan denganmu.” Ucap Dave datar.
“Baik kak.” Juan mengekori Dave masuk ke ruang kerja Dave.
Sementara Jasson dan James masuk ke kamar mereka.
***
“Kak Raka?” Tanya Juan.
Dave mengangguk. “Apa kau dekat dengannya ?” Dave duduk di kursi kerjanya. Sementara Juan duduk di kursi depannya yang bersekat oleh meja kerja Dave.
“Aku tidak bergitu dekat dengannya, kak. Tapi aku sedikit mengenal kak Raka. Kami pernah menghabiskan masa kecil bersama.” Jawab Juan. “Tapi, apa kakak yakin dia suruhan kak Raka?” Juan seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Dave, bahwa Raka mengutus orang untuk mengawasi Villa luxury terlebih yang diutusnya seorang perempuan.
“Entahlah, sementara aku hanya bisa mempercayai perempuan itu.” Ucap Dave seraya menopang dagu dengan kedua tangannya. “Aku merasa ada hal yang janggal, Juan.” Lanjut Dave mengutarakan apa yang menggangu pikirannya.
“Sejujurnya aku juga tidak percaya, kak. Setahuku kak Raka orang yang selalu menepati janjinya, untuk apa dia mengawasi kita padahal dia sendiri sudah berjanji tidak akan mengganggu kak Keisya.” Ujar Juan.
“Terlebih, aku mendengar desas desus kak Raka sudah mempunyai tunangan.” Lanjut Juan.
“Kau dengar dari mana?” Tanya Dave.
“Salah satu kolega ku adalah teman dekatnya.” Jawab Juan.
“Untuk sementara kau bantu kakak cari tau apa yang dilakukan Raka selama enam bulan terakhir.” Pinta Dave yang diangguki Juan.
“Baiklah, kak. Jika terbukti kak Raka mempunyai maksud tidak baik pada keluarga kita, aku sendiri yang akan membereskannya.” Smirk Juan, Yah terlalu lama bergaul dengan Dave sudah ketularan aura dingin Dave.
“Baik, kak.”
***
Juan kembali ke kamarnya. Disana sudah ada James dan Jasson yang menunggu. Mereka sangat penasaran apa yang di bicarakan Dave dan Juan.
“Lama sekali, aku sudah mengantuk.” Gerutu James melihat Juan masuk ke kamarnya.
“Jika kau mengantuk tidur sana, kenapa malah bermain di kamarku?” Juan melirik sebal pada James dan Jasson yang sedang bermain PS di kamarnya.
“Aku menunggumu, bodoh!” Jawab James.
“Aku tidak menyuruh mu menunggu, salah siapa kau menungguku.” Ucap Juan santai.
“Apa yang kakak bicarakan padamu, apa itu hal yang serius?” Sahut Jasson sebelum Juan dan James berdebat untuk hal yang tidak penting.
“Sedikit serius.” Balas Juan.
“Apa itu?” Tanya James.
“Em, rahasia.” Balas Juan cuek. Ia pun naik ke atas tempat tidur dan menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Juan sudah bersiap untuk tidur.
***
Pagi berikutnya suasana Villa luxury mendadak tegang karna Boy tiba-tiba demam. Bocah kecil yang kemarin baik-baik saja itu kini demam dan menangis tanpa henti. Keisya maupun Dave sudah berusaha menenangkan Boy, namun tidak berhasil.
“Dimana dokter Maya, apa dia jalan dari langit?” Gerutu Dave menunggu kedatangan dokter Maya. Ia sudah menunggu lebih dari 30 menit namun dokter pribadi nya itu belum datang.
“Oek oek..” Keisya mengelus elus pipi Boy dengan lembut seraya menimang nimang bayi mungil itu. Ia berjalan kesana kemari berusaha menenangkan Boy.
“James, kau cari dokter lain!” Perintah Dave setelah membaca pesan masuk dari Leo.
“Baik, kak.” James mengeluarkan ponselnya dan menelepon salah satu dokter kenalannya.
“Bagaimana dengan dokter Maya, kak?” Tanya Manda.
“Mobilnya terlibat kecelakaan saat perjalanan kesini, dia tidak akan datang dalam waktu singkat.” Jawab Dave.
10 menit kemudian dokter pengganti yang di hubungi James sudah tiba. Dokter Lea langsung memeriksa keadaan Boy.
***
“Selamat siang, Tuan.” Sapa Shelly sekertaris baru Dave.
“Hem, panggil Leo keruangan saya!”
“Baik, Tuan.”
Tok..tok..
“Masuk!”
“Anda memanggil saya, Tuan?” Leo menghadap Dave setelah mendapat pesan dari Shelly, Dave mamanggilnya.
“Maaf, menyusahkanmu untuk pertemuan pagi tadi. Putraku demam, aku tidak bisa meninggalkannya.” Ucap Dave merasa tidak enak karna harus membebani Leo menggantikannya menghadiri pertemuan penting dengan klien. Untung Leo sangat profesional dan bisa diandalkan. Asisten pribadi Dave itu bisa menghandle pekerjaan Dave dengan baik.
“Tidak papa, Tuan. Sudah menjadi tugas saya. Apakan tuan kecil baik-baik saja?” Balas Leo.
“Ya, dia sudah mau minum ASI.” Jawab Dave seraya memijit pelipisnya yang terasa sakit.
“Apa anda baik-baik saja, Tuan?Perlu saya panggilan dokter?” Tanya Leo.
“Tidak, lebih baik cepat selesaikan pekerjaan hari ini agar aku bisa pulang cepat.”
.
.
.