
Hai guys, aku menyapa kalian lagi. Sudah lama My Dave tidak up ya.. hehe, maafkeun, aku lagi fokus bulan ini untuk cerita Abel dan Daniel di menikahi lelaki pilihan Kakek.
Oh..Iyaa, kalau ada waktu boleh dong kalian mampir ke karya aku yang lain, judulnya:
1. Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
2. Bersamamu
3. Love story: Nice to meet you
4. Pengacara tampanku
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keisya meletakan Boy kecil di sebelah Dave, lalu membantu Dave berbaring. Dave ingin sekali melepas infusnya namun dilarang oleh Keisya.
“Aku tidak papa Kei, tanpa cairan itu aku tidak akan mati.” Gerutu Dave pada Keisya.
“Jika kau mau cepat sembuh jangan membantah!” Tegas Keisya. Dave pun mengangguk.
Dengan tangan kirinya Dave menyentuh pipi Boy kecil. “Daddy sangat Merindukanmu, Boy.” Ucap Dave lembut.
“Boy juga sangat merindukan Daddy, mommy juga merindukan Daddy.” Sahut Keisya dengan suara menirukan anak kecil.
Malam itu Dave dan Keisya tidur bersama dengan Boy di tengah-tengah mereka.
***
Jasson kembali ke kamar Keisya lalu menceritakan apa yang baru saja ia lihat dan apa saja yang Dave katakan pada Manda, serta James, Juan.
“Kau yakin dia benar-benar kak Dave?” Tanya Manda memastikan dan Jasson mengangguk, bukan hanya Jasson, namun James juga ikut mengangguk. Apalagi James juga melihat dengan mata kepalanya sendiri.
“Syukurlah..” ucap Juan lega.
“Kalau begitu kalian keluar sana, jangan biarkan siapapun masuk ke kamar kakak termasuk Stevi maupun pak Mo.” Usir Jasson pada kedua adik kembarnya.
“Kenapa kita harus pergi?Kenapa tidak kakak saja?” Tanya James.
“Aku juga akan pergi, kita biarkan Manda tidur di sini sendiri. Saat Stevi atau pak Mo bertanya bilang saja Manda menemani Keisya dan tidak mau diganggu oleh siapapun.” Tegas Jasson.
“Baiklah, ayo keluar!” Ajak Juan.
“Kalian duluan saja, aku akan menyusul sebentar lagi.” James dan Juan mengangguk lalu keluar dari kamar Keisya.
Sesuai dugaan Stevi dan pak Mo berdiri di depan pintu kamar Keisya. Untung kamar Keisya kedap suara jadi orang yang berada di luar kamar termasuk di depan pintu tidak akan bisa mendengar apa yang terjadi di dalam kamar Keisya.
“Manda akan tidur bersama kakak malam ini, kalian juga Istirahatlah. Tidak perlu berjaga disini, lagi pula aman. Pengawal dimana-mana.” Ucap Juan tegas pada Stevi dan pak Mo. Stevi dan pak Mo pun akhirnya undur diri.
Setelahnya James dan Juan juga masuk ke kamar mereka.
***
Manda menatap tajam Jasson yang tidak segera keluar dari kamar Keisya meskipun ia sudah mengusirnya.
“Kenapa kau berubah jadi galak lagi?” Protes Jasson pada sikap Manda. Bukannya melunak Manda justru bertambah kesal, perempuan itu menjitak jidat Jasson.
“Auwh, kenapa kau menjitak ku?” Jasson meringis seraya menyetuh keningnya.
“Kenapa kau susah sekali di atur, jika kau tidak keluar dari kamar ini orang-orang akan curiga. Kau tidak lihat ranjang kak Keisya hanya muat aku, Boy dan kak Kei?” Berdiri dengan berkacak pinggang di hadapan Jasson.
“Kata kakak ipar aku bisa tidur di sini. Jika mereka curiga aku bisa mengatakan jika aku tidur di sofa.” Ucap Jasson.
Manda tetap tidak setuju dengan Jasson. “Kau yang keluar atau aku yang keluar?” Ancam Jasson.
“Baiklah, baiklah, aku yang keluar.” Jasson mengalah. Ia pun meninggalkan Manda sendiri di kamar Keisya. Usia Jasson pergi Manda merebahkan dirinya di sofa dan tidur. Malam ini Manda bisa tidur nyenyak karena Dave sudah pulang. Hal lainnya bisa Manda pikirkan besok.
***
Pagi-pagi buta Keisya sudah bangun, apalagi beberapa saat setelah bangun ia mendengar tangisan Boy. Sepertinya Boy kecil lapar. Dave yang mendengar tangisan Boy juga ikut terbangun.
“Kenapa dengannya?” Dave mendudukkan dirinya menatap Keisya yang sedang memangku dan menenangkan Boy kecil.
“Aku juga mau.” Celutuk Dave memandangi Boy yang sedang menyusu pada Keisya.
Keisya sendiri geleng-geleng kepala, Dave sepertinya telah benar-benar sehat jika dilihat dari niat mesum nya.
“Kau masih harus puasa sampai Boy berumur 6 bulan!” Tutur Keisya tegas.
“Apa?!!” Dave mendelik tidak percaya, mana bisa ia puasa selama itu. “Kau bercanda, kan, sayang?” Keisya mengedikan bahunya cuek.
Astaga nasib juniorku. Batin Dave seraya memegang bagian bawahnya yang tersembunyi di balik celana.
Ceklek.. Pintu yang terhubung dari Villa S terbuka, dokter dan perawat masuk ke ruangan itu. Mereka membawa obat juga sarapan untuk Dave.
“Selamat pagi, Tuan muda, Nyonya muda.” Dave dan Keisya mengangguk.
“Saya akan memeriksa luka tuan muda hari ini.” Lanjut dokter itu.
“Silahkan dok.” Ucap Keisya.
Dokter dengan telaten membantu Dave mengganti perban di kaki dan tangan Dave.
“Sayang, aku ingin mandi.” Pinta Dave memelas. Keisya pun menikah pada dokter. “Apakah suami saya boleh mandi, dok?”
Dokter itu menjawab dengan sopan. “Untuk kondisi tuan Dave saat ini mungkin akan sedikit sulit, nyonya. Namun, bisa di siasati dengan mengelap tubuh tuan dengan waslap dan air hangat.” Ucap dokter itu. Keisya mengangguk mengerti.
“Baiklah, Terimakasih atas sarannya.” Masih dengan menimang-nimang Boy kecil Keisya menghampiri Dave. Suaminya itu terlihat seperti anak kucing saat ini.
“Aku akan memandikan Boy sebentar lalu menitipkannya pada Manda, setelah itu aku akan membantumu membersihkan diri.” Ujar Keisya pada Dave seraya mencium kening Dave lembut. Saat Keisya mencium Dave, tangan mungil Boy kecil bergerak-gerak. “Apa kau iri dengan Daddy mu, Boy?” Usai mencium Dave Keisya memandangi Boy kecil yang masih menggerak-gerakan tangannya. Lali Keisya pun mencium bagian wajah Boy kecil, bayi kecil itu lalu tersenyum pada ibunya.
Dave yang melihat semua itu geleng-geleng kepala. “Sepertinya aku mempunyai saingan baru, dia pasti akan mengusai mu nanti. Tidak akan ku biarkan.” Ucap Dave serius.
Mendengar ucapan Dave Keisya, dokter dan perawatan pun terkekeh. Wah, wah, tuan muda Group Wilson ternyata cemburu pada putranya sendiri. Apakah masuk akal?
“Aku akan adil pada kalian berdua.” Ucap Keisya lembut.
Keisya pun berpamitan pada dokter dan perawat untuk kembali ke kamarnya.
***
Di kamar Keisya Manda nampak mondar-mandir. Ia menunggu Keisya dengan cemas, sebentar lagi Stevi pasti akan mengetuk kamar Keisya untuk membantu Keisya memandikan Boy kecil.
Apa aku susul saja Kakak? Batin Manda.
“Manda..”
“Astaga kakak, aku sudah lama menunggumu.” Manda menghampiri Keisya. Kemudian Keisya menekan tombol penutup pintu rahasia yang beralih menjadi dinding lagi.
“Maaf, aku menunggu dokter untuk memeriksa Dave.” Keisya duduk di tempat tidur di ikuti Manda yang duduk di sebelahnya.
“Apa kakak ipar baik-baik saja?” Tanya Manda.
Bukannya menjawab Keisya justru berkaca-kaca dan beberapa detik kemudian di susul air mata yang berjatuhan di pipi perempuan itu. “Dia baik-baik saja, Manda. Dia benar-benar Dave, suamiku. Dia selamat Manda.” Tangis Keisya yang ia tahan sejak semalam akhirnya pecah. Ia tidak bisa menahan lagi tangis haru karena bahagia suaminya, ayah dari putranya kembali dalam keadaan selamat dari kecelakaan tragis itu.
“Daddy nya Boy selamat, Manda.” Keisya menangis sesenggukan. Manda pun menepuk-nepuk bahu Keisya dengan lembut. “Syukurlah, kak. Lalu tenangkan dirimu, lihat Boy, kak! Dia bingung melihatmu menangis.” Ucap Manda mengingatkan Keisya pada Boy kecil.
Keisya menunduk melihat Boy yang berada di gendongannya. Ia pun menghapus air matanya dan tersenyum. “Sayang, maafkan mommy ya, mommy menangis karena bahagia. Boy pasti juga bahagia, kan, Daddy pulang, Daddy sudah bersama kita sekarang.” Tuturnya lembut pada Boy. Bayi kecil itu tersenyum dan menggerak-gerakkan tangannya .
“Iya, mommy tau Boy pasti senang. Mommy juga senang sayang.” Menciumi seluruh wajah Boy. Mungkin Boy geli merasakan wajahnya di hujani banyak ciuman oleh Keisya.
.
.
.
.
Aku lagi bad mood, karya aku yang menikahi lelaki pilihan Kakek sudah up dari kemarin pagi tapi masih di review terus. Sebelll biut aing..