
Genap satu bulan Jasson berada di kota S, untuk mengurus proyeknya yang bermasalah. Lelaki itu menitipkan keamanan Manda dan Sasya pada James. Dia bahkan khusus membeli apartemen tepat di sebelah apartemen Manda untuk tempat tinggal James yang nantinya ia juga akan tinggal di sana setelah masalah proyeknya di kota S selesai.
Selama di kota S, Jasson selalu memberi kabar pada Manda kesehariannya di kota itu. Termasuk dengan siapa dia bekerja. Padahal Manda tidak membalas pesan Jasson namun lelaki itu tidak menyerah. Dia akan mendapatkan kembali hati dan kepercayaan dari Manda.
Kalaupun Manda tetap tidak percaya, Jasson akan memakai rencana b untuk menaklukkan hati Manda. Yah, meskipun rencana tersebut cukup beresiko menurutnya.
“Sudah satu bulan, apa kau tidak merindukan Manda?” Keisya bertanya dengan datar pada Jasson, saat lelaki itu mengunjungi Villa luxury untuk membekuk Dave.
Jasson menghela nafas panjang, pertanyaan macam apa yang ditanyakan Keisya. Pertanyaan yang bahkan Keisya sudah bisa menebak dengan jelas jawab nya.
“Tidak rindu?” Ulang Keisya karena Jasson hanya menghela nafas tampan menjawab.
“Sangat rindu.” Balasnya cuek kali ini. Jasson mengedarkan pandangan matanya kw setiap sudut ruang keluarga mencari-cari sosok bocah laki-laki yang sering ia panggil keponakan kesayangannya.
“Dia sedang les.” Keisya berucap mengerti Jasson tengah mencari putra kesayangannya. Jasson menganggukan kepalanya, “kasihan masih kecil sudah sibuk belajar.” Komentarnya kemudian. Dia ingat dengan betul saat dirinya seusia Boy, Jasson masih sering bermain kejar-kejar an berlarian kesana kemari dengan anak seusianya. Tapi, Boy anak lelaki pertama di keluarga Wilson pasti tau tanggung jawabnya.
“Kakak juga kasihan, tapi, bagaimana lagi kakak iparmu mendidik Boy dengan keras.” Keluhnya dengan perlakuan sang suami pada putra kecilnya.
“Yah, bagaimana pun saat ini Boy pewaris tunggal grup Wilson, kak. Maklumi saja kak Dave.” Kata Jasson.
“Apa kalian sedang membicarakan ku?” Suara bariton Dave menyahut begitu saja. Keisya dan Jasson pun menoleh ke arah suara itu.
“Kau sudah pulang sayang?” Dave berjalan kearah Keisya dan langsung mengecup puncak kepala sang istri. “Aku merindukan, mu.” Bisik Dave pada Keisya.
“Ehemm, apa kalian masih menganggap ku ada?” Jasson berdehem sembari menyindir halus pasangan pasutri yang tengah bermesraan di hadapannya.
Dave menoleh dan melihat Jasson dengan senyum mengejek dia berkata, “jika kau iri cepatlah menikah.” Ejeknya pada Jasson.
“Sayang..” cubitan mesra Keisya daratkan di perut suaminya. Ia tau suaminya itu senang mengejek.
“Kenapa sayang, aku hanya bicara yang sesungguhnya. Lagi pula menikah itu enak.” Ujar Dave sambil terkekeh sekalian memeluk Keisya mesra. Hal tersebut membuat Jasson semakin kesal. Dave sudah mengejek masih ditambah pamer kemesraan. “Lebih baik aku pulang saja kak, lebih lama tinggal disini bisa gila aku.” Jasson beranjak berdiri dan berlalu dengan lunglai.
“Hei, aku tidak berbohong menikah itu enak.” Teriak Dave yang hanya di balas dengan angkat tangan oleh Jasson.
Puk.. kali ini bahu Dave menjadi sasaran empuk dari timpukan tangan Keisya. “Kau ini suka sekali mengejek Jasson.”
Keisya tau kemana arah dari bisikan itu, kemana lagi jika bukan olahraga ranjang di sore hari. Keduanya pun memadu kasih dengan penuh cinta tanpa ada yang berani mengganggu. Ruang kamar meraka yang di lengkapi mode kedap suara pun seakan menambah olahraga ranjang menjadi lebih panas. Suara rintihan manja Keisya menjadi semangat bagi Dave. Kucuran keringat pun saling menyatu diantara keduanya. Ac yang notabene nya menjadi barang pendingin ruangan tak lagi berfungsi bagi pasangan yang sedang memadu cinta dengan panas.
Jika saat ini Keisya dan Dave tengah bermesraan, berbeda dengan Jasson yang melangkah kesal masuk ke dalam apartemennya di kota S. Sejak memutuskan pulang dari Villa luxury mood Jasson memburuk, apalagi ejekan Dave membuat Jasson semakin merindukan Manda.
“Sial” umpatnya sambil melemparkan jas kerja nya ke sembarang arah. Ia rebahkan dirinya di sofa panjang, dua kakinya ia selonjor kan lurus dan letakan diatas meja kaca. Tidak ada kata sopan sama sekali perbuatan Jasson saat ini. “Niat ingin membicarakan bisnis malah berakhir di ejek oleh kak Dave. Pasangan suami istri itu memang menyebalkan.” Gumam nya mengingat sikap Dave dan Keisya yang sama-sama membuat Jasson semakin merindukan Manda.
Baru beberapa menit Jasson memejamkan mata nya, bel pintu apartemennya berbunyi. Ia mengerjapkan matanya lalu memejamkan matanya kembali. Di abaikan nya bel pintunya itu hingga kembali berbunyi.
“Damn! Siapa yang bertamu di jam segini?” Memaksa tubuhnya berjalan kearah pintu untuk melihat siapa yang bertamu. Di intipnya siapa tamu Jasson dari luang kecil bagian pintu itu. Namun, tidak ada siapapun. Jasson berpikir hanya orang iseng, dia pun kembali ke sofa dan merebahkan dirinya di sana.
Dan, baru saja pantatnya menyentuh busa sofa, bel pintu kembali berbunyi. Jasson cuek dan kembali memejamkan matanya sambil menarik lengan tangan di atas keningnya.
“Kali ini siapa yang menelpon di jam segini?” Keluh Jasson saat bel pintu apartemennya berhenti berbunyi namun ponselnya berdering.
Tanpa dilihatnya siapa id si pemanggil, Jasson menggeser ikon hijau di ponselnya dan menjawab panggilan, “Hallo!” Tanyanya malas.
“Mau sampai kapan kau tidak membuka pintu?Aku lelah berdiri di depan pintu, Jasson!” Teriak seseorang dari seberang. Jasson sampai menjauhkan ponselnya beberapa centi meter dari telinganya. Dilihatnya siapa yang menelepon karena dia tau dengan jelas suara siapa itu. “Manda ?” Jasson mengucek kedua matanya lalu melihat layar ponslenya lagi memastikan apa yang dia lihat barusan.
“Astaga, benar-benar Manda.” Jasson melompat dan secepat kilat membuka pintu setelah mengakhiri panggilan telepon dari Manda secara sepihak.
Kriet.. “sayang, maaf.. aku kira hanya orang iseng.” Membuka pintu dan melihat Manda berdiri di depan pintu dengan satu koper dan raut wajah yang tidak bisa di baca.
Manda menerobos masuk ke dalam apartemen Jasson dan menyerahkan kopernya agar di bawah masuk oleh Jasson. Jasson mengekori Manda dengan menunduk. Dia pasrah jika Manda akan mengomelinya.
“Apa yang kau lakukan?” Manda melirik jas yang tergeletak di lantai serta sepatu dan kaos kaki yang berserakan. Perempuan itu geleng-geleng kepala, “apa kau tidak bisa menaruh mereka ke tempatnya?” Menunjuk sepatu dan kaos kaki. Jasson meminggirkan koper Manda dan langsung memunguti sepatu serta kaos kaki nya lalu di taruhnya sepatunya di rak sepatu dan kaos kaki di rajang tempat menaruh kaos kaki kotor.
,
.
.