
Manda yang baru saja masuk pun langsung berlari mendekati Keisya begitu tau kakaknya sudah sadar. “Kakak ini berapa?” Ucap Manda seraya membuat pose dua jari di tanganya.
“2 . Kenapa kamu kira kakakmu tidak bisa berhitung?”
“Ah kakak, akhirnya kakak kembali. Aku Merindukanmu.” Manda dengan manja memeluk Keisya, sebelumnya ia menepuk Dave agar bergeser.
“Bagaimana belajar mu?” Tanya Keisya pada adiknya yang sedang manja di pelukannya itu.
“Dia tidak pernah masuk sekolah sayang, sudah hampir satu bulan dia bolos.” Kata Dave santuy.
“Benar itu Manda?”
“Kak, aku kan sibuk mencarimu. Aku tidak bisa fokus belajar, lebih baik aku bolos saja kan?” Jawab Manda mencari-cari alasan.
“Dasar anak nakal.” Keisya menjewer telinga Manda.
“Sakit kak.”
“Manda gantian dong.” Gerutu Dave karena Manda masih menempel pada Keisya.
“Tidak, mau!” Jawab Manda.
“Manda, aku kan juga rindu pada istriku.”
“Sudah.. Sudah kalian selalu saja ribut.”
Satu minggu berlalu kini usia kandungan Keisya sudah memasuki 16 minggu. Semenjak kejadian di Villa, Keisya tidak tau kabar Farhan. Keisya tidak berani bertanya pada Dave karena takut Dave akan sakit hati .
“Sayang, Bagaimana kalau kita liburan?”
“Liburan?” Tanya Keisya.
“Iya, aku ingin berduaan denganmu. Selama menikah kita belum sempat liburan.”
“Boleh, aku mau ke tempat yang ada pantainya.”
“Kamu mau mengingat kenangan saat tinggal bersama Farhan?Makanya memilih pantai?” Ketus Dave, mengingat Keisya menyebut nama Farhan waktu itu membuat Dave kesal.
Keisya yang kala itu sedang fokus membaca buku pun menutup bukunya dan mendekati Dave yang sedang berbaring di ranjang. “Kau cemburu, Dave?”
“Memangnya aku tidak boleh cemburu?”
Cup
Keisya mengcup sekilas bibir Dave.
Cup
Cup
Lalu Keisya mengulanginya lagi dan lagi. “Sayang, kau menggodaku?” Tanya Dave, ia langsung menarik tubuh Keisya agar berbaring di ranjang. Dave pun bangkit dengan cepat menindih tubuh Keisya. Dave membelai rambut Keisya yang hampir menutupi wajahnya itu.
Cup .. kali ini Dave mengecup kening Keisya. Kemudian kecupanya beralih pada beberapa bagian di wajah Keisya.
“Dave.” Lirih Keisya yang sudah mulai merasakan aura terbakar nafsu di tubuhnya karena sentuhan lembut Dave.
“Sayang aku menginginkannya.” Dave ******* bibir Keisya dengan lembut. ******* itu semakin lama semakin dalam. Tangan Dave pun tidak mau diam, Dave mengarahkan tangannya menyusup ke dalam baju tidur Keisya dan bermain-main di gundukan bagian dada Keisya. Seketika Keisya pun mengerang merasakan pelepasannya yang pertama saat Dave sudah bermain di bagian bawah Keisya.
“Be gentle, Dave.” Lirih Keisya.
Dave hanya mengangguk seraya tersenyum dan melanjutkan aksinya. Kemudian terjadilah apa yang seharusnya terjadi.
***
Hari berikutnya Keisya dan Dave pergi kerumah sakit untuk memeriksa perkembangan kehamilan Keisya. Disana Keisya mendapatkan beberapa tes yang sangat membantu untuk mendeteksi secara dini kelainan yang ada.
Hal ini untuk mengetahui apakah bayi memiliki risiko terhadap penyakit neural tube defects, seperti spina bifida atau penyimpangan kromosom seperti down syndrome.
Beberapa tesnya adalah tes untuk mengukur kadar alfa-fetoprotein (AFP).
AFP yaitu protein yang dihasilkan oleh janin, hormon HCG kehamilan, dan estriol dalam darah ibu. Selain itu, dokter juga akan mengukur kadar inhibin-A dalam tubuh Anda.
(Aku kutip dari artikel di hellosehat.com)
Setelah melakukan serangkaian tes, Keisya pun meminta USG. Ia ingin tau perkembangan si bayi. Dave yang tidak tau apa-apa hanya bisa diam mendengarkan permintaan Keisya dan berbagai penjelasan dari dokter.
Dari USG yang sudah masuk trimester kedua ini Keisya bisa tahu banyak hal, salah satunya ritme dan detak jantung bayi.
Normalnya, bayi memiliki 120-180 denyut jantung per menit.
“Jadi suara gemuruh itu detak jantungnya, Dok?” Tanya Dave dengan mata berkaca-kaca.
“Iya, Tuan. Selamat sepertinya langsung mendapatkan pewaris, jenis kelaminya laki-laki.” Kata dokter Mega seraya menunjukan di sebuah layar monitor.
“Sayang, jagoan kita. Jagoan kita sayang.” Kata Dave, reflek air mata Dave pun jatuh.
“Dave, kau menangis?”
“Aku bahagia sayang. Aku bahagia, anak kita sehat di dalam sana.” Dave menunjuk perut Keisya. “Terimakasih, sayang. Terimakasih.” Dave langsung mencium kening Keisya, padahal Keisya masih berbaring.
Keisya pun mengusap air mata Dave. “Aku juga bahagia, Dave.”
Dave menggenggam tangan Keisya saat keluar dari rumah sakit seraya tersenyum di sepanjang jalan. Orang-orang yang berpapasan dengan Dave pun merasa merinding dengan sikap Dave, apalagi raut muka Dave berseri-seri. “Sayang aku akan membeli pulau untuk boy.” Kata Dave seraya mencium punggung tangan Keisya.
“Apa maksudmu, Dave?”
“Aku akan membeli pulau untuk hadiah kelahiran boy.” Boy adalah nama panggilan untuk bayi di kandungan Keisya.
“Apa kau gila?untuk apa membeli pulau untuk bayi yang baru lahir?” Protes Keisya tidak setuju dengan rencana suaminya.
“Sayang, kita harus memberi hadiah untuk jagoan kita. Kau tenang saja, kau hanya perlu fokus pada kesehatanmu dan boy. Untuk hadianya biar aku yang urus.” Ucap Dave lagi dengan bahagia.
“My Dave. Bisakah kau lebih waras, mana ada hadiah pulau untuk bayi yang baru lahir?” Lagi-lagi Keisya menunjukan dari protesnya.
“Tentu saja ada, aku yang akan memberikannya. Jangankan pulau, jika boy menginginkan dunia pun aku akan memberikannya!” Kata Dave dengan tegas dan penuh percaya diri.
“Terserah kamu saja. Aku pusing berbicara denganmu.”
Di dalam mobil dan perjalanan dari rumah sakit, Dave terus-terusan menggenggam tangan Keisya dan menciumnya. “Leo!”
“Iya, Tuan.”
“Aku akan jadi ayah.” Kata Dave bangga.
“Selamat, Tuan. Saya ikut berbahagia.”
“Leo sepertinya kau harus segera mencari istri juga.” Kata Dave.
“Kenapa saya harus mencari istri, Tuan?”
“Aku takut kau akan iri begitu melihat aku dan anakku nanti.”
“Astaga, Tuan.”
Keisya hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Dave tadi.
“Dave!Turunkan aku!” Teriak Keisya.
“Sayang diamlah. Aku tidak mau kau lelah.” Kata Dave menggendong Keisya dari dalam mobil masuk ke dalam rumah. Padahal Leo menghentikan mobil tepat di depan pintu rumah utama. Yang jaraknya jika berjalan dari mobil ke pintu hanya 2 meter saja.
“Aku bisa jalan sendiri, Dave.”
“Tidak, sayang. Aku tidak bisa membiarkan mu jalan sendiri. Kau sudah terlalu banyak jalan hari ini. Aku takut kau kelelahan.” Jawab Dave.
Kalek John dan pak Moo pun di buat melongo dengan tingkah Dave. Apa sia masih Dave yang dulu, apa dia Dave ketua King?Begitu kira-kira yang ada di benak kakek John dan pak Mo.
.
.
Bersambung..