
Malam ini Dave dan Raka akan bertemu. Raka meminta bertemu di tengah-tengah antara lokasi nya dan lokasi Dave agar adil. Dave pergi sendiri ke tempat itu karna Leo harus mengurus hal lain yang penting, sementara Alex juga mendapat tugas dari Dave.
Dave sudah berkendara lebih dari satu jam namun belum sampai ke lokasi itu. Ia memang tidak memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dave hanya berkendara dengan santai, lagi pula ia tidak sedang terburu-buru karena ia sudah meminta izin pada Keisya untuk pulang telat.
Sampai lah Dave di sebuah restoran mewah. Ia berkata pada pelayan ruangan yang sudah direservasi oleh Raka. Pelayan langsung mengantar Dave ke ruang VVIP yang sudah di pesan Raka. Pas sekali Raka juga baru saja tiba. Lelaki itu datang bersama asistennya.
“Bagaimana kabarmu, Dave?” Tanya Raka basa-basi.
“Baik, kau sendiri bagaimana?”
“Aku baik, Silahkan duduk.”
“Langsung saja karna aku tidak bisa lama.” Ucap Dave membuka percakapan penting.
“Katakan, aku juga tidak bisa lama.” Balas Raka.
Disela-sela obrolan mereka pelayan datang membawa minuman dan makanan yang sudah di pesan oleh Dave maupun Raka.
“Kenapa kau mengirim orang untuk mengawasi sekitar Villa ku?Apa motifmu?” Dave to the point. Bagaimana pun Dave merasa memang Raka yang menyuruh orang untuk mengawasi Villa nya. Apalagi melihat tingkah Raka yang aneh dan tidak seperti biasanya.
Fyi: Villa disini bisa dikatakan mansion.
“Apa maksudmu, mengawasi apa?” Raka menatap Dave heran. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Dave.
“Bukankah malah kau yang mengawasiku?Kau menyuruh anak buahmu mengintai setiap pergerakan ku.” Raka merasa Dave yang berulah. Kenapa Dave malah menuduhnya. Sebenarnya disini siapa yang salah?
“Aku mengirim orang ku karna kau lebih dulu mengusikku.” Tegas Dave seraya menyulut sebatang rokok.
“Kau mengirim perempuan untuk mengawasi sekitar Villa, lihat itu!” Dave melempar ipad yang tadi sudah disiapkan oleh Leo. Di dalam iPad itu ada video pengakuan seorang perempuan bahwa Raka yang mengirimnya.
Raka memutar video itu berulang-ulang. Ia memastikan apa yang didengarnya memang benar. Perempuan itu menyebut namanya.
“Aku tidak mengirimnya, aku bahkan tidak mengenalnya.” Ucap Raka serius.
“Kau jangan bohong, Raka.” Dave menekan Raka, ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Raka. “Jika bukan kau siapa, dan apa motifnya mengatakan kau lah yang mengirimnya.” Lanjut Dave.
“Aku bersumpah bukan aku yang mengirimnya, kau tau aku sudah merelakan Keisya untuk mu. Aku mengakui kekalahanku, sejak saat itu aku tidak pernah mengusik kehidupanmu dan Keisya.” Raka masih tidak mengakui semua tuduhan Dave. Ia merasa dirinya tidak mengirim perempuan itu dan tidak mengenalnya.
Dave diam sejenak. “Aku tidak bisa mempercayaimu, di tanganku ada seorang saksi.” Ucap Dave.
“Kenapa kau tidak menyelidiknya lebih dalam, apakah dia memang orang suruhanku atau bukan.” Raka juga menyulut sebatang rokok. Ia mulai pening dengan apa yang dituduhkan Dave.
“Tanpa kau suruh pun aku sudah melakukannya.” Balas Dave datar. Sudah lama Dave tidak merokok apalagi jika di depan Keisya. Tapi, kali ini ia merokok lagi.
“Maka aku akan menunggu hasil penyelidikanmu, dan kau bisa tau bukan aku yang mengirim perempuan itu.” Raka meneguk segelas minuman beralkohol.
“Kau mau?” Menawarkan pada Dave.
“Tidak, aku tidak bisa minum alkohol.” Tolak Dave.
“Aku bisa menyuruh orang untuk mengantarmu, kau tidak perlu khawatir untuk menyetir sendiri.” Raka sudah menuangkan minuman beralkohol ke dalam gelas putih. Ia menuang setengah gelas penuh.
“Bukan itu masalahnya, Keisya tidak akan membiarkan ku tidur bersama putraku jika aku minum.” Tolak Dave sopan, Dave mengingat dengan jelas bagaimana pesan Keisya padanya.
‘Ingat ya Dave, jika kau pulang setelah minum atau dalam keadaan mabuk, kau harus tidur sendiri. Kau tidak boleh tidur bersama kami!.’ Pesan Keisya kala itu. Perempuan itu sambil menggendong Boy saat mengucapkannya. Boy pun tersenyum seakan menyetujui ucapan Keisya.
“Mana mungkin, aku hanya tidak mau tidur sendiri saja.” Sergah Dave tidak terima dikatai suami takut istri.
Sambil mengobrol Dave dan Raka makan malam. Dave mencoba mempercayai Raka, ia akan mencari tau lagi dengan sedetail mungkin siapa yang mengirim perempuan yang memata-matai Villa nya. Jika ternyata benar perempuan itu suruhan Raka, maka Dave perlu menyelidiki motif Raka berbohong padanya. Untuk malam ini cukup sampai disini. Setidaknya Dave sudah bertemu Raka.
Dia hanya perlu mengirim anak buahnya yang lain untuk mengawasi Raka. Anak buah yang lebih hebat dari yang ia kirim kemarin.
“Sampaikan salamku pada Keisya.” Ucap Raka saat mengantar Dave sampai di depan restoran.
“Apa kau mau mati?” Sungut Dave tidak suka ada lelaki yang mengirim salam pada istrinya.
“Cih, padahal hanya sekedar salam saja tidak boleh. Bagaimana jika aku mengiriminya bunga.” Cebik Raka.
“Maka aku akan melenyapkan mu.” Dave pun masuk ke dalam mobilnya yang sudah disiapkan oleh satpam restoran di depan lobi. Ia langsung melajukan mobilnya pergi meninggalkan tempat itu.
“Kita lihat saja Dave siapa yang akan melenyapkan siapa.” Gumam Raka tersenyum tipis. Lelaki itu langsung masuk ke dalam mobilnya yang sudah disiapkan sang asisten. Ia juga meninggalkan tempat itu.
***
Dave memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia sudah tidak sabar untuk pulang dan bertemu istri serta putranya.
“Siapa mereka?” Gumam Dave melirik kaca spion mobilnya. Dave merasakan beberapa mobil yang berada di belakangnya sedang mengikuti Dave. Dari tadi mobil-mobil itu mengikuti laju mobil Dave, saat Dave mengebut mobil-mobil itu ikut mengebut namun saat Dave mengemudi dengan pelan mobil-mobil itu juga iki pelan. Apa mau mereka?
Dave ingat sebentar lagi ia akan memasuki kawasan yang berbahaya dimana kawasan jalan itu terkenal sepi dan sering terjadi kecelakaan. Sebagai jaga-jaga Dave akan mengebut lalu memutar arah kembali ke restoran. Namun, belum sempat rencana Dave berjalan satu tembakan terdengar.
Dor.. seseorang menembak ban mobil Dave bagian belakang sebelah kanan.
Dor.. dua kali ban mobil Dave di tembak.
“Si*lan.” Pekik Dave, ia masih berusaha menstabilkan mobilnya meskipun ban mobilnya sudah pecah sebelah.
Dor..dor.. tembakan membabi buta semakin menghujani mobil Dave.
“Bre*gsek, mereka benar-benar berusaha membunuhku.”
Prank..Prank.. kaca mobil Dave hancur oleh tembakan, untung Dave tidak terkena tembakan itu. Satu mobil sudah berusaha menyalip mobil Dave, terlihat seseorang yang berada di dalam mobil itu mengarahkan senapan laras panjang bersiap membidik Dave.
“Maafkan aku, Kei. Maafkan Daddy, Boy.” Ucap Dave sebelum akhirnya membanting stir kemudian nya ke arah jurang. Seketika mobil Dave masuk ke dalam jurang dan langsung meledak, terlihat korban api membakar mobil Dave.
Beberapa mobil yang semula mengikuti Dave pun mengerem mendadak, mereka berhenti di tepi jurang. Beberapa pengemudi mobil itu turun dan mengambil video mobil Dave yang terbakar bersama pengemudinya. Setelahnya mereka meninggalkan tempat itu.
***
Keisya sedang membuat susu untuk dirinya namun tanpa sengaja Ia malah menyenggol gelas susu itu hingga terjatuh.
“Astaga,” pekik Keisya melihat gelas itu sudah hancur tak berbentuk.
“Ada apa ini?Kenapa perasaanku mendadak cemas.” Gumam Keisya merasa tidak nyaman.
.
.
.