
“Kakak, ngapain kesini?” Tanya Manda.
Keisya duduk di ranjang Manda melihat adiknya yang sedang belajar. “Tidak papa, kakak hanya ingin menemanimu belajar.”
Manda merasa senang, sudah lama Keisya tidak menemani Manda belajar. “Baiklah, kakak bisa menemaniku dengan tiduran di situ.” Manda menunjuk ranjang miliknya.
Keisya bersandar di tempat tidur dengan memangku bantal Manda, ingatan Keisya saat membaca sekilas pesan masuk di ponsel Dave masih sangat jelas di fikiranya. Keisya ingin sekali bertanya pada Dave, tapi dia ragu. Keisya takut dengan jawaban Dave.
Tok tok.. “Siapa?” Tanya Manda pada yang mengetuk pintu.
“Aku.” Jawab Dave.
Manda berjalan ke arah pintu membukakan pintu untuk Dave.
“Apa istriku disini?” Tanya Dave.
Manda mengangguk. Dia membuka lebar pintu kamarnya dan terlihat Keisya sudah tidur meringkuk dengan memeluk boneka guling milik Manda. “Kakak ketiduran.”
Dave masuk ke kamar Manda berniat ingin mengangkat Keisya kembali ke kamarnya. Tapi Keisya malah semakin erat memeluk guling Manda, seakan tidak mau beranjang dari kamar Manda. “Sayang?” Lirih Dave.
Keisya tidak menjawab sahutan Dave, hanya menggeliat. “Em.” Keisya malah menarik selimut Manda dan kembali meringkuk.
“Sepertinya kakak sudah nyaman tidur disini, apa tidak boleh kakak malam ini tidur bersamaku?” Tanya Manda pada Dave.
Dave pun menyerah, dia mengurungkan niatnya untuk menggendong Keisya. “Baiklah, ingat jangan sampai menendang perut kakakmu!” Tegas Dave.
“Iya Iyaa.. kak Dave tenang saja, aku akan tidur dengan kalem malam ini.” Biasanya Manda saat tidur memang bar bar. Dia sering menendang teman yang menemaninya tidur, Sasya sudah menjadi korban Manda berkali-kali.
“Mimpi indah sayang.” Dave mencium kening Keisya lalu meninggalkan kamar Manda. Saat keluar dari kamar Manda, Dave berpapasan dengan kakek John.
“Kenapa kau keluar dari kamar Manda?” Hardik kakek pada Dave.
“Menjemput istriku tapi dia tidak mau. Jadi, terpaksa ku izinkan dia tidur bersama Manda.”
“Ikutlah denganku sebentar.” Kakek mengajak Dave ke kamarnya. Dave mengikuti kakek.
Saat sudah sampai di kamar kakek, kakek langsung menekan remot pengunci pintu kamar otomatis. Kakek duduk di sofa. “Ceritakan pada Kakek, kenapa Raisa bisa menemuimu?”
“Kakek, aku bisa mengurusnya. Kakek tidak perlu khawatir.” Dave duduk di sebelah kakek.
“Kakek tanya bagaiamana kau bisa bertemu Raisa lagi?Bukan bagaimana kau akan menangani masalah ini!”
“Baiklah, aku akan menceritakan semuanya pada kakek.”
Flash back ON..
Beberapa hari yang lalu Gio tiba-tiba menghubungi Dave untuk bertemu di Club, ada David juga disana. Dave yang sudah bersopan untuk pulang dari kantor akhirnya mampir ke Club untuk menemui Gio dan David. Sampai di Club, Dave menuju ruangan dimana Gio dan David berada. Saat membuka pintu VVIV, mata Dave terperanjak melihat sosok tidak asing di ruangan itu. Dia adalah Raisa, mantan pacar dan mantan tunangan Dave 5 tahun yang lalu. Hubungan Dave dan Raisa berakhir karena Raisa meninggalkan Dave dan lebih memilih mengejar kariernya sebagai artis saat itu. Keluarga Raisa juga tidak begitu menyukai Dave, karena saat itu Dave menyamar sebagai pekerja kantoran biasa. Mereka sempat melakukan pertunangan pun hanya di hadiri oleh kerabat karena orang tua Raisa tidak mau koleganya tau putrinya bertunangan dengan karyawan kantor biasa. Kakek John yang juga ikut menyamar sebagai kakek miskin pun tidak suka dengan keluarga Raisa yang sok kaya, padahal tidak ada apa-apanya dengan Group Wilson. Jadi, saat Raisa memutuskan untuk meninggalkan Dave itu adalah suatu berkah bagi Kakek. Betapa bahagianya kakek John saat itu, meskipun Dave yang saat itu patah hati tapi juga biasa saja.
“Kau?” Ucap Dave saat melihat Raisa.
“Sayang beri salam kepada papi mu!” Titah Raisa pada anak kecil yang duduk di sampingnya. Anak kecil itu terlihat malu-malu, dia merasa takut pada Dave.
“Apa maksudmu?” Tanya Dave.
Gio dan David pun beranjak dari duduknya. “Kalian bicaralah, aku akan menunggu di luar.” Kata David seraya meninggalkan Dave.
Gio menepuk bahu Dave. “Bicarakan baik-baik.” Kata Gio yang menyusul David meninggalkan ruangan itu.
Dave menghempaskan tangan Raisa. “Apa maumu?”
Raisa tidak menyerah, dia kemudian menuntun anak perempuan kecil itu mendekat ke Dave. “Dave, lihatlah dia anakmu!” Ucap Raisa.
Dave hanya melirik sekilas. “Kau jangan bercanda, bagaiman bisa anak ini anakku?Dia tidak mirip sama sekali denganku!”
Raisa tidak kehilangan akal dia mengambil amplop putih yang berisi tes DNA putrinya. Disana tertulis 99% hubungan putrinya dan Dave adalah anak dan ayah kandung.
Dave tidak percaya dengan apa yang dibacanya, dia masih berdiri mematung memegang kertas putih itu.
“Dave, kau pasti tidak percaya padaku kan?”
“Ya, aku sama sekali tidak percaya padamu. Dari mana kau bisa dapatkan hasil tes DNA ini?”
“Dave, apa kau lupa?Dulu kau sering meminta bantuanku untuk menggunting rambutmu. Aku selalu menyimpan potongan dari rambut itu. Kau tau saat Vana lahir aku segera melakukan tes DNA dan hasilnya seperti yang kau lihat.” Ucap Raisa menjelaskan.
“Jika dia benar anakku, kenapa kau baru datang sekarang?Kenapa bukan saat dia masih di kandunganmu?” Tanya Dave penasaran.
Rasia kembali mendekati Dave, dia menangis di hadapan Dave. “Dave satu bulan setelah meninggalkanmu, aku baru menyadari aku hamil. Saat itu aku merasa frustrasi, aku tidak berani mendekatimu. Aku tau kau sangat marah padaku, aku memilih untuk mempertahankan anak ini sendiri. Saat dia sudah lahir aku berniat kembali untuk menemui, tapi saat itu apartemenmu ada Lusi. Lusi bilang dia kekasihmu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku pergi dari apartemenmu dengan rasa kecewa. Aku meninggalkan kota ini bersama vara, aku yakin aku bisa hidup berdua saja dengan vara. Tapi, kenyataanya aku salah saat memasuki kelompok bermain vara butuh sosok seorang ayah untuk tumbuh kembangnya, vara butuh ayahnya agar tidak di ejek oleh teman-temanya. Makanya aku memutuskan untuk memberanikan diri menemuimu. Aku mencari kontak Gio dari temanku, aku meminta bantuan Gio untuk bertemu denganmu.” Raisa menjelaskan panjang kali lebara tentang identitas Vara.
“Aku tidak percaya!Kau jangan membual!”
Raisa masih menangis di hadapan Dave. “Dave, aku tidak membual begitulah kenyataanya. Aku tau kau sudah menikah, Gio sudah menceritakan semuanya. Tapi, Vara juga membutuhkan sosok ayahnya Dave. Lihatlah Dave, lihat baik-baik putrimu.” Raisa memelas di hadapan Dave.
Dave menatap anak kecil yang sedang ketakutan itu. Dia mulai mencerna setiap kata per kata dari apa yang disampaikan Raisa. “Raisa aku sudah punya istri, istriku sedang hamil.” Ucap Dave.
“Tidak masalah Dave, aku tidak keberatan. Aku hanya butuh kau menjadi ayah bagi Vara, aku tidak mau Vara menjadi bahan olok-olok an teman-temanya karena tidak punya ayah.” Kata Raisa dengan sesenggukan.
“Raisa, aku...”
.
.
.
Bersambung..
Like
Like
Like
Komen
Komen
Komen
Vote
Vote
Vote