My Dave

My Dave
S2 Dave dan Raka



***


Di apartemen Jasson.


Selama perjalanan menuju apartemen Jasson, Sasya tetidur. Terpaksa James harus menggendong Sasya dari basement sampai ke apartemen Jasson.


“Kenapa dia ringan sekali, apa dia tidak pernah makan?” Gumam James seorang diri. Juan sudah lebih dulu masuk ke apartemen Jasson.


“James, apa yang kau lakukan pada Sasya?Kenapa dia?” Manda terlihat khawatir. Apalagi Sasya dalam keadaan tidak sadarkan diri dan berada di gendongan James.


“Dia mabuk, Manda. Apa kau tidak bisa mencium baunya?” Sahut Juan. Manda pun mendengus ke tubuh Sasya lalu menutup hidungnya. Ada bau alkohol dari tubuh Sasya.


“Kan, sudah ku katakan jangan biarkan dia mabuk. Apa kau tidak mendengarkan kakakmu lagi?” Hardik Jasson.


“Iya, kenapa kau biarkan dia minum?” Manda tampak menimpali ucapan Jasson.


“Kak Jasson, Manda, bisakah kalian menanyakan hal itu nanti?Aku harus membaringkannya dulu, dia dangat berat. Punggungku bisa patah terlalu lama menggendongnya.” Gerutu James. Ia baru saja masuk ke dalam apartemen namun sudah di hadang oleh Jasson dan Manda.


“Eh, iya. Baringkan dia di sofa.” Ucap Manda.


“Tidak!Baringkan dia di kamar.” Jasson menunjuk letak kamar tamu yang berada di sebelah kamar pribadinya. James pun langsung menuju kamar tamu untuk membaringkan Sasya.


“Kenapa di kamar?” Tanya Manda pada Jasson. Ia tidak mengerti niat Jasson. Bukankah mereka hanya sementara di apartemen Jasson sampai Sasya sadar. Bukan, untuk menginap di apartemen Jasson.


“Memangnya kau mau membiarkan nya tidur di sofa semalaman sampai pagi?” Jasson melewati Manda dan duduk di sofa ruang tamu. Manda mengikuti Jasson, ia duduk disebelah Jasson.


“Kita tidak akan menginap disini, kan?” Tanya Manda.


“Kita akan menginap disini, Manda. Kau tidak lihat Sasya mabuk?Dia bahkan tidak sadarkan diri.”


“Tapi, kita bisa pulang setelah Sasya sadar.” Manda tidak mau menginap di apartemen Jasson.


“Kau pikir dia akan sadar cepat dengan kondisi seperti itu?” Manda pun menggeleng, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Jasson karna dirinya belum pernah mabuk jadi, tidak tau seberapa lama orang mabuk akan sadar.


“Sayang..Setidaknya Sasya akan tidur sampai pagi.” Jasson mengelus lembut rambut kepala Manda. Manda pun manggut-manggut.


“Baiklah, aku akan melihat Sasya.” Berniat meninggalkan Jasson namun Jasson menahan tangannya. Lelaki itu tidak mau melepaskan Manda menemui Sasya walaupun hanya sebentar.


“Tidak perlu melihatnya, lagi pula Sasya tidur.” Ucap Jasson menahan tangan Manda.


“Tapi, aku mau menemuinya. Aku juga mengantuk, aku ingin tidur.” Balas Manda menepis halus tangan Jasson.


“Baiklah, aku akan ikut dengan mu.”


Sampai di kamar tamu, Manda melihat Sasya terlihat tidur pulas. Sementara James terlihat rebahan di sofa dengan kedua mata tertutup.


“Apa James akan tidur di kamar ini?” Manda berbisik pada Jasson karna tidak ingin membangunkan James yang sepertinya baru saja tidur.


“Sepertinya begitu.”


“Lalu Juan?”


“Dia mungkin sudah masuk ke kamarnya.” Juan dan James mempunyai kamar bersama di apartemen Jasson. Ya, apartemen Jasson cukup mewah dan ada banyak ruangan di dalamnya. Termasuk beberapa kamar tidur.


“Oh, kalau begitu Selamat malam.” Hendak berjalan menuju tempat tidur yang sudah ada Sasya diatasnya.


“Kau mau kemana?” Tahan Jasson.


“Tidur!” Menunjuk tempat tidur.


“Kau tidur di kamarku saja.”


“Apa?!” Manda seketika langsung melotot pada Jasson.


“Maksudku, kau bisa tidur di ranjangku. Dan, aku tidur di sofa. Lagi pula apa kau bisa tidur dengannya?” Jasson menujuk tempat tidur yang sudah di kuasi oleh Sasya. Tubuh Sasya terlihat memenuhi tempat tidur itu. Sasya tidur dengan berantakan.


Manda berpikir sejenak.


“Aku tidak akan macam-macam.” Ucap Jasson serius.


“Iya, janji.”


Manda pun mengikuti Jasson menuju kamarnya. Ia berganti pakaian dengan kemeja putih Jasson karna tidak nyaman tidur menggunakan gaun pesta. Setelahnya baru Manda bisa tidur nyenyak.


***


Suasana pagi di Villa luxury sangat tenang tidak seperti biasanya ribut. Suasana tenang itu karna tidak ada Manda dan si kembar pagi itu. Mereka tidak pulang semalam. Jadi, pagi ini Keisya hanya sarapan bersama Dave.


“Sayang ada Alex di ruang tengah.” Ucap Keisya melihat Alex. Ia baru saja selesai sarapan dan berniat mengambil Boy yang sempat ia titipkan pada Stevi, namun sebelum menemukan Boy dan Stevi, Keisya bertemu Alex yang sedang menunggu Dave diruang tengah.


Dave hanya mengangguk dan menghampiri Alex. Sementara Keisya melanjutkan niatnya mencari Boy.


“Tuan.” Alex beranjak berdiri saat melihat Dave menghampirinya.


“Duduklah, apa ada masalah?” Dave duduk disofa dengan kaki bersila.


“Tuan Raka menangkap salah satu anak buah kita yang sedang mengawasinya, Tuan.” Ucap Alex seraya duduk kembali.


“Hem, lalu?”


“Sepertinya tuan Raka sudah tau kita yang mengawasinya, beliau meminta bertemu tuan secara pribadi.” Lanjut Alex.


“Baiklah, kau atur saja waktunya. Memang sepertinya kita harus bertemu.” Dave merasa lebih baik bertemu Raka langsung. Ia juga bisa menanyakan pada Raka apa alasan Raka mengirim orang untuk mengawasi sekitar kediamannya.


“Baik, Tuan.”


“Jangan katakan apa pun pada istriku, jika dia bartanya kau bisa mencari alasan lain!” Tegas Dave tidak mau Keisya tau dirinya dan Raka sedang terlihat masalah. Entah itu benar-benar masalah atau hanya kesalahpahaman.


“Baik, Tuan.”


***


Keisya merasa bosan tidak di perbolehkan keluar Villa oleh Dave. Ia ingin pergi ke butik nya, sudah lama Keisya tidak mengunjungi butiknya. Semenjak hamil tua hingga melahirkan Dave sangat membatasi kegiatan Keisya.


“Apa anda merasa bosan, nyonya?” Tanya Stevi.


“Aku ingin keluar, tapi, Dave pasti tidak akan mengizinkan.” Keluh Keisya.


Boy baru saja tidur. Keisya mempunyai waktu untuk bersantai, namun, ia sudah cukup bersantai dari tadi pagi karna Boy tidak rewel. Bayi kecil itu terlihat menurut pada ibunya. Boy hanya menangis saat lapar atau pup saja.


“Bagaimana kalau anda tidur saja, nyonya. Anda bisa ikut tidur siang tuan kecil.” Ucap Stevi menyarankan. Tidur siang juga bagus untuk kesehatan.


“Aku tidak mengantuk, Stevi.” Tolak Keisya.


Keisya sangat jarang tidur siang bahkan hampir tidak pernah. Ia hanya tidur siang saat Dave libur, itupun karna Dave yang mengajaknya. Yah, Dave sering menyiksa Keisya di siang hari saat lelaki itu libur. Menyiksa di ranjang bukan menyiksa dalam artian kekerasan dalam rumah tangga.


“Jika nyonya tiduran pasti nyonya akan mengantuk.” Usul Stevi lagi.


“Tidak..tidak, tidur bukan pilihan yang cocok saat ini. Lebih baik aku membuat kue saja.” Ucap Keisya.


“Em, membuat kue bukan ide yang buruk, nyonya.” Stevi setuju dengan niat Keisya.


“Kalau begitu kau panggil pak Mo untuk menjaga Boy, dan kau temani aku membuat kue.”


“Baik, nyonya.”


Keisya dan Stevi menghabiskan waktu siang sampai sore hari untuk membuat kue. Ia jadi lupa pada Manda dan si kembar yang tidak pulang sejak semalam.


.


.


.


.