My Dave

My Dave
S2 Sasya dan James



Di Club..


Manda tiba-tiba menarik lengan Jasson untuk meninggalkan ruangan pesta. Ia merasa pusing dengan suara musik di ruangan itu.


“Kenapa sayang?” Tanya Jasson heran, sebelumnya ia hanya mengikuti Manda tanpa bertanya. Kini mereka berada di depan toilet wanita.


“Aku ingin ke toilet, apa kau tidak lihat tulisan itu?”


“Baiklah.”


Beberapa saat kemudian..


“Sudah?” Tanya Jasson dan Manda pun mengangguk.


“Kalau begitu ayo kembali ke dalam.” Ajak Jasson seraya menggandeng lengan Manda.


“Tidak mau, aku mau pulang saja.” Tolak Manda seraya melepas tangan Jasson yang masih menggandeng lengannya.


“Pulang?Tapi acaranya belum selesai, sayang.”


“Kau bisa tinggal sampai acara selesai, aku bisa pulang sendiri.” Manda berjalan mendahului Jasson meninggalkan toilet.


“Baiklah, baiklah. Kita pulang, biar aku menghubungi Juan dan James dulu.” Menahan Manda dengan menarik lengannya. Jasson pun menggenggam tangan Manda dengan tangan kirinya agar perempuan itu tidak kabur. Sementara tangan kanan Jasson memegang benda pipih yang ia gunakan untuk menghubungi kembarannya.


‘Hallo!Kakak dimana?’ Sahut James diseberang.


“Aku baru saja mengantar Manda ke toilet, aku akan pulang sekarang. Kalian mau pulang bersama atau menunggu acara selesai.” Tanya Jasson.


‘Sepertinya kita juga akan pulang, tapi, ada masalah, kak.’


Jasson mengernyit. “Masalah apa?Apa kau berebut perempuan dengan tamu lain?” Tebak Jasson.


‘Tidak, tidak, bukan itu. Ini lebih serius, cebol mabuk. Kita tidak bisa pulang ke Villa luxury.’


“Bagaimana Sasya bisa mabuk?Bukankah sudah ku katakan jaga bocah itu!” Suara Jasson sedikit meninggi.


“Siapa yang mabuk?” Manda menimpali, ia menatap Jasson meminta jawaban. Ia mendengar samar-samar percakapan Jasson dan James.


“Sebentar, sayang.” Jasson menatap lembut Manda dan menjauhkan benda pipih itu dari telinganya, ia menyahuti perkataan Manda.


‘Pokoknya ceritanya panjang, kita pulang kemana, kak?’ Tanya James.


‘Kak?Kak, Halooooo!’


Jasson kembali mendekatkan benda pipih itu ke telinganya. “Pulang ke apartemenku!” Ucap Jasson seraya mematikan teleponnya tanpa menunggu sahutan dari James.


“Bagaimana Sasya bisa mabuk?” Tanya Manda khawatir. Jasson pun memasukan benda pipih yang baru saja ia gunakan untuk menelpon James ke dalam saku celananya.


“Aku tidak tau cerita pastinya, nanti kau bisa tanyakan langsung pada James. Sekarang kita pulang!” Jasson mengajak Manda meninggalkan Club. Mereka berjalan menuju basement.


“Kita pulang ke apartemenmu?” Jasson pun mengangguk.


***


Di ruangan VVIP tempat Sasya mabuk. Perempuan itu masih tiduran berbantal paha James.


“Dimana mereka?” Tanya Juan seraya menyesap rokoknya.


“Sekarang mungkin di basement, Kakak dan Manda akan pulang lebih dulu. Kita akan menyusul ke apartemen kak Jasson.” Balas James.


“Baiklah, ayo!” Juan mematikan rokoknya, ia pun bangkit berdiri seraya meraih jas yang tadi sempat ia lampirkan di punggung kursi.


“Sasya ayo kita pulang.” Ucap James menunduk menatap Sasya. Perempuan itu menggeleng, membuat James merasa geli karna Sasya menggerakan kepalanya di paha James.


“Kalau kau tidak mau pulang, kau bisa tinggal disini. Kami akan pulang!” Tegas Juan menatap tajam Sasya.


“Hiks..hiks..hiks.. jahat, dia jahat James.” Sasya malah menangis dan menyembunyikan wajahnya ke perut James. Ia memeluk erat peluk James seraya menyembunyikan wajahnya disana.


“Huft, Sasya, Juan benar jika kau tidak mau pulang aku akan meninggalkanmu!” Reflek James menyentuh rambut Sasya dan membelainya lembut.


James hanya bisa menghela nafas kasar. Mau tidak mau ia pun terpaksa membujuk Sasya sendirian.


“Sasya lihat aku!” Pinta James lembut.


Sasya menggerakan kepalanya, ia pun mendongak dan menatap James. Entah apa yang terjadi Sasya menyentuh bibir James dengan jari jemarinya. “James, apa kau sudah pernah berciuman?” Tanya Sasya seraya mengusap lembut bibir James dengan jari telunjuknya.


“Untuk apa kau bertanya?”


“Aku penasaran karna belum pernah, apa mau mau menciumku?” Sasya masih menelusuri bibir James dengan jari telunjuknya.


“Apa kau ingin merasakan ciuman?” Tanya James dan Sasya pun mengangguk pelan. James malah tersenyum, ia menahan jari jemari Sasya dengan tangan kanannya. Lalu James mengangkat paksa tubuh Sasya, James pun beridiri dengan menggendong Sasya ala bridal style.


“Aku ingin ciuman bukan gendongan!” Protes Sasya namun diabaikan oleh James. Lelaki itu malah berjalan keluar dari ruangan VVIP.


“Diamlah, kita harus pulang!” Balas James.


“Kau sungguh pelit, padahal aku hanya ingin merasakan ciuman.” Cebik Sasya.


James menghentikan langkahnya dan Cup.. Ia menundukkan kepalanya dan mengecup sekilas bibir Sasya. “Sudah!” Melanjutkan langkahnya.


“Tidak kerasa, mau lagi!” Rengek Sasya.


“Kau jangan melunjak, cebol!” Balas James cuek.


“Aku hanya mau lagi.” Ia mengerucutkan bibirnya yang sukses membuat James merasa gemas.


James pun menurunkan Sasya dari gendongan ala bridal style nya. “Kau berisik, lebih baik kau jalan sendiri saja!” James berjalan mendahului Sasya.


Bukannya mengikuti James, Sasya malah sendirian di tembok. Ia menyentuh bibirnya sendiri dan tersenyum-senyum.


“Apa yang kau lakukan, Sasya?!” James membalik tubuhnya. Ia berjalan kembali menghampiri Sasya.


Sasya yang melihat James kembali kearahnya merasa senang. Ia menunggu James sampai laki-laki itu berdiri di hadapanya. Setelah James berdiri tepat di hadapannya, ia mengalungkan kedua tangan nya di leher James. Dengan manjanya Sasya meminta James untuk menciumnya. “Cium aku, James.” Ucap Sasya manja.


James berusaha melepaskan tangan Sasya. Namun, perempuan itu malah semakin erat mengalungkan tangannya di leher James.


“Baiklah, sesuai permintaanmu!” James meraih tengkuk leher Manda dan dengan lembut ia pun mencium bibir Manda. Tangan James beralih memeluk pinggang Manda. Ia menarik pinggang Manda agar mendekat pada tubuhnya. James semakin liar, ia mencium Sasya dengan ganasnya. Keduanya berpagutan cukup lama. Hanya James yang mencium Sasya, perempuan itu sepertinya tidak tau cara membalas ciuman James.


Setelah beberapa waktu James melepaskan ciumanya. “Lain kali kau harus membalas ciumanku!” Ucap James seraya melepaskan pinggang Sasya. Sasya juga melepaskan tangannya yang semula melingkar di leher James.


Kini James menggandeng lembut Sasya menuju basement. Perempuan itu hanya diam dan menurut, tidak seperti tadi yang banyak maunya.


“Kenapa kalian lama sekali?Aku hampir meninggalkan kalian!” Gerutu Juan saat melihat James dan Sasya masuk ke dalam mobil.


“Maaf, aku perlu waktu untuk membujuknya.” Jawab James. Padahal James memakai waktu nya untuk berciuman dengan Sasya di lorong.


“Apa dia sudah tidak mabuk?” Juan menghidupkan mesin mobilnya seraya melirik Sasya yang hanya diam duduk di kursi belakang bagian penumpang. Sementara James duduk di depan di sebelah Juan.


“Entahlah.” Balas James singkat.


Sasya merasa aneh setelah berciuman dengan James. Ia merasa detak jantungnya berjalan lebih cepat. Seakan ada gemuruh di dalam jantungnya, sesuatu menari-nari disana. Ia hanya bisa berdiam diri menyembunyikan rasa gugup nya. Kenapa ciuman James sangat berpengaruh pada detak jantungnya?begitu pikir Sasya.


.


.


.


Mampir ke karya author yang lain juga ya teman-teman..


1. Pengacara Tampanku


2. Nice to meet you


Caranya buka profil author dan lihat karya..