
“ Tapi aku ngantuk Kei.”
Keisya tidak melanjutkan niatnya untuk menonton film, “ Baiklah. Kita tidur saja.” Ucap Keisya. Dia mulai berbaring dan meringkuk di dalam selimut memunggungi Dave. Dave pun ikut berbaring.
“ Kau marah?” Tanya Dave.
“ Tidak. Tidurlah!” Jawab Keisya.
Dave menarik tubuh Keisya agar menghadap pada dirinya. “ Ayo!Aku temani nonton film.” Ucap Dave lembut pada Keisya .
“ Lain kalo saja, aku sudah tidak mood.”
“ Jangan marah.”
“ Aku tidak marah!Sudahlah, ayo tidur. Peluk aku.”
Dave langsung mendekap Keisya dalam pelukannya. Cup kecupan lembut mendarat di pucuk kepala Keisya. Mereka mulai memejamkan matanya perlahan.
Pagi-pagi sekali Dokter Zoya sudah datang untuk mencabut infus Keisya dan mengecek keadaan Keisya. Setelah dokter Zoya pergi Dave menyuapi Keisya sarapan, hari ini Dave tidak pergi ke kantor dia ingin
menemani Keisya seharian.
“ Apa kau tidak ke kantor?” Tanya Keisya.
“ Tidak, hari ini waktuku untukmu.” Jawab Dave di sela-sela menyuapi Keisya.
“ Bukankah kau terlalu sering ambil cuti akhir-akhir ini?”
“ Tidak masalah, lagi pula aku yang punya perusahaan.” Kata Dave dengan senyum bangga.
“ Kau tidak takut bangkrut jika presdirnya seenaknya seperti ini?”
“ Selama aku yang jadi Presdir, grup Wilson tidak akan pernah jatuh!” Dave mengambilkan minum untuk Keisya.
Menyentuh gelas dan meminumnya sendiri, “ Sombong.” Ucap Keisya.
Setelah sarapan Dave menemani Keisya menonton film seperti yang diinginkan Keisya semalam, mereka menonton film di kamarnya. Keisya menyenderkan dirinya di bahu Dave, dengan memangku bantal sofa Kecil.
Tok tok ...Dave berjalan kearah pintu untuk membukanya. Dilihatnya pak Moo berdiri dibalik pintu. “ Ada Apa?” Tanya Dave.
“ Maaf Tuan, di bawah ada nona Sisi ingin bertemu Nyonya.”
“ Siapa, Dave?” Teriak Keisya dari dalam kamar.
“ Sayang, Pak Mo bilang ada Sisi di bawah.” Kata Dave menjawab Keisya.
Keisya langsung berjalan ke arah pintu melewati Dave dan pak Mo langsung turun untuk menemui Sisi. Dave pun kembali ke kamar dan laptopnya. Keisya sangat senang sahabatnya itu berkunjung, Sisi tau kediaman Dave, karena saat Keisya pertama kali pingsan pas tau sedang hamil Sisi menjenguk Keisya bersama Sasya dan David.
“ Sisi!” Keisya berlari untuk memeluk sahabatnya itu, “ Tumben kemari?”
“ Aku Merindukanmu!” Jawab Sisi. Setelah berpelukan Keisya mengajak sisi untuk mengobrol di gazebo halaman belakang. Sisi terlihat lemas seperti tidak bersemangat.
Keisya mengamati sahabatnya itu, “ Ada apa?” Tanya Keisya.
“ Aku akan di jodohkan oleh keluarga dari ayahku, kau tau ayah dan ibuku sudah lama cerai. Dulu dia tidak peduli padaku dan ibu, tapi sekarang di tiba-tiba datang dan ingin menjodohkan aku dengan orang yang bahkan tidak aku kenal. Apa itu menurutmu masuk akal?”
“ Tidak masuk akal, Apa ibumu setuju dengan perjodohan ini?” Tanya Keisya.
Sisi menunduk lemah, “ Ibu setuju.” Lirih Sisi, seraya meminum teh yang baru saja disajikan oleh pelayan. Pak Mo sudah memerintahkan pelayan untuk menyajikan teh dan camilan.
“ Bagaimana denganmu?”
“ Aku juga setuju.” Jawab Sisi dengan berkaca-kaca.
Sisi memejamkan matanya dan bersandar di bahu Keisya, “ Aku tahu, aku sudah memikirkannya.”
“ Baiklah, jika begitu jangan bersedih.”
Keisya dan Sisi mengobrol di gazebo rumah belakang. Banyak sekali hal yang mereka bahas. Sementara Keisya dan Sisi mengobrol, Dave memeriksa pekerjaanya di ruang kerjanya. Alex terlihat datang ke kediaman Dave, sepertinya sedang melaporkan sesuatu.
Siang harinya Sisi pamit pulang, dia harus menyelesaikan novel yang sedang ia tulis. Padahal Keisya ingin Sisi tinggal dan makan siang bersama tapi Sisi tidak bisa. Keisya kembali ke kamarnya tapi dia tidak menemukan Dave di kamarnya. Keisya kembali ke bawah untuk mencari Dave. Keisya menuju ruang kerja Dave, dia mengetuk pintu dulu sebelum masuk setelah mendapat sahutan dari Dave barulah Keisya masuk ke ruang kerja Dave. Dilihatnya Alex dan salah satu anak bukanya tengah berdiri di depan meja kerja Dave. Saat tau Keisya yang masuk, Alex langsung pamit pergi. Alex membungkuk pada Keisya yang berjalan kearah Dave. Kemudian Alex meninggalkan ruang kerja Dave.
“ Apa Sisi sudah pulang?” Tanya Dave seraya menarik Keisya agar duduk di pangkuannya.
“ Sudah.” Jawab Keisya yang sudah duduk di pangkuan Dave.
Dave mencium tengkuk leher Keisya, “ Sayang, kau wangi sekali.”
“ Sabun mandi ku baru, ini hadiah dari Sunny.”
“ Aku suka wanginya, dari mana dia membelinya?” Tanya Dave yang masih menciumi Keisya.
“ Dave, geli.” Ucap Keisya, dia turun dari pangkuan Dave karena merasa geli. Dave tentu saja kecewa, karena sebenarnya dia ingin melakukan lebih dari ciuman. Keisya menarik tangan Dave agar beranjak dari duduknya, Dave pun menuruti kemauan Keisya. Keisya mengajak Dave untuk keluar dari ruang kerjanya.
“ Pak Mo, tolong siapkan mobil!”
“ Baik, Nyonya.”
Dave memasangkan seatbelt pada Keisya yang duduk di sebelahnya. “ Mau diantar kemana Nyonya?” Tanya Dave yang sudah siap menginjak pedal gas.
“ Taman bermain.” Jawab Keisya.
Dave kemudian melajukan mobilnya menuju taman bermain di pusat kota sesuai permintaan Keisya.
***
Manda dan kakek John baru saja pulang dari bersepeda, padahal sudah siang. Tadi pagi Manda berangkat bersepeda bersama Kakek Mo sekitar pukul 05:00. Selesai bersepeda dan juga makan bubur ayam, Manda mengajak kakek Mo untuk menemaninya berlatih taekwondo. Setelah berlatih taekwondo Manda mengajak Kakek untuk makan siang di luar, barulah mereka kembali ke Villa luxury.
“ Selamat datang kembali Nona Manda, makan siang sudah siap.” Ucap Pak Moo saat Manda masuk rumah.
“ Saya sudah makan siang bersama Kakek John di luar pak. Apa kakak masih di kamarnya?” Tanya Manda pada pak Moo.
“ Nyonya Keisya baru saja keluar bersama Tuan.”
Manda manggut-manggut, “ Baiklah, aku akan ke atas. Kakek anda beristirahatlah juga.” Ucap Manda pada kakek.
Manda kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri, sementara kakek John bersama pak Mo. Sesudah membersihkan diri Manda memilih untuk tidur siang, dia merasa lelah setelah bersepeda dan lagian taekwondo.
***
Di tengah perjalanan Keisya tiba-tiba merasa mual. Dave sangat panik saat istrinya mual-mual, dia langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan.
“ Sayang, kau tidak papa?Apa perlu kerumah sakit?” Tanya Dave.
“ Tidak papa Dave, sudah biasa bagi ibu hamil merasakan mual.”
Dave menyodorkan air putih untuk Keisya, dia menepuk lembut punggung Keisya. “ Apa mualnya datang sewaktu-waktu?Apa tidak pakai jadwal khusus?”
Keisya tertawa mendengar pertanyaan suaminya itu, “ Dave Bagaiman mual bisa pakai jadwal?”
“ Ya, siapa tau saja. Jadi kamu kan bisa lebih siap saat datang mual, jika terjadwal.” Ucap Dave.
Bersambung...