
Dave menoleh ke arah suara, dilihatnya pria paruh baya tengah berlari menghampiri Dave.
“ Siapa?” Bisik Keisya pada Dave.
“ Entahlah, aku lupa.” Jawab Dave.
“ Tuan, Apakah Tuan masih ingat saya?” Tanya pria paruh baya itu.
Dave tak bergeming dia mencoba mengingat siapa pria tua itu. “ Apa saya mengenal Tuan?” Tanya Dave datar.
“ Tuan tidak ingat saya?” Tanyanya dengan sedih, “ Saya pemilik penginapan di kota B, dulu Tuan sempat bermalam di penginapan saya. Saat itu Tuan bersama tunangan Tuan.” Pria tua itu menjelaskan.
Dave masih tidak ingat. Sementara Keisya langsung melepaskan gemgaman tangan Dave, saat dia mendengar kata tunangan dari mulut pria tua itu. “ Oh, Saya Ingat Tuan yang membantu saya saat terjebak badai dan mobil saya mogok?”
“ Yaya, betul sekali Tuan. Saat itu Tuan beserta rombongan terjebak hujan deras, saya mengajak Tuan untuk menginap di penginapan saya.”
“ Wah, sudah lama sekali ya. Bagaimana kabar anda Pak Kim?” Dave mengulurkan tangannya menjabat tangan pak Kim.
“ Baik, Baik sekali Tuan. Berkat bantuan dana dari Tuan, penginapan saya bisa berjalan sampai sekarang. Saya sangat berterimakasih Tuan.”
“ Jangan sungkan Pak, saya yang lebih berterimakasih atas bantuan bapak saat itu. Jika tidak ada Bapak, mungkin kami bisa mati karena badai.”
“ Lalu ada urusan apa Tuan di kota ini!”
Dave yang menyadari Keisya melepaskan tangannya segera menggandeng Keisya lagi. “ Saya sedang mengunjungi Ayah mertua di kota ini.” Jawab Dave.
“ Tuan, Sudah menikah?”
“ Ya, Perkenalkan ini Keisya istri saya.” Ucap Dave memperkenalkan Keisya.
“ Oh, Panggil Pak Kim saja Nona.” Pak kok memperkenalkan diri pada Keisya.
“ Keisya.” Keisya seperti enggan berkenalan dengan Pak Kim. Setelah berjabat tangan dengan pak Kim, Keisya izin pada Dave untuk mencari toilet umum. Dia meninggalkan Dave dan Pak Kim.
“ Saya kira Tuan akan menikah dengan Nona Lusi.” Ucap Pak Kim setelah Keisya pergi, namun Keisya masih bisa mendengar perkataan Pak Kim.
“ Saya dan Lusi hanya berteman.” Jawab Dave datar. Dia melirik Keisya yang sedang berjalan.
Pasti dia akan marah.
Dave dan Pak Kim mengobrol sampai pak Kim memutuskan untuk pamit karena sudah terlalu lama mengobrol. Dave kemudian mencari Keisya.
Kemana dia, lama sekali. Jangan-jangan dia kabur lagi.
Dave mencari Keisya ke toilet umum, tapi tidak menemukan Keisya. Dia berkeliling sendiri di pasar malam celingak celinguk mencari Keisya tapi nihil. Akhirnya Dave mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Alex.
📞 Alex cari keberadaan istriku! .
Tak berapa lama ponsel Dave berbunyi, ada pesan masuk dari Alex berisi tempat keberadaan Keisya. Dave segera menuju lokasi yang di kirim Alex. Ternyata Keisya tengah bermain capit boneka. Dave menghampiri istrinya itu. Dia memeluk Keisya dari belakang. “ Apa kau marah?” Tanya Dave.
“ Tidak.” Jawab Keisya datar. Dia melepaskan tangan Dave yang tengah melingkar di perutnya. Lalu berjalan meninggalkan mesin capit boneka.
Dave mengikuti Keisya dari belakang. Dia menyadari Keisya sedang marah. Jadi, Dave memilih diam dan mengikuti Keisya saja.
“ Kita pulang saja!” Ajak Keisya.
Dave menuruti kemauan Keisya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Keisya tidak bicara sama sekali saat perjalanan pulang. Sesampainya dirumah lampu sudah padam, ayah dan ibu sudah tidur. Keisya dan Dave langsung menuju kamar mereka. Keisya membersihkan diri, setelah itu tidur di ranjang tanpa menyapa Dave yang sedang telfonan dengan Leo.
“ Apa dia Lusi?” Keisya akhirnya bersuara.
“ Iya, tapi aku dan Lusi tidak pernah bertunangan. Saat itu Lusi yang mengaku menjadi tunanganku.”
“ Oh.”
“ Kau marah?”
“ Tidak!” Keisya berbalik dan menghadap Dave, kini dia membenamkan kepalanya di dada Dave. “ Apa kau masih mencintai Lusi!” Tanya Keisya lirih.
“ Mana mungkin. Aku mencintaimu, hanya kamu!” Dave membelai rambut Keisya dengan lembut. “ Sayang, saat menikah denganmu satu-satunya wanita di hatiku hanya kamu. Dan sekarang kita akan segera punya anak, aku harap kamu tidak lagi meragukan aku.”
“ Aku percaya padamu Dave.”
“ Terimakasih.”
Dave dan Keisya akhirnya tertidur saling berpelukan.
Pagi harinya Keisya dan Dave memutuskan untuk kembali ke kota S. Setelah menempuh 3 jam perjalanan akhirnya mereka sampai di kota S. Dave mengantar Keisya ke butiknya.
“ Aku bisa sendiri.” Ucap Keisya saat Dave turun dan membukakan pintu mobil.
“ Saat bersamaku, aku yang akan melakukannya untukmu.”
Dave mengantar Keisya memasuki butiknya. Tiba-tiba langkah Keisya terhenti dan dia langsung berbalik ke arah Dave yang berjalan di belakang Keisya. Keisya mencium bibir Dave tanpa aba-aba. Dave sendiri membelalakkan matanya karena kaget. Ini pertama kalinya Keisya berinisiatif mencium Dave lebih dulu.
“ Hati-hati di jalan sayang, kabari aku ketika kau sampai di kantor.” Ucap Keisya setelah melepaskan ciumanya. Keisya lalu berlari kecil masuk ke dalam butik, sementara Dave masih mematung di tempatnya.
Dave kemudian melajukan mobilnya menuju King. Saat di tengah perjalanan, ada mobil yang sengaja ingin menabarak mobilnya. Dia kemudian menepikan mobilnya dan turun dari mobil. Dave berdiri dengan geram di sebelah mobilnya, mobil yang sempat ingin menabrak Dave telah menjauh.
Dia kemudian kembali melakukan mobilnya menuju King. Alex dan anak juga Dave tengah menunggu kedatangan Dave, mereka berjejer di depan pintu.
“ Bagaimana perkembangannya?” Tanya Dave.
“ Aman Tuan, kita sudah menempatkan orang kita disana.” Jawab Alex.
“ Tetap waspada jangan lengah!” Tegas Dave.
“ Baik, Tuan.”
Dave masuk ke ruangan khusus, di ruangan itu banyak sekali monitor. Entah untuk apa ruangan itu, tidak semua orang bisa memasuki ruangan itu. Hanya Dave dan orang kepercayaannya yang memiliki akses masuk ruangan itu. “ Stop, perbesar gambar itu!” Perintah Dave pada bawahanya yang sedang mengutak atik keyboard komputer yang terhubung di monitor. “ Cari tau kepemilikan mobil itu!” Ucap Dave, ya mobil yang terpampang di layar motor adalah mobil yang tadi sempat ingin menabarak Dave.
“ Baik, Tuan.” Dengan cepat Radit mengetik di keyboard nya mencari informasi kepemilikan mobil yang hampir menabrak Dave. “ Pemilinya Robert, Tuan.”
“ Tuan Robert?” Tanya Dave.
“ Iya, beliau juga paman dari Nona Lusi.”
Bersambung...