
“Baiklah. Aku sudah menyuruh Chen untuk membuatkan sup penghilang mabuk.”
Menarik tangan Keisya. “Sayang, ayo mandi bersama.”
“Tidak mau.”
Pasang muka memelas. “Aku ingin mandi bersama mu.”
“Baiklah, baiklah.” Ucap Keisya langsung menuju kamar mandi untuk menyiapkan air.
Kali ini Keisya dan Dave hanya mandi bersama saja tidak melakukan hal-hal lain saat di kamar mandi.
“Aku bantu pakaikan dasimu.” Keisya mendekat ke Dave.
Dave sudah siap dan turun untuk sarapan bersama dengan Keisya. Di meja makan yang panjang itu sudah siap berbagai macam menu sarapan lengkap dengan sup penghilang mabuk yang di buat Chen.
“Dimana Manda?” Tanya Dave pada pak Moo.
“Nona Manda pergi bersepeda bersama tuan bes-ar, maksud saya bersama kakek J.” Jawab pak Mo hampir keceplosan.
“Kakek J itu kakek yang waktu itu aku ceritakan padamu Dave, sementara beliau tinggal bersama kita.” Ucap Keisya seraya mengambilkan Dave sarapan.
“Oh, aku belum pernah bertemu dengannya.”
“Kamu harus bertemu dengannya Dave, beliau sangat menyenangkan.”
“Benarkah?”
“He’m.”
Sambil sarapan Keisya menceritakan banyak hal tentang kakek John kepada Dave, sementara pak Mo hanya diam kadang sambil menahan tawa mendengar cerita Keisya. Sesudah sarapan Dave mengajak Keisya untuk ikut Dave pergi ke kantornya. Keisya pun pamit pada pak Mo. Dave menuju kantornya dengan mobil yang di kemudikan oleh Leo. Keisya dan Dave duduk di kursi penumpang dengan tenang. Sampai di grup Wilson. Dave langsung menuju ruangannya dengan menggandeng tangan Keisya, Dave tidak mempedulikan para karyawan yang sedang memperhatikannya. Meskipun para karyawan membungkuk sopan saat Dave dan Keisya berjalan lewat tapi tetap saja mereka mencuri pandang untuk melihat wanita yang di gandeng mesra oleh Presdirnya itu.
Sampai diruangannya Dave langsung kerja, sementara Keisya duduk di sofa dan membaca buku. Keisya memperhatikan Dave yang sedang bekerja.
Sangat tampan.
Tok .. tok ..
“Masuk!”
“Presdir 10 menit lagi ada pertemuan dengan ald company.” Ucap Selfi sekertaris Dave.
“Oke.”
Selfi undur diri kembali ke tempatnya. “Kamu jangan kemana-mana sendiri, jika bosan atau lelah masuklah ke ruang pribadiku istirahat. Kau bisa menonton film atau tidur disana. Kata sandi pintunya sama dengan rumahmu.” Ucap Dave yang diangguki oleh Keisya.
Setelah Dave pergi, Keisya langsung menuju ruang pribadi Dave. Dia memilih untuk menonton film sambil rebahan disana. Sudah hampir 2 jam Dave belum kembali ke ruangannya, Keisya pun merasa mengantuk. Dia tertidur di kamar pribadi Dave.
Jam 2 siang Dave baru kembali ke ruangannya, dia tidak menemukan Keisya di ruang utama dan ruang pribadi Dave. Dave bertanya pada Selfi. “Apa kamu lihat kemana istriku?”
“Maaf Presdir, Nyonya Keisya pergi ke kantin.”
“Kenapa tidak kamu ikuti?!” Bentak Dave.
“Sa-saya sudah berniat tapi nyonya melarangnya, nyonya Keisya ngotot mau pergi sendiri. Jadi, saya meminjamkan kartu akses kepada nyonya.” Jawab Selfi dengan takut. Selain Leo dan Alex, Selfi satu-satunya orang perusahaan yang tau Keisya adalah istri Dave.
“Sudahlah.” Dengan marah Dave langsung menyusul istrinya yang berada di kantin.
Dikantin perusahaan, Keisya memesan banyak makanan tapi karena pandangan para karyawan kepadanya tidak bersahabat Keisya lebih memilih untuk membungkus makanan itu dan membawanya naik ke atap. Keisya naik ke atap melalaui pintu darurat. Sampai di atap dia duduk di bangku kecil dan memakan makanannya. “Sayang, mommy tidak sabar untuk bertemu denganmu.” Ucapnya seraya mengelus perut nya yang masih rata.
Keisya menoleh ketika mendengar suara panggil dari orang yang sangat tidak asing. Dia pun tersenyum pada orang itu. Keisya bahkan melambaikan tangannya agar Dave mendekat.
Dave duduk di sebelah Keisya. “Apa yang kau lakukan disini?Kau tau aku mencariku kemana-mana!”
Bersandar pada Dave. “Maaf, Dave. Aku merasa lapar jadi pergi ke kantin.”
“Kau bisa minta tolong Selfi untuk membelikan makanan, kenapa pergi sendiri?Dan kenapa dari kantin berakhir disini?” Dave mengelus lembut rambut Keisya.
“Suasana kantin sangat bising, aku perlu makan dengan tenang. Kau tidak memarahi Selfi kan?Tadi dia mau menemaniku, tapi aku bersikeras pergi sendiri.”
“Aku tidak memarahinya.” Dave melihat makanan apa saja yang di bawa Keisya. Dia pun meminta Keisya untuk menyuapinya, karena Dave juga merasa lapar.
“Enak kan?”
“Aku belum pernah makan di kantin. Rasanya lumayan.” Jawab Dave masih mengunyah makanannya. “Maaf sayang, Daddy membuatmu kelaparan.” Ucap Dave mengelus lembut perut Keisya.
Seketika raut wajah Keisya menjadi sangat cerah, tersenyum senang. “Dari mana kau tau aku disini?”
Flashback On
Sampai di kantin perusahaan Dave tidak menemukan sosok Keisya. Dia menjadi semakin panik. “Leo cari dimana istriku!”
“Baik, Tuan.”
Tanpa butuh waktu lama Leo sudah menemukan dimana keberadaan Keisya. Dia juga menunjukkan rekaman CCTV kantin dimana para karyawan memandang Keisya dengan tatapan tidak bersahabat bahkan ada yang meremehkan Keisya. Leo juga menunjukkan CCTV saat Keisya yang mulai kelelahan karena menaiki anak tangga satu per satu menuju atap. Dave pun merasa geram dengan apa yang dilihatnya, dia langsung memberi perintah pemecatan pada karyawan yang berani meremehkan istrinya. “Leo, aku akan mengadakan konferensi pers untuk hubungan pernikahanku dan Keisya. Siapkan malam ini juga!”
“Baik, Tuan”
Setelah memberi perintah pada Leo, Dave langsung menyusul Keisya ke atap.
Flash back off.
“Dave?!” Teriak Keisya membuyarkan lamunan Dave.
“Leo yang memberitahuku.” Jawab Dave. “Jangan teriak-teriak, tidak cocok dengan image mu yang lemah lembut itu.”
“Habisnya kau tidak mendengarkanku.” Keisya berdiri dan menarik tangan Dave untuk meninggalkan atap. “Ayo pergi!”
Dave berjalan sambil menggandeng tangan Keisya. Sampai di basement sudah ada mobil lengkap dengan pengemudinya menunggu Dave dan Keisya.
“ Kita meninggalkan perusahaan?” Tanya Keisya yang diangguki oleh Dave. “Mau kemana?Apa pekerjaanmu sudah selesai?”
Membantu Keisya memakai seatbeltnya. “Aku akan membawamu ke suatu tempat, dan tenang saja pekerjaanku sudah selesai.”
Dave dan Keisya sampai di salah satu butik terkenal di kota itu. Dave menggandeng mesra Keisya masuk kedalam ruangan VVIV butik tersebut, disana sudah tergantung beberapa gaun yang sangat indah.
“Cobalah!” Dave menyerahkan gaun berwarna merah muda, dengan menurut Keisya langsung masuk ke ruangan ganti dan dibantu oleh pegawai butik.
Beberapa saat kemudian Keisya keluar dengan mengenakan dress pilihan Dave. Dave sangat terpana dengan Keisya yang tampil anggun mengenakan dress itu. “Terlalu cantik. Ganti!” Ucap Dave.
Keisya memilih dress lain lalu masuk kamar pas begitu seterusnya sampai dia mencoba sepuluh dress. “Bagaimana?” Tanya Keisya saat mengenakan dress yang kesebelas.
“Tidak cocok warnanya di kulitmu. Ganti!” Ucap Dave dengan santainya.
Keisya yang sudah merasa lelah pun dibuat marah dengan tingkah Dave yang sedari tadi memintanya bergonta-ganti dress, tapi tidak ada yang sesuai dengan mau Dave. “Dave!!Apa kau bercanda? Dari tadi tidak ada yang cocok, kau bilang terlalu terbuka lah, terlalu kelihatan lekuk tubuh, terlalu pendek, terlalu panjang, terlalu besar, tidak elegan, terlalu gelap, terlalu cerah. Sebenarnya kau mau aku memakai yang seperti apa??aku capek harus bergonta-ganti dress, Kau lupa?Aku sedang hamil Dave!” Suara Keisya meninggi, dia tidak tahan lagi, tingkah Dave benar-benar membuat Keisya marah.
Bersambung..