
Meskipun baru saja melahirkan tubuh Keisya tidak banyak mengalami perubahan. Ia memang pandai merawat tubuhnya.
Saat ini Keisya sangat cantik dengan dress berwarna peach soft. Ia akan menemani Dave menghadiri pesta pernikahan kolega Dave. Dan, pertama kalinya Keisya menemani Dave ke acara formal. Ia nampak gugup, bahkan saking gugup nya telapak tangan Keisya sampai berkeringat.
“Sayang kita hanya akan pergi ke pesta, bukan pergi perang. Kenapa kau gugup sekali?” Dave menoleh pada istrinya.
“Aku takut membuat kesalahan dan mempermalukan mu, Dave.” Ia selalu saja insecure setiap kali akan bertemu dengan kolega Dave.
Dave meraih telapak tangan Keisya dan menggenggamnya lembut, memberikan kehangatan pada telapak tangan yang terasa dingin itu. “Tidak masalah kau mempermalukan ku, aku tidak keberatan, sayang.” Balasnya.
“Tapi, aku yang bermasalah Dave. Aku tidak mau itu terjadi.” Gugup Keisya.
“Dengarkan aku Kei, kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri dimana pun itu. Itu tidak akan mempermalukan ku.” Ucap Dave lembut.
“Baiklah.”
Setelah menempuh perjalanan 40 menit mereka sampai ke tempat acara.
Dave lebih diri turun dari mobil. Ia lalu menunggu Keisya di depan pintu mobil. Dave mengangkat tangannya agar Keisya bisa berpegangan pada Dave saat turun dari mobil.
Mereka masuk ke dalam tempat pesta dengan Keisya yang menggandeng lengan Dave.
“Huh, akhirnya selesai.” Menghela nafas lega. Keisya sudah masuk ke dalam mobil. Ia dan suaminya baru saja selesai menghadiri pesta. Kini mereka dalam perjalanan pulang.
Dave sendiri langsung melepas jas nya bergitu masuk ke dalam mobil. Ia meletakan jasnya di pangkuannya. Dave juga melepas dasinya.
“Sayang, karna boy ada yang menjaga dan kita sedang di luar, bagaimana kalau kita pergi kencan?” Tawar Dave pada Keisya.
“Kencan?”
“Iya, kencan, kita sudah lama tidak pergi berdua, kan?” Lelaki itu ingin jalan-jalan bersama istrinya selagi boy ada yang menjaga.
“Tapi, bagaimana jika boy menyusahkan Manda dan Jasson selagi aku tidak ada?” Ia khawatir teringat pada putra kecilnya yang ia titipkan pada Manda dan Jasson.
“Tidak mungkin, justru lebih lama kita pergi Jasson akan merasa diuntungkan. Dia bisa berduaan dengan Manda selagi menjaga boy.” Ucap Dave yakin. Yah, Dave sangat tau Jasson sedang gencar mengejar Manda. Sekecil apapun kesempatan untuk bisa berduaan dengan Manda pasti tidak akan Jasson sia-siakan.
“Kau yakin begitu?”
“Aku sangat yakin!” Dave mangangguk tegas.
“Baiklah, aku ingin naik kereta bawah tanah dan pergi ke pasar malam.” Ucap Keisya semangat.
“Oke!”
“Leo, pergi ke butik terdekat!Dan, kirimkan satu mobil kesana!” Perintah Dave pada Leo yang sedang menyetir mobil.
“Baik, Tuan. Saya akan menghubungi Alex.” Ucap Leo.
Dave dan Keisya berhenti di sebuah butik untuk berhenti pakaian casual. Karna, tidak nyaman jika jalan-jalan memakai pakaian formal.
Setelah berganti pakaian Dave menyuruh Leo pulang bersama Alex. Ia dan Keisya pergi dengan mobil yang dikirim Alex.
“Pakai sabuk pengamanmu, sayang!” Ucap Dave.
Keisya memakai sabuk pengamannya. “Dave, kita akan pergi ke stasiun terdekat, kan?” Tanya Keisya. Dave pun mengangguk.
“Aku akan memarkir mobil disana, kita bisa naik kereta bawah tanah menuju kota sebelah. Aku dengar disana ada pasar malam yang sangat ramai.” Jawab Dave seraya menghidupkan mesin mobilnya. Ia mulai melajukan mobil meninggalkan area butik.
Sampai di stasiun, Dave memarkirkan mobilnya. Ia lalu membeli tiket kereta bawah tanah. Penumpang tidak begitu ramai, Keisya dan Dave bisa duduk dengan tenang.
Sampailah mereka di kota sebelah.
“Kita naik apa?” Tanya Keisya setelah turun dari kereta.
“Aku sudah menyuruh orang untuk menjemput. Kemungkinan mereka menunggu di luar.” Dave meraih ponselnya di saku. Laki-laki itu meletakan ponselnya di dekat daun telinga. Ia menelepon orang yang sudah diperintahkan nya untuk menjemput dirinya dan Keisya.
Selagi menunggu Dave selesai bertelepon, Keisya mengirim pesan pada Manda.
Selamat bersenang-senang, kak. Pergilah lebih lama, boy aman bersamaku (emot senyum). -Manda.
“Ayo sayang!” Dave baru saja selesai bertelepon. Ia memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
“Tunggu dulu, Dave.” Memasukan ponselnya ke dalam tas.
“Kau menghubungi Manda?” Tebak Dave.
“Iya, aku mengatakan padanya kita sedang kencan.” Jawab Keisya.
“Bagaimana balasan Manda?”
“Dia menyuruh kita untuk pergi lebih lama, dia bilang boy aman bersamanya.” Keisya meraih lengan Dave untuk ia gandeng.
Dave manggut-manggut.
***
Jasson sedang menimang-nimang boy yang rewel. Jasson berjalan kesana kemari seraya menyanyikan lagu anak-anak. Bayi laki-laki itu menolak untuk tidur. Padahal Manda sudah memberinya susu. Jasson juga sudah mengganti semua popoknya dengan yang baru.
“Apa kau lelah?Biar aku yang menggendongnya!” Manda mendekati Jasson berniat menggantikan Jasson menggendong boy.
“Kau bisa menggendongnya?” Jasson menaikan alis sebelahnya. Mengganti popok saja Manda tidak bisa. Ia tidak yakin Manda bisa menggendong boy dengan benar.
“Bisa, asal pakai gendongan khusus.” Yang dimaksud Manda adalah gendongan modern yang mempermudah ibu muda untuk menggendong bayi baru lahir.
Jasson menggeleng kan kepalanya. “Biar aku saja yang menimang-nimang boy.” Ucap Jasson tidak ingin mengambil resiko. Ia takut Manda tidak bisa dan malah menjatuhkan boy.
“Kau meragukan ku?” Tanya Manda dengan tatapan menyelidik. Ia merasa Jasson meremehkannya.
“Tidak, aku hanya tidak mau kau lelah. Biar aku yang menggendongnya. Kau duduk saja.” Jasson menunjuk sofa panjang di dekat pintu kamar.
“Cih, kau pasti tidak percaya aku bisa menggendongnya.” Gerutu Manda sebal. Ia melangkah dengan menghentak hentakan kakinya karna sebal, Manda pun duduk di sofa yang tadi ditunjuk Jasson.
Jasson menyunggingkan senyum tipis. Ia geleng-geleng kepala melihat tingkah Manda. Lelaki itu menghampiri Manda bersama boy.
“Ambil itu!” Alas tidur boy yang seukuran bantal orang dewasa.
“Untuk apa?” Tanya Manda.
“Ambil saja, lalu letakan di pangkuanmu!” Perintah Jasson.
“Tapi, untuk apa?” Tanya Manda.
“Jangan cerewet, ambil saja letakan di pangkuanmu!” Jasson gemas, perempuan yang dicintainya itu suka sekali membantah dan banyak bicara.
“Iya..iya.” Manda meraih alas tidur boy dan meletakkannya di pangkuannya. “Sudah, puas?” Tanya nya pada Jasson. Lelaki itu tersenyum.
Jasson sedikit membungkuk ia mengangkat tubuh boy dan meletakan boy di pangkuan Manda yang sudah ada alas tidur boy.
“Kau memintaku memangkunya?” Tanya Manda, boy sudah berada di pangkuan Manda.
“Aku tau kau ingin memangkunya.” Ucap Jasson lembut seraya menaruh bantal kecil di bawah kepala boy. Bayi laki-laki itu terlihat tersenyum saat Jasson menggodanya.
“Dia tersenyum padamu.” Ucap Manda.
“Dia tau aku tampan.” Jasson duduk di sebelah Manda.
“Boy, tidakkah paman Jasson terlalu narsis?” Manda mengaja boy untuk berbicara. Bayi kecil itu tersenyum-senyum menanggapi Manda maupun Jasson.
.
.
.