My Dave

My Dave
Mencemaskan mu



Hari berikutnya Dave dan Keisya akan menghadiri pernikahan Sisi dan David. Semua anggota keluarga ikut hadir di pernikahan Sisi, termasuk Juan dan James.


Pernikahan Sisi dan David berjalan lancar. Setelah acara selesai semua kembali ke rumah masing-masing. Malam ini Juan dan James kembali menginap di Villa luxury.


Sampai di rumah Dave dan Keisya langsung membersihkan diri. Keisya memakai piyama tidurnya yang berupa dress terusan.


Keisya duduk berselonjor di ranjang dengan bersandar pada punggung ranjang. Ia merasa sangat lelah hari ini. Tadi saat di pesta pernikahan Sisi, Keisya banyak sekali bertemu dengan teman Dave. Terpaksa ia pun ikut Dave menyapa teman-temannya.


“Apa kau lelah, sayang?” Dave mendekati Keisya, berbaring dengan bertumpu paha Keisya.


“Aku sedikit lelah, Dave. Untung saja boy tidak rewel hari ini.” Keisya mengelus-elus rambut Dave dengan lembut.


Dave meraih tangan Keisya yang sedang mengelus rambutnya, kemudian mencium punggung tangan Keisya. “Aku mencintaimu, Kei.”


“Aku juga mencintaimu, Dave.”


Dug.. tiba-tiba saja perut Keisya berkedut. Dave yang sedang tiduran bertumpu paha Keisya pun bisa merasakan hal itu. “Boy menendang sayang, aku merasakannya.” Ucap Dave girang menyentuh perut Keisya.


“Iyaa, mungkin dia juga bisa merasakan saat Daddy mengatakan cinta pada mommy nya.”


“Boy, Daddy juga mencintaimu. Kamu dan mommy adalah harta berharga Daddy.” Cup..cup.. Dave menciumi perut Keisya dengan lembut.


“Daddy, mommy mengantuk.” Keisya berbicara dengan nada anak kecil dan mulai menguap.


Dave langsung bangkit. “Baiklah, mari kita tidur mommy.” Dave menuntun Keisya untuk berbaring. Setelahnya Dave menepuk-nepuk bahu Keisya dengan lembut, dan tidak butuh waktu lama Keisya pun tertidur.


Setelah Keisya tertidur Dave berusaha memejamkan matanya juga tapi ia tak kunjung tidur. Akhirnya Dave bangkit, mengambil wine dan menyendiri di balkon. Entah mengapa beberapa hari ini Dave merasa cemas.


Apa yang Dave cemaskan, Dave juga tidak tau. Dave hanya merasa harus selalu disamping Keisya.


Dave pun mengirim pesan pada Leo untuk menyelidiki keberadaan Farhan. Apakah Farhan masih ada di negara B atau tidak.


Sekitar pukul 01:00 dini hari Dave kembali kekamarnya, ia langsung berbaring di sebelah Keisya dengan memeluk Keisya dan tertidur.


Keesokan paginya Dave harus pergi keluar negeri selama seminggu. Keisya mengantar Dave ke bandara bersama Stevi dan pengawalnya. Dave pergi dengan pesawat komersial. Tidak seperti biasa menggunakan jet pribadi, kali ini Dave ingin merasakan menjadi penumpang umum.


“Kabari aku setelah sampai, Dave.” Keisya manja di pelukan Dave. Sudah 15 menit Keisya membenamkan kepalanya di dada bidang Dave. Rasanya Keisya tidak mau melepaskan pelukan Dave.


“Sayang, apa aku tidak usah pergi?Biar Leo saja yang pergi?” Tanya Dave masih dalam posisi memeluk Keisya. Entah mengapa Dave juga enggan meninggalkan Keisya.


“Jangan, kau harus tetap pergi. Kau harus bertanggung jawab untuk perusahaan mu.” Ucap Keisya, ia melepaskan pelukannya dari Dave.


“Baiklah, aku janji tidak akan lama. Setelah semua beres aku akan segera pulang.” Dave memegang kedua bahu Keisya dan meyakinkan Keisya.


Keisya mengangguk. “Aku akan menunggumu.” Sekali lagi Keisya memeluk Dave.


Setelah berpamitan yang cukup lama akhirnya Dave berangkat juga. Keisya pun kembali ke Villa bersama Stevi.


Sampai di Villa terlalu sepi. Karena merasa bosan Keisya memutuskan untuk pergi ke butik. Sampai di butik Keisya langsung membantu karyawan melayani pengunjung butik yang saat itu cukup ramai.


“Nyonya jangan terlalu capek, ingat kandungan nyonya lemah.” Bisik Stevi pada Keisya. Stevi tidak bisa membiarkan Keisya kelelahan atau dia sendiri yang akan mendapat hukuman dari Dave.


“Aku mengerti, aku akan istirahat di atas.” Jawab Keisya, ia berjalan menunju lantai atas. Padahal Keisya masih ingin membantu karyawan butik. Tapi jika Keisya melakukannya dan kelelahan, Dave pasti akan marah.


Sampai di lantai atas Keisya tiduran di kamarnya dan akhirnya ketiduran.


Malam itu Keisya memutuskan untuk menginap di butik. Nanti sepulang kuliah Manda akan menyusul Keisya. Tentu saja pengawal akan berjaga di butik dan beberapa pengawal bayangan akan berjaga di luar butik.


Sudah pukul 20:00 Dave belum menghubungi Keisya. Padahal seharusnya Dave sampai 3 jam yang lalu. Keisya sudah merasa cemas. Ia memilih untuk menghubungi Dave lebih dulu.



Berkali-kali Keisya menghubungi Dave tapi tidak menyambung. Ia tambah cemas. Kebiasaan Keisya saat cemas ia akan menggigit kukunya. Keisya mondar-mandir di kamarnya sambil terus menghubungi Dave. Tapi masih tidak menyambung.



“Stevi!”


“Ya Nyonya.”


“Apa kau bisa menghubungi Alex?Tolong tanyakan pada Alex apakah dia bisa menghubungi Dave.”


“Baik, nyonya.”


Dengan cepat Stevi menghubungi Alex. Setelah beberapa saat Stevi kembali untuk melapor pada Keisya.


“Maaf, Nyonya. Alex juga belum bisa menghubungi Tuan Muda.” Jawab Stevi lirih. “Nyonya mungkin Tuan sedang sibuk jadi belum sempat menghubungi nyonya.” Stevi mencoba menenangkan Keisya.


“Kau benar. Mungkin aku yang terlalu khawatir.” Keisya kemudian kembali duduk di ranjang. Ia akan bersabar untuk menunggu Dave menghubunginya.


Manda baru saja sampai di butik dan menghampiri Keisya. “Kak, apa kakak sudah makan?”


“Belum, aku menunggumu.” Jawab Keisya.


Manda membawakan makan malam untuk Keisya dan para pengawalnya. Sebelum menyusul Keisya, Manda pulang ke Villa dulu untuk mengambil makan malam.


Sesuai perintah Dave, Keisya akan hanya bisa makan, makanan yang disiapkan koki Chen. Karena semua makanan Keisya harus bergizi, sesuai apa yang dibutuhkan ibu hamil.


***


Dave baru saja sampai dan langsung pergi ke salah satu universitas terbaik di negara itu. Sebelumnya Dave mendapat undangan untuk mengisi seminar di sana.



Setelah mengisi seminar, Dave melanjutkan agendanya bertemu klien. Hari itu agenda Dave sangat padat, ia dan Leo bahkan sampai lupa untuk menghidupkan ponselnya.


Sekitar pukul 23:00 Dave baru sampai di hotel tempat yang akan ia gunakan untuk menginap selama di kota itu.


Dave baru sadar jika dia belum menghubungi Keisya. Dengan cepat Dave mengidupkan ponselnya dan menghubungi Keisya.


📞 Hallo (Jawab Keisya dari seberang sana)


📞 Kau belum tidur, sayang?


📞 Bagaimana aku bisa tidur, Dave?Sementara aku belum mendapat kabar darimu, aku mencemaskan mu, Dave. (Suara Keisya terasa berat, seperti sedang menangis)


📞 Maaf, Sayang. Sampai disini aku langsung sibuk, dan ini baru sampai hotel. Maaf membuatmu cemas.


‘Apa Keisya menangis?.’ Batin Dave.


📞 Tidak papa, Dave. Aku lega setelah mendengar suaramu. Sekarang aku bisa tidur nyenyak.


📞 Baiklah sayang, sekarang tidurlah. Aku akan menelefon mu lagi besuk. Selamat beristirahat, sayang ku.


📞 Kau juga, Dave.


Dave pun mengakhiri panggilan telefonnya. Setelah itu Dave membersihkan diri dan beristirahat.


.


.


.


Bersambung..