My Dave

My Dave
Keisya tidak sadarkan diri ..



“Raisa, sudah cukup jangan bersandiwara lagi!Jangan kau pikir aku tidak tau apa yang kau lakukan pada Keisya!” Kata Dave datar. “Jangan menggunakan Vara untuk selalu menjeratku, atau kau akan tau akibatnya!” Kali ini Dave berucap dengan nada penuh peringatan. Lalu Dave dengan cepat berjalan keluar diikuti Juan dan Alex. Sementara James masih berjongkok di dekat Sasya.


“Hahaha, kasian sekali. Bahkan kak Dave tidak peduli padamu.” Manda terkekeh melihat Raisa di acuhkan oleh Dave. Ia kemudian melepaskan Raisa.


“Setidaknya aku masih punya putriku, Dave mungkin membenciku tapi dia tidak akan menelantarkan putrinya sendiri.”


“Apa kau yakin dia putri kak Dave?Aku yang melihat sekilas saja tidak percaya, apalagi kak Dave yang sangat pintar. Kau lupa selain pintar kak Dave juga seorang Presdir dari perusahaan raksasa.” Kata-kata Manda cukup membuat Raisa terdiam sebentar.


“Apa maksudmu?” Tanya Raisa


“Maksudku adalah kau jangan berulah!Apalagi membohongi kak Dave, mengatakan Vara adalah putrinya!Kau tidak takut dia akan menghancurkan mu, karna kebohongan mu?”


“Aku tidak bohong, dia memang putri Dave. Aku bahkan menunjukkan tes DNA yang cocok antara Dave dan Vara!” Tegas Raisa berapi-api.


“Baiklah, baiklah terserah kau saja!” Manda membantu Sasya berdiri. Ia dan Sasya pun meninggalkan ruang tamu, meninggalkan Raisa yang masih berdiri mematung menatap kepergian Manda.


Manda dan Sasya duduk di ruang makan bersama James juga. Disana sudah tersaji berbagai macam hidangan. “Kenapa kalian menatapku?”


“Manda, kau tidak takut perempuan itu merebut kak Dave dari kak Keisya?” Tanya Sasya.


“Iya, benar.” James terlihat menimpali ucapan Sasya.


“Mana mungkin perempuan sepertinya bisa menggeser kedudukan kakakku di hati kak Dave?”


“Tapi dia kan mantan kak Dave.” Sasya merasa sangat was-was.


“Hanya mantan bukan?” Manda masih santai menanggapi Sasya, “Kalian tenanglah, dihati kak Dave hanya ada kak Keisya. Aku yakin itu.”


“Aku juga bisa melihatnya, bagaimana khawatirnya kak Dave saat kak Keisya menghilang. Lagi pula aku yakin cepat atau lambat kak Dave akan membereskan perempuan itu.” Sahut James.


“Syukurlah, aku bisa tenang.” Sasya mulai mengunyah makanan di hadapannya. Ia sama sekali tidak malu makan denga lahap di hadapan James. Tidak jaga image sama sekali. Yah bagi Sasya, James hanyalah seorang saudara seperti Manda. Berbeda dengan Juan, Sasya menganggap Juan sebagai laki-laki yang patut di kagumi. Dia selalu jatuh atas pesona Juan. Meskipun Juan selalu saja cuek dan masa bodoh pada Sasya.


Sesudah makan, Manda dan Sasya kembali ke kamar Manda. James terlihat mengekor pada kedua gadis itu. Sampai di kamar Manda langsung menutup rapat pintu kamarnya, ia ingin mengadakan rapat bersama Sasya dan Juan.


***


Di belahan bumi bagian selatan, di pinggir pantai yang sangat indah. Di sebuah Villa yang di lingkari oleh gerbang yang menjulang tinggi kelangit, gerbang yang membatasi penghuni Villa agar tidak bisa melihat kehidupan luar Villa. Duduk seorang wanita di pinggiran pantai, ia terlihat sedang bermain air, sesekali ombak datang menerjang kakinya. Kaki yang tadi tertempel pasir putih itu kian bersih tatkala ombak datang menerjang. Suara deburan ombak sangat menenangkan, hampir saja ia melupakan pahit hidupnya. Pahitnya kenyataan bahwa suaminya telah memiliki anak dengan perempuan lain. Seberapa sakit yang ia rasakan, ia harus tetap bertahan demi calon buah hatinya.


“Sayang, apa daddymu akan merindukan mommy?” Keisya bertanya pada janin yang ada di kandunganya. “Apa daddymu akan mencari mommy?Atau dia malah bersyukur mommy menghilang?” Lagi-lagi Keisya berbicara pada janinya.


“Boy, bolehkah mommy memanggilmu boy, selama kau masih di kandungan mommy?” Keisya terlihat menyeka air matanya dengan kedua tangannya. Keisya berjalan di bibir pantai dengan pengawalan yang ketat, padahal Keisya tidak akan bisa melarikan diri dari Villa itu. Bagaimana tidak untuk pergi dari Villa itu harus menggunakan helikopter atau perahu lewat jalur pantai. Tapi dua transportasi itu hanya bisa digunakan dengan izin sang pemilik Villa yang tidak lain adalah Farhan.


Dari arah lantai dua Villa, sepasang mata memperhatikan Keisya yang sedang asyik bermain air dan pasir. Entah mengapa sepasang mata itu merasakan ke bahagianya. Lelaki pemilik sepasang mata yang sedang memperhatikan Keisya itu tersenyum, lelaki itu semakin mengagumi Keisya dari hari-kehari. “Kau tidak akan pernah menemukan istrimu, Dave. Dia akan menjadi milikku, menjadi satu-satunya wanita Farhan Atmawinanda.” Seulas senyum terlihat jelas di wajah laki-laki itu, satu tangannya tengah memegang gelas berisi wine.


Laki-laki itu memberi isyarat pada bawahnya untuk membawa Keisya kembali ke dalam Villa. Tak lama kemudian Keisya sudah terlihat masuk Villa di ikuti pelayan dan pengawal.


“Sudah puas main airnya?” Tanya Farhan begitu Keisya masuk kedalam Villa.


Keisya mengangguk. “Hoek.. hoek.” Entah apa yang terjais Keisya tiba-tiba merasa mual, ia langsung lari meninggalkan Farhan menuju kamar mandi.


“Ka-kami tidak tau, Tuan.” Jawab salah seorang pelayan terbata-bata, pelayan itu merasa takut pada Farhan yang menatapnya dengan tatapan membunuh.


Farhan pun menyusul Keisya. “Kei?”


“Hoek..hoek..hoek.” Masih terdengar suara Keisya yang sedang muntah di dalam kamar mandi.


“Aku tidak papa.” Keisya keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lemas, raut wajahnya terlihat pucat.


“Kau yakin?” Belum sempat menjawab Keisya sudah tak sadarkan diri, untung saja tangan Farhan sigap menahan tubuh Keisya yang hampir jatuh. Farhan langsung membopong Keisya kembali kekamarnya.


“Panggil Dokter!”


“Baik, Tuan.”


Hampir 2 jam Keisya tidak sadarkan diri. Ketika membuka matanya Keisya menyadari Farhan tengah tertidur dengan posisi duduk, tepat di sebelah ranjang. Terlihat wajah polos Farhan saat sedang tidur.


Keisya melihat kearah jam diding. Ternyata sudah jam 8 malam, ia pun mencoba bangkit untuk duduk. “Tuan Farhan.” Ucap Keisya lirih.


Farhan membuka matanya perlahan saat mendengar Keisya memanggilnya. “Kau sudah sadar?Apa masih mual?”


Keisya menggelengkan kepalanya. “Tidak, tapi aku merasa sedikit pusing.”


Farhan mengambil segelas air putih yang tergeletak di nakas sebelah tempat tidur Keisya. “Minumlah dulu.”


Keisya meneguk habis segelas air putih yang Farhan berikan. Setelah itu Farhan memberi vitamin khusus ibu hamil yang tadi diresepkan dokter, Farhan lalu meminta Keisya untuk kembali istirahat. Farhan menemani Keisya hingga Keisya tertidur pulas, barulah ia keluar dari kamar Keisya.


Didepan kamar Keisya sudah berdiri asisten Farhan, asisten Farhan menunggu Farhan keluar dari kamar Keisya untuk menyampaikan laporan penting. “Apa ada hal penting?”


“Sepertinya mereka mencari nona Keisya, saya mendengar ada beberapa orang terlihat mengawasi kediaman tuan di Kota S. Saya yakin orang itu suruhan Tuan Dave.”


“Hahaha, biarkan saja!Mereka tidak akan mendapatkan apapun dari mengawasi kediamanku.”


.


.


.


Bersambung.


Jangan lupa tekan Like dan kasih Vote ya para pembaca novelku..


Dan selagi menunggu update, kalian bisa baca novelku yang lain.