My Dave

My Dave
S2 Menitipkan Boy



“Apa suamiku belum datang, dok?” Tanya Keisya lemah. Dokter Maya menggeleng..


Brak..pintu ruang bersalin terbuka, Dave masuk dengan terburu-buru, terlihat keringat bercucuran dari kedua pelipisnya.


“Maaf, aku terlambat, sayang.” Ucap Dave begitu sampai di sebelah brankar Keisya.


“Kau dari mana saja kenapa berkeringat?” Meskipun kelelahan karena menahan sakit, Keisya masih bisa melihat dengan jelas kekusutan di wajah suaminya.


“Aku berlari dari basement, lift sedang di perbaiki terpaksa aku menaiki tangga.” Balas Dave seraya mencondongkan dirinya ke dekat Keisya. Ia ingin lebih jelas melihat istrinya.


“Kasian.” Keisya mencoba meraih pipi Dave dan mengelusnya lembut.


Setelahnya Keisya memulai perjuangan melahirkan lagi. Sampai beberapa saat kemudian terdengar suara tangisan bayi.


“Selamat, Tuan Dave. Bayi anda berjenis kelamin laki-laki.” Ujar dokter maya seraya menggendong bayi merah mungil yang masih berlumuran darah.


Dave tidak kuasa menahan haru, ia menitikan air mata melihat bayi mungkin itu. Bayi itu adalah anaknya dan Keisya, perempuan yang mampu meluluhkan hatinya. Perempuan berhati lembut yang sanggup memaafkan nya berulang-ulang.


“Hai boy, selamat datang di dunia ini.” Ucapnya seraya memandang boy kecil.


Dokter Maya menyerahkan boy pada suster untuk membersihkan tubuh boy. Sementara


Dave mendekati Keisya, ia menciumi pun *** kepala Keisya. “Terimakasih sayang.” Keisya hanya mengangguk, perempuan itu masih terlihat kelelahan. Semua tenaga Keisya kerahkan saat melahirkan boy.


***


Manda dan Jasson baru saja sampai dirumah sakit. Mereka menuju ruang bersalin. Disepanjang perjalanan menuju ruang bersalin Jasson menggenggam erat tangan Manda, lelaki itu terlihat acuh dengan Manda yang selalu meronta meminta Jasson melepaskan genggaman tangannya.


Dari kejauhan Manda bisa melihat dengan jelas pak Mo dan Stevi berdiri di depan ruang bersalin. Ia pun berlari menghampiri pak Mo.


“Pak Mo, bagaimana keadaan kakak?” Ucapnya dengan ngos-ngosan. Ia habis berlari.


“Sudah lahir, bayinya laki-laki, nona.” Jawab pak Mo berbinar.


“Ya ampun, bagaimana rupanya?Apa dia tampan seperti kakak ipar?” Tanya Manda antusias. Perempuan itu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan nya.


“Saya belum melihatnya, nona. Tuan juga belum keluar. Tapi, sepertinya ada berita bahagia lain.” Pak Mo melirik tangan Manda yang masih di gandeng oleh Jasson.


Manda pun sadar jika dirinya masih bergandengan tangan dengan Jasson. Perempuan itu langsung melepaskan tangan Jasson kasar.


“Wah..sepertinya nona dan tuan Jasson sudah baikan, ya?” Goda Stevi.


“Sepertinya akan ada pernikahan lagi dalam waktu dekat, Stev.” Pak Mo menimpali.


Manda dan Jasson keduanya jadi salah tingkah.


1 minggu kemudian..


Keisya sudah pulang dari rumah sakit beserta baby Boy. Ya, bayi mungil itu di beri nama Boy Wilson karna Keisya maupun Dave sudah sangat menyukai nama itu.


Boy kecil menambah kebahagiaan di keluarga besar Dave dan Keisya. Ayah dan ibu Keisya juga mengunjungi cucu pertama mereka. Namun, mereka hanya menginap selama tiga hari karna harus mengurus peternakan. Mereka akan sering-sering mengunjungi baby boy.


Begitu juga kakek John, beliau langsung pulang dari luar negeri begitu mendapat kabar Keisya sudah lahiran. Kakek John adalah orang yang paling heboh setelah tau cicitnya berjenis kelamin laki-laki. Ia langsung memutuskan menjadikan Boy sebagai penerus Dave. Kelak Boy yang akan menggantikan Dave mengurus perusahaan.


“Memang kakek yakin Boy mau menggantikan Dave mengurus perusahaan?” Tanya Dave tiba-tiba.


“Harus mau, sebagai cicit pertama keluarga Wilson sudah menjadi tanggung jawabnya meneruskan perusahaan keluarga.” Jawab John santai, lelaki tua itu terlalu percaya diri.


“Ooo.. tidak bisa.” Tolak kakek John, “Boy adalah pewaris utama grup Wilson, itu sudah tanggung jawabnya karna terlahir di keluarga Wilson!” Tutur kakek John penuh penegasan.


Dave hanya bisa mendengus kesal. “Itu menurut Kakek, tapi Dave tidak akan membatasi apapun yang ingin dilakukan Boy. Selama itu yang disukainya Dave akan selalu mendukung Boy, termasuk jika nantinya ia tidak mau menjadi Presdir!” Balas Dave tak kalah tegas.


Dave dan kakek John pun menjadi berdebat karna Boy.


“Sudah..sudah.. Sayang, kakek, Boy baru berumur satu minggu. Bukankah terlalu dini untuk memikirkan hal seperti itu?” Sahut Keisya lembut.


“Salahkan kakek, sayang. Dia terlalu memaksakan kehendak.” Keluh Dave.


“Kakek, kan, hanya mau yang terbaik untuk Boy, Kei. Apa kakek salah?” Ucap kakek membela diri. Kakek dan Dave saling membuang muka.


“Jelas salah, yang namanya memaksakan kehendak itu salah!” Ketus Dave dengan bersedekap. Ia berjalan menjauh dari kakek dan Keisya.


“Lihat!lihat! Lihat suamimu, Kei.” Menunjuk-nunjuk Dave yang yang sudah berjalan menjauh dadi Keisya dan kakek Mo.


“Sudahlah, Kek. Dave memang seperti itu, kakek pasti sudah lebih tau bagaimana Dave.” Keisya tersenyum.


“Huh..Bocah itu selalu membahtah kakek.” Menghela nafas kasar.


***


Keisya dan Dave harus menghadiri resepsi pernikahan kolega Dave. Keisya terpaksa menitipkan Boy pada Manda. Keisya belum tega menitipkan Boy pada suster. Ia terlalu khawatir an, takut Boy di celakai olen suster. Makanya, ia selalu mengawasi Boy setiap saat tanpa bantuan suster.


Keisya dan Dave pun sudah berangkat satu jam yang lalu.


Sementara Manda, ia nampak kesulitan menjaga Boy. Bahkan Manda masih kaku saat menggendong Boy. Ia juga takut mengganti popok Boy. Berbeda dengan Jasson, lelaki itu seperti seorang profesional saat menjaga Boy. Jasson bisa menenangkan Boy dengan mudah saat bayi kecil itu menangis. Ia juga pintar dalam mengganti popok. Bahkan Jasson tidak merasa jijik saat melihat Boy pup.


“Kenapa pup nya seperti ini?” Terlihat encer, Manda merasa mual melihat pup Boy. Ia juga menutup hidungnya karna bau pup Boy sangat menyengat.


Jasson terkekeh. “Mau bagaimana dia masih kecil hanya ter nutrisi oleh ASI, wajar jika pup nya seperti ini.” Jawab Jasson dengan telaten membersihkan pup Boy. Lelaki itu juga mengelap bokong Boy dengan tisu basah dan air hangat.


“Lihat, dia tersenyum!” Manda menujuk Boy yang sedang cengar cengir seakan mengejeknya karna sudah menimbulkan aroma menyengat di ruangan itu.


“Menggemaskan bukan?”


Manda mengangguk, “Sangat,”


“Jika kau mau aku bisa membuatkan satu.” Goda Jasson.


Manda tercengang dengan ucapan Jasson. Ia pun menepuk bahu Jasson kasar. “Jangan gila kau!” Ketus Manda.


“Sayang, aku serius. Bagaimana kalau kita menikah?” Baru saja selesai mengganti popok Boy dengan yang baru.


“Tidak mau.” Membuang muka ke arah lain yang tidak bisa dilihat oleh Jasson. Ia merasa merona dengan ucapan Jasson.


‘Dia mengajakku menikah, arggggggg.’ Jerit Manda dalam hatinya. Ia sangat bahagia dengan apa yang di ucapkan Jasson.


“Tidak papa sekarang tidak mau, aku akan terus memintamu menikah denganku sampai kau mengatakan iya!” Sahut Jasson santai. Ia sangat cool saat ini.


.


.


.