My Dave

My Dave
S3 Pertemuan kembali



Jasson melangkah dengan tegap berjalan masuk ke ballroom untuk menghadiri undangan pesta pernikahan dari kliennya. Semua mata tertuju pada Jasson yang datang dengan setelan jas serba hitam dan sepatu pantofel mengkilap.



Lelaki itu berjalan menuju tempat mempelai pria dan wanita berada untuk mengucapkan selamat. Namun, langkah kakinya terhenti kala ia melihat sosok perempuan yang sedang berdiri di depan mempelai wanita sambil bercengkerama dengan mempelai wanita. Perempuan yang begitu amat di rindukan oleh Jasson, perempuan yang selama ini telah mengisi hatinya. Perempuan yang selalu saja ia kecewakan dan gantungkan harapannya.


“Manda.” Lirihnya dalam keramaian pesta. Antara terharu dan bahagia saat melihat perempuan yang selalu ia rindukan kini hanya berjarak beberapa langkah dari tempatnya berdiri.


“Ada apa, Tuan?” Harry sang asisten setia Jasson hampir saja menabrak punggung Jasson. Jasson bergeming, tatapannya masih terfokus pada perempuan cantik yang tersenyum dengan riang itu.



“Bukankah itu nona Manda?” Harry menunjuk Manda dengan jari telunjuknya. Jasson tersadar dan menoleh pada Harry, “Bukankah dia sangat cantik?” Sambil tersenyum senang. Harry mengangguk setuju. Karena Manda memang cantik secara visual dan juga hatinya.


Jasson meneruskan langkah kakinya menghampiri mempelai pria dan wanita. Ini kesempatan, meskipun Manda mungkin terkejut melihat dirinya namun ia tidak mau membuang kesempatan lagi.


“Tuan Daven, selamat atas pernikahan anda.” Ucap Jasson sambil menjabat Daven, yang tidak lain adalah koleganya.


“Terimakasih, Tuan muda Jasson sudah mau datang.”


“Tentu saja saya harus datang, ini acara bahagia bagi Tuan Daven dan istri. Saya mau ikut mendoakan.”


Bagaimana dengan Manda? Apa dia terkejut melihat Jasson? Tentu saja, saat mendengar suara Jasson yang menatap Daven, baik Daven dan istrinya maupun Manda langsung berpaling ke arah Jasson. Jika Daven dan istrinya merasa senang melihat kedatangan Jasson, tidak dengan Manda. Ia kesal melihat Jasson. Alih-alih menyapa Jasson, Manda justru pamit pada kedua mempelai dan meninggalkan pelaminan. Jasson pun gagal mengejar Manda karena lelaki itu harus beramah tamah sebentar dengan pengantin baru. Sebagai gantinya sang asisten Harry, sigap memantau kemana Manda pergi.


**


“Berengsek!!” Umpat Manda kesal di depan cermin besar. Ia berkaca sambil berkacak pinggang. “Kenapa dia bisa ada disini?” Dia yang Manda maksud adalah Jasson si tukang kabur disaat Manda merasa sayang.


Setelah pamit pada pengantin baru, Manda langsung berlari ke toilet untuk menetralkan detak jantungnya yang tak beraturan. Cukup lama ia berada di dalam toilet. “Tenang Manda, jangan terpengaruh pada orang itu. Abaikan saja dia!” berucap dengan yakin sambil menganggukan kepalanya dan menatap pantulan dirinya di cermin. Usai dua puluh menitan di dalam toilet Manda memutuskan keluar.


“Ku kira kau akan tinggal semalam di dalam sana?” Sindir seorang lelaki tampan saat Manda baru saja keluar dari toilet. Manda acuh dan tak mengindahkan sindiran itu, ia melenggang dengan santainya melewati lelaki itu sambil membuang muka ke arah lain.


“Tunggu!” tahan lelaki itu sambil memegang erat pergelangan tangan Manda. “Kita perlu bicara.” Menggandeng Manda dengan paksa berjalan menjauh dari area toilet. Manda bahkan tidak sempat menolak, karena gugup.


“Lepask!” Manda berontak saat lelaki itu membawanya masuk ke dalam sebuah mobil. Mobil hitam mewah yang tidak semua orang mampu membelinya. Lelaki itu tidak peduli Manda berontak, ia tetap menahan tangan Manda.


“Jalan!”


Sang sopir pun melajukan mobil meninggalkan basement hotel tempat acara pesta pernikahan Daven.


“Berhenti!”


“Tetap jalan!”


“Aku bilang berhenti!”


“Jalan!”


“Apa maumu Jasson?” Manda meneriaki Jasson dengan suara khas nya yang mungkin saja mampu membuat telinga seseorang sakit.


“Ikut dengan ku, kita perlu bicara.”


Jasson meraih tangan Manda dan menggenggamnya. Satu tangan nya mengelus-elus lembut tangan Manda. “Sekali ini saja dengarkan penjelasanku.”


Jasson membawa Manda ke sebuah restoran. Lelaki itu memesan ruang yang besar dan mewah. Pramusaji dengan telaten menyajikan berbagai menu di meja besar dari dessert hingga makanan besar.


“Katakan apa yang mau kau katakan, aku tidak punya waktu banyak!”


“Makanlah dulu, aku tau kau belum makan apapun di pesta tadi.” Bujuk Jasson yang berniat mengulur waktu agar lebih lama bersama Manda.


“Aku tidak lapar!”


“Hargailah seseorang yang sudah menyajikan semua makanan ini, setidaknya makan sedikit saja.” Tutur kata Jasson yang lembut mampu mengipnotis Manda. Manda mulai makan apa yang sudah di sajikan pramusaji dengan lahap dan tanpa kata. Sementara Jasson tersenyum puas bisa melihat Manda makan se lahap itu.


“Aku minta maaf. Kejadian satu tahun yang lalu, aku terpaksa meninggalkan Kota S karena keadaan kakek.” Jasson mulai membuka percakapan perihal kejadian satu tahun yang lalu dimana dia yang tidak datang ke acara kelulusan Manda dan dia juga yang membatalkan rencana pertemuan mereka.


Manda dengan tenang mendengarkan apa yang Jasson ucap kan tanpa menyela sedikitpun.


“Kakek meninggal karena serangan jantung. Aku rasa kau pasti juga tau.” Lirih Jasson.


“Aku turut berduka untuk hal itu.” Kata Manda dengan tulus.


“Terimakasih, tapi bukan itu yang mau aku jelaskan padamu. Aku terpaksa menetap setelah pemakaman kakek karena keadaan yang kacau balau, orang kepercayaan kakek menghianati kakek, perusahaan di ambang kehancuran. Aku harus tinggal untuk menyelesaikan masalah itu.” Lanjut Jasson menjelaskan.


“Aku tau.” Sahut Manda singkat.


“Kau tau?” Jasson terkesiap, ia tidak menyangka Manda tau. Apakah itu artinya Manda sudah memaafkannya?


Menjawab pertanyaan Jasson dengan menangguk. “Yang aku tidak tau, kenapa kau menanggung semua beban itu sendirian? Kenapa kau tidak membiarkan aku berada di sisimu saat itu? Kenapa kau malah mengabaikan semua panggilan teleponku? Kenapa kau tidak melakukan itu?” Ucapan Manda seakan menusuk jantung Jasson dengan belati. Sorot mata perempuan itu memancarkan rasa kecewa yang terlalu besar pada lelaki yang duduk di hadapanya.


Benar, semua ucapan Manda benar. Kenapa Jasson menanggung semau beban itu sendiri??


“Manda, aku..” ucapan Jasson menggantung kala ia tidak bisa memberikan alasan yang jelas. Ia hanya tidak mau Manda ikut merasakan penderitaan yang ia rasakan, kesulitan yang ia alami. Ia hanya mau Manda mendampinginya sebagai ratu yang bahagia tanpa beban. Bukan, menemaninya dalam kesulitan, itu sebabnya Jasson tidak melibatkan Manda dalam kesulitan yang ia alami.


“Kau tau Jasson, aku bahkan terbang ke kota untuk menemui mu bersama kak Dave. Tapi kau tidak mau menemuiku.”


Seminggu setelah kepergian Jasson, Manda sempat merengek pada Dave untuk mengantarkannya menyusul Jasson namun lelaki itu menolak bertemu Manda.


Saat itu Jasson sedang sibuk-sibuknya mengurus masalah perusahaan hingga ia tidak mempunyai waktu menemui Manda dan Dave. Namun, apakah Jasson bisa menjadikan itu sebuah alasan?


“Sejak kau tidak mau aku mendampingi mu disaat kesulitan, maka sejak saat itu pula kau tidak perlu menjelaskan apapun lagi padaku, Jasson.” Ucap Manda penuh dengan penekanan. Ia beranjak berdiri dan meninggalkan Jasson yang masih termenung di ruangan VVIP itu. Meninggalkan Jasson agar merenungi apa yang baru saja Manda ucapkan.


Bagaimana dengan Manda, ia berlari keluar dari restoran mencari taksi sambil menangis.


.


.


.