
Negara A, tempat Manda menetap setelah menyelesaikan pendidikannya. Butik yang di bangun Keisya berkembang pesat dan mampu membuka beberapa cabang, salah satunya di negara A. Setelah Manda menyelesaikan pendidikannya, gadis itu di beri tanggung jawab oleh Keiysa untuk mengembangkan butik yang berada di Negara A. Selain karena Keisya percaya pada kemampuan Manda juga karena Manda ingin belajar hidup mandiri di negara asing.
Tepatnya sudah satu tahun Manda menetap di Negara ini, Negara A. Ia tinggal di apartemen minimalis hadiah ulang tahun dari kakek John. Apartemen yang sudah beratas namakan Manda, dan sah secara hukum.
**
Manda terbangun kala sinar matahari pagi menerobos menyelinap masuk kedalam kamar nya, sinarnya menerangi seluruh ruangan masuk melewati celah-celah gorden yang tak tertutup rapat. Setelah melakukan peregangan kecil Manda pun membuka mata lebar-lebar sembari menjejakkan kakinya satu-persatu turun dari ranjang, ia berjalan pelan melangkahkan kaki nya menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi shower ia hidupkan dan mulai ritual mandi pagi, tidak butuh waktu lama cukup sepuluh menit untuk Manda menyelesaikan mandi pagi nya.
Masih dengan balutan jubah mandi berwarna putih, Manda mengeringkan rambutnya yang basah dengan hairdryer. Setelahnya ia memakai make up tipis ditambah sentuhan polesan liptin pink muda. Menambah kesan cantik natural di wajah gadis itu.
"Sempurna." Ucapnya kala menyelesaikan make up nya. Disimpannya kembali peralatan make up nya kedalam laci tanpa di tata. Salah satu alasan Manda menyimpan berbagai alat make up nya di laci adalah agar tidak perlu di tata rapi cukup langsung di masukkan saja. Selain itu, jika di letakkan di meja rias ia tipikal perempuan yang tidak terlalu rapi, Manda tidak mau meja riasnya berceceran alat make up.
Dari apartemennya, Manda perlu berjalan sekitar 3 menit menuju halte bus. Ia akan menaiki bus menuju butik tempatnya bekerja. Manda lebih senang naik transportasi umum untuk pergi bekerja karena lebih cepat dan terhindar dari macet. Apabila membawa kendaraan pribadi ia butuh waktu lebih lama sampai ke tempat kerjanya.
"Selamat pagi Nona Manda," Sapa Almera salah satu karyawan di butik. Almera merupakan orang kepercayaan Manda, bisa dikatakan Almera adalah asisten pribadi Manda. Gadis itu sudah satu tahun bekerja dengan Manda sejak Manda menetap di kota ini.
"Pagi, Al."
"Hari ini ada jadwal mengunjungi produksi, nona." Manda mengangguk sambil menerima tablet dari Almera, disana tercantum jadwal Manda untuk hari ini.
"Saya baca dulu untuk laporannya, tolong buatkan saya susu hangat ya."
"Baik, nona."
Karena tidak sempat untuk sarapan, Manda biasnya sarapan di kantor dengan segelas susu coklat hangat dan sepotong roti tawar selai coklat juga.
Sementara di tempat lain, Jasson nampak sibuk dengan pekerjaanya. Lelaki itu berkutat dengan tumpukan berkas di meja kerjanya, ruang kerja yang tidak pernah sepi tumpukan berkas.
"Kosongkan jadwal saya akhir pekan ini!" Perintahnya pada Harry yang adalah assiten pribadi Jasson.
"Sepertinya tidak bisa, Tuan." Jawab Harry. Jasson menghentikan aktivitasnya sejenak menengadah sedikit menatap Harry yang berdiri didepannya dengan meja kerja sebagai pembatas mereka.
"Kenapa tidak bisa?"
"Akhir pekan ini anda dijadwalkan menghadiri pesta peresmian Club baru milik Tuan Dio." Harry mengingatkan kembali.
"Kau saja yang datang." Ucap Jasson santai.
"Tapi, Tuan. Pertemuan besok akan sangat penting bagi kelanjutan proyek baru di Jepang. Tuan Dio adalah salah satu pemilik wilayah yang akan kita beli." Harry menjelaskan betapa pentingnya pertemuan dengan tuan Dio akhir pekan ini.
Jasson terdiam sejenak nampak mempertimbangkan. "Baiklah." Harry mengangguk dan undur diri dari ruangan Jasson.
"Padahal aku harus menemui Manda." Gumam Jasson. Sudah satu tahun sejak mereka berpisah dengan kesepakatan bersama.
Flashback on
Satu tahun yang lalu. Tepatnya di hari kelulusan Manda. Jasson, lelaki itu telah mempersiapkan kejutan lamaran untuk Manda. Jasson menyewa satu restoran dan didekorasi super mewah demi melamar sang pujaan hati.
Namun, rencana Jasson gagal. Jasso yang tengah mempersiapkan acara kejutannya demi Manda mendadak mendapat telepon dari asisten kakeknya. Telepon itu berisi kabar mengejutkan, asisten sang kakek mengabarkan bahwa kakek Jasson telah meninggal karena serangan jantung.
Tanpa berpikir panjang Jasson pun meninggalkan restoran dan pergi ke luar negeri. Tanpa mengabari Manda dan meninggalkan kesalahpahaman di antara keduanya. Selain mengurus pemakaman kakeknya Jasson juga disibukan dengan urusan perushaan kakeknya yang tiba-tiba diambil alih oleh sepupu sang kakek. Butuh waktu enam bulan bagi Jasson untuk merebut kembali perusahaan kakeknya dari tangan sepupu kakek. Dan, selama itu pula Jasson tidak menghubungi Manda.
*
Gerimis mengguyur kota S sore ini, Manda melepas blazer kerjanya dan menggunkan blazer itu sebagai penutup kepala sembari berjalan menuju halte tempat ia menunggu bus.
Dengan sedikit berlari kecil dan berlindung di bawah blazer yang ia tutupkan di kepalanya, Manda sampai di halte. Untung saja bus datang tepat waktu hingga Mnada tidak perlu menunggu lama. Sampai di dalam bus, Manda memilih duduk di bangku kosong bagian pojok belakang sambil memangku blazernya yang sedikit basah. Ditatapnya arah luar jendela sambil, sambil menerawang jauh, seakan sedang memikirkan sesuatu.
"Sudah satu tahun." Gumam Manda lirih. "Jasson masih tidak menghubungiku." Lanjutnya dengan suara berat.
Satu jam perjalanan, Manda pun sampai di apartemennya. Perempuan itu langsung memberisIhkan diri sekaligus mencuci baju yang ia kenakan karena baju kerjanya sedikit basah jika tidak segera di cuci bisa-bisa berjamur. Manda memang menyewa asisten rumah tangga yang akan datang dua kali dalam satu minggu untuk bersih-bersih apartemen dan mencuci baju nya, namun pengecualian untuk hari ini karena baju kerja nya basah. Maka ia tidak masalah mencuci sendiri.
Manda merebahkan tubuhnya di ranjang empuk berukuran king size yang selalu ia gunakan untuk menumpahkan rasa lelahnya. Rasa lelah dan penat setelah bekerja seharian rasanya hilang setrelah ia rebahan di ranjang empuk itu. Baru saja Manda memejamkan kedua mata nya, ponsel nya yang berada di nakas berdering. Diaraihnya ponsel ponsel itu, terlihat panggilan masuk dari sang kakak. Ia geser ikon hijau di ponselnya ke atas untuk menajwab panggilan telepon dari Keisya.
"Hallo, kak." Jawab Manda masih dalam posisi rebahan ia tempelkan benda pipih itu ke samping telinganya,
"Hallo, Bibi." Suara batita laki-laki nampak menyahut dari seberang panggilan. "Bibi, Boy merindukan bibi. Kapan bibi pulang?"
"Sayang, bibi juga sangat rindu Boy. Tapi bibi belum bisa pulang, bagaimana jika boy yang mengunjungi bibi?" Tawar Manda.
"Mommy tidak akan setuju."
"Tenang saja, biar bibi yang bujuk Mommy mu. Bagaimana?"
"Boy mau bibi." Jawab Boy girang. Boy sangat dekat dengan Manda. "Tapi, kasihan Mommy jika Boy tinggal. Mommy pasti kesepian."
.
.
.
.
.
.
Hallo semuaaaaa, lanjut ya ke Manda dan Jasson. Seperti biasa tidak up harian. oh iya, aku mau minta tolong jika berkenan boleh ngggak kalian mampir juga ke karya karya aku yang lain.
1. Pengacara Tampanku
2. Bersamamu
3. Menikahi lelaki pilihan Kakek
Terimakasih yaa, semoga kalian suka awal season 3 ini :-)
Hug virtual buat temen-temen semua.