My Dave

My Dave
Siapa dia?



“Pak Mo, tolong siapkan mobil!” Keisya turun dari kamarnya sudah rapi dengan tas selempang.


“Nyonya muda mau keluar?” Tanya Pak Moo.


“Iya Pak, saya mau kesupermarket sebentar. Sudah izin sama Dave tadi.” Jawab Keisya berbohong, faktanya Dave tidak tau Keisya akan membuntutinya.


“Baik, Nyonya.”


Keisya juga mengatakan pada pak Mo akan pergi sendiri tanpa sopir. Pak Mo tidak berani melarang karena Keisya membohongi pak Mo jika Dave sudah mengizinkan Keisya pergi sendiri. Stevi juga masih pulang kampung.


Keisya melajukan mobilnya meninggalkan Villa dengan kecepatan sedang. Dia menuju apartemen Lili, dimana Dave akan bertemu dengan Raisa. Dalam perjalanan Keisya sudah sangat gugup, Keisya membayangkan banyak hal difikiranya. Sampai di apartemen Lili, Keisya memarkirkan mobilnya. Dia melihat mobil Dave terparkir tidak jauh dari tempat Keisya.


Deg.. deg.. jantung Keisya mulai berdetak lebih cepat dari detak jantung normal. Keisya menekan lift sesuai lantai apartemen Raisa berada. Saat sampai di depan apartemen No 343 Keisya sangan gugup. Dia ragu untuk menekan bel. Keisya mondar mandir di depan apartemen Raisa, sudah beberapa saat berlalu tapi Dave tidak kunjung keluar akhirnya Keisya memberanikan diri untuk menekan bel apartemen Raisa.


Klik pintu apartemen Raisa terbuka. Raisa melihat Keisya berdiri di depan pintu. “Maaf, nona cari siapa ya?” Tamu Raisa.


Pandangan mata Keisya tertuju pada ruang tamu yang berada tepat lurus di depan pintu masuk, Dave terlihat menggendong gadis kecil dengan bercanda ria. Terlihat sekali raut wajah gadis mungil itu sangat senang di gendongan Dave.


“Dave?” Ucap Keisya.


Raisa sedikit gugup, Raisa menatap Dave lalu menatap Keisya.Dave yang juga mendengar suara tidak asing pun menoleh ke arah pintu. Dave melihat Keisya sedang menatap kearahnya dengan tatapan berkaca-kaca.


“Papi, Bibi cantik itu manggil papi.” Kata Vara yang juga sedang melihat kearah Keisya.


Keisya yang mendengar Vara memanggil Dave dengan sebutan papi pun langsung berlari meninggalkan tempat itu.


“Keisya tunggu!” Dave langsung menurunkan Vara dari gendongannya. “Vara, sama mami dulu ya.” Kata Dave meninggalkan Vara. Dave menyambar jaketnya yang terlampir di sofa. “Aku akan menghubungimu nanti!” Kata Dave pada Raisa, Dave langsung berlari menyusul Keisya.


Keisya sudah tidak bisa membendung air matanya lagi. Keisya tidak menghiraukan panggilan Dave. Keisya langsung mengemudikan mobilnya dengan cepat keluar dari basement apartemen Raisa.


Dave juga dengan cepat mengejar mobil Keisya. “Keisya.” Lirih Dave saat mengemudikan mobilnya. Dave sudah sangat panik Keisya bisa tau Dave sedang bersama Raisa, hal yang membuat Dave semakin panik adalah Keisya yang memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dave khawatir dengan kandungan Keisya. Mobil Dave sudah sejajar denga mobil Keisya. Dave menurunkan kaca mobilnya. “Sayang, tepikan mobilnya kita bicara baik-baik.” Teriak Dave pada Keisya.


Keisya tidak peduli dengan Dave, Keisya malah semakin menambahkan kecepatan mobilnya.


Tidak ada pilihan lain Dave menyalip mobil Keisya lalu menghadang mobil Keisya dari depan.


Ckittt sontak Keisya menginjak pedal rem mobilnya. Membuat kepala Keisya sedikit terpentok pada setir mobil dan akhirnya Keisya pingsan. Dave langsung turun dari mobilnya menghampiri Keisya. Dave menekan gagang pintu mobil yang dikendarai Keisya, seketika mobil itu terbuka. Dave melihat Keisya tidak sadarkan diri dengan kepala memar. Segera Dave melepaskan sabuk pengaman yang masih menempel di tubuh Keisya.


Beberapa pengawal Dave datang. Alex tampak turun dari mobil mendekati Dave. “Hubungi dokter!istriku pingsan.” Perintah Dave seraya membopong tubuh keisya menuju mobilnya.


“Baik, Tuan.” Alex membukakan pintu mobil untuk Dave lalu mengambil alih kemudi.


Setengah jam mereka sampai di Villa luxury. Pak Mo sudah menunggu kedatangan Dave bersama seorang dokter. Dave membopong Keisya menuju kamar tamu karena lebih dekat dari pada kamar Dave yang harus naik tangga.


“Bagaimana keadaan istriku?” Tanya Dave.


“Tidak papa, Tuan. Nyonya Keisya hanya shock. Sebentar lagi nyonya akan sadar.” Jawab dokter Maya.


“Baiklah.”


“Maaf, Tuan. Untuk kedepannya jangan sampai nyonya mengalami shock lagi. Atau bisa mempengaruhi kandungan nyonya. Apalagi kandungan Nyonya Keisya sudah lemah dari awal.”


“Aku mengerti.”


Dokter maya meninggalkan kamar Dave, di antar oleh pak Mo. “Alex, hubungi Stevi untuk kembali secepat mungkin!”


“Baik, Tuan.”


Dave memandangi istrinya yang tengah tidak sadarkan diri. Dave bingung bagiamana menjelaskan pada Keisya, Saat Keisya bangun nanti, apa yang akan Dave katakan pada Keisya. “Maafkan aku, Keisya.” lirih Dave menciumi punggung tangan Keisya. “Maafkan, aku.”


Satu jam kemudian Keisya bangun. Keisya melihat Dave duduk di kursi sebelah ranjang, Keisya juga melihat dirinya sedang diinfus. Keisya sengaja membuang muka saat Dave tengah menatapanya.



“Keluarlah!Aku tidak ingin bicara denganmu!” Keisya mengusir Dave meskipun dengan suara lirih tapi terdengar cukup jelas di telinga Dave.


Dave mencoba meraih tangan Keisya, tapi Keisya memasukan tangannya ke dalam selimut semua. Keisya sama sekali tidak mau melihat wajah Dave. “Baiklah, aku akan keluar dulu.” Dave memilih untuk mengalah dan meninggalkan Keisya.


Setelah Dave keluar Keisya langsung menekan tombol pengunci pintu otomatis. Keisya tidak mau Dave masuk kekamar lagi. Keisya mengingat kejadian tadi, saat Dave tiba-tiba menghadang mobilnya hingga Keisya terpentok setir mobil dan tidak sadarkan diri. “Sayang, maafkan mommy tidak berhati-hati tadi. Kau pasti kaget bukan?” Keisya berbicara seraya mengelus perut ratanya.


Apa yang dilihat Keisya di apartemen Raisa sungguh menyakitkan bagi Keisya. Bagaimana bisa Dave mempunyai anak tanpa sepengetahuan Keisya. Begitu kira-kira fikiranya.


Tok..Tok...


“ Nyonya saya mengantar makan malam.” Teriak Pak Mo dari balik pintu.


Keisya langsung menekan tombol buka pintu otomatis. “Masuklah.”


Pak Mo masuk membawa nampan berisi makan malam. “Letakan di situ saja Pak!” Tunjuk nakas di dekat ranjang Keisya.


“Baik.”


“Terimakasih, Pak.” Setelah itu pak Mo undur diri.


Dave kembali masuk ke dalam kamar, dia berniat untuk menyuapi Keisya makan. “Aku bisa makan sendiri!” Keisya bangun dari tidurnya, sambil bersandar di ranjang Keisya mulai makan. Meskipun saat ini tidak bisa makan nasi, tapi Keisya memaksakan dirinya untuk makan demi kandungan di dalam perutnya.


Dave hanya bisa berdiam menunggu Keisya yang sedang makan, sesekali Dave membantu Keisya untuk minum. Tidak ada percakapan sama sekali diantara keduanya. Sesudah makan Keisya menaruh kembali piring di nakas, Dave memberikan vitamin yang harus diminum Keisya setelah makan sesuai resep dokter maya.


“Siapa dia?” Keisya memberanikan diri untuk bertanya. “Apa dia anakmu?”


Dave menjawab pertanyaan Keisya dengan mengangguk. “Maafkan, aku.”


“Bagus, bagus sekali!Lalu apa perempuan itu juga istrimu?”


Dave menggelengkan kepala dengan kuat. “Tidak, istriku hanya kamu!” Jawab Dave tegas.


“Jika istrimu hanya aku jadi, darimana asal anak itu?” Suara Keisya mulai meninggi.


“Maaf, maafkan aku Kei.” Lirih Dave.


Keisya menatap Dave dengan tajam. “Aku tidak butuh maafmu. Aku butuh tau dari mana asal usul anak itu?!” Rahang Keisya mulai mengeras..


“Dia...”


.


.


.


.


Bersambung..


Kasih tau author kalau ada kata yang typo ya!!


Mampir ke karyaku yang satunya juga gaes..